Inggris Mini di Malaysia: Cameron Highlands


Suami saya ini entah mengapa suka sekali dengan kebun teh. Saya sadar sih perkebunan the memang indah, kontur tanah berbukit ditambah warna hijau cerah daun yang berdiri berkotak- kotak. Tapi saya curiga ada alasan lain di balik itu. Mungkin dulu pas kuliah di Bandung sering pacaran di kebun teh, misalnya, sekarang jadi sarana pelampiasan nostalgia. Pacarannya sama siapa? Wah tanya sendiri sama si tersangka ya.

image

Ketika tinggal di Jakarta kami beberapa kali wisata kebun teh. Pernah ketika hamil kecil kami ke Puncak, maklum wisata murah meriah di kebun teh dilanjut ngiras bandrek di pinggir jalan.

Pernah juga saya dipaksa Puput naik bukit teh di Situ Patengang, daerah Ciwidey sana. Waktu itu saya sudah hamil 9 bulan. Waktu turun bukit saya kepleset sampai terduduk, teriaklah semua orang di sekitar, “Hati-hati atuh Eneng.” Udah hati-hati cuma sandal Teva saya udah keberatan beban si Gembolan, kali. Untung nggak mbrojol. Kalo mbrojol akte Oliq jadi kelahiran Ciwidey dong bukan Yogyakarta.

Wisata kebun teh berikutnya sama Oliq. Tidak sengaja sih sebenarnya. Karena jarang banget ke Puncak pas weekend kami jadi nggak tahu jadwal buka tutup lalu lintas. Pas keluar mau pulang ternyata satu arah ke atas. Ya sudah, kami mbedogrok di Perkebunan Teh Walini dulu. Lumayan, Oliq jadi bisa naik kuda.

Nah, minggu lalu perdana kami wisata kebun teh di Malaysia. Cameron Highlands ini jaraknya 200 km dari Kuala Lumpur, kira-kira sama dengan Jakarta-Cirebon. Tapi bedanya jalannya bagus dan tanpa macet, jadi 2,5 jam pun sampai.

image

Kami mengambil jalan pintas lewat Tapah, yang kemudian akan njedul di Tanah Rata. Ini adalah jalan alternatif memotong, jalannya kecil berliku dan mendaki. Jalan utamanya lewat Simpang Pulai dekat Ipoh, memutar sekitar 50km, jalannya besar dan relatif aman.

Kata teman saya Lala, Cameron itu desa yang keminggris. Oh ya bener bangunan-bangunannya semua bergaya Tudor dengan dominasi warna putih bergaris hitam. Hotel-hotelnya seperti kastil-kastil Inggris klasik yang berdiri di bebukitan.

Tiba di Tanah Rata kami mampir di perkebunan teh Cameron Valley, punya Bharat Group — produsen teh terbesar ke dua di Malaysia. Dasarnya kere ya, ke situ cuma nebeng pipis dan foto-foto, nggak beli apa-apa.

Di mobil kami menggerutu, “Masak kebun tehnya cuma sak uplik, gedean Walini banget.”

image

Ternyata oh ternyata, itu cuma sebagian kecil. Perkebunan teh Boh di Brinchang (dekat dengan hotel kami menginap) besar sekali. Tapi untuk menuju tea centre Bohnya harus melewati jalan super sempit nan berliku. Kanan kiri jalan isinya kebun teh yang rapi dan memikat hati. Saran yang mau ke sini mending pagi karena kalau siang pasti macet. Jalan sempit banget jadi ada beberapa titik harus buka tutup.

Di kebun teh Boh ini kami bisa tea walk 200 meteran sampai ke tea centre Sungei Palas. Dan seperti biasa karena menganggap tea house seperti ini cuma tourist trap,  kami cuma numpang foto dan pipis aja.

Tapi bener lho perkebunan teh itu sangat fotogenik. Ada sekeluarga yang heboh foto karena anaknya habis wisuda. Fotonya lengkap pakai toga. Bahkan mereka sempat gonta ganti kostum. Ada juga yang foto pre wedding dengan kostum lengkap bersama para pengiringnya (eh kali malah postwedding).

Cameron Highlands nggak cuma teh lho. Daerah ini juga penghasil sayuran dan buah. Yang paling happening adalag stroberi, 1 peti seharga RM 20 (70rb). Bandingkan sama stroberi di supermarket Jakarta. Beda dengan di Lembang, stroberi di Cameron Highlands banyaaaaaaaaak banget. Di mana-mana ada bakul stroberi. Dan juga olahannya, macam coklat, es krim dll.

image

Yang cukup banyak lagi adalah tomat ceri dan sawi-sawian. Kalau ke pasar malam di Brinchang pasti ngiler habis sama jualannya. Enak-enak Semu kelihatannyz.

Ada juga peternakan lebah dan taman kupu-kupu yang masuknya gratisan. Pokoke prinsip kere kembali berlaku. Ada beberapa kebun bunga (lavender, rose) yang dari luar kelihatan cantik sekali, sayang harus kami lewatkan karena Oliq bobo. Next time.

image

Akomodasi:
Pilihan akomodasi yang bermitra dengan online booking service macam Agoda, Booking.com tidak banyak sekali, tapi cukup ada pilihan. Mahal memang, kebanyakan di atas USD 100 semalam. Beberapa yang paling keren adalah Cameron Highlands Resort, The Lakehouse, dan Strawberry Park Resort. Semuanya langsung ditolak penyandang dana karena di atas USD 200.

Puput akhirnya booking Copthorne Hotel di USD 60. Saya sempat serem karena review baik di TripAdvisor maupun Agoda parah. Tapi ternyata hotelnya lumayan juga karena baru ganti manajemen dan direnovasi tahun 2013. Secara umum masih terlihat tua tapi kamar sudah dicat baru dan kamar mandi bersih dan modern. Eh di dekat Copthorne ada gerobak kebab Baba Rafi juga lho. Keren ya.

Advertisements

3 thoughts on “Inggris Mini di Malaysia: Cameron Highlands”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s