Ramadhan di Luar Negeri Lagi


Tahun lalu saya sempat berkata ingin sekali merasakan bulan puasa di luar negeri lagi, alhamdulillah kini terlaksana walaupun cuma sepelemparan batu dari nusantara. Tahun ini saya mengalami bulan Ramadhan — dan insya Allah Idul Fitri — di Kuala Lumpur.

IMG_3124

Puasa di Malaysia hampir sama guyubnya dengan di Indonesia dengan berbagai kebiasaan yang sama pula. Kolak, es buah, dan takjil pun mirip-mirip semua. Datangnya bulan puasa ditandai dengan penjualan kurma dan sirup di supermarket. Bahkan waktu ke Pasar Chow Kit, di toko langgganan karyawan mengangkut berdus-dus sirup marjan. Marjan memang tak lekang lokasi. Jaya selalu di bulan puasa.

Banyak warung dadakan muncul di pinggir-pinggir jalan, tidak hanya jual makanan untuk berbuka puasa, namun juga menjual baju, kerudung, dan mukena (bahasa sini telekung).

Apa yang beda?

Awal puasa ini saya berada di Jakarta, saya melihat banyak warung dan foodcourt yang buka. Dan berbeda dengan belasan tahun lalu ketika makan di tempat terbuka saat Ramadhan itu rasanya kok saru banget, sekarang ini banyak yang cuek dan santai makan di restoran. Bahkan ibu-ibu dan mbak-mbak berhijab pun makan dengan lahap. Oh, jangan salah, saya sih tidak masalah dengan itu. Masa niat puasa dengan pemandangan seperti itu saja tergoda!

Nah, di Malaysia tampaknya fenomena sepeti itu terjadi juga. Walaupun banyak warung yang tutup saat siang hari, di warung-warung yang buka pun orang makan dengan santai. Tidak hanya mereka yang beretnis India dan Cina, melainkan juga perempuan Melayu. Jadi dalam hal itu, Indonesia dan Malaysia masih serumpun banget deh.

Subuh di sini sekitar jam 6 pagi, jadi saya biasa sahur jam 5.30. Dan gara-gara nonton Perancis-Jerman semalam, pagi ini kebablasan nggak sahur. Wuuuuh gara2 si Cucup ki! Padahal buka masih jam 7.30an.

Saya senangnya di Malaysia adalah gampang menjalankan ibadah tarawih. Dulu waktu menimba ilmu (ehm) di Australia, saya nggak pernah tarawih di masjid. Paling tarawih sendiri di rumah, itu pun kadang-kadang (duh biyuuuung, sepurane Gusti!). Di Clayton tempat saya tinggal, ada masjid cuma agak jauh jadi malas. Ada pula masjid Indonesia tapi harus jalan kaki jauh ke stasiun disambung naik kereta ke Westall. Duh tambah males meneh. <– nggak solehah banget deh waktu itu.

Di Kuala Lumpur ini nggak perlu jauh-jauh, kompleks apartemen pun mengadakan shalat tarawih di surau. Ruangan pingpong disebelah surau pun diubah sementara jadi ruangan tambahan untuk shalat tarawih. Maklum saja di apartemen ini banyak orang Indonesia, Arab, Persia, dan Afrika Maghribi.

Yang paling senang di sini adalah imamnya dari beberapa negara yang berbeda. Bahagia banget waktu malam pertama tarawih imamnya berasal dari Kamboja. Ini pertama kalinya saya diimami orang Kamboja, lho! Dulu pernahnya orang Malaysia, Brunei, Pakistan, India, Arab, Vietnam, Bangladesh, Thailand. Eh sekarang dapat imam dari Kamboja. Cool, huh?

Di luar negeri seperti ini hal-hal demikian sangat membahagiakan. Umat Islam dari berbagai negara berkumpul, nggak peduli Islam-mu yang seperti apa. Pokoknya ibadah bareng demi Allah! Nggak kaya di negeri sendiri yang sama-sama Islam malah gontok-gontokkan, saling mengkafirkan. Uopoooo kuwi, koyo sing nduwe surga wae!

Eh tapi ternyata jamaah shalat tarawih di apartemen tidak sebanyak yang saya kira, lho. Perasaan warganya banyak banget kok bagian perempuan cuma tiga shaf (3 x 20 orang = 60 an), padahal orang Indonesia ada 50an yang mayoritas muslim, belum lagi para pembantunya, belum lagi orang dari banyak negara lain. Alasannya mungkin karena banyak yang punya anak kecil, sih. Saya sih bawa Oliq walaupun anaknya glundungan aja di sajadah. Tapi ternyata waktu shalat tarawih itu banyak juga ibu-ibu Arab yang malah ngajak anak-anaknya mainan di playground — padahal udah jam 10 malam, bukannya ikut tarawih. Eh, who am I to judge sih, saya ini kan cuma perempuan berkerudung yang semi-sekuler.

Formasi shalat di sini 2-2, bukan 4-4-3, biasanya setelah 8 rakaat banyak yang pulang, termasuk saya. kalau Puput sih pasti sampai 20+3. Ada jaburan yang disediakan di meja, siapa yang mau tinggal ambil. Mirip-miriplah dengan tarawih di Indonesia.

Intinya sih saya senang bisa Ramadhan di luar negeri lagi, di mana Islam justru terasa lebih padu.

Alhamdulillah.

Advertisements

11 thoughts on “Ramadhan di Luar Negeri Lagi”

  1. iyah mbak.. lebih rukun dan guyup, nggak kaya masjid di belakang kantor *deket kosanku* moso eklusif, kalo org luar yg sholat disitu kok pada ngeliyatin gimana gitu… apa krn aku tampan? ah sudah lupakan pindah sholat aja di masjid raya depan kantor tapi ceramahnya lama ada tiga lapis : pembukaan walikota, kepala kantor depag baru ceramah.. *hiks jadi curhat

    Like

  2. Iyo mbak, jd inget suka beli takjil di pasar mlm atw apalah namanya, sekitar Taman Tun… Kangen sama roti boom, canay dan teman2nya, cocol pake kari atw dhal… Wuenak tenan (penganan khas kuliahan dl); kl tarawih ya di Wisma Indonesia apa di KBRI…

    Like

  3. “Pokoknya ibadah bareng demi Allah! Nggak kaya di negeri sendiri yang sama-sama Islam malah gontok-gontokkan, saling mengkafirkan.”<—- setuju dengan ini. selamat idul fitri mbak. semoga di masa mendatang, makin banyak buku yg ditulis 😉

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s