Petualangan NST di Negeri Jiran


Alkisah ada sebuah keluarga kecil yang pindah ke Kuala Lumpur. Kamilah keluarga tersebut (jiaaahhh belum-belum udah ngaku!). Awalnya kami bimbang apakah kiranya kami butuh jasa seorang pembantu. Hanya pada awal kehidupan kami di Jakarta,  kami punya pembantu yang menginap, setelah itu hanya mempekerjakan pembantu paro waktu yang datang setiap hari selama 2-3 jam untuk bebersih dan bawa Oliq main ke taman.

Oh, maaf, agar terkesan modern dan humanis serta mainstream, setelah ini saya akan mengganti istilah pembantu menjadi asisten rumah tangga (ART).

Ada beberapa alasan kenapa saya dan Puput akhirnya memutuskan untuk membawa pembantu, antara lain karena ekspatriat dari Indonesia memang bisa membawa pembantu. Ke dua, sulit menemukan laundry kiloan, tidak seperti di Jakarta. Dan walau mesin cuci tersedia, saya akan nangis bombay kalau setiap hari harus setrika. Alasan lain adalah ART ini bisa ngajak Oliq ke taman jadi Simbok bisa ngetik dan melayani tanya jawab dengan fans #dikeplak. Alasan berikutnya adalah ART ini bisa menyiram tanaman-tanaman kami jikalau kami sedang bepergian di negeri antah berantah demi beberapa postingan blog dan kebahagiaan diri.

Jadi melalui seorang sepupu, direkrutlah NST dari kota berinisial C di Jawa Barat. NST berusia 29 tahun, beranak satu, bukan janda bukan juga perawan. Ia adalah bekas TKI di Arab Saudi yang kalau ditanya, “Dulu di Arab kamu di kota mana?” dia akan menjawab “Di Mekkah Medinah?” Diperjelas lagi, “Di Mekkah atau Medinah?” Dijawab lagi, “Di Mekkah Medinah, tulisannya Mekkah Medinah gitu oooo,” dengan gaya khasnya. Mbah Kakung-nya Oliq sebal dijawab demikian, langsung berlalu menuju ke tempat semedinya. Jadi, kota tempat NST dahulu bekerja di Arab masih tetap menjadi misteri.

Perekrutan NST sendiri mengalami berbagai kendala. Karena paspor yang dahulu masih aktif (24 halaman), terpaksa dicabut, untuk kemudian dibuatkan yang baru (48 halaman) — dan dengan anggapan lebih mudah disetujui visanya oleh pemerintah Malaysia. Biayanya sekitar 7-8 kali lipat dari paspor biasa. Di kota C, NST juga sudah dites kesehatan lengkap, kira-kira menelan biaya tiket pesawat pulang pergi  ke Australia.  Sayangnya, tidak termasuk tes mental, kecerdasan, budi pekerti, dan kecerewetan.

Singkat kata, saya, Oliq, adik saya Delin dan NST berangkat ke Kuala Lumpur dari Jogja. Di imigrasi Jogja sempat ditanya, karena sekilas saja petugas menyangka NST adalah TKW, namun ia tidak menemukan visa di dalam paspor. Terpaksa saya menjelaskan. Di Bandara LCCT yang sudah almarhum, saya kepentok lagi dengan petugas imigrasi Malaysia tentang NST. Namun, si bapak tampaknya sudah cukup paham karena dia melihat saya memegang Visa Dependent Pass demikian juga dengan Oliq.

Awal bekerja, NST sepertinya rajin sekali. Kerjanya cepat, sampai-sampai makanan-minuman belum selesai dihabiskan pun sudah diangkut. Berulang kali Oliq nangis karena mainannya sudah diberesin padahal dia cuma nengok sejenak.

Rumah kelihatan rapi dan bersih. Tapi sebenarnya dalam laci-laci semuanya berantakan. Proses kerja NST ini “asal kelihatan rapi”. Ada obat di dalam laci mainan Oliq, ada mainan Oliq di dalam laci kabel dan charger, ada sekrup-sekrup di dalam laci beras.

Bagi kami, urusan hasil pekerjaan adalah nomor dua. Yang pertama adalah attitude. Kami sempat hampir memulangkan NST sebelum melamarkan visa untuknya. Ada beberapa alasan, salah satunya adalah kejadian berikut ini.

Saya mendengar NST berkata pada Oliq tentang “orang jelek”. Saya tegur keras dia, saya katakan semua ciptaan Tuhan tidak ada yang jelek. Dia jawab seperti ini dengan gaya mendesnya, “Oooo Mbak Olen itu lucu e, masak katanya nggak ada orang jelek ooo. Ya udah nggak ada orang jelek. Yang jelek cuma orang Negro kan?” Muntab aku! Nguamuk tenan. Hal semacam ini tidak bisa ditoleransi.

