Ada Apa di Old Market Siem Reap?


Sebagai seorang simbok pejalan, kunjungan ke pasar tradisional saat ke luar negeri itu wajib. Memangnya kenapa? Pertama, pasar itu fotogenik. Jauh lebih fotogenik daripada ABG alay yang selfie sambil monyong-monyongin mulut.

Serunya Psar Chaa
Serunya Psar Chaa

Ke dua, pasar itu pusat oleh-oleh. Tapi biasanya saya beli oleh-oleh cuma buat di rumah aja, misalnya kopi. Oleh-oleh buat orang lain itu termasuk kategori mewah dan tidak penting bagi traveler kere macam saya yang hampir-hampir-hampir nggak pernah beli bagasi. Makanya nggak usah minta oleh-oleh ya. Duh, ngelantur. Ketahuan deh kalau pelit. Kembali ke topik pasar deh…

Ke tiga, di pasar sering nemu hal-hal yang cukup ajaib yang susah ditemukan di tempat lain. Misalnya: jodoh.

Alkisah, kami cuma punya 2,5 hari untuk mengeksplor Siem Reap di Kamboja. Hari pertama, tentu saja keliling Angkor yang luas nan besar tersebut. Ceritanya tunggu nanti!

Hari ke dua memang direncanakan keliling kota saja. Niat hati ke Tonle Sap, tapi dibatalkan karena kabarnya cuma so-so, lebih bagus floating village di tempat-tempat lain.

Jadilah kami jalan dari hotel yang ada di dekat Siem Reap River ke arah Old Market atau Psa Chaa. Jalannya hanya sekitar 10-15 menit mengandalkan petunjuk arah di jalan. Panas terik membuat badan gembrobyos.

Kami sampai di pasar yang sekilas terlihat dari satu sisi seperti deretan toko cenderamata. Banyak menjual kain, baju, kaos, scarf, dan yang selalu happening di Kamboja – Vietnam: Lonely Planet bajakan!

Begitu masuk sedikit ke dalam pasar langsung terpenuhi tujuan pertama. Old Market ini sangat fotogenik dengan warna-warni dagangannya. Kondisi pasarnya pun ramai dan atraktif, beda ketika terakhir saya ke Psar Russie di Phnom Penh – tapi dulu datangnya sore sih.

Apa aja yang dijual di sini? Macem-macam. Mulai dari sayuran segar, barang kebutuhan sehari-hari, daging, ikan, ayam, tumpek blek semuanya. Banyak juga yang jual herbal medicine.

Justru di pasar inilah saya menemukan beberapa penjual yang mengenakan kerudung. Tos dulu dong ibu-ibu! Entah ya muslim etnis apa, mungkin Cham seperti di Vietnam.

IMG_3633

IMG_3634

Tujuan ke dua juga langsung terwujud ketika ada deretan penjual oleh-oleh, seperti teh, kopi, snack (yang katanya) khas Kamboja semacam kacang-kacangan. Kopi Vietnam juga banyak dijual di sini, jadi baca hati-hati supaya tidak tertukar. Barusan saya minum kopi arabika 100% Mondulkiri, enaaaaak banget. Rasanya mirip Trung Nguyen Vietnam. Maklum saja Provinsi Mondulkiri berbatasan langsung dengan Vietnam. Kalau Puput sama saya nggak suka robusta, kecut soalnya. Kalau cari yang kecut-kecut makan rujak aja, ngapain juga minum kopi?

Duh biyung, ngelantur lagi…

Tujuan ke tiga, pasar sebagai tempat cari jodoh. Eh salah, jodoh mah sudah digandeng. Nemu hal yang menarik di sini: duwet. Katanya, duwet ini Bahasa Indonesianya adalah jamblang. Saya sih dari dulu tahunya cuma duwet. Pas saya sama Puput masih SD, sering beli duwet di warung. Kalau makan sampai celeprotan ungu di seragam – terus sampai rumah dimarahin. Dimakannya pakai campuran garam aja. Terakhir makan di Aceh beberapa tahun silam, di sana di makan pakai campuran garam gula cabe. Nah, di Jogja dan Jakarta duwet ini udah langka. Makanya saya takjub dan langsung beli seplastik.

Duwet and the gang
Duwet and the gang

Di Old Market ini banyak benda menarik lainnya, misalnya kerang yang dijual di pinggir jalan. Dikasih semacam saus entah apa terus dijemur begitu aja.

IMG_3611

Wait, nggak hanya itu! Di sekeliling pasar adalah area backpacker juga, dikenal dengan Pub Street. Banyak hostel, kafe-kafe, pub dengan eksterior warna-warni menarik. Ada yang modern, ada yang mempertahankan arsitektur tradisionalnya. Malam hari ada juga Night Market tidak jauh dari sini. Asyik kan?

 

Advertisements

14 thoughts on “Ada Apa di Old Market Siem Reap?”

  1. Aaah… aku juga baru kemarin dari Siem Reap lhoo.. hahaha masih panas aja, padahal udah akhir Mei. Nambahin, yang kudungan itu biasanya Khmer Islam, kadang yang tua-tua malah bisa bahasa Melayu daripada Inggris karena banyak yang belajar ke Malaysia walaupun kitab-kitabnya banyak yang masih pake dari ulama-ulama kita hehehe.
    Kemudian floating village di ujung Tonle Sap, hmmm… bagi saya itu menyedihkan mba’… karena kemiskinan itu sangat terasa disana, ketiadaan cukup sekolah & fasilitas medis dll dengan alam yang keras. 😥

    Like

  2. Seminggu kemaren kesana jga, malem tapina dan kita belanja-belanji di ibu2 yg pake kerudung, njuk seneng ketemu uhti2 :). Klo malem pub street wes mirip khaosan yo mbak… salam kenal(selama ini silent reader)

    Like

      1. Kalo yg standar ya gant kunci + magnet bentuk angkor wat. Klo tas baju sama kaya produk vietnam da bangkok

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s