Pengalaman Kerja Part Time di Australia


Kandidat PhD jadi sopir taksi, dosen universitas terkemuka di Indonesia rela bangun tengah malam buat jadi cleaning service di kampus, calon diplomat jadi pengantar junk mail naik sepeda? Biasa banget di Australia.

IMG_0435

Ya benar ada banyak alasan mengapa orang-orang yang di Tanah Air adalah termasuk kelompok terpelajar (dan mungkin terpandang), rela jadi pekerja kerah biru di Negeri Kanguru – dan mungkin juga negara lain. Part time memang, karena mereka keberadaan mereka di Australia adalah untuk belajar.

Alasan mengapa rela kerja part time beragam, mulai dari kelompok mereka yang memang harus melakukannya karena hidup di Australia tidak dicover beasiswa. Banyak yang dibiayai orangtuanya untuk bersekolah di Australia, namun uang saku sangat mepet sehingga mereka terpaksa kerja untuk hidup sehari-hari. Ketika AUD melambung, mereka harus bekerja ekstra keras karena artinya kiriman dari rumah jadi lebih sedikit setelah dikonversi.

Ada juga kelompok penerima beasiswa yang “harus” kerja part time karena membawa istri dan beberapa orang anak, sehingga kalau mengandalkan allowance akan sangat mepet.

Banyak juga penerima beasiswa seperti saya yang kerja part time untuk menabung. Alasan yang banyak diucapkan adalah: buat bangun rumah, buat biaya nikah, buat bangun kos-kosan wakakakka…

Ada juga yang alasannya cuma cari pengalaman. Dasar udah kaya, kapan lagi pengalaman kerja fisik kaya gitu? Toh pulang kampung nanti ambil alih perusahaan Papa. Ini bener lho ada teman saya orang Thailand bilang gitu. Kalau saya pulang paling ambil alih komputer Pentium 4 punya Papa saya yang udah bunyi krikrikrik buat ngetik lamaran kerja huehueeeee. Sajake wis dadi omah jangkrik.

Di daerah Clayton, wilayah kampus saya, suburb-nya Melbourne, yang paling ngeboom bagi pelajar Indonesia dan suami/istrinya adalah pabrik roti. Rasanya udah turun temurun pegawai pabrik roti itu isinya anak ADS dan Dikti dari Indonesia.

Oh ya, dulu zaman saya memang legal untuk bekerja part time, dengan aturan berikut: semester pertama sama sekali tidak boleh bekerja, masuk semester dua boleh mengganti student visa yang boleh kerja, kerja part time maksimal 20 jam seminggu. Setelah itu sempat ada pelarangan kerja bagi mahasiswa ADS/AusAID karena dianggap banyak yang aji mumpung. Kerjaaaaa terus biar bisa nabung banyak sementara kuliah terbengkalai. Bahkan ada yang minta extend dengan dalih macam-macam demi agar kesempatan cari duitnya nambah. Duh, memalukan ya? Untuk peraturan terkini mohon refer ke website resmi mereka saja ya.

IMG_5980

Jadi ceritanya saya sudah selesai semester satu dengan nilai yang…..yah pokoke cukup lah. Ini gara-gara nilai dosen killer Andy Butfoy. Sementara nilai dari dosen ganteng Andrew Newman bagus. Subhanallah guanteng teniiiin…pertama masuk kami sangkain mahasiswa saking mudanya. Udah gitu kadang dia ngajakin kuliah di luar, di rumput. Terus ada mahasiswa Argentina yang seenaknya aja buka baju ngeler perut sixpack di tengah acara kuliah. Masya Allah, ya Tuhan, jangan beri hamba cobaan yang terlalu berat…..

Intinya saya sudah sah bekerja part time, visa sudah ganti, itupun nitip sama temen anak Deplu yang memang rajin ke Konjen. Saya cari-cari lowongan dong. Tawaran pertama dari foodcourt India di City, saya kok kurang sreg soalnya saya nggak ngerti masakan India juga. Nggak lama cari saya dapat lowongan iklan sebuah restoran Malaysia di Syndal cari pelayan. Letaknya nggak jauh dari kampus dan flat saya, kira-kira 15 menit naik bus.