Sesorean saya gundah gulana. Pada saat itu NST sudah berada di Malaysia sekitar 20 hari, artinya hanya tinggal sedikit waktu untuk memutuskan akan melamarkan visa maid (PRA) untuknya atau tidak.

Saya dan Puput malam-malam berdiskusi tentang hal ini. Puput sebenarnya sudah hendak memulangkannya karena dianggap bisa berpengaruh buruk pada Oliq — yang sudah kami kenalkan berbagai budaya dan mencintai perbedaan sejak dalam rahim. Ehm, kudu traveling lagi nih biar dia makin kenal budaya lain.

Duh, ngelantur. Kembali ke NST.

Karena kami merasa tidak adil bila tidak memberi kesempatan ke dua, akhirnya keesokan harinya kami menetapkan rules di rumah ini. Saya ajak bicara tentang apa yang boleh/tidak dikatakan di depan Oliq. Saya utarakan juga bahwa kami terganggu bila NST terlalu banyak komentar ketika kami nonton TV saat Oliq sudah tidur.

Jadi biasanya kalau Oliq sudah tidur kami berdua nonton TV di ruang keluarga. NST ikut nonton, boleh silakan. Tapi sangat mengganggu kalau saat kami nonton Eat Street di NatGeo Adventure (sekarang NatGeo People) misalnya, dia akan terus-terusan berkomentar seperti, “Wooo, kalau makanan Barat itu nggak enak ya Mbak Olen ya, nggak ada rasanya oooo.” Atau ketika di layar TV muncul pancakes, dia komentar lagi, “Kalau itu aku bisa bikinnya. Dulu aku suka lihat yang jual martabak mini di Plered ooo. Kapan-kapan aku bikinin ooo.” Demikian terus menerus sepanjang acara.

Proses lamaran visa PRA akan dijelaskan dalam artikel yang berbeda yang lebih objektif untuk membantu keluarga Indonesia yang akan hijrah ke Malaysia juga. Artikel ini NST harus jadi bintangnya. Intinya, kami harus mendaftarkan ke Fomema dulu, membayar RM 190. Lalu saya mengantar NST ke klinik yang ditunjuk Fomema (sesuai pilihan saya) untuk memeriksakan kesehatan NST (gratis). Berbagai dokumen dikumpulkan. Hasil kesehatan bisa dilihat secara online seminggu kemudian untuk kemudian dilampirkan dalam aplikasi.

Tiba saatnya kami ke Putrajaya untuk mengirimkan aplikasi visa NST. Prosesnya cukup cepat karena melalui Bahagian Expatriate Service, sesuai dengan saran seorang teman bernama Mbak Indah — asli Magelang tempat Kupat Tahu berasal. Duh ngelih.

Dalam jangka waktu sebulan-dua bulan NST makin menggila. Baginya, kerja asal cepat sehingga ia segera bisa ke taman untuk gosip-gosip dengan para ART yang lain. Oliq yang awalnya mau diajak ke taman oleh NST makin resisten, dia bilang, “Nggak mau ke taman sama Mbak N!” Sering harus diawali dengan menangis kalau Simbok memaksanya ke taman dengan NST karena ada gawean yang haru segera diketik.

NST ini sama sekali tidak mau mengajak Oliq bermain di rumah atau di balkon. Padahal Oliq akan sangat senang kalau ditemani main puzzle, keruk-kerukan excavator, mobil-mobilan, atau sekedar nonton video pesawat di YouTube. NST selalu memaksa-maksa Oliq untuk ke taman, jadilah si anak makin enggan.

NST makin berani, dia pergi ke taman untuk bergosip sehari bisa 4-5 kali. Bayangkan kalau sekali pergi satu jam, berapa jam ia berada di rumah. Tiap pulang ia selalu membandingkan gajinya (RM 700 setara dengan Rp 2,6 juta) dengan gaji cleaning service (katanya RM 2000, tapi tentu dia tidak menghitung biaya kontrak rumah, makan, tiket dll). Dia bahkan berani minta cuti karena diajak kencan oleh seorang cleaner Pakistan. Langsung saya marahi dia. “Orang baru kenal jangan dikasih nomor hape, nanti kalau kamu diapa-apain gimana? Nggak boleh!” Dia jawab, “Katanya belum punya istri!” Aaaaaaakkkkkkk Simbok semaput. Tapi tetep nggak boleh

Keanehan NST makin menjadi karena pagi — ketika saya sibuk nyuapin Oliq — bahkan sebelum dia nyapu dan ngepel dia minta izin mau lari pagi. Setiap pagi. Saat ini saya sudah dalam taraf tidak mau melarang dia, seharusnya dia yang lebih tahu diri. Siang ia akan bolak-balik ke taman. Sore dia akan “mandi basah di kolam renang” dengan pakaian lengkap. Dia bahkan pernah berendam di kolam renang yang sedang rusak di mana airnya sudah tergenang selama 1 bulan. Dari balkon saya cuma gedek-gedek saja. Sampai rumah, dia tidak mau mandi karena katanya tadi sudah basah.

