Jadi Traveler Nggak Perlu Resign


Rasanya sering sekali saya mendengar kalimat “Quit your job and travel the world”. Tampaknya asyik banget ya tidak terikat jam kerja dan bisa menjelajah dunia (apalagi sama partner tercinta ehemmm).

pl ratu board

Dan memang itu bukan hal yang mustahil, lho, banyak orang melakukannya. Mereka mengambil 3 bulan hingga beberapa tahun tanpa bekerja formal dan hidup berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain.

Lalu, bagaimana mereka melakukannya? Kebanyakan traveller jenis ini sudah menabung terlebih dahulu selama bertahun-tahun hingga mereka memutuskan untuk berhenti bekerja dan melakukan RTW trip. Ada juga yang menjual harta (rumah, kendaraan, dsb) untuk biaya keliling dunia. Dan jangan harap perjalanan itu seperti plesiran dengan tinggal di hotel bagus, kebanyakan harus hidup kere demi menghemat dollar.

Walaupun dibilang “berhenti bekerja” kadang mereka tetap kerja, walaupun bukan kantoran, misalnya menulis buku travel, ikut lomba blog sana sini, ngajar bahasa Inggris di negara tempat dia sedang “hinggap”.

Kenapa sih orang Barat (Eropa, Amerika) enak banget resign terus keliling dunia, beda sama kita. Banyak alasannya. Salah satunya adalah uang mereka nilainya lebih tinggi dari kita, jadi orang-orang yang middle income pun mampu travelling ke negara-negara Asia dan Amerika Latin. Kalau mereka bisa keliling duia, bukan berarti mereka kaya di negaranya.

pinisi2 sunset

Di banyak negara Barat, mencari pekerjaan itu(relatif) mudah. Jauh lebih mudah daripada lulusan Master luar negeri cari kerja di Jakarta *uhuk*. Beberapa negara bahkan kekurangan tenaga kerja, makanya mereka rela impor tenaga kerja asing. Selain itu, negaranya juga concern banget sama penghidupan warganegaranya.

Saya punya teman orang Finlandia, dia mengaku sulit menemukan pekerjaan yang cocok di negaranya. Setelah beberapa kali tidak sesuai, ia malah dimagangkan oleh negaranya di kantor United Nations (PBB) di New York. Lalu, pindah ke Jakarta. PBB sama sekali tidak mengeluarkan uang sepeserpun karena semua pengeluaran teman saya ini ditanggung negaranya.

the tricycle and the shorts -- oh how I miss my shorts!!!
the tricycle and the shorts — oh how I miss my shorts!!!

Di Malaysia saja saya nemu banyak tulisan “Jawatan Kosong” di toko-toko. Artinya dibutuhkan banyak tenaga kerja kan? Selain itu banyak juga lowongan untuk posisi dengan skill yang tinggi.

Jangan harap bisa semudah itu gonta-ganti pekerjaan di negara kita. Kompetitif bo!

Orang Barat itu memiliki norma yang berbeda dengan kita juga. Misalnya, mereka tidak punya kewajiban mengurus orangtua secara finansial. Biasanya orangtua sudah memiliki jaminan pensiun yang oke. Kalau tidak, ya diurus negara. Beda dengan kita kan yang punya tanggung jawab finansial dengan orangtua, adik, kadang malah kerabat juga. Jadi, ketika kita melepaskan pekerjaan, mungkin yang kita pikir bukan cuma kita saja, tapi orang-orang yang tergantung dengan kita. Apalagi punya anak/istri kaya Puput….ya harus rela mrongos-mrongos jadi kacung di negara tetangga demi sesuap nasi dan beberapa bungkus tempe buat saya dan Oliq. Insya Allah suatu hari nanti bisa RTW lah *ehem.

The Brouwerij t' IJ
The Brouwerij t’ IJ

 

Kalau punya pekerjaan tetap susah dong travelnya? Nggak dong. Susah travel karena waktu, memang benar. Tapi tidak susah biaya, kan punya pekerjaan tetap.

Lagipula, susah waktu juga bisa diakali. Jangan kira para traveller itu semuanya pekerja freelance atau bekerja di perusahaan asing dengan cuti 24 hari setahun. Banyak banget teman blogger yang sebenarnya adalah PNS dengan cuti cuma 12 hari setahun. “Mana dipotong cuti bersama!” keluh @efenerr salah seorang travel blogger nan masyhur di negeri kita ini.

