Berburu Beasiswa Ke Luar Negeri


Walaupun sekarang ini saya cuma berkutat di dapur, saya ini dulu pernah sekolah juga lho. Weeee..lha kok mulaine ngene! Ya pokoknya saya dulu lumayan pinter. Dulu lho ya, duluuuuuuuu. Selain agak pinter (jelas nggak sepinter Puput yang juara terus, dan NEM SMA nya SEMPURNA buat matematika dan Bahasa Inggris), saya ini juga beruntung. Entah kenapa ya kok beruntungan. Mungkin karena jari telunjuk kaki saya panjang banget jauh melebihi jempol. Dulu ada tukang pijet yang bilang, “Kalau jari kakinya kaya gini orangnya beruntung.” Hush, musyrik ah *digrudug FPI*

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Alkisah setelah lulus dari UGM tahun 2003 — saya masih sangat culun — ada kakak kelas namanya Mas Kris (beliau sekarang jadi bos di Bank Mandiri) ngajakin daftar beasiswa. Pada saat itu saya nggak dong blas kalau sebenarnya banyak beasiswa yang bisa dicoba, misalnya StuNed, ADS, Fulbright, Erasmus Mundus, Chevening. Nggak kenal sama sekali istilah-istilah itu. Padahal saya lulus dengan IPK yang lumayan nggak ngisin-isini: 3,75. Waktu kuliah saya juga nggak gaul banget karena sibuk kerja sambilan ngajar Bahasa Inggris di Akademi Kebidanan, Akademi Keperawatan, Akademi Kesehatan Gigi, mengajar privat, juga menerjemahkan banyak buku. Maklum, bukan dari orangtua berpunya jadi harus bekerja sana-sini biar bisa beli komik Kungfu Boy.

Saat itu saya belum wisuda tetapi sudah lulus dan ikut-ikutan mendaftar ADS (Australian Development Scholarship). Syaratnya umum-umum saja sih. Saya poskan amplop cokelat tersebut bersama beberapa amplop cokelat lain berisi lamaran pekerjaan ke berbagai perusahaan. Setelah itu saya lupakan dong. Ngapain juga diingat-ingat, mantan aja bisa dilupakan?

Oktober 2003 saya boyongan ke Jakarta, untuk bekerja di Republika. Salah seorang teman seperjuangan kala bolak-balik tes masuk Republika di Jakarta adalah Arief — lulusan terbaik UGM saat wisuda saya. Kami biasa naik kereta senja atau ekonomi. Arief ini arek Blitar, pesantren, Islami tapi tidak pernah menggurui…salah satu teman saya yang paling hebat. Dia sekarang jadi dosen Filsafat UGM dan sedang mengambil PhD di Australia. Sorry girls, Arief udah punya istri dan anak hehehhe.

Ketika saya sudah bekerja di Jakarta dengan posisi Calon Reporter (nama bekennya C08, berteman dengan Kepala Terminal Blok M dan Lurah Pasar Minggu), tiba-tiba saya mendapat kabar dari rumah bahwa saya lulus administrasi ADS, diminta untuk segera mengisi form untuk tes IELTS. Dalam amplop tersebut ada juga panduan tentang IELTS. Amplop dikirimkan mama saya ke Jakarta.

Ternyata, ketika mendaftar saya memilih Surabaya sebagai tempat untuk melaksanakan tes IELTS apabila lulus administrasi, dengan anggapan bahwa Surabaya tidak sehardcore Jakarta. Saya tidak mungkin cuti, dong, masih piyik juga. Papa saya bilang udah berhenti kerja aja, nerusin tesnya di Surabaya, Papa punya feeling bagus. Saya bilang eman-emanlah, tahun depan saja saya daftar ADS lagi. Permasalahan tersebut terlupakan tertutup oleh berbagai “taruna” Jakarta Selatan, macam kasus Kolor Ijo yang saya kejar sampai pedalaman Pamulang.

Hingga habis mana pengembalian formulir, form tetap saya pegang. Saya sudah lupa dan ikhlaskan saja, memang belum jodoh. Dua minggu setelah batas waktu pengembalian saya menerima telpon dari ADS. Mereka telpon rumah saya di Jogja dan diberi nomor HP saya (waktu itu masih model area-areanan sepertinya). Mbaknya (sepertinya namanya Desy) tanya kenapa saya tidak mengembalikan formulir, saya bilang tidak bisa ikut tes karena posisi di Jakarta dan tidak bisa ke Surabaya. Mbaknya bilang, “Oh ya, memang tidak bisa dipindah. Sesuai dengan pilihan waktu dulu mendaftar.” Ya sudah, kata saya, tahun depan saya coba daftar lagi. Tiba-tiba mbaknya bilang gini, “Coba saya tanya bos saya dulu.” Semenit, dua menit, tiga menit, handphone Siemens saya mulai anget. Suara mbaknya terdengar lagi, “Kata bos saya bisa, tapi hari ini juga harus kembalikan form karena test IELTS dua hari lagi.”