Ini problem sangat besar bagi NST: ndableg. Dia tidak bisa dikasih tahu. Ketika saya tahu dia hanya sikat gigi sehari sekali, saya kasih tahu paling tidak dua kali, dia akan menjawab, “Nggak papa sekali aja udah cukup ooo!” Ketika saya suruh mandi setelah berendam di kolam renang, ia akan menjawab, “Nggak usahlah, tadi udah basah!”.  Ketika saya bilang ayunan di playground hanya untuk anak-anak, ia jawab, “Pak Satpamnya nggak pernah marahin aku ooo. Pak Satpamnya baik sama aku.” Demikianlah saya makin enggan memberi saran, himbauan, dan perintah.

Problem berikutnya adalah ketidakcerdasan. Ketika seseorang mau belajar, tidak masalah. NST ini tidak tahu yang namanya sofa, merica, coca cola. Sampai ditunjukkan sofa sama Oliq. Setiap kali mau menyuruh ke pasar saya harus menggoogle gambar-gambar bahan yang harus dibeli, misalnya: Coca Cola, kluwak/kluwek, merica, pekak/star anise dan sebagainya.

With the power of Google images, I send NST to the market!

Setiap belanja selalu ada yang salah, misalnya disuruh beli cabe rawit merah, dia akan beli cabe rawit hijau. Butuh cabe rawit hijau, dia beli cabe hijau besar. Lebih menyebalkan lagi adalah dia selalu menyalahkan penjualnya. Terakhir dia beli telur 10, sampai rumah sudah pecah 3, entah diapakan telurnya, mungkin dibuat main bekel dulu.

Awalnya saya sering mengajak dia belanja dan jalan-jalan, ke Carrefour, ke Aeon, ke KLCC, namun tingkah polahnya sangat “ngisin-isini”. Di KLCC dia duduk ndeprok di lantai sambil makan roti. Saya bilang, duduk di bangku sana. Dia bilang, enggak ah enak di sini! Pengen takkruwes2. Di Aeon dia menumpahkan sabun cair banyak sekali di lantai. Di halte bus, stasiun kereta, di manapun dia selalu jongkok. Ora iso dikandani babar blas.

Memasak pun jadi masalah. Saya sudah berkali-kali bilang (Puput juga), kalau dia masak untuk dirinya sendiri saja. Saya selalu memasak. Lagipula, tidak ada dari kami yang doyan masakannya, antara lain capcay dengan daun jeruk, oseng-oseng dengan serai, dsb. Rasanya either asin banget sampai pahit, atau tidak ada rasanya sama sekali. Malangnya lagi, dia selalu masak dalam jumlah banyak, disajikan dengan mangkok terbaik di meja makan. Saya, yang biasanya masak sore menjelang Puput datang hanya kebagian sayuran sisa.

1-2 bulan terakhir ia berteman dengan salah satu ART lain bernama AH, TKI dengan majian orang Melayu Malaysia. Hampir tiap dua hari sekali NST pergi ke pasar malam. Pulangnya sekitar pukul 10.30 malam. Suatu malam ketika saya ngunduh pengajian bapak-bapak, NST pergi ke pasar malam hingga larut sehingga para bapak yang sedang pengajian cukup kaget dengan kedatangan NST.

Malu saya jadi majikan. Majikan gagal. Tapi saat itu saya dan Puput sudah memutuskan untuk memulangkan NST pada hari Lebaran, bersamaan dengan kami mudik. “Aku stres diwaduli terus,” ujar Puput.  Dan kami sepakat sudah tidak akan melarang NST. Terserah mau ngapain.

