Never take the hard way to KL Tower


Today is one of the most annoying days in my life, momen ketika pasangan pejalan bertengkar gara-gara kesasar. Kalau kesasarnya di Paris, atau di Tokyo, atau di Sydney mending banget ya, agak elit. Kami kesasar di jalan menuju ke KL Tower atau Menara KL. Semua gara-gara Cucup. The wife is always right: simple recipe to a happy marriage.

Jadi ceritanya karena kami cuma plonga-plongo di rumah saja weekend ini, akhirnya diputuskan untuk ke KL (udah gajian jadi udah rela bayar tiket yang RM 49 per orang itu). Dan karena mobil masih diservis, terpaksa naik kereta.

Stasiun LRT paling dekat dengan Menara KL adalah Dang Wangi. Dari situ masih harus jalan beberapa ratus meter untuk sampai di persimpangan JL P Ramlee dan Jl Punchak, dekat dengan gerbang naik ke lobi menara.

Awal trek, masih bisa nyengir
Awal trek, masih bisa nyengir

Turun di Dang Wangi kami menyeberang jalan, ngikutin trotoar ke arah Bukit Nanas. Menara KL berada di tengah-tengah hutan lindung yang dikenal dengan nama Bukit Nanas. Pertanda buruk terjadi ketika Puput melihat penunjuk arah trekking memasuki hutan. Yaelah, batin saya, udah disempat-sempatin pake eyeliner segala, masa kudu masuk hutan sih.

Protes dong saya, “Cup, mbok lewat jalan biasanya aja, kan nanti ada shuttle-nya!” Terakhir kami ke KL Tower adalah 7 tahun yang lalu, tapi saya tahu pasti kalau masih ada shuttle gratisan.

“Itung-itung latihan, Cop, buat naik ke Everest.” Halah, Everest. Yeah, whatever!

Akhirnya kami naik tangga yang menembus Bukit Nanas, sebenarnya medannya tidak berat-berat amat, cuma memang dibuat bagi mereka yang mau trekking atau olahraga. Dengan celana jins yang agak ketat, langsung saya ngos-ngosan. Jumlah anak tangganya kira-kira 2 kali lipat daripada di Batu Caves, cuma tidak terjal naiknya.

Tidak sampai-sampai, saya mulai mutung. “Nggak ada jalan lain, Cop, kamu harus semangat, kita harus terus!” Huh. Mrengut dong Simbok.

Lewat hutan-hutan lebat yang sebenarnya di seberang udah kelihatan gedung-gedung perkantoran, tapi apa daya, nggak ada jalan pintas. Beberapa  pusat olahraga outdoor tersedia, tapi jelas banget udah terbengkalai tidak ada yang pakai. Ya kali, siapa juga niat banget olahraga naik-naik sini.

Pertanda (semakin) buruk terjadi waktu saya sadar kalau kaki Oliq dikerubuti nyamuk. Nggak cuma digigit, tapi nyamuk-nyamuk itu setia nginthili Oliq yang digendong belakang sama Puput. Yang ada saya udah nemu 50 lebih bentol di kaki, tangan, muka, leher Oliq. Puput juga digigitin tangannya. Makin panik dong saya.

Kami sampai di sebuah lokasi yang mungkin seperti camping ground. Secercah cahaya tampak ketika melihat papan tanda “Selamat datang di Menara KL”. Dari situ kami harus naik jembatan gantung beberapa tingkat. Napas udah makin ngos-ngosan. By the way, kami nggak bawa air minum setetes pun.

Jembatan gantung -- harapan yang sirna
Jembatan gantung — harapan yang sirna

Sampai di ujung jembatan gantung menuju ke kompleks Menara KL. Jeblarrrr! Pintu ditutup rapat, dirantai dan digembok. Tidak ada satu pun lubang tikus yang bisa disusupi.

Simbok mutung berat, langsung saya bilang, “Pulang aja, ayo pulang aja sekarang. Ngapain ke sini cuma makakke Aik sama nyamuk.” Oh ya, sekali kerubut ada 10 nyamuk nginthili Oliq. Saya langsung balik arah menuju ke camping ground.

Ada jalan lain bernama Bamboo Trail yang menurut Puput kemungkinan lebih dekat ke bawah. Seratus, dua ratus meter naik turun tangga, hasilnya nihil. JALAN BUNTU! Asli udah mau mewek gara-gara mangkel, haus, sama stres ngeliatin Oliq yang dirubung nyamuk.

Marah saya balik ke arah camping ground untuk ngambil jalan ke Jelutong/Denai Trail tempat kami naik. Kerudung saya lepas, saya jadikan semacam sarung buat nutupin kaki Oliq yang masih digendong Puput. “Paling nggak, bentol yang udah 50 biji, nggak nambah jadi 100,” pikir saya. Upaya penyelamatan pertama.

Gendong dan krodongan kerudung
Gendong dan krodongan kerudung

Kami turun dengan cepat, udah nggak sabar ketemu sama air minum dingin. Ketek, paha basah semua. Ubun-ubun udah kebakar, bisa buat ceplok telor kali.

Akhirnya kami sampai ke basah lagi. Oliq ribut minta dibeliin mainan, karena pagi memang udah dijanjiin. “Ke arah mana kita?” tanya Puput. Saya nggak jawab, langsung nyelonong aja jalan ke arah Stasiun Monorail Bukit Nanas. Nah, pas mau nyeberang jalan ke warung 100 Plus yang kelihatan, Puput bilang naik aja ke stasiun, banyak warung di atas. Kami naik ke stasiun dan semua warungnya masih tutup! Berhubung udah anti klimaks, udah nggak bisa lebih mutung lagi.

Akhirnya kami ke warung 100 Plus yang kelihatan dari seberang itu dan mengembat air dingin plus milo dingin. Setelah reda kemarahan saya, akhirnya kami jalan lagi lewat jalan normal ke Menara KL. Jalan yang sejak semula seharusnya ditempuh. Jalan yang mudah, datar, dan bisa sewaktu-waktu mampir ke warung. Jalan yang kalau capek tinggal nyetop taksi.

Dan sampailah kami di gerbang Menara KL. Such an easy way. Jadi kami naik sampai observation deck tanpa hambatan. Oliq juga udah seneng banget karena nemu miniatur pesawat Malaysia Airlines yang dia belum punya. “Cekalang Aik punya wawa Mai o Mai oo,” anaknya hepi berat.

IMG_3006IMG_3055

Perjalanan panjang nan melelahkan ini berakhir dengan mengganyang seekor anak dinosaurus di TGI Friday.

Take the easy road, dear friends.

Advertisements

13 thoughts on “Never take the hard way to KL Tower”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s