Saya gedubrakan nyetop metromini 75 untuk balik ke kos saya di Jl Syaridin, Ragunan. Setelah itu saya gedubrakan lagi ngisi form, dilanjutkan dengan gedubrakan nyegat bis untuk mengantarkan form ke IALF di Kuningan. Waktu 2 hari dengan kerja 12 jam sehari, plus nyuci baju malam hari, mana sempat saya nengokin panduan IELTS.

Walhasil, datanglah hari H saat tes. Kebanyakan keren-keren berjas/berblazer, maklum quota ADS kebanyakan adalah untuk PNS. Jadi yang berjuang untuk porsi independen seperti saya ini agak berat. Umur saya saat itu 23, sudah akil baligh sih, cuma termasuk yang muda dan polos.

Masuk ke kelas tes IELTS, pertama adalah Listening. Pertanyaan pertama, saya ndomblong. Pertanyaan ke dua, masih ndomblong. Iki jawabanne endi sih? Pertanyaan ke tiga masih ndomblong juga. Lalu sadar. Oalah MENGISI! Kirain pilihan ganda kaya TOEFL. Untuk Reading dan Writing tidak terlalu masalah. Saya sih tidak yakin sama sekali.

Esoknya adalah hari wawancara, agak siang jadwal saya. Saya liputan dulu di Sudin Kesehatan di Radio Dalam, kebetulan demam berdarah lagi marak. Saya sama Bu Kasi DB sampai akrab saking seringnya saya dolan ke situ (apalagi kalau lagi nggak ada bahan buat berita). Kembali saya gedubrakan dari Radio Dalam ke Kuningan. Turun dari bus, saya jatuh, jadilah celana khaki saya kotor di bagian dengkul. Apa nggak minder coba sama kandidat lain yang kelihatan cemerlang dengan jas dan blazer mereka, pupur dan benges mereka.

Giliran saya masuk ke ruang wawancara, ada dua interviewer, satu Indonesia dan satu Australia. Saya ditanya kerja di mana, besok kalo habis lulus rencananya apa. Saya tunjukkan hasil liputan saya (untung bawa koran hari itu). Saya bilang pengen jadi politics scientist, nggak mau jadi politician. Saya juga punya interest dengan isu lingkungan. Saya ingat pasti komentar si ibu pewawancara, “Kamu seperti mozaik ya, kamu belajar hubungan internasional, tapi kamu mengajar Bahasa Inggris di akademi kesehatan, kamu jadi wartawan, tapi punya ketertarikan dengan lingkungan hidup.” MOZAIK. Mana mungkin lulus?

Tak disangka beberapa minggu setelah itu, mama saya telpon dengan sangat excited, saya lulus ADS dan akan mengikuti persiapan sebelum keberangkatan selama 3 bulan (IELTS saya 6,5 dengan strong point di Reading 8 dan lowest di Writing 6). Akhirnya saya mengundurkan diri dari Republika tepat sebelum IAP dimulai.

Alhamdulillah setelah 3 bulan, saya diterima di Monash University, dan overall band IELTS saya menjadi 7,5 (yang paling kuat tetap Reading 8,5 dan paling lemah Writing 6,5). Saya berangkat ke Australia — pertama kali ke luar negeri — pada tanggal 4 Januari 2005, ketika usia saya 24 tahun lebih 3 hari. Orangtua saya hanya mengantarkan sampai ujung gang di rumah, di mana saya berangkat dengan travel menuju Jakarta. Saya diantarkan oleh seorang teman ke Bandara Soekarno-Hatta.

Langkah awal menjejak dunia.