Saya sempat meledak sih sebenarnya ketika NST sudah bolak-balik ke luar rumah, dan ketika saya suruh membersihkan sesuatu dia bilang sudah melakukannya. Ketika saya tunjukkan bahwa sesuatu itu masih sangat kotor dan penuh sawang (apa sih boso Indonesianya?). Dan ketika saya marahi, dia bahkan tidak mau melepas earphone yang tersambung ke ponselnya. Saya gebrak meja dapur.  Dia bilang, “Ah itu warnanya coklat jadi kelihatan kotor.”  Saya ngamuk bukan kepalang. Saya suruh bersihkan satu-satu, saya bilang kalau ke taman maksimal 2 kali sehari saja. Dia bilang, “Ya udah aku di sini aja nemenin Mbak Olen, aku dikurung di rumah aja.” Hanya 2 hari sembuh, setelah itu kumat lagi.

Banyak hal lain yang membuat saya jengkel, misalnya menanyakan gaji terus menerus sebelum tanggal 25. Padahal dia tahu saya menggaji pada tanggal tersebut. Sama halnya dengan jatah pulsa.

Beberapa kejadian memilukan terjadi dengan Oliq, hampir saya menangis saking ikut sedih. Suatu hari NST pulang dari taman, Oliq bilang, “Mbak N, main keluk-keluk di balkon cini sama Aik,” katanya sa,bil memegang excavator. NST bilang, “Mbak N ngantuk, mau tidur,” dan dia masuk kamar. Sekali waktu Oliq sedang main-main di dekat pintu kamarnya, didorong, “Mbak N mau tidur,” pintu ditutup di depan muka Oliq. Kejadian yang terakhir beberapa hari yang lalu, Oliq bilang, “Mbak N, cini nonton aipik (iPad) cama Aik,” sampai nangis. NST masuk kamar mandi, terus keluar dan bilang, “Mbak Olen, aku mau ke pasar malam.” Siapa yang kejam kalau seperti ini?

Bahka ketika ibu mertua di sini, ia berani pulang pukul 10.30. Ibu mertua bilang, “Sing sabar mbak, sedilit meneh diulihke kok.”

Ternyata petualangan NST di negeri jiran bahkan lebih singkat lagi. Sebenarnya ketika mama saya bersama rombongan pengajiannya ke sini sudah menawarkan akan mengangkut NST sekalian, sayangnya visa NST waktu itu belum jadi, sehingga tidak bisa pulang karena sudah overstay terlalu lama.

Keputusan memulangkan NST 1,5 bulan lebih awal karena kami meledak. Hari Minggu yang lalu, NST izin keluar ke taman pukul 11.00. Dia tidak pulang untuk makan siang, padahal hal pertama yang ia biasa lakukan saat pulang dari taman adalah buka rice cooker. Nasinya segunung, lauknya secuil, tanpa sayur, dan menghabiskan kuah. Kami pergi belanja, kembali rumah masih berantakan. Sorenya kami ke Pasar Seni, pulang pukul 17.00 rumah masih dalam keadaan yang sama. Dia pergi tanpa memberi kabar sedikitpun. Sedikit cemas saya, jangan-jangan diculik. Ya ampun kasihan penculiknya kudu sedia beras sekarung!

Maghrib tetap belum pulang. Saya SMS tidak menjawab, saya telpon tidak bisa. Aduh, harus lapor polisi nih. Tiba-tiba telpon saya berdering, katanya dia lagi di kereta di ajak temannya. Telpon saya tutup, yang penting tidak diculik saja. Di SMS katanya temannya kesasar. Whatever, pikir saya. Pukul 21.00 dia sampai rumah, saya sudah mencuci baju, menyapu dll. Saya dan Puput mengurung diri di kamar enggan bertatap muka dengannya. Baru setelah NST masuk kamar kami keluar. Ooopppss, sebelum keluar kami sudah memesankan one way ticket untuk NST, dan dengan konsolidasi KUL-JOG, tiket travel JOG-C pun diamankan. Return ticket untuk panitia penjemput pun dipesan. Tim Deportasi NST adalah adik saya Delin dan Mama saya.

Sampai kedatangan Tim Deportasi (Selasa lalu), NST masih tidak tahu apa-apa. Akhirnya diberitahu bahwa ia akan pulang dengan Uti. Ngeyel nggak mau pulang. Awalnya kami bilang pulang sekarang karena tiket lebaran nggak ada (takutnya kalau dibilang dipecat dia malah kabur). Dia bilang, “Aku nggak apa-apa ooo lebaran di sini aja.”

Uti langsung memikirkan Plan B, “Mas Puput sama Mbak Olen itu mau ke luar negeri. Mas Puput tugas lama, jadinya kamu harus pulang dulu.” Tanya mau kemana, mama saya waton saja bilang Turki.

