Petualangan Dahulu Kala bersama Kereta Api


Baru-baru ini jagad maya medsos Indonesia dihebohkan oleh foto Ignasius Jonan, direktur PT KAI, yang tengah tertidur di kursi kereta ekonomi. Beliau tampaknya kelelahan setelah berhari-hari memantau arus mudik lebaran 2014. Buat pengguna kereta yang sudah berpuluh-puluh tahun, tentu bisa merasakan perbedaan layanan kereta setelah ditangani oleh Pak Jonan. Dulu, namanya kereta ekonomi, identik dengan uyuk-uyukan alias desak-desakan , belum lagi ditambah pedangan asongan yang setia menjajakan barang dagangan di dalam kereta tak peduli sepadat apa kereta itu. Udah gitu, namanya sepur telat udah biasa. Kalau mau marah, pasti dibilang, namanya juga kereta murah, gak boleh banyak protes hehehe…. Kini, Anda tentu sudah bisa merasakan bedanya.

Kereta Api Kahuripan, kereta kelas ekonomi yang jadi andalan utama orang Jawa Tengah dan Jawa Timur yang merantau di Bandung (kredit : id.wikipedia.org)
Kereta Api Kahuripan, kereta kelas ekonomi yang jadi andalan utama orang Jawa Tengah dan Jawa Timur yang merantau di Bandung (kredit : id.wikipedia.org)

Nah mumpung sekarang layanan Kereta Api sudah jauh membaik, kali ini saya ingin sedikit mengenang petualangan naik kereta api jaman dahulu kala, yang semoga sudah tidak terulang lagi setelah era reformasi di PT KAI.

Semenjak menuntut ilmu di Bandung, kereta Jogja-Bandung jadi langganan saya. Kalau dari Jogja, biasanya saya naik Lodaya dari Solo atau Musel alias Mutiara Selatan dari Surabaya, dua-duanya berhenti di Jogja. Berhubung kalau dari Jogja dibayari orang tua, naiknya ya kelas bisnis atau kadang-kadang rada borju naik kelas eksekutif. Nah kalau dari Bandung ke Jogja, baru kudu ngirit, namanya juga anak kos. Apalagi kalau lagi bener-bener kere, pilihan terbaik adalah naik kereta ekonomi. Pilihannya adalah Kahuripan yang berangkat malam atau Pasundan yang berangkat pagi. Untuk menghibur diri, biasanya anak kos perantau menyebutnya Argo Kahuripan biar kesannya mewah laksana kereta eksekutif.

Biasanya, saya dan teman-teman dari Jogja selalu pilih Kahuripan, jadi sampai Jogja pagi hari. Teorinya, berangkat sekitar jam 9 malam dan sampai di Jogja sekitar jam 7 pagi. Not bad sih, kalau gak telat hehehe… Kahuripan ini berangkat dari Stasiun Kiara Condong alias KirCon di sebelah timur Bandung, bukan Stasiun Bandung yang di tengah kota, yang memang stasiun kelas dua alias khusus kereta ekonomi dan kereta barang. Kahuripan ini selalu jadi favorit orang Jawa Tengah dan Jawa Timur yang pingin pulang kampung, sehingga kereta ini selalu penuh. Kalau beli tiket hari itu juga, pasti sudah tinggal tiket tanpa tempat duduk alias tiket berdiri. Kalau mau dapat tempat duduk, ya harus beli dari calo. Berhubung repot kalau harus bolak balik KirCon, pilihannya ya harus beli tiket berdiri. Eits, masih ada pilihan lain, yaitu yarwur alias mbayar ndhuwur alias bayar di atas. Gampangnya, langsung bayar ke petugas kereta yang ngecek tiket. Caranya, ya tinggal masuk aja ke keretanya. Dulu sih gak ada pemeriksaan, kalau masuk ya tinggal masuk aja. Eh, jangan salah, masuk ke kereta ekonomi itu perlu perjuangan. Kalau masih mau dapat tempat buat duduk – maksudnya duduk di lantai atau di gang dekat pintu masuk – ya kudu datang awal, paling gak sejam sebelum kereta berangkat, itu aja udah lumayan penuh. Yang penting masuk ke kereta, ngetag tempat, duduk manis sampai kereta berangkat. Menjelang keberangkatan jam 9, kereta sudah penuh sesak, saking penuhnya toilet kereta ekonomi bisa diisi empat orang. Ya, toilet kereta ekonomi yang lebih pesing dari toilet paling pesing di kampus, ternyata masih jadi pilihan beberapa orang. Entah saraf penciumannya yang sudah rusak atau sangat kebal, sampai sekarang saya masih tak habir pikir orang yang sanggup masuk toilet kereta ekonomi dari Bandung sampai Jogja. Saya sendiri biasanya nongkrong di bordes alias di dekat sambungan kereta. Jangan dikira duduk di kereta ekonomi bisa aman damai ya, kalau duduk di lantai resikonya sepanjang perjalanan kepala bisa ketendang-tendang pedangan asongan yang tiada henti. Beneran lho, pedangan asongan ini tak cuma di stasiun, sepanjang kereta mereka tak henti-hentinya mondar-mandir kaya setrika. Duduk pun kaki harus ditekuk-tekuk saking penuhnya orang di dalam. Kalau berdiri terus, dijamin pegel dan kram-kram sampe tujuan.