Tips mencari beasiswa:

  1. Coba segala macam beasiswa, entah ke mana saja, jangan cuma yang mentereng. Saat ini sangat mudah untuk mencari informasi beasiswa melalui Internet.
  2. Jangan andalkan institusi pemberi beasiswa seperti yangs aya tulis di atas. Kini banyak beasiswa dari negara-negara langsung. Bisa dicek di universitas Anda. Kawan saya pernah mendapat beasiswa di Eropa karena di satu-satunya pendaftar.
  3. Pemberi beasiswa punya hak untuk memberi quota (misal sekian perempuan, sekian laki-laki, atau pendaftar dari daerah tertentu diprioritaskan, atau PNS diprioritaskan). Sebelum saya dapat ADS, ada yang menyarankan saya untuk pindah ke Papua demi mendaftar beasiswa dari sana. Dapat atau tidaknya, wallahualam.
  4. Coba apply jurusan yang memang tampak dibutuhkan oleh negara kita, bisa jadi pertimbangan pemberi beasiswa dengan anggapan kita pulang akan mengabdi dan berguna bagi bangsa. Nggak kaya saya yang jadi simbok tok.
  5. Gagal setahun dua tahun biasa, banyak teman saya yang mendapat ADS di tahun ke-3 mereka mendaftar. Jangan cepat putus asa.
  6. Ketika wawancara jujur saja. Jangan sok baik. Klise be yourself, mau dikata mozaik yo aku rapopo. Pewawancara bisa membaui mana yang tulus mana yang nggak.
  7. Belum mencoba? Kenapa nggak sekarang?

 

PS: Sambungan dari kisah ini adalah tentang bagaimana beradaptasi di negara asing, mencari pekerjaan, dan bekerja part time di sana.

Advertisements

76 thoughts on “Berburu Beasiswa Ke Luar Negeri”

  1. Paragraf keduanya tengil bingits. Akhir paragraf ketiga bikin ndomblong. Tapi dari bahasanya emang kelihatan kalo sampeyan ki wong pinter kok mbak hehehe *sungkem*. Terlepas dari akhirnya tetep balik ke dapur. Meski begitu, emang gak boleh orang di dapur jebolan Monash? Bukannya tambah istimewa? Di rumahku aja tukang cuci piring minimal harus lulus S1 kok *pecahin kaca* πŸ˜€

    Liked by 2 people

    1. Aku sampe ngecek per paragrafnya lho. Tengil kepiye? Alhamdulillah diarani wong pinter. Nggak cuma ayu aku pinter dan baik hati walau kalo nyapu nggak terlalu bersih.

      Like

    1. Yang end up nya jadi simbok demi kemaslahatan keluarga. Ya ndak? Sing scientist kui mau aku jane mbiyen aku ngarang, lha bingung arep njawab opo. Moso astronot.

      Like

  2. Berjodoh nian dirimu dgn ADS mak..jlnnya mudah sekali. Bulan lalu aku sudah terima LoA dr Queensland utk ph.D tp sampe detik ini beasiswa blm dapet..hiks…
    #garuk2aspal 😦

    Like

    1. Pake cara andalan, cari beasiswanya dulu baru sekolahnya huehue…tapi kalo stuned, fulbright kayanya harus dpt sekolah dulu

      Like

  3. Aku lagi bingung banget nih kak oleen, beasiswa sudah ditangan, tinggal siapin ielts dan LoA, tapi lagi hamil, dan klo lulus, si baby msih kecil bingitsss…

    Like

    1. beberapa temenku ngalamin persis kaya gitu kak Liza.
      1. Ada yang dapet beasiswa pas hamil, dia minta mundurin setahun berangkatnya. dan bisa. (Australia)
      2. ada yang berangkat dan melahirkan di sana. ya konsekuensinya ada suami dan mbahnya yang ngurusin bayi. mbahnya ini minta visa extension sampai 3 bulan. (Inggris dan Australia)
      3. ada yang ninggalin bayi sama mbah2nya di Indonesia (Inggris).
      Pilihannya emang ga ada yang bagus ya…hiks

      Like

    2. mba Liza, persis sama kayak aku dulu. Tapi alhamdulillah bisa defer dan sukses bawa si unyil. Kemarin mada kesini waktu umurnya masih 10 bulan. Tapi ada nih temenku yang bawa bayinya kesini belum 6 bulan, pleus dia cuma berdua disini sama bayinya. She is survive. You can do it πŸ™‚

      Like

  4. Mbak Olen, aku yg ngrusuhi trs d twitter dgn nanya ini itu soalnya kayanya emak satu ini seru bgt… Kebetulan si sulung SMA kls 3 , minat bgt Hub.Int dan ngincer UGM (amiin) kl lokal, atw m nyari beasiswa k LN bgsnya utk HI mana? Belandakah… Persiapan UGM apa aja ya mbak, biaya nya brp… Suwun yo mbak

