Jalan-jalan ke Luar Negeri Tanpa Meninggalkan Kewajiban


(versi yang sudah diedit pernah dimuat Republika pertengahan tahun lalu)

Hijab atau kerudung adalah penutup aurat muslimah yang tidak boleh ditanggalkan di tempat umum. Pergi ke luar negeri, terutama di negara-negara di mana Islam adalah minoritas, bukan berarti kita kemudian mengabaikan apa yang kita yakini.

Saya, Olenka Priyadarsani, memang baru menggunakan kerudung selama tiga tahun terakhir. Belum sempurna benar, tetapi saya selalu berusaha tetap menutup aurat. Kegemaran saya berjalan-jalan baik di dalam maupun di luar negeri tidak boleh menghalangi kewajiban sebagai seorang muslimah. Begitu juga sebaliknya, menggunakan hijab juga tidak akan menghalangi hobi traveling saya dan keluarga.

Saya akan berbagi pengalaman selama berlibur di beberapa negara, terutama di negara-negara di mana Islam bukan agama mayoritas dan kiat-kiatnya.

Di Stavanger, Norwegia
Di Stavanger, Norwegia

Menyaksikan Peninggalan Kejayaan Islam di