“Akuwa Sprit Panta Mijon, Akuwa Sprit Panta Mijon,” bakal menemani sepanjang perjalanan. “Nopia, lanting, nopia, lanting,” ini artinya Anda sudah mendekati Purwokerto.

Nah menjelang tengah malam, biasanya petugas kondektur berkeliling mengecek tiket para penumpang. Nah, kalau diminta tiket, tinggal kasih salam tempel aja buat petugas. Dulu sih, sekitar awal tahun 2000an cukup kasih seribu rupiah saja. Nanti menjelang pagi, petugas berkeliling lagi, tapi kadang-kadang Cuma sekali saja dari Bandung ke Jogja. Rekor yarwur paling murah ya cukup seribu rupiah dari Bandung ke Jogja, amat sangat lumayan ngirit buat anak kos hehehe…. Kalau tiket aslinya, rasanya sekitar 20 ribu untuk rute Bandung-Jogja.

Kereta Api Parahyangan yang sudah almarhum, dulu jadi andalan warga Bandung yang bekerja di Jakarta (kredit : Sakurai Midori, id.wikipedia.org)
Kereta Api Parahyangan yang sudah almarhum, dulu jadi andalan warga Bandung yang bekerja di Jakarta (kredit : Sakurai Midori, id.wikipedia.org)

Pengalaman lain adalah saat harus Kerja Praktek di Jakarta. Pada waktu tahun 2002, belum ada tol cipularang, jadi kalau naik bis dari Bandung ke Jakarta alternatifnya Cuma dua, via Puncak lanjut tol Jagorawi atau via Purwakarta lanjut tol Cikampek. Dua-duanya sama-sama lama, kalau naik bis bisa sekitar 6 jam. Pilihan terbaik tentu naik kereta Parahyangan yang legendaris, cukup 3 jam saja. Masalahnya klasik, kereta ini selalu penuh di akhir pekan, kalau tiap Jumat sore kereta dari Jakarta selalu full, sementara kalau Minggu sore kereta dari Bandung pasti penuh. Kereta ini selalu dipenuhi orang-orang komuter Bandung yang kerja di Jakarta. Berhubung dulu belum ada tiket online, kalau mau dapat tiket duduk di Parahyangan ya harus pesan jauh-jauh hari sebelumnya. Nah, kalau buat mahasiswa kere pilihan terbaik tentu yarwur lagi hehehe… Rule of thumb kalau mau bayar di atas adalah harus datang awal untuk ngetag tempat. Untungnya kereta ini hampir setiap jam ada kalau akhir pekan, jadi lumayan fleksibel. Tempat favorit adalah di sela-sela kursi di kelas eksekutif, tapi biasanya tempat ini sudah terisi, jadi yang paling mungkin ya di lorong pintu dekat toilet. Seperti biasa, kondektur akan mengecek tiket dua kali. Pas harga tiket bisnis parahyangan 20.000 rupiah, biasanya sekali salam tempel cukup 5000 rupiah. Lalu pas harganya naik jadi 30.000 rupiah, sekali salam tempel naik jadi 10.000 rupiah. Itupun kadang harus eyel-eyelan alias nego dengan petugas, soalnya kalau di Parahyangan petugasnya sering jual mahal hehehe. Kadang-kadang, ada pemeriksaan khusus di Stasiun Jatinegara, yang gak punya tiket akan digelandang keluar kereta. Untungnya selama ini belum pernah ketangkap, jadi saya gak tahu hukumannya apa hehehe….

Nah yang paling seru adalah ketika sudah kerja di Jakarta, sekitar tahun 2009. Rute Jakarta-jogja selalu padat kalau weekend, entah itu kereta atau pesawat. Harga tiket pun pastinya melejit. Nah, pada awal-awal menjadi espass alias eksekutip pas-pasan, pulang ke Jogja bisa jadi masalah besar kalau dadakan. Sampai akhirnya saya ketemu lagi dengan seorang kawan lama yang rupanya seorang anggota PJKA alias Pulang Jumat Kembali Ahad. Rupanya keluarganya ditinggal di Solo dan setiap minggu dia pulang kampung. Kawan saya ini memang luar biasa kreatif, entah bagaimana caranya dia bisa menemukan komunitas yang punya cara yarwur yang paling inovatif.