Dua hari Tim Deportasi berada di rumah, NST dengan segala cara tidak mau pulang. Mulai dari mempengaruhi Oliq, “Aik Mbak N ikut Aik aja ke Turki, biar Mbak N tau mana-mana.” Gundulmu, Su! Berulangkali bertanya jadi pulang nggak. Jadi, nggak bisa ditawar. Pada hari terakhir dia bilang temannya AH yang hari Minggu itu mengajaknya jalan-jalan akan datang minta maaf dan menjelaskan duduk persoalannya. Puput bilang sama saya, “Ya dimaafkan, tapi kowe tetep mulih!”

Bahkan setelah packing, pada hari H sebelum keberangkatan pun dia masih berusaha mengelak, “Aku di sini aja oooo. Mbak Olen, aku jadi ikut pulang sekarang nggak?” Ente pikir naik pesawat antarbangsa kaya naik bajaj gitu?

So, saya melepaskan kepergian Tim Deportasi dan TSK, eh maksudnya NST, ke bandara. Mereka akan naik LRT disambung KLIA Ekspres hingga ke KLIA2. Oliq sedih karena ditinggal uti dan tantenya, tapi lempeng bilang “Dadah, Mbak N”.

Ternyata dalih mama saya bahwa kami akan ke Turki menyebar ke segala arah. Ketika kami ke minimarket, mas kasir yang feminin menyapa, “Kakak mau ke Australia ya?”

“Hah, siapa yang bilang?”

“Itu maid kakak cakap mau diantar pulang, kakak mau ke luar negeri. Maid kakak itu suka cakap banyak.”

Demikian beberapa ibu pun sudah mendengar tentang kami mau ke Turki. Duh. Ash embuh.

Cerita setelah ini adalah hearsay, karena berdasar percakapan melalui WhatsApp dengan Tim Deportasi.

“Ngisin-isini tenan pembantumu!” kata Delin. Di KLIA Ekspres NST bicara keras-keras di luar batas kesopanan dan kewajaran. Dia tunjuk-tunjuk orang asing (padahal di apartemen juga banyak orang asing kulit putih).  Barang bawaan NST sangat banyak. Di satu sisi adalah dia selalu blanja-blanji di pasar malam. Saya menghitung ada 4 celana baru — salah satunya adalah celana ketat pink ngejreng yang bikin daster, kaos saya, kaos Puput, throw sofa kelunturan. Ada juga sekitar 5 atasan, 2 rok, kerudung, jam tangan, gelang, dan sebagainya.

Untungnya NST dan Tim lolos imigrasi dengan lancar.

Kehebohan terjadi di imigrasi Jogja. Pengalaman saya memang mereka banyak tanya. Entah bagaimana ceritanya NST ditanya kerja apa. “Kerja rumah tangga!”

Ditanya oleh petugas imigrasi, “Pulang dengan siapa?”

“Majikan!” sambil nunjuk Delin. Anaknya belingsatan.

Singkat kata mereka digiring ke ruang imigrasi. Alasannya tidak jelas, toh paspor masih valid. Visa juga tidak masalah. Atau mungkin karena visanya bukan TKI? Tapi NST jelas bukan pemegang visa PRA pertama yang lewat JOG kan? Delin harus menceritakan bahwa NST ini pembantu — eh maaf ART — kakaknya. Dan ini dipulangkan.

“Nanti balik lagi ke Malaysia nggak?”

“Balik lagi!” NST yakin.

“Belum tentu,” sembur Delin. “Nunggu kabar.”

Petugas imigrasi bertanya ini itu panjang lebar. Sampai-sampai Delin harus menunjukkan alamat rumah di Jogja.

“Pulangnya ke mana?”

“C!” kata NST.

“Mbaknya ikut ke C?” tanya petugas pada Delin.

“Nggak, Pak, nanti dia naik travel,” kata Delin sudah gembrobyos karena di luar negeri dia tidak pernah berurusan dengan masalah keimigrasian hingga digiring seperti ini. Di negeri sendiri malah dicurigai. Mungkin dikira germo hagagagagaga.

“Ada barang titipan orang nggak?” tanya petugas. Oh mungkinkah karena itu dicurigai, mungkin banyak TKI yang dimanfaatkan sebagai kurir.

Akhirnya mereka dilepaskan.

Tunggu….drama belum berakhir. Saya minum kopi dulu ya…..

Sampai di rumah saya di Jogja, NST sibuk ngider ke tetangga-tetangga depan rumah pamer jam tangan dan baju-baju yang dia beli di KL. Ternyata salah satu yang bikin tasnya penuh sesak adalah sepasang sandal laki-laki butut yang entah dia ambil dari mana. Dia berikan ke tetangga depan rumah saya, buat suaminya kataya. Wong edyan!

