How Much You Spend for Holiday?


Belakangan ini saya semakin sering mendapatkan pertanyaan yang berkaitan dengan bagaimana mengatur dana untuk jalan-jalan/liburan/traveling. Sebenarnya sudah ada beberapa artikel dalam blog ini yang membahas masalah itu, antara lain di sini dan situ.

Secara pribadi saya sendiri kesulitan untuk menghitung berapa banyak budget yang saya keluarkan dalam satu tahun, karena saya memang bukan tipe planner, yang merencanakan segalanya jauh-jauh hari. Travelling masih sebatas asal ada tiket promo, libur nasional, maupun ujug2 pantat Puput gatel minta jalan-jalan.

Setelah ngobrol panjang lebar dengan emak-emak kece @travelingprecil, @tesyasblog, @oilalaa, dan @dinavirgianti – yang kesemuanya adalah emak traveler – ternyata ada beberapa poin yang bisa dicermati, walaupun gaya kami membudgetkan travelling beda-beda.

Tulisan ini sebenarnya berlaku juga bagi mereka yang single, hanya saja Anda punya keleluasaan yang lebih dibanding kami yang sudah berkeluarga.

Karena saya bukan pakar keuangan, dan termasuk salah satu yang buta finansial, harap maklum bila yang saya sampaikan sangat umum dan awam.

Berikut poin yang saya anggap penting:

  1. Liburan (keluarga) sebaiknya mempergunakan dana dari pendapatan extra di luar gaji, misalnya: bonus tahunan, sebagian hasil investasi yang memang sengaja tidak diinvestasikan kembali, hasil sabetan kanan kiri (menulis, jualan, jadi buzzer dll).
  2. Akan muncul pertanyaan, bagaimana dengan yang tidak memiliki pendapatan extra? Menurut saya apabila kebutuhan primer sudah terpenuhi, sudah ada bagian yang disisihkan untuk tabungan, asuransi, dan investasi, berarti Anda ‘berhak’ untuk liburan. Saya sangat tidak setuju dengan prinsip berhutang untuk liburan. Kalaupun Anda – seperti kami – mempergunakan kartu kredit untuk membeli tiket, bayarlah 100% sebelum jatuh tempo.
  3. Bagaimana yang masih mencicil KPR? Prinsipnya sesuai dengan poin ke-2. Memangnya yang masih mencicil rumah tidak boleh jalan-jalan? Selama pos-pos penting sudah terpenuhi, jangan ragu untuk ambil cuti dan berlibur
  4. Sesuaikan destinasi traveling dengan dana yang ada. Pengalaman saya, ini agak sulit dijelaskan. Tahukah Anda, jalan-jalan ke Bandung atau Bogor saja sudah termasuk traveling, tidak perlu yang jauh-jauh. Kalaupun dana memang mepet, jangan paksa ke luar negeri, dong, daripada Anda terlantar di sana – atau pulang cuma sanggup makan ikan asin tok! Bagi yang tinggal di Jakarta, mungkin opsi mengeksplor Jawa Barat dan Banten adalah yang paling tepat. Prinsip “jalan2 dekat asal senang” ini bisa diterapkan di manapun kok! Lagipula kapan lagi kamu punya kesempatan untuk mengeksplor kotamu sendiri dan sekitarnya? Untuk ke luar negeri, pilih-pilih juga destinasinya. Misalnya, mungkin tiket ke Singapura dan Johor Bahru murah, sedang promo, tapi akomodasi dan tiket Legoland/USS mahal. Liburan ke Thailand bisa jadi lebih murah karena objek wisatanya (pantai, wat) tidak bayar.
  1. Gaya traveling pun disesuaikan dengan budget. Kalau memang dana terbatas, coba cari akomodasi berupa penginapan/hostel/guesthouse di hostelbookers.com, hostelworld.com. Banyak guesthouse yang memperbolehkan dorm untuk anak di atas 15 tahun, untuk yang membawa anak-anak memang harus di family room. Kalau jaraknya dekat jalan kaki saja, pakai angkutan umum jangan taksi. Untuk rekomendasi penginapan yang family-friendly di Malaysia dan Singapura, silakan beli buku saya dan @tesyasblog Family Backpacking: Malaysia Singapura (Elex Media, 2014).
  2. Saya membaca beberapa sumber yang menyuruh mengalokasikan 10% pendapatan untuk hobi. Nah kalau hobinya jalan-jalan seperti kami, ya berarti persentase itu untuk travelling. Misalnya gaji per bulan Rp 5 juta (setahun 60 juta), berarti dalam satu tahun ‘sah’ mengeluarkan 6 juta untuk jalan-jalan. Demikian berlaku untuk kelipatannya.
  3. Ada fenomena di mana istri pengen jalan-jalan dan suami nggak mau (biasanya alasan budget). Kalian tidak sendirian kok, kami emak-emak juga mengalami hal yang sama. Suami seolah-olah berfungsi sebagai rem, mungkin karena mereka merasa sebagai kepala RT yang bertanggungjawab penuh. Nah, dari obrolan dengan emak-emak, ada sedikit trik untuk mengatasi hal ini. (1) Kalau istri berpenghasilan, sisihkan uangnya sedikit demi sedikit untuk liburan. Bisa jadi surprise ketika suami atau anak ulang tahun. (2) Kalau istri tidak bekerja, coba sisihkan uang belanja sedikit demi sedikit, lama-lama pasti jadi bukit. (3) Istri persiapkan rencana/budgeting keuangan keluarga dengan matang, kasih lihat pada suami bahwa ada uang ekstra yang memang bisa digunakan untuk liburan. Kalau concernnya bukan masalah uang, ada kok artikel di blog ini yang membahas tentang manfaat liburan sekeluarga di sini.