Kereta Api Argo Lawu yang menjadi favorit wong Solo dan wong Jogja (kredit : Rezza Habibie, id.wikipedia.org)
Kereta Api Argo Lawu yang menjadi favorit wong Solo dan wong Jogja (kredit : Rezza Habibie, id.wikipedia.org)

Singkat kata, kereta yang setiap minggu dia naiki adalah Argo Lawu jurusan Jakarta Gambir – Solo Balapan via Jogja, berangkat dari Jakarta sekitar pukul 9 malam. Kereta ini full executive, jadi pemeriksaan lumayan ketat. Kalau mau masuk kereta, harus menunjukkan tiket dan tidak dijual tiket berdiri. Keamanannya pun lebih ketat, sesuai lah dengan harga tiket yang mahal. Dulu, kalau wiken rasanya bisa 300 ribuan sekali jalan. Coba kalikan dua pulang pergi, trus empat kali sebulan, bisa habis 2,4 juta cuma buat tiket kereta.

Untuk mengakali keamanan yang ketat, caranya pun harus lain dari yang lain. Jadi kami naik kereta ini mulai dari stasiun Manggarai, tempat mangkalnya kereta ini. Masuk stasiun Manggarainya pun bukan lewat pintu biasa, tapi dari samping. Jadi ada tangga kayu yang melewati tembok stasiun khusus buat penumpang gelap, letaknya dekat terowongan Manggarai. Kami sudah harus sampai di stasiun jam 7 malam. Lalu setelah menyusuri rel kereta, ada banyak kereta yang sedang diparkir. Kawan saya tentu sudah hafal letak kereta Argo Lawu. Kalau belum pernah, jangan harap bisa menemukan kereta ini di tengah kegelapan malam. Sampai di kereta, kami langsung menuju gerbong pembangkit. Ya benar, gerbong pembangkit yang isinya pembangkit listrik tenaga diesel, biasanya diletakkan di rangkaian paling belakangan. Setelah masuk gerbong, rupanya anggota komunitas PJKA sudah berkumpul dengan segala perlengkapannya, kira-kira ada 8 orang.

Menjelang pukul 8 malam, kereta ini mulai berangkat ke Stasiun Gambir. Jaraknya dekat saja, mungkin sekitar setengah jam saja. Begitu berangkat, kawan saya langsung berkata,

“Ayo cak, ndhelik sik (ayo sembunyi dulu).”

“Nang ndhi ndhelike (dimana sembunyinya)?” balas saya.

“Wis meluo wae (sudah ikut saja),” langsung dibalas lugas.

Rupanya dalam gerbong pembangkit itu, ada ruangan kecil yang ternyata adalah saluran udara masuk alias air intake buat diesel genset. Dalam gerbong itu ada 2 genset dan hanya satu yang menyala, jadi genset yang mati bisa dimanfaatkan saluran udaranya. Ukurannya mungkin sekitar 1 x 1 m , ada pintu kecilnya untuk akses perawatan. Pintu ini yang dimanfaatkan untuk masuk. Jadi menjelang masuk Gambir, kami semua harus sembunyi dalam ruangan ini. Jangan salah ya, 8 orang berdiri bisa masuk dalam ruangan ini meskipun jadi sarden. Bagian atasnya hanya berupa kisi-kisi, tak ada atap. Jadi kalo hujan ya dijamin trocoh alias air hujang langsung masuk. Pokoknya, suasananya mirip-mirip human trafficking alias penyelundupan manusia dari Mexico ke Amerika Serikat. Maklum, meski espass dulu sempet nonton National Geographic.

Begitu masuk, kami semua langsung nyanyi-nyanyi. Ya enggaklah, emangnya mau konser…!!! Pokoknya begitu masuk, semua harus diam, pintu juga dikunci dari dalam. Nggak dikunci sih, cuma dikait pake kawat biar gak bisa dibuka dari luar.

Begitu sampai Gambir, kereta langsung berhenti. Lokomotif ditukar posisinya alias langsir, sementara penumpang masuk satu persatu. Trus rombongan PJKA tadi ngapain? Ya diam saja, meskipun kaki pegel dan badan keringetan, sambil berharap kereta cepat jalan. Setelah lewat pukul 9 malam, kereta mulai jalan. Beberapa saat kemudian, pintu diketuk-ketuk dari luar. Rupanya kondektur ngasih kode kalau sudah aman dan bisa keluar. Langsung pintu dibuka dan semua keluar dengan sumringah. Setelah itu tinggal cari PW alias posisi wuenak buat BBM alias bobok bobok malem. Udah selesai?? Ternyata belum sodara-sodara.

