In Travel I Surrender


Apa sih yang kalian cari dari traveling? Mungkin ada yang akan menjawab melepaskan diri sejenak dari rutinitas, pencarian jati diri, mengenal budaya negara/daerah lain, sampai juga usaha cari jodoh (duh, yang terakhir kok kesannya desperate banget ya). Kalaupun ditanya, saya juga akan bingung menjawab. I travel for the shake of travelling itself.

IMG_4795

Buat saya, sulit untuk menjabarkan kenapa saya rela menghabiskan uang berjuta-juta dari jerih payah sendiri – sekarang jerih payah Puput hehehe – untuk selembar dua lembar tiket. Belum lagi sibuk membanding-bandingkan akomodasi murah lewat internet, mau pesan pakai Agoda, masih harus lihat review di TripAdvisor, udah gitu dicari harga termurahnya lewat Hotelscombined.com, repot banget gitu kesannya?

Mungkin alasan yang paling pas bagi saya adalah karena saya memang suka traveling. Bukan untuk pencarian jati diri – aduh saya terlalu shallow untuk itu. I enjoy everything when it comes to travelling, although I enjoy less when it comes to packing and when post-travelling syndrome hits me.

Ketika masih perawan ting-ting yang tidak kunjung disunting-sunting, memang lebih bebas untuk travel. Setiap ada promo, langsung booking saja, tidak peduli mau ke mana, dengan siapa, ada uang atau tidak. Tidak perlu minta cuti dulu. Baru setelah tiket di tangan, bolehlah mengajukan cuti pada bos, sambil bilang, “Udah booking tiket, Mas, tiket promo ga bisa dicancel.” Ampuh alasannya. Lha wong bule-bule selevel wakil direktur saja pakai alasan serupa juga.

Nah, masa itu adalah saat di mana kebahagiaan adalah melihat beberapa tiket liburan cemranthol sekaligus di kubikel. Senang itu ketika melihat kalendar dan tanggal yang ditandai sudah semakin dekat.

Hampir-hampir tidak pernah tidak punya tiket sama sekali. Sampai rekan kerja akhirnya menantang taruhan. Dia bilang, bisa nggak sampai bulan sekian kamu nggak booking tiket lagi. Saya jawab, bisa. Nyatanya saya kalah.

In travel I surrender.

Menikah bukan jadi penghalang untuk melanjutkan passion, justru semakin gila. Tentu saja menjadi agak rumit karena harus menyatukan dua jadwal yang berbeda. Tapi nyatanya, tetap bisa dan sering. Bahkan ketika hamil pun rela menggendong ransel ke India semata-mata karena tidak bisa lagi menolak gairah bepergian.

Karena punya bayi/balita lantas duduk di rumah saja, paling liburan akhir pekan, ke mall, atau main ke playground saja? It’s so last decade. Sudah bukan masanya lagi males repot. Singsingkan lengan baju and throw you baby to see the world. Emmm, lebay ya perumpamaannya….

Kenapa mau repot-repot seperti itu?

Saya menemukan kesenangan ketika melihat layar komputer dan di situ tertera “your booking is confirmed”. Hati langsung ser-seran ketika melihat iklan promo tiket sebuah maskapai, ibaratnya ditegur cowok idola waktu SMP.

Repotnya mencari penginapan pun jadi kesenangan sendiri, membandingkan yang ini dan yang itu. Walaupun sangat easy going untuk masalah transportasi, sejak punya anak saya cukup picky dalam hal memilih penginapan. Prinsip saya, kita boleh-boleh saja bercapek ria seharian, jalan-jalan ke sana ke mari, tapi pulang harus dapat tidur nyenyak dan nyaman. Alasannya? Ya supaya besoknya fit untuk jalan-jalan seru lagi, dong!

Menyusun itinerary pun jadi kesenangan tersendiri, walau biasanya juga tidak ditepati. Going where the wind blows, follow where the crowd goes.

Kadang bukan destinasinya yang paling penting melainkan kenyataan bahwa saya akan traveling.

Yang paling menyenangkan adalah membayangkan wah mau jalan-jalan, wah besok di sana mau ngapain aja ya, wah apa aja makanan yang kudu dicicipi. Udah kaya Oliq aja ngomongnya pake wah ini wah itu.

