Memangnya Kenapa Kalau Saya Turis?


*Ngomongnya sambil methentheng (kacak pinggang)* Heheee itu cuma segmen bayangan saya sendiri sih, andaikata ada yang (sekali lagi) ngumbar perbedaan antara istilah traveler dengan turis, dan merendahkan yang belakangan.

Kelakuan turis nih!
Kelakuan turis nih!

Pepatah yang sering diumbar-umbar itu: “Be a traveller, not a tourist”

Jujur saya juga lebih sering mengidentifikasikan diri sebagai traveler, bukan turis. Habis bingung juga sama definisinya.

Menurut saya tidak perlu dibeda-bedakan seperti itu, karena manusia juga seperti dua sisi mata uang. Se-traveler-travelernya seseorang, pasti ada sisi turis dalam dirinya. Misalnya demikian, biarpun seseorang adalah avid traveler yang sudah keliling dunia 9 putaran, ketika di tempat baru ia ingin untuk melihat ikon tempat tersebut. Bisa jadi ia kemudian upload foto-foto tersebut ke Facebook, live tweet di Twitter atau ngeblog.

Banyak yang menyebut diri sebagai traveler adalah juga blogger. #hakdesss

Di era seperti ini sulit untuk tidak akrab dengan sosial media. Untuk seorang blogger, media sosial jadi sebuah cara untuk personal branding. Setelah agak dikenal mungkin kemudian ada yang mengajak media trip, review produk travelling, nulis di majalah, nulis buku, dan sebagainya. Lha kalau ngaku-ngaku travel blogger ga pernah kelihatan travelling ya agak repot sih. Jaman sekarang siapa sih yang enggak main pencitraan *kibas poni

Ada juga yang bilang turis itu merencanakan segalanya, traveler cenderung go with the flow. Ya kalau kalian bukan freelancer ya tetep harus merencanakan segalanya jauh-jauh hari, kan? Yang ngakunya traveler itu adalah mereka yang paling getol cari tiket promo, lhooo. Ya iyalah, intensitas jalan-jalannya kan sering kalau nggak cari yang murahan bisa bokek.

Ada juga yang membedakan turis dan traveler sebagai berikut: Travellers see, tourists see what they come to see. Mungkin maksudnya seperti ini: Kalau ke Paris, turis datang lihat Menara Eiffel, udah gitu aja. Sementara kalau traveler ke Menara Eiffel dia lihat menara tapi juga lihat ada burung gagak lagi buang kotoran di puncak menara. Gitu kali ya? Duh bentar lagi ada yang nggebuk Simbok nih.

Lalu ada juga yang membedakan traveler dengan turis dari cara pilihan transportasi akomodasinya. Turis habis jalan-jalan bobo di hotel enak nyaman ber AC, traveler mungkin nebeng di emperan masjid yang gratisan. Ya Ampun, entar digondol kucing, lho.

Turissssss
Turissssss

Satu ringkasan yang paling keren menurut saya adalah: “tourist is an amateur traveller, and traveller is a professional tourist” tapi nggak tahu yang ngomong siapa.

Sementara itu yang ada pula yang memberikan definisi lebih dalam, yaitu traveler akan kembali dari travellingnya sebagai orang yang berbeda, orang yang lebih baik karena dia sudah mempelajari berbagai hal dalam perjalanannya.

Jadi saya traveler atau turis?

Saya itu, belum juga pulang udah upload foto liburan di Facebook, kadang live tweet juga di Twitter. Suka share foto-foto Oliq, agak malas share foto-foto Puput. Saya mungkin turis.

Saya juga pernah foto seolah-olah lagi megang Taj Mahal. Berarti saya turis banget.

Saya suka pulang jalan-jalan bobo di kamar yang enak, ber AC, kadang sambil leyeh-leyeh nonton TV. Kalau bisa yang ada spa-nya, tapi yang ini nggak pernah diapproved penyandang dana deh. Berarti saya turis.

Memangnya kenapa kalau saya turis?

Saya memang bukan traveler kece yang naik ke Mahameru (tapi lupa nggak bawa turun sampahnya). Saya bukan juga traveler yang mendaki Gunung Fuji (dan membuat grafiti tempat asal saya — SLEMAN).

Saya bukan juga traveler keren yang masuk-masuk ke pelosok Amazon (selain nggak ada uangnya, kalau nanti ketemu Anaconda, gimana?). Saya bukan juga traveler yang mampu melepaskan kehangatan rumah untuk tinggal berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Tujuan saya traveling juga biasanya sangat personal, untuk diri saya saja. Bukan untuk orang lain.