Drama terjadi saat disuruh naik ke travel, dia ngotot mau ambil paspor (dengan visa yang masih valid). Mama saya bilang nggak bisa. Dia ngotot nggak mau pulang ke C, katanya, “Kata Emak dan Mbak U (sepupu yang dulu mencarikan ART buat saya) aku disuruh di Jogja aja ooo, sambil nunggu Mbak Olen.”

Mama saya paksa masuk ke travel. Ternyata ada drama lagi. Jam 12 malam, mama saya ditelpon sopir travel, katanya NST hilang waktu mereka berhenti di rumah makan. Sudah dicari ke mana-mana nggak ada. Satu travel nunggu. Mama saya terpaksa membangunkan Mbak Tuti, penjual pulsa di depan rumah, di mana NST beli pulsa sore itu, cari tahu nomor baru NST. Satu rumah panik semua. Entah bagaimana akhirnya NST ketemu.

Pagi itu mama saya telpon sopir travel. Untung Pak Sopir ini sangat baik hati, “Saya anter ke rumah, Bu, Mbaknya, takut kesasar.”

Ya sudah, NST sudah bukan urusan kami lagi. Kini tinggal cancel visanya. Simbok rela tanpa pembantu asal hidup damai dan tidak penuh drama.

Bye NST, hope to never see you again!

Advertisements

131 thoughts on “Petualangan NST di Negeri Jiran”

      1. Mbak mbak. Punya pembantu idiot makan hati masih dipelihara lama2. Brati mbak olen idiotnya lebih parah dr NST. Wahahhaha

        Like

      2. Baca teliti ga hayooo :). Paham ga kalo saya balikin NST sebelum visanya jadi saya harus bayar overstay berjutajutajutajuta. Plus bisa cekal. Ngerti aturan keimigrasian ga? Hayoo yg lebih idiot lagi siapa kalo gini? :))

        Like

  1. Sawang itu sarang laba-laba mbak 😉
    NST semoga nasibmu di negeri Jiran usai sudah, semoga mantan majikan nggak terbayang-bayang kehangatan hatimu ehh salah…. kendablegan hatimu ooo

    Jujur iki menghibur bangetttt hahahaha… Ditunggu sequel e Kisah Cinta NST mbak *ngakak guling-guling* *smoga komen ini nggak di block* 😀

    Like

  2. semua makin parah pas NST dgn gaya mendes sambil angkat tangan bilang ke pak imigrasi “emang masalahnya apa?” langsung dipelototin 😐 btw, thx to pak travel!

    Like

  3. haaaai calon kakak iparku yg skrg lg gagal jadi majikan yg benar
    wakakkaa…
    sabar ya kakak
    itu Pmbantumu , eh ART mu syuuudah pulang ke asalnyaaa…
    sudah tenang lagi kehidupan anda…

    btw oleh2 dari Turki janan lupa ya kakakkk…
    wakakakaa

    Like

  4. Drama bener Mbak jadi inget prt mbakku polahnya nyaris buat ibuku stroke, dan akhirnya Kira memytuskan nggak pake pembantu nginep…. Mending capek fisik daripada capek hati ngadepin org ndablek Dan ngeyel

    Like

  5. WHAHHAHHAHHAHAHHAHHAHAAA
    Membaca postingan ini hiburan bangeeettt!! #NjukDikeplakMbakOlen
    Padahal yg ngalami, ketemu NST iki berasa ada di dalam “neraka”..

    Aku kok dadi penasaran dgn cerita Mbak U, setelah NST pulang ke kota C ya #Eh
    Kali2 aja NST cerita macem2 soal “drama” kemarin itu, tentunya dari versi dia

    Like

  6. Weiss..kira2 saya punya pengalaman hampir sama mbak..tapi venue nya masi djkt,syukurla ga seribet klo saya harus sampe bawa dia ke KL (dulu rencana pindah jg tp ga jadi)..sama..akhirnya dipulangin juga setelah malam2 habis magrib mau keluar dan duit saya ilang..kelakuan mirip poll..tp kyknya si N agak parahan dikit..hihi…agak lama jg bisa ikhlas stlh semua apa yg saya lakuin kedia kok tega2 dibalas air tuba yah..hiks..dan kepikiran terus dulu anak sy dibawa ke taman diapain aja ya..hiks..