Orang di Australia biasa memasang iklan lowongan, iklan cari housemate, dan sebagainya dengan selembar kertas. Dibawahnya ada nomor handphone contact personnya, ditulis berkali-kali dan disuwir-suwir. Peminat tinggal menyobek salah satu suwiran nomor HP itu. Saya hubungi, diangkat oleh pemilik restoran dan disuruh datang keesokan harinya. Saya nggak ada bayangan gimana rasanya kerja jadi pelayan restoran.

Tidak menyangka ternyata saya betah kerja di restoran yang sama sampai akhirnya pulang ke Indonesia.

 

Foto pinjem dari Google Street View
Foto pinjem dari Google Street View

 

Restoran tempat saya bekerja bernama Nyonya Hut, menawarkan Malaysian hawker food, dengan specialties Penang food. Tahu kan kenapa saya sekarang tetap tergila-gila dengan masakan Penang. Ternyata pemilik restoran istrinya adalah asli Penang Malaysia (saya panggil Aunty), dan suaminya Cina asal Medan tapi sudah lama di Malaysia dan pernah sekolah masak di Inggris juga (pekerja lain biasa panggil dia Uncle, tapi dia minta saya panggil dia Om). Mereka sudah jadi WN Australia. Saya satu-satunya orang Indonesia yang bekerja part time (tapi tetap) di sana, pekerja lain adalah orang Australia dan Malaysia.

Ya Allah, beberapa hari pertama tiap berangkat saya udah degdegan setengah modyar. Aunty itu keras, makanya banyak yang nggak betah. Tapi saya paham dia keras karena mereka juga kerja keras (datang jam 9 pagi, pulang jam 1 malam), makanya menuntut pekerjanya bekerja keras juga.

Kesalahan pertama saya di restoran adalah kurang menuliskan “no spring onion” di lembar pesanan tamu. Damn, damn. Awal saya sering dimarahin Aunty karena nyapu kurang bersih, pesanan salah, dan sebagainya. Pernah dimarahin Om gara-gara nggak mengaduk nasi yang selesai diliwet, jadi nasinya keras susaj buat bikin nasi goring. Saya tidak menyerah. Setelah sebulan saya bisa menikmati ritme bekerja, apalagi duitnya heheeeee.

Kerja di restoran seperti ini gajinya lebih kecil daripada yang sangat formal (AUD 13-15/jam). Saya dapat AUD 8 sejam (kurs tahun itu 8×7000 jadi 56 ribu satu jam, kalo kurs sekarang bisa dua kali lipatnya kali). Sekali shift sekitar 5 jam, terima gaji, ditambah bonus kalau resto ramai, plus uang tip dibagi rata dengan pelayan/kitchen hand lain. Kalau 1 shift bisa dapat Rp 300 ribu, bayangkan kalau seminggu berapa, sebulan berapa, saya kerja setahun lebih lho *nari hula-hula pake kutang doang*

Pekerjaan seperti ini BERAT BANGET.

Bayangkan saja, ada 7 meja di depan, dan 2 meja belakang yang panjang (total ada 60 kursi, tapi tidak mungkin penuh semuanya). Kalau weekdays, itu dicover SENDIRIAN. Yup, hanya satu pelayan harus melayani semua orang, mengelap meja, sekaligus jadi kasir. Waktu yang paling deg-degan adalah kalau Aunty ngitung uang di register saat shift selesai. Mati deh kalau kurang, gaji bisa dipotong.