Semakin dekat semakin senang, merencanakan ini dan itu. Tetapi buat saya biasanya pada malam sebelum keberangkatan (terutama untuk acara liburan jarak jauh dan agak lama) akan ada semacam pre- travel jitters – rasa keengganan untuk pergi dari kasur yang tercinta.

Jitters ini mungkin terjadi karena saya sebenarnya adalah anak rumahan J.

Dulu acara menunggu di bandara pun jadi menyenangkan. Sekarang sih tidak lagi karena itu artinya harus entertain Oliq lebih lama. Nggak apa-apa sih anaknya cukup senang kalau bisa lihat pesawat-pesawat dan punya persediaan KitKat yang cukup.

Saya tidak mengesampingkan bahwa dalam travelling saya senang bertemu dengan banyak orang yang tidak saya kenal. Saya menikmati makanan yang tidak biasa saya makan di rumah. Saya melihat kebiasaan dan adat budaya asing. Saya mengenalkan anak saya dengan hal-hal di luar zona kenyamanannya.

Tapi tetap saja, alasan utama saya travelling adalah karena saya menikmatinya. Saya menikmati prosesnya dari awal hingga akhir.

Kalaupun saya kenalan dengan orang saat traveling itu bonus. Kalau saya dapat uang dari nulis cerita travel itu juga bonus. Kalau itu membuat anak saya jadi terbiasa travel dan akan berakhir jadi travel addict, itu adalah bonus dan sekalian tujuan – siapa tahu besok gede gantian dia yang ngajak simboknya jalan-jalan. Bapaknya tunggu rumah aja :b.

aiksulpice
Anak yang akan dipaksa ngajak simboknya jalan2 di masa depan

 

Saat ini sudah bukan masanya hanya mereka yang berduit saja yang bisa traveling. Tiket pesawat kadang bisa lebih murah dari tiket kereta api. Tentu saja ada banyak biaya lain selain tiket, tetapi kalau memang benar-benar niat, prinsip klise seperti menabung pun bisa dilakukan. Masa kalah dengan tukang becak yang menabung puluhan tahun untuk berhaji? Memang traveling ke Thailand atau Singapura misalnya, tidak bisa dibandingkan dengan niatan berhaji, but…you get my point, right?

Sudah cukup lama kami tidak traveling dan pantat ini sudah gatal saja. Baru tadi siang dapat approval dari si penyandang dana untuk booking tiket. Akhirnya excitement pra-traveling muncul lagi. Kembali ingat rasanya cari tiket murah. Rasanya membandingkan penginapan satu dengan yang lainnya. Menyusun itinerary. Mencari angle untuk tulisan berikutnya.

It’s not the destination that appealing to me the most, it’s the fact that I am travelling.

In travel I surrender.

Advertisements

10 thoughts on “In Travel I Surrender”

  1. Aku baca post ini jadi ikut membara hatiku mbak..aku sebenarnya ampir mirip dgn mbak olen nih..menikmati bgt proses travelling itu meski ke tempat yg biasa2 aja tetep kerasa istimewa meski ke tempat yg udah pernah tetep tiap perjalanan memberikan cerita berbeda dan kalo liat foto2 jaman travelling dulu jadi bahagia aja sensasi travelling kembali terkuak di ingatan
    Hanya skrg ada anak masih umur 6bln bulan Mei travelling pertamanya ke Bangkok dan Indonesia..
    Semoga anakku gak rewel didlm pesawat

    Like

    1. Kalau anak 6bulan malah cenderung masih enak mbak, ga rewel. Kalo rewel tinggal disusuin. Dan klo terbiasa travel sejak bayi pasti anaknya juga makin terbiasa sama proses traveling kok. Anakku juga gitu. Happy travelling ya

      Like

  2. Baca postingan mak Olen aku ikut merasakan euforia nya deh.. Mang bnr rasa puas n bahagia saat bookingan kita di approve, atau semangatnya cari penginapan n bikin itinerary.. Itu semua ga da yg bisa nandingi.. Walaupun aku traveling nyq ga sesering Drimu aku ttp cinta traveling.. Jd pgn traveling ki mak 😦

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s