    Like

  7. Ditulis sepenuh hati (berikut sgl emosinya haha)… OMG mangkelin tenan, mmg ART selalu punya kisah2 ajaib. Jd inget jeng dl wkt orgtua dinas di KL bawa wong sepuh dr Yogya mantan penjaga sepeda, disodorin saudara, dgn mksd dijadikan asisten serba guna atw satpam. Sdh kadung mw bgkt tdk ada calon lain yg cocok yasud angkut. Ada mantan calon lain kecakepan (belanda depok msh muda sp temen2 mt dikenalin, wah bahaya coret deh). Alhasil seinget saya bapak itu akhirnya ngamaaaaar trs, tdk pernah kerja, alm ibu dgn sgl kesabaran meladeni makan pagi siang malam, sp suatu saat tumben si bapak keluar nunggu papaku pulang, kebetulan ada tamu, dan ktnya dg “lg jalan2 disini” JLEEEB tepok jidat kagak inget tiket pp tu org yak… Sutralah akhirnya dipulangkan…
    Next kisah org Majalengka diangkat jd Kepala RT krn keahliannya memasak (belajar otodidak dr ibu), prnh ngambeg mslh gaji, kabur k rmh org, pulang2 dg gengsi maunya status “pelajar bhs Perancis” di CCF, ya baguslah rada intelektual dan bmanfaat… Jd baiknya sblm bgkt uji coba calon, interview dll br kl ok angkuuut… BTW blog/tweetnya asik njawani, nice to meet you mbak (opo yo bhs jowonya)…

    Like

    1. aku wis keimpi2 koyo ngono dal. gara2 pas menuju klia ki deweke omong mamaku “aku ngapalin jalannya dari bandara!” She’s not that smart…tapi kebwa mimpi

      Like

  8. Masih ada mendingnya sih… NST ini masih gak nyolongan dan belum maen dukun… udah rahasia umum TKI-TKI ini pelanggan setia dukun2 ternama….

    Like

  9. Asli ngakak tenan moco ceritamu Len, koq yo iso entuk wong koyo ngono. wes larang-larang le ngragati mek mangan ati 😉 btw, lg bayangin carane dia ngomong koq nganggo ooooo… ki trus kayak apa???

    Like

  10. Mbak.. kisah lengkapnya dibikin buku aja deh. Pasti best seller. Blm ada kisah majikan dianiaya ART soalnya. Jujur mbak aku malah pengen ada drama NST balik lagi ke rumah mbak Olen lho.. Walaupun pasti bikin mbak Olen gondok, tapi paling gak kalau diceritain kan bisa menghibur aku mbak.. Lha seru bgt oooo ceritane.. 😀

    Like

  11. Asli ngakak moco ceritamu Len, koq iso entuk wong koyo ngono, wes ngragati larang2 jebul makan ati 😉 Btw, aku ra iso bayangke logate dia sik nganggo ooooo… trus kek gimana bunyinya yaaa??

    Like

  12. seru banget ceritanya! :D,nyebelin n ngeselinnn bangeeetttt!sy prnh gonta ganti pembantu 4 kali dlm 1 thn,skrg udh JERA mending kerjain sendiri aja asal hati senang D.salam kenal mak…:)

    Like

  13. sasu mu keren lho len….iso nggo jurkam kampanye….
    wong le crito arep neng turki dadi ustrali je…..di daftarke dadi jurkam wae…mupung lg laris sak iki….
    hahahahahaha

    Like

    1. Aku pake part time. ART ku dulu di jkt nginep juga ga ajaib ky gini sih. Tapi dia nikah jd ga bisa ikut. Ygsatunya malah hamil. Dpt yg baru malah ky gini

      Like

  14. Oooh gitu toh rasanya jadi majikan. Saya senyum sendiri bacanya. Untung dulu aku nggak sampe ada tim deportasI karena suka males bawa maen keponakan. Hihihi kebayang kalo kakakku ngeblog, sepertinya saya akan baca posting spt inI di blognya

    Like

  15. Antara pengin ngekek sama kesel yg udah di ubun2, mak. 😀

    Semoga begitu dia sampe C, ga terus2an sms atau nelponin adekmu utk nanyain kapan brgkt ke malay lagi. 😀

    Like

  16. Nursiti itu baik loh waktu aku mampir ke rumahnya bude olen di KL dia bolak-balik nawarin aku mau minum apa. Eh saiki diusir ambek juragane hahahahhaa
    tapi sumpah kesel juga bacanya haha

    Like

  17. Hahahaha aku baca blognya mak ini ngakak2 dhewe, abisnya sih bahasanya lhooo. Part “mbuh wes” itu =)) Bacanya ikutan kesel pengen prekes2 si NST. Btw mak, NST ini kok singkatannya kayak “nestea” hahahaha

    Like

    1. sebenernya aku juga ga sabar, wong udah nggak kuajak ngomong sama sekali. cuma kepentok visa jadi nggak bisa dipulangin juga sebelumnya

      Like

  18. Waduh mbak…. dari banyak cerita tentang ART yang saya baca2x di blog…ini sepertinya ART paling ndableg ya… nggak kebayang kalau saya jadi majikannya….pasti sudah makah hati duluan…. Moga2x tidak ada masalah lagi dengan yang bersangkutan….. salam kenal

    Like

  19. ternyata dari awal perekrutan NST pun sudah mengalami kendala ya mbak. kayaknya itu pertanda sih ya. tapi ya sutralah, jadikan pelajaran aja mbak.

