Ngalap Berkah di Pantai Nusantara


Pagi itu, saya memutuskan untuk berjalan-jalan keluar dari suatu kawasan pantai wisata yang cukup terkenal. Karena waktu libur long weekend yang cukup panjang, saya mencoba untuk mengeksplor pantai-pantai tetangga yang kurang terkenal. Setelah kurang lebih setengah jam keluar dari wilayah pantai wisata, saya menemukan hamparan pantai yang cukup lebar berpasir hitam dengan jejeran kapal nelayan yang tengah bersandar. Sekilas pantai ini tak berbeda dengan kebanyakan pantai nelayan, hanya saja perahu yang tengah merapat tidak terlalu banyak.

Pemandangan umum sebuah pantai nelayan dengan perahu-perahu tradisional yang bersandar
Pemandangan umum sebuah pantai nelayan dengan perahu-perahu tradisional yang bersandar

Meski sekilas tak terlalu menarik, saya sempatkan untuk mendekat dan mengambil foto-foto. Rupanya ada pemandangan menarik begitu saya mendekat. Tampak ada sekumpulan orang yang menggali pasir pantai lalu membawanya untuk disaring. Iseng-iseng saya pun coba mengorek info.

Para pekerja tengah menggali pasir pantai
Para pekerja tengah menggali pasir pantai

“Kang, ini lagi nambang pasir atau apa ya?” tanya saya penasaran.

“Ini lagi nyari emas, jadi pasir-pasir ini disaring dulu di lembangan, baru pasir hasil saringan ini dijual,” kata Kang Andin, penambang lokal yang ramah ini.

Wah, saya benar-benar takjub, baru kali ini saya tahu ada penambangan emas tradisional di pantai, dan ajaibnya hanya segelintir orang yang tahu. Umumnya, begitu diketahui ada emas di kawasan yang “tak bertuan”, orang akan ramai-ramai mengadu peruntungan dan pada akhirnya mengakibatkan kerusakan ekosistem yang parah.

“Ada berapa kelompok penambang di sini Kang?” saya coba mengorek info lebih lanjut.

“Ya kira-kira ada 12 lembangan di sini,” jawab Kang Andin lagi.

Lembangan, alat untuk menyaring pasir pantai. Tampak di sekelilingnya gundukan pasir yang akan disaring.
Lembangan, alat untuk menyaring pasir pantai. Tampak di sekelilingnya gundukan pasir yang akan disaring.

Lembangan ini bentuknya seperti papan yang dilapisi kain kasar untuk menyaring pasir. Papan ini dimiringkan sehingga campuran air laut dan pasir yang dituangkan di atas akan turun melewati kain dan jatuh kembali ke pantai. Para penambang ini akan terus menggali dan menuangkan pasir di lembangan sampai mereka menemukan butiran-butiran emas yang tersaring di kain lembangan.

Para pekerja tengah menuangkan pasir ke atas lembangan
Para pekerja tengah menuangkan pasir ke atas lembangan

“Sehari dapat berapa Kang kira-kira,” saya makin penasaran.

“Ya kira-kira bisa dapat 700 ml, bisa dapat Rp 145 ribu,” sambung Kang Andin lagi.

Awalnya saya agak bingung, kok satuannya ml ya, bukan gr emas seperti biasanya. Rupanya di sini ada juga yang mau membeli campuran air laut – pasir – emas untuk kemudian diolah lebih lanjut.

Puas berfoto-foto dan mengorek info, saya pun beranjak ke kelompok lain yang terlihat lebih ramai. Kali ini saya mendapatkan pemandangan yang lebih unik lagi. Rupanya kelompok ini tak hanya menyaring pasir dengan lembangan, tapi juga mendulang campuran air laut – pasir – emas dengan alat tradisional yang bentuknya seperti caping. Persis dengan cara penambang intan di Martapura, Kalsel.

Pak Heri dan anaknya tengah mendulang emas dari kumpulan pasir yang sudah disaring
Pak Heri dan anaknya tengah mendulang emas dari kumpulan pasir yang sudah disaring

Saya pun makin penasaran dengan cara kerja mereka. Jadi saya pun mendekat dan coba membuka percakapan dengan seorang yang terlihat sebagai ketua kelompok tersebut.

“Pak, ini sedang diapakan ya pasirnya,” tanya saya membuka pembicaraan.

“Oh, ini sedang didulang, jadi nanti emas yang lebih berat akan mengumpul di tengah,” kata sang ketua yang ternyata bernama Pak Heri.

Jadi campuran air laut – pasir – emas ini akan diputar-putar dan digoyang-goyang  dalam dulang hingga campuran itu akan tumpah dari pinggir dan tersisa campuran pasir emas di tengahnya saja.