Setelah keluar penjara, kami harus bayar dulu, seorang 50 ribu. Maklumlah, namanya saja Argo, kelas yarwur pun juga mahal. Setelah kumpul, kawan saya selaku coordinator langsung menyetor ke kondektur. Ini belum selesai lho. Menjelang sampai Cirebon, kondektur kasih kode untuk segera sembunyi. Jadilah kami bangun lagi setelah tidur beberapa jenak, sembunyi lagi di bilik saluran udara. Seperti biasa, di Cirebon kereta berhenti dulu untuk menaikkan penumpang sekaligus pemeriksaan tiket. Jadilah kami masuk penjara lagi meskipun mata sangat berat, maklum sampai Cirebon kira-kira pas tengah malam. Tidur sambil berdiri pun akhirnya dijabanin. Untungnya kereta cuma berhenti sebentar di Cirebon, lepas itu kode yang ditunggu-tunggu datang juga. Artinya, kami sudah bisa keluar dari penjara dan melanjutkan tidur yang tertunda.

“Wis Cak, saiki wis rampung mriksone, iso micek tekan Jogja (sudah, sekarang sudah selesai, bisa tidur sampai Jogja),” kata kawan saya dengan pedenya.

“Sip, kari nggelar koran karo bantal,” sambut saya dengan antusia.

Selepas Cirebon, anggota PJKA tinggal mengatur posisi, menggelar tikar atau koran, pakai jaket biar gak kedinginan, plus atur tas buat jadi bantal. Rupanya tidur selonjoran di lantai kereta memang nikmat, apalagi dengan kereta Argo yang cepat dan cuma dua kali berhenti di Cirebon dan Purwokerto. Tak heran, komunitas PJKA ini setia pakai cara ini setiap minggunya.

Akhirnya, kami selamat sampai Jogja menjelang Subuh, sekitar pukul 5 pagi. Saya turun di Stasiun Tugu, sementara kawan saya lanjut ke Solo Balapan. Beberapa anggota juga turun Jogja, tak perlu buru-buru, kami pun turun dengan santainya tanpa ada yang curiga.

Akhir kata, saya berharap petualangan jaman jahiliyah ini jangan ditiru yaa… Semoga PT KAI dibawah Pak Jonan bisa lebih maju lagi, jalur selatan segera dibuat full double track, kereta ditambah, dan fasilitas terus diperbaiki.

Advertisements

13 thoughts on “Petualangan Dahulu Kala bersama Kereta Api”

  1. wastagaa mas puput hahahah jagoan benerr :))
    aku terakhir naik kereta itu pas kemarin jadi EO dadakan harus ke Cirebon, heheheheh dan aku jadi tau tempat yg pembangkit itu kayak apa, soalnya kereta wisata yg disewa kantor aku ada diujung dan di sebelahnya ada kereta pembangkot, gileee itu berisiknya bukan main, saya sempet bulak balik situ soalnya musti ke gerbong bisnis, sereemm rasanya =,=

    Like

  2. edyann tenan petualangane cakk aku wae sing mbiyen sering ngambing yarwur gk tau sampek sakmonoe wkwkwkw asyik, menantang, dan juga penuh petualangan hahaha
    Semoga kedepanya pt.kai semakin maju dan joss dalam hal kemanusiawian penumpang
    Dan cerita tadi tidak terulamg kembali pada siapapun hehe

    Like

  3. saya dn teman teman kerja bertiga rencananya mau jalan jalan ke yogya.. Budget kami memang bukan anak kost.. Kami sih cuma pengen merasakan naik KA ekonomi perjalanan Bandung-Yogya.. (Bukan gk mampu beli tiket KA eks) hahhaah… Congkak dikit gpp kali ya… Heheh…. Nah,,kami sharing planning kami ke tmen-tmn kantor.Dan semuanya pada nge bully dan cenderung nakut nakutin..pokoknya gk ada yg ‘mendukung’ planning kami naik ekonomi. Bahkan sampai ada yang bilang naik KA ekonomi kayak naik apollo,,duduknya tegak gitu ..hahhaha.. Duduk lutut ketemu lutut.. Nyampe Yogya yg ada elu udah kecapean!Dua temanku yang masih terbilang muda sih tetap teguh pendirian pengan nyobain KA Ekonomi.. Nah saya agak parno denger cerita mengerikan pakai KA ekonomi.. Dengan baca blog ini ada sedikit pencerahan dari orang yang netral .. Bukan seperti teman-teman di kantor yang memang punya unsur membully bahkan unsur bisnis dengan menawarkan sewa mobil saja drpada naik KA.. Heeheh…

    Like

  4. pengalaman naek kereta jarak jauh paling banter cuma dapet tiket berdiri (tanpa nomer tempat duduk)… gak pernah sampe sembunyi2 di kereta pembangkit… mungkin karena beda era kali ya mas… awal 2000an saya baru lulus SD… hahaha..

    adegan paling seru cerita diatas saat ngendap2 lompat tembok di stasiun Manggarai… kebayang kalo cerita ini diangkat ke layar lebar.. 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s