    Like

    1. Kalau beasiswa s1 susah, jarang yg kasih. Yg ada banyak semacam fellowship, atau beasiswa 1-2 semester. sekarang ini banyak infonya di kampus, ada ke sg, thai, korea dll, ada yg pake bayar ada yg gratis. Tapi nunggu nanti klo udah kuliah. Kecuali klo mau bayar sendiri coba yg deket di NUS Sing, Australia juga banyak yg HI bagus tapi AUD sekarang megap2 deh. Klo Indonesia masih UGM dan UI. Unair juga bagus utk pertimbangan. Kalau urusan biaya saya nggak tau sekarang. Yag jelas mahallll dibandingkan dulu saya cuma 400ribu/semester.

      Like

  5. Antara gemes, kaget dan senang baca tulisan ini. Kebayang “mau nggak Mau” ya, dirimu dapat beasiswa. Hihih, sok tau. Tapi, kalau udah rejeki, nggak kemana. Mau ada hambatan sekecil apapun, ya kun fayakun. Selamat ya, mak πŸ™‚

    Like

  6. aku mau applu chevening, pas dibilang musti ambil test IELTS dulu, aku udah keburu pingsan dibelakang, ga mampu bayar ujian IELTS sendiri :(( *payah yaahh* mahal banget skrg :(( 2 jutaan :((

    Like

      1. nyahahahahahhahah setiaaaaap mau test IELTS, lalu aku lgsg berfikir ituu bisa seminggu di Bangkok, 2 minggu di Ho chi minh, tiket promo PP korsel *hadduuuu

        Like

  7. Salam kenal mak Olen.Aduh…bacanya aja sampek ndomblong.Ada yo orang pinter bingits lulus cumlaude UGM trus S2 Monash trus ikhlas di dapur sekarang.Saluut deh.Kita aja jaman tahun 18 tahun yg lalu ikut UMPTN gak lolos pilihan pertama UGM.Hihi…

    Like

  8. aku ngiri banget loh Mba,, aku tes IELTS 3x belum bisa dapet 7. hikhik…. beruntung banget dan memang sudah takdirnya Mba Oleh untuk dapet beasiswa. Doakan aku tahun ini mau berjuang lagi Mba, biar tahun depan bisa berangkat. Mohon doanya banget yo.. salam kenal. cheerss

    Like

  9. Hehe yg pns berblazer ya len.. Ada yg wawancara pas lagi mabok”nya kehamilan pertama :p
    jadi inget masa muda nih, nungguin kelanjutannya, buat nostalgia! πŸ™‚

    Like

    1. Jurnalistik banyak bgt fellowshipnya…dan kalo profesi wartawan iti disukai pemberi beasiswa krm dianggap corong demokrasi *ehem

      Like

  10. Apa beasiswa di luar dibatasi usia mbak? Brp batas maksimalnya?
    Kalau nonton pilem2 bikinan luar kok seusia kakek nenek masih bisa sekolah/ kuliah
    Btw salam kenal mbak πŸ™‚

    *)emak2 rempong ma bayi yg suatu saat pengen kuliah lagi πŸ˜€

    Like

    1. Biasa ada batasan usia memang untuk beasiswa, tergantung tingkatan s2/s3. Kalo di luar negeri mmg banyak yg sudah agak tua melanjutkan sekolah lagi. Umum ngelihat mahasiswanya lbh tua dari dosen

      Like

  11. Wahhh mak seru banget ampe ndomblongan segala. Pengen juga aku kuliah di Ln, apa daya anak masih kecil2 trus skrg hamdun. Selamat yah mak keren lulusan LN. Ikhlasmu mendatangkan keberhasilan. ❀️

    Like

  12. Salam kenal Mak,sepertinya harus merguru Ielts nh=).pas banget postingan ini, saya sedang berjuang mau sekolah lagi. Tp seperti emak2 pada umumnya kendalanya anak. Kalau disana pilihan daycare bagaimana?mudah, berkualitas dan terjangkaukah?makasih mak

    Like

  13. Jari telunjukku juga jauh lebih panjang daripada jempol kaki, tapi kok ya ndak dapet2 beasiswa LN?? malah sekarang jadi tukang cuci piring di daput. Mungkin sebenarnya panjangnya jari telunjuk kaki itu mengindikasikan adanya bakat sebagai tukang cuci piring πŸ˜› hihihii πŸ™‚

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s