    Like

  20. Salam kenal mbaa.. Baca beberapa artikel di blog ini selalu menarik.. wkwk dan gaya penuturannya selalu ga lepas dari bikin aku senyum sampe ngakaq.. Keren!

    Semoga NST ga pernah ditawarin jadi ART ku amiiinn.. (Bisa abis ku uleg!)

    Like

    1. Hehehe makasih ya sudi membaca curhatan kami… NST mau dikawinin sama bapaknya soalnya bapaknya juga setres. Don’t worry be happy haha

      Like

  21. Hallo mba, salam kenal ya.Lucu blog nya hahahah.
    Yg lain nya informatif sekali.
    Sy baru 3bulan di Malaysia,ikut suami kerja.Dsini ada komunitas Indo KL ga ya mba?

    Like

  22. waduh… full drama, ngalahin tersanjung, cinta fitri …
    pengen yak ulek2 ndhase si NST … btw, nst kok kayak marga batak yah hahaha..
    waktu ke cirebon aku juga punya pengalaman kurang enak
    ketemu sopir bus yg ndableg..

    Like

  23. Pfiuuuhhhh, ya ampuuun. Aku melu gemes mocone. Kalau aku jadi majikannya, wis embuh ping piro aku ngamuk-ngamuk. Jangan-jangan ART macam ini nih yang bikin majikan-majikan jadi galak dan akhirnya kalap nyiksa.

    Tapi beberapa kali aku ketawa-ketawa juga sih baca tulisanmu ini mbak. Antara gemes dan geli bacanya. Kok ya ada manusia kaya gitu.

    Btw aku jadi inget cerita temanku, soal ART juga. Intinya temanku punya bos bule dan tinggal di Singapura, tapi dia ambil ART dari Indonesia. Suatu ketika bos dan keluarganya liburan ke Australia, bawa pembantunya. Dalam satu kesempatan dia meninggalkan anaknya dengan sang pembantu di hotel, karena dia ada acara sama istrinya. Gak taunya si pembantu ini lalai. Dia nonton tivi atau apa gitu, dan anaknya terkunci di balkon luar. Tau-tau ,,,, gubrak. Anaknya loncat dari balkon ke lantai parkiran. Luka parah patah-patah.

    Di rumah sakit si anak ditanya sama ortu nya, kenapa bias gitu. Jawabannya, “si mbak asik nonton tivi, aku terkunci di balkon luar. Aku ketok-ketok kaca gak dibukain, ya udah aku loncat aja”. Dan anehnya pembantunya gak merasa bersalah lho.

    Miris aku waktu diceritain sama temenku. Dan si pembantu ini juga nolak-nolak waktu “dideportasi”. Di Changi dia nolak-nolak untuk check in, sampai temenku ini manggil security buat narik-narik dia. *temenku kebagian getah mulangin pembantu ini*

    Kurang lebihnya sih sama ya kaya NST. Pembantunya lebih suka jalan-jalan ngumpul dan bergosip sama ART lain, pacaran sama imigran dari Negara lain dll, kerjanya juga asal di rumah. Wis pokoke plek ketiplek karo NST.

    Atau jangan-jangan mereka orang yang sama ya?

    Like

  24. Mbak, i feel you!

    Aku barusan dipecat jadi majikan sama ART ku sendiri 😂😂

    padahal aku udah siapkan skenario buat mecat dia, lha kok dia yg akhirnya mecat aku 😂😂😂😂

    “ya sudah saya mau istirahat saja kerjanya, ga usah nunggu tgl 20, terserah gaji saya mau bapak bayar apa engga”

    padahal dia masih ada kasbon sama saya 😂😂 lhaa mbok kirroo oooo

    gini toh rasanya diputusin sama ART 😂😂😂😂

    Like

  25. Salam kenal mba olen…sdh lama suka banget mbaca blog’e mbak’e…ternyata ada yg lebih nelangsa gara2 art,sy kira saya tok yg sengsara gara2 art…#ups maaf yo mba membuka luka lama..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s