LCCT In Memoriam


“Selamat tinggal, semoga kita tidak berjumpa lagi!” kata saya ketika bus LCCT Transit bergerak meninggalkan bandara yang telah beroperasi untuk maskapai budget selama 12 tahun ini. Kini, operasional seluruh maskapai berbiaya murah sudah dipindahkan ke KLIA2.

Lebay ya, sok melankolis kok sama bandara. Bandara punya negara lain pula.

Pertama kali Oliq di LCCT, masih innocent
Pertama kali Oliq di LCCT, masih innocent

Lha gimana, udah banyak banget kenangan di bandara ini, lebih banyak pengalaman unik daripada di Soekarno-Hatta maupun di Adisutjipto. Saking seringnya lewat sini (dan transit di sini), sampai hafal letak-letak kios self check innya. Kalau udah web check in misalnya, bisa langsung masuk lewat pintu yang ada Marrybrown, karena gerbang menuju imigrasi cuma di sisi kirinya.

Hafal juga letak restoran-restorannya, yang paling murah Food Garden di ujung, cuma sayangnya jauh. Yang paling membekas di hati adalah Taste of Asia karena paling sering makan di sini. Hafal juga tempat bobo yang enak. Terus tempat nongkrongnya bus2 semacam: Skybus, LCCT Transit, atau shuttle Aeroliners.

Di ruang tunggu, tahu ada tempat ngisi air dari water fountain di dekat kamar mandi. Dan kalau terpaksa beli air mineral, yang paling murah di Pusrawi (RM 1.00 lalu 1.30 kemudian naik lagi jadi 1.50).

Ah, so many memories.

Awal 2007 pertama kali naik AirAsia ke KUL, pas mau balik ke Indonesia, sama Puput salah bandara ke KLIA padahal pagi-pagi buta. Nggak tahu kalau ternyata ada yang namanya LCCT.

Awal tahun 2010 dari India, hamil 5 bulan nongkrong tidur sama TKI-TKI (tenaga kerja India), mereka nunggu penjemput kami nunggu pesawat ke Jakarta.

Di LCCT juga Oliq merasakan ganasnya dunia low-cost travelling (terlebih karena keluarga traveler kere harus milih yg paling murah). En route ke Melbourne dan harus transit 6 jam di LCCT. Sama bayi yang masih umur 6 bulan. Akhirnya ngemper sambil kasih makan Oliq pisang.

OTW Jepang, Oliq udah nggak terlalu innocent lagi
OTW Jepang, Oliq udah nggak terlalu innocent lagi

Di LCCT juga ngalamin di mana Oliq (15 bulan) nggodain petugas-petugas perempuan waktu kami transit menuju ke Jepang.

Akhirnya ketika kami pindah ke KL, LCCT makin jadi rumah ke 2. Saking akrabnya, Oliq sampai dengan santainya tidur-tiduran di lantai. Belakangan ini kami berangkat dari LCCT ke Krabi dan Siem Reap.

So its time to bid farewell. Looking forward to this brand new and better KLIA2 soon!

Advertisements

11 thoughts on “LCCT In Memoriam”

  1. Oh,,LCCT sudah tamat? bulan Maret mba nonton F1 masih landing di LCCT , masih mending di KL, LCCT di Melb kayak gudang, tp beberapa th yl, mungkin skrg sdh lebih baik.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s