Enaknya kerja di sini adalah, ketika datang saya dapat makan (lumayan ngirit). Ketika pulang pun saya boleh milih menu mana untuk dibawa pulang (iriiiiiit banget deh, mana enak-enak). Khusus kalau saya yang bekerja, untuk makan bersama si Om tidak akan masak yang ada babi-nya. Untuk dibawa pulang pun saya selalu dibikinkan yang special. No pork, no lard. Favorit saya adalah Assam Laksa, yang saya makan tengah malam di rumah dipanasin lagi pakai microwave dicampur irisan lombok rawit. Masya Allah uenakeeeeee *ngeces ngeces

Kalau weekend, kita kerja tandem dengan pelayan lain. Ada Linda gadis Australia keturunan Vietnam, ada Jun Ling, Teresa, dan Nee Nee dari Malaysia.

Saya juga jadi sering diperbantukan jadi kitchen hand, kalau pas nggak yang kerja. Saya ingat pernah ngupas bawang Bombay seember sampai nangis Bombay beneran. Pernah ngupas udang sebaskom gede (ekor nggak boleh putus!). Pernah juga mecahin 2 gelas dalam selang 1 menit, “Olen, stop. Do something else first, then you go back washing dishes again,” kata Om, tahu saya udah nggak konsentrasi dengan tumpukan piring kotor menggunung.

Ada banyak pengalaman yang nggak bisa dilupakan di sana.

Saat ada tamu Indonesia, dan dia sembunyi-sembunyi kasih saya tip AUD 5 langsung dimasukin ke kantong celana belakang.

Ada mbak langganan kerja di Fitness First, beli 2 porsi makanan seharga AUD 16, pakai uang AUD 50. Saya kasih kembalian AUD 34, dia nolak. “It’s for you, I’ve just got a promotion.” Ya ampun mbak, udah cantik seksi gitu baik bener, semoga enteng jodoh ya mbaaak….

Ada simbah langganan namanya Aunty Nancy, bayar AUD 7,8 pake uang 5 sen-an. Gedubrak. Mana restoran lagi sibuk. Saya langsung wadul ke Aunty, katanya udah biarin aja nggak usah pake dihitung.

Pengalaman paling buruk waktu tandem sama pelayan umur 15 tahun, masih saudaraan sama si Aunty. Tipikal remaja Australia gitu. Restoran sibuk banget. Eh dia numpahin seporsi Char Ho Fun (semacam Koay Teaw, tapi pakai kuah telur dan tepung maizena yang kental-kental berlendir gitu). Bayangkan saja lantai restoran jadi penuh lendir dan licin banget. Berasa kaya main ice skating. Selesai shift teryata uangnya kurang AUD 16. Duarrrrr! Cewek itu dipecat.

Shift paling ramai adalah Mothers Day, bisa sampai antre-antre di luar pintu. Khusus ini pelayannya ada 3. Sibuk berat, sampai susah jalan di dalam restoran.

Kalau pas jaga malam weekend, siap-siap deh sama bau wine. Restoran punya lisensi BYO (Bring Your Own), jadi tidak boleh jual minuman beralkohol tapi tamu boleh bawa sendiri. Saya sudah fasih banget pakai corkscrew, wong semalam bisa buka sampai belasan botol. Corkscrew ditusuk, lanjut diungkit, tapi posisi botol harus diputar, supaya corknya tidak patah. Saya pernah matahin cork dan kecemplung di wine-nya, duh malu banget harus minta maaf sama pasangan yang punya wine-nya. Untung mereka baik dan udah langganan. Tapi sampai pulang pun sama masih nggak bisa buka champagne hahahahaha takut sama tutup yang lompat ke atas *ndesit

Kalau shift malam, restoran tutup pukul 10 pm. Saya masih harus bersih-bersih ngangkatin kursi ke atas meja (yang belakang itu kursi kayu berat oh my my). Lanjut dengan nyapu seluruh restoran, ngepel dan bersihin kamar mandi. Selesai antara jam 10.30-11.00 tergantung tamu terakhir pulangnya jam berapa. Saya biasa nunggu bus jam 11.17 malam. Pernah sekali, entah kenapa, bus itu lempeng nggak berhenti di halte padahal saya udah melambai-lambai. Saya jadi harus nunggu bus jam 12.20 (terakhir) di tengah malam musim dingin.