Buat yang masih muda dan memang memutuskan untuk berhenti bekerja, tentu sah-sah saja dengan mempertimbangankan segala sesuatunya. Apalagi kalau dari hasil travelling bisa jadi buku best seller atau apalah yang bisa dijadikan biaya travelling lagi. Saya pun kalau tidak punya tanggung jawab, pengen seperti itu. But it’s not for me. For now.

It’s may be for you. It’s may be not. Kondisi dan prioritas orang beda-beda, jadi jangan gampang terpengaruh arus.

Walaupun bekerja, masih banyak cara travelling – malahan bisa gratisan. Misalnya cari kerja yang memang banyak travellingnya (perusahaan asing, perusahaan yang memberikan banyak jatah training pada pegawainya, NGO – terutama travel ke daerah terpencil, wartawan, penulis majalah wisata dll).

Bisa juga tetap bekerja dan rajin mencari fellowship, atau bahkan beasiswa keluar negeri untuk melanjutkan sekolah. Nah, kalian bisa sekolah dibayarin sambil jalan-jalan. Pulang, bisa kembali ke instansi lama atau cari baru tergantung bagaimana kontraknya.

New_Action - Ternate2

Bisa juga ikut lomba blog dan berbagai kuis yang akhir-akhir ini banyak sekali member hadiah berupa paket jalan-jalan atau travelling baik di dalam maupun keluar negeri.

Ga usah iri kalau nggak bisa resign untuk travelling. Bekerja dan travelling bisa berjalan beriringan. Mungkin saatmu untuk travelling sepuas hati bukan sekarang. Seperti kami juga….

*nabung dulu banyak-banyak buat RTW suatu saat nanti….Amin

 

Advertisements

30 thoughts on “Jadi Traveler Nggak Perlu Resign”

  1. *deg* pas banget tulisannya. Sekarang lagi bingung, baru kelar kuliah, mau masukin lamaran sana sini tapi takut g bisa traveling. Tulisannya ngasih pencerahan kalau kerja bisa juga sambil traveling.
    Makasih 🙂

    Like

    1. Jangan kuatir selama bagi kita travelling itu prioritas, pasti ada jalan. Kerja/nikah/punya anak jgn dijadikan dalih. Saya aja ibu rumah tangga tetep bisa traveling kok. Semangat yaaaa!

      Like

    1. Hahahaha aku ga ngiri lho. Jd travaler full time jg byk negatifnya. Lagian….lagian….aku kan sebenernya anak rumahan…

      Like

  2. Aku ngiri banget sama full traveler seperti Trinity dan dua ransel. Jalan2 mulu tapi duit tetep dapat. Eh tapi setuju deh tulisannya bahwa Indonesia cari kerja sulit apalagi pekerjaan yang banyak jatah cutinya. *curhatan anak baru wisuda dan masih pengangguran

    Like

  3. Resign dari kerjaan belum jadi pilihan buat saat ini. Cuti 12 hari setahun kalau pinter ngaturnya bisa ngagendain ngetrip agak panjang 2 kali setahun, plus libur akhir pekan. Apalagi ada juga cuti besar 30 hari 30 hari setiap lima tahun dan sering ada tugas luar kota/luar negeri dari kantor. kalau resign sekarang, harus butuh karpet terbang buat traveling deh mbak hihi

    Like

  4. kalau sy karena masih terikat kerja yg tak bisa ditinggalkan , ya punya rencana kalau pensiun nanti , untuk mengisi waktu dg traveling tp juga sesuai dg budget yg ada

    Like

  5. iya..emang banyak yg bikin kita gak bebas buat traveling. mahal bo’ lagian klo mau travel trus gak kerja lagi, trus anak2 ku mau dikasih makan apa 😦 tapi iri loh saya sama traveler yg cuman modal backpack doang. kebetulan ada kenalan yg backpacker (ada yg lagi gap year, ada yg murni ngakunya traveller) kayak gak punya kewajiban. tapi mereka tuh sudah punya budget misalnya pengeluaran per hari maksimal berapa itu sudah termasuk tidur sama 3x makan dll.
    pokoknya (kayaknya) enak banget. bedanya org indonesia sama bule2 itu, mereka travel selagi muda 21th atw 26th (gap year) trus, mereka tuh kerja dulu klo perlu seminggu 60-80jam trus upahnya kan per dolar or euro. (jauh dibandingkan upah ump diindonesia) klo kita. travelingnya abis pensiun kira2 umur 50th. yup, klo bisa milih pengen travel selagi muda.

    Like

  6. Woow, impian semua orang. Atau, pilih kerjaan yang bisa sering bepergian. Apalagi, sekarang kayaknya udah tuntutan kerjaan harus mau ditaruh di mana aja. Seperti, jurnalis, auditor, PNS juga kan ya?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s