“Setelah campuran pasir emas mengumpul di tengah, lalu air raksa diteteskan agar emas menempel di air raksa dan terpisah dari pasir,” lanjut Pak Heri.

Emas yang sudah bercampur dengan raksa terlihat jelas di sini
Emas yang sudah bercampur dengan raksa terlihat jelas di sini

Air raksa ini bentuknya seperti gumpalan perak. Jika diteteskan dalam campuran pasir emas, maka emas akan menempel di bagian luar, sementara pasir tidak menempel. Oya, emas ini warnanya putih, bukan kuning seperti emas murni 24 karat.

Menurut Pak Heri, air raksa ini mudah didapatkan dengan harga sekitar Rp 150 ribu per ons.

“Setelah gumpalan raksa dan emas menyatu, lalu disaring lagi dengan kain kasar untuk mengurangi raksanya. Campuran raksa dan emas yang sudah disaring lalu dibawa ke pengepul,” demikian lanjut Pak Heri dengan gamblang.

Setelah gumpalan raksa emas cukup besar, dia dikumpulkan di wadah kecil untuk disaring lagi
Setelah gumpalan raksa emas cukup besar, dia dikumpulkan di wadah kecil untuk disaring lagi

“Lalu di pengepul diapain lagi Pak,” saya pun makin penasaran.

“Di sana campuran raksa emas akan dibakar hingga tersisa emas saja. Dari situ baru emas ditimbang dan dibeli sesuai harga pasaran,” pungkas Pak Heri.

“Menarik juga,” kata saya dalam hati, namun miris karena bahaya raksa yang mungkin tidak diketahui atau justru diabaikan oleh para penambang karena tidak ada pilihan lain.

Botol kecil berisi raksa dan kain hitam untuk menyaring gumpalan raksa emas
Botol kecil berisi raksa dan kain hitam untuk menyaring gumpalan raksa emas

Sekedar pengetahuan saja, kadar raksa yang melebihi ambang batas akan menimbulkan banyak gangguan kesehatan. Hal ini pertama kali diamati dalam tragedi Minamata, Jepang, yang kemudian menggemparkan dunia dan menggugah kesadaran akan bahaya raksa.

“Oya, berapa harga emas di pengepul, Pak,” tanya saya lagi.

“Harganya sebenarnya mengikuti harga emas pasaran, ya saat ini sekitar Rp 290 ribu per gram, dengan kadar kemurnian kira-kira 70 persen,” lanjut Pak Heri sambil tetap mengamati para pekerjanya.

Saat itu, harga emas murni 24 karat Antam sekitar 520-530 ribu per gram.

“Oya, dalam sehari rata-rata dapat berapa gram Pak,” kali ini saya mencoba mencari tahu pendapatan mereka.

“Ya tidak tentu, kalau ombak tenang seperti saat ini paling-paling cuma 2-3 gram, kalau ombak pasang bisa lebih dari 5 gram sehari,” jelas Pak Heri tanpa ragu-ragu.

Rupanya hasil tambang emas ini sangat bergantung dengan kondisi pasang surut air laut, hal yang tak pernah saya ketahui sebelumnya.

“Wah, berarti lumayan banget ya Pak nambang emas disini,” pancing saya lagi.

“Ya lumayan banget, dulu saya cuma jadi tukang, sehari paling cuma dapat Rp 80 ribu, tapi kalau nambang setengah hari bisa dapat 100 ribu,” pungkas Pak Heri.

Wah benar-benar lumayan sekali menurut saya. Kalau sebulan saja dia bekerja 25 hari, minimal para penambang ini bisa mendapatkan Rp 2,5 juta, jauh di atas UMR di propinsi ini.

“Baik Pak, terima kasih buat waktunya, saya pergi dulu,” tutup saya sembari pamit ke Pak Heri.

Akhirnya sore itu saya benar-benar mendapat pelajaran sangat berharga bahwa Indonesia memang benar-benar kaya dan memberi berkah tak terkira pada penduduknya. Hanya saja, saya berharap cukup orang lokal saja yang menambang di sana agar lingkungan tetap terjaga, tidak seperti lokasi penambangan emas tradisional lainnya. Karena itu, sengaja saya tidak tuliskan di mana lokasi ini berada untuk menjaga para penambang lokal dan lingkungan sekitar.

Advertisements

4 thoughts on “Ngalap Berkah di Pantai Nusantara”

    1. yup, kalau penambangan tradisional emas pasti merusak lingkungan… makanya semoga cuma segelintir orang lokal yang menambang di pantai ini

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s