Aunty suka khawatir sama saya, soalnya saya bilang turun dari bus di Monash bus loop saya ambil jalan pintas nembus International Student Service yang banyak pohon-pohon besar. “Lewat jalan besar aja, nanti kalau diperkosa gimana?” Kadang Aunty maksa nganterin saya ke flat naik mobil padahal rumah mereka berlawanan arah. Lagian, terus terang saya kok nggak takut blas ya. Coba di Indonesia lewat hutan-hutan begitu tengah malam (apalagi kalau pas musim dingin), pasti udah merinding ketemu pocongan. Demite Australia kayanya ga serem deh, kalah awu sama demit Indonesia.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Saya terakhir kerja 2 hari sebelum saya pulang ke Indonesia. Aunty, Om sampai bikin pesta perpisahan 2 kali buat saya. Yang pertama di Crowne di City, lalu di restoran. Wah mbrebes mili deh kalau ingat, mereka udah kaya keluarga sendiri.

Advertisements

51 thoughts on “Pengalaman Kerja Part Time di Australia”

      1. mbak, bisa minta alamat email nya?? mw tanya2 ttg persiapan klo mw part time disana pleasee di share hehe

        Like

  1. seru bangett yaaaah, cape tapi dapet pengalaman berarti.
    sayang di sini tuh Part time ga lazim sih, sekalinya ada dibayarnya mureeeeh bener

    BTW yah kak, aku masih ngebayangin kalimatmu yang nari hula-hula pake kutang* #eh

    Like

  2. waaa…..beberapa kali nyari cerita-cerita kayak gini…
    pengen tau spti apa pengalaman yg udah ngerasain…
    do’ain daku bisa ke aussie juga ya mbak olen….:-)

    Like

    1. Byk kok kesempatan kerjanya. Cuma aku ga tau gimana soalnya dpt kerja langsung betah dan ga pindah2 lagi. Good luck ya 🙂

      Like

  3. Sempet kepikiran juga mba dateng ke ostrali terus krja part time. Terus balik indonesia, trs traveling di Indonesia, trs balik ostrali lg. Gt aja terus haha..
    Salam kenal mbah dr Bdg, aku bnyk yg roaming bahasanya :))

    Irfan

    Like

  4. Tulisan ini “hidup” banget mbak. Aku seolah2 lagi di oz, dan jadi konsumen kamu, hehehe.. Btw, dirimu HI UGM angkatan ’99 mbak? Brarti kenal ama Ambrosius Hartomanumoyoso (semacam itulah namanya, sulit banget emang). Doi anak Kompas.

    Like

  5. Ceritanya seru banget… Tahun berapa tuh di Monash? Aku di Melbourne Uni 2004-2006, tinggal di Carlton deket kampus tapi suka main ke Clayton karena ada temen anak Monash. Kalo aku dulu kerja part time-nya jadi makeup artist dan asisten fotografer hehe… Tapi gak rutin sih…..

    Like

    1. Hi,Sis..Bole Sharing donk ttg kerja part time jd make up artist..aku ada rencana mo lanjutin studi ke aussie..n di sini aku uda bekerja sbg make up artist..thank’s

      Like

  6. Kalo Olen hidup di ndeso Clayton dan bekerja keras sebagai pelayan….kalo saya bekerja keras jadi buruh di Pasar Victoria di CBD (orang kotaaaaa) :p…lumayan mulai jam 8 selesai jam 3 dapetnya 75 dollar…tanpa ngepel…karena tugas saya jualan baju souvenir australia…cuma tangannya jadi sangat trampil melipat dan menyusun berdasar size dan merekap di akhir minggu….lumayan….bikin hidup saya indah di akhir minggu….:)

    Like

  7. Mbak olennnn, boleh minta no whatsapp? Aq mau banyak nanya seputar monash dan apa aja yg dibutuhi waktu disana. Bulan juli ini aq mau ikut suamiku kuliah di monash clayton. Jd butuh banyak pencerahan.. Thx u mbak olen , kalo gak keberatan via inbox email aja no whatsappnya. Thx a lot