Jadi saya mungkin memang turis. Bagi saya entah saya turis atau traveler, ada beberapa hal yang saya pegang:

  • Nggak pernah buang sampah sembarangan, di mana pun, apalagi corat-coret. Saya sampai rela munguti butiran nasi jatuh Oliq untuk dibuang di tempat sampat.
  • Mencoba makanan lokal itu oke banget, selama halal. Kalaupun sulit menemukan yang benar-benar halal, yang pasti nggak ada babi. Bahkan waktu di Siem Reap terpaksa makan ikan saja karena Puput lihat ayam di pasar tidak disembelih tapi dicekik.
  • Menghormati budaya lain, pasti, misalnya ke wat-wat ya tidak pakai baju seksi. Tapi jujur kami pernah juga nebeng shalat di parkiran sebuah kuil di Kyoto.
  • Jangan malu-maluin negeri sendiri. Kalau mau naik kereta, tunggu yang mau turun. Kalau mau ke toilet umum, ya antre. Kalau memang ada tanda dilarang masuk, yang jangan masuk hanya demi selfie.

Nih, buat lucu-lucuan ada kuis dari The Huffington Post. Coba aja, kalian traveler atau bukan. Tapi, menurut saya tidak perlu mengkotak-kotakkan seperti itu. Selama kalian enjoy, kalian merasa bahwa traveling itu memperkaya diri, memperluas wawasan, membuat kita lebih menghargai perbedaan dan juga ciptaan Tuhan, mencontoh budaya yang baik dan menghindari budaya buruk, terserah kita dong mau gaya dolan-dolannya seperti apa.

Memangnya kenapa kalau kita turis?

 

Advertisements

32 thoughts on “Memangnya Kenapa Kalau Saya Turis?”

  1. Gak jelas, knopo sih mesti dibedain turis opo traveler. Menurutku jalan2 yo jalan2 lah. Mosok mesti menyandang julukan. Lah cara jalan2 orang kan emang beda2 toh. Lagian aku iki bulat, ora gelem dikotak-kotakkan :p

    Like

  2. Mungkin maksudnya gini mak. Turis itu yang dateng ke tour travel, bayar paket, kasi paspor, dikasi seragam ama tag koper, siap berangkat, duduk manis di bis, tidur enak di hotel, poto serombongan, sama bawa oleh oleh yang sama semuanya wkwkwkwk

    Like

  3. Setubuh hahaha,
    Traveler saja juga dikotak-kotakkan jadi bekpeker, flespeker, dll.
    Hayah dari semua itu yang penting jalan-jalan.
    Traveler itu orang yg jalan-jalan, turis itu orang yang mengunjungi tempat. Jadi saya itu traveler dan turis hahaha ๐Ÿ˜€

    Like

  4. buat saya sih sama aja…tapi quote dimana langit dijunjung, disitu semua makanan harus dicoba tetep jadi andalan saya. nah itu turis apa traveler? kayaknya turis ya? hahaha

    Like

  5. Saya sepakat mbak Olen, bagi saya setiap orang punya hak bagaimana ia berekspresi, bagaimana ia berbeda atau sama, selama ia bahagia dengan yg dilakukannya. Akan lebih baik menjadi turis karena tulus dari hati daripada menjadi traveler atau apa yg hanya untuk “pencitraan”. Mari kita sebut saja kita sebagai pejalan ๐Ÿ˜€

    Like

  6. Wooohhh, tulisan ini tow yang dimaksud Cak Alid kemaren, aku malah nembe nyadar. Hahahaha ..

    Iya, memangnya kenapa kalau saya turis ?
    Repot amat mo jalan-jalan aja, yang penting hepi, yo ra, Mbok ..

    ๐Ÿ˜‰

    Like

  7. Kadang ya aku bingung kenapa dikotak-kotakkan seperti itu. Tapi selama ini aku milih nyebut diriku sebagai traveler alias pejalan, karena ya suka jalan. Soalnya kalau pake kata turis, ntar dikiranya banyak duit mulu, makin banyak yang semena-mena nitip oleh-oleh aneh-aneh hahahahaha ๐Ÿ˜€

    Btw, di Siem Reap itu ayamnya dicekik gimana tho? Dicekik sampai meronta-ronta gitu? Antara kasian tapi juga geli bayanginnya ๐Ÿ™‚

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s