Nah, semoga gombalan singkat ini agak membantu temen-temen yang sering bertanya-tanya masalah alokasi dana untuk jalan-jalan. Biar saya juga belajar dari teman-teman lain mungkin nanti menemukan strategi lain mengatur keuangan.

Selamat merencanakan liburan!

Advertisements

38 thoughts on “How Much You Spend for Holiday?”

  1. Sebagai istri yang bukan pekerja kantoran, hasil dagang juga cuma bisa beli chiki… yang no.7 itu aku banget! Lumayan bikin geleng-geleng kepala, aku dulu tumbuh di keluarga traveller. Minimal setahun sekali pasti jalan-jalan. Saiki dapet suami ga hobi2 banget sama yang namanya traveling jadinya gimana gitu. Tiap suami bonusan aku udah kebayang traveling, suami mikirnya ke beli/modifikasi mobil atau motor. Yowis lah aku rapopo yank… ndak usah jajan chiki dulu, nanti duit hasil dagangan ta’ tabung buat liburan…

    Like

  2. mbok kalo jalan2 ke eropa butuh berapa duit ye mbok………..???? mau ke jerman tilik toko disana sama ke cheko juga tilik makelar mebelku disana. Biar gak ngganggu cash flow

    Like

    1. Wah sngat tergantung kapan, ke mana saja, brp orang, bagaimana gaya travelingnya. Misal: tiket pp ke eropa per orang sekrg di sekitar USD 950-1000. Hotel 1jt/mlm. Makan 8-10 euro seorang. Schengen 800rb. Silakan itung sendiri

      Like

  3. Nah yg kayak gini yg bener. Gw sering denger temen2 yg baru mletek travellling karena rekan2 nya ke korea akhirnya maksa ikutan ampe bela2in nabung, padahal tabungan buat masa depan ngak ada #tragissss

    Kalo gw mau jalan kalo ada yg bayarin, kalo ada yg ngajakin gratis, kalo ada yg dibegoin buat bayarin, kalo ada yg khilaf beliin tiket hahaha

    Like

  4. Kalo kata pacarku, nicsap, pas ditanya kok duitnya gak habis2 buat traveling, doi bilang: “I don’t buy fancy shoes or car.”

    Udah jelas kalo prioritas orang emang beda2. Setuju sama yg 10% untuk hobi/kesenangan itu. Kalo gak pernah punya duit buat traveling, jangan2 duit 10%nya udah kepake utk jajan, ngopi2, nonton, beli gadget, belanja sepatu, dll?

    Like

  5. seringnya mentok gegara isteri dan suami “ga ketemu”, baik soal waktu maupun rencana. Trus klo anak-anak masih kecil2, ada yang balita, ada tips khususkah mak??

    Like

  6. Setuju yg 10% itu. Kalau ada orang yg selalu bilang nggak punya duit buat jalan-jalan, uang 10%nya mungkin udah kepakai buat beli gadget, makan2, ngopi2, nonton, belanja sepatu dll. Prioritas dan hobi orang emang beda2 kok.

    Like

  7. Poin-poin menarik buat yang udah punya momongan, atau udah punya gandengan, ehmm jomblo juga bisa praktik ini dink… Tapiii investasi apa lagi yang kudu aku lakukan biar bisa keliling dunia? *lamar jadi PRT* 😀

    Like

  8. Aku mau curhat ah di sini, sering dituduh tajir melintir dg temen kantor atau tiba tiba dpt wejangan musti nabung jangan jalan2 melulu. Lah aku jalannya kan backpackeran, murah meriah. Coba bandingkan dg mereka yg merokok, sehari tiga bungkus, 30 ribu sehari, sebulan sejuta. Nah itu dua bulan kan bisa utk modal kelosotan aka jalan jalan murmer. Anggep aja aku merokok tapi duitnya utk jalan … ( lega bisa curhat)

    Like

    1. Ahahahaha dia gak tahu perjuangan kak danan booking promo merpati yg kemudian rutenya tutup semua. Dia nggak tau kak danan nginepnya di masjid. sama juga kok ada yg bilang gitu ke aku, dan dia tiap hari ke kantor naik mobil, sementara suamiku dulu di JKt ngantor naik kopaja. HP dia iphone, Hpku Advan. Lipstik dia bermerk dan banyak, lipstikku 1 dan udah kadaluarsa

      Like

  9. aku mo ikutan komen aahh.. iyaa, aku gak ngerokok, kak ngopi, gak ngemall (tapi suka sepatu sih) dan naik KRL tiap hari, terus emang bisa jalan-jalan terus menyisihkan gaji atau duit2 kaget. alhamdulillah tabungan masa depan dan aset ada juga.
    trus, masih diiriin ‘jalan-jlan mulu’ sama temen yang gajinya 2x lipatku, huhuuu..

    Like

  10. yaah, aku juga gak ngerokok, gak ngopi, gak ngemall, naik KRL tiap hari, dan masih diiriin sama temen yang gajinya 2x lipat cobaaa..
    10 persen itu harus termasuk budget gear yang dipakai buat jalan. jadi kalau bulan ini budgetnya buat jalan, bulan depan untuk beli sepatu, beli daypack, yah gitu deh..
    untung sekarang lagi puasa traveling, hehe.

    Like

    1. Ada ya yang bisa puasa traveling? Mbak Indri hebat deh. Orang mah kalau iri ga pake alasan, iriiii aja gitu. Sering ngalamin juga sejak single sampai jadi simbok diiriin. bleh!

      Like

      1. ini niatnya sejak bulan mei, apa daya masih ada ajakan kiri kanan yang membuat aku tetap membuka situs AA atau kereta api. tapi lumayan puasa sebulan, jadi sempet nulis :p

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s