    Like

  8. mba Olen.. mei ini ada rencana mau ke Melb ikut program WHV, boleh add WA nya mba Olen? mau tanya2 seputar kehidupan dan akomodasi di melb. Makasih mba Olen ^^

    Like

  9. menarik pengalamannya mbak,,seruuu…apalagi ngebaca ceritanya….!!
    oh ya, aq ada rencana selesai s1 ini mau lanjut study ke aus dan pengen bisa kerja part time juga mbak, tapi masih terkendala english nya mbak,,, english ku masih belum lancar.. gimana menurut mbak olen, apakah harus lncar bhsa inggrisnya dlu baru bisa pergi ke sana atau nanti bisa sambil belajar disana ?

    mohon sarannya mbak

    Like

  10. Klo ada yg nyari akomodasi d melb bisa tinggal d rumhku..aku nyari sesama orng Indo..family yg aku invite malah ga jadi..mama yg aq invite keburu dpanggil Tuhan..aq tinggal bersama suami (New Zealand/Kiwi) and anak kami (Toddler)

    Like

    1. berapa sewa sebulannya tahun depan sy mau study dimelborn, atau brisbane , enak mana ya klo kerja parttime sambil kuliah ? di Melbourne atau Brisbane ? thanks

      Like

  11. Jadi bernostalgia baca ceritanyaa… rasanya senasib. Kerja di resto org indo di perth. Pelit bgt. Digaji 8AUD/jam. Tapi yg dihitung cmn jam kerja. Jadi kl sore buka jam 5-9 ya brarti cm 4 jam pdhl sy diharuskan dtg 1 jam sebelum utk sapu2 dan lap meja. Dan pulang kl semua udh bersih. Jd ya bs jm 11an gt. Kl udh malem kdg dianter pulang sih.. haha secara emg kl naik bis abis itu msh jalan kaki msk2 hutan. Kerjaan sama kyknya,, dr greetings tamu, siapin meja, siapin air minum, jelasin menu makanan, order ke blakang, bikin minuman, termasuk bukain wine mereka (sampe skr ga bs) hahaha sama trakhir kasir.. kdg bantu2 jg kupas bawang dll. Tp ga lama kerjanya.. tantenya beserta ponakannya yg cewe kyk ga seneng dg kerja saya.. jd cm tahan 3 bulan hehe

    Like

    1. Kalau aku betah. Awalnya emang sering dimarahin soalnya salah-salah. Tapi lama2 disayang2. Aku dulu hitungannya ya jam kerja bukan jam buka resto. Curang dong kalau gitu. Misal resto buka jam 5-10. Aku datang jam 4 makan sore bareng sama siap2, pulang jam 10.30. Ya gajinya 5,5 jam plus tip dan bonus kalau rame. Itu weekdays sendiri semuanya mulai dari melayani tamu, bersih2 meja sama jadi kasir. Dan nyapu ngepel. Kalau sekarang kayanya ga sanggup deh dulu aja kalau rame pulang kaki bisa gemeteran

      Like

  12. Hi kak ceritanya sangat inspiring banget! saya mau nanya apakah dengan bekerja part time disana saya bisa membayar biaya kuliah? Karena saya berencana untuk ikut tante saya disana tetapi saya harus bekerja jika mau kuliah disana, tetapi saya takut jika dgn gaji part time itu tidak cukup untuk bayar kuliah per smesternya. Mohon bantuannya. Terima kasih kak

    Like

      1. Susah dink. Tuition fee di oz teemasuk salah satu tertinhgi di dunia dan student cuma bisa kerja 20 jam/minggu

        Like

      1. Setuju. Sekali ke Aussie (Perth) kirain anggur di sana murah karena produsen, ternyata sama aja. Trus fish n chip 15 AUD (150 ribu Rupiah) padahal di Mc Donald Indonesia 30 ribu Rupiah (1/5 nya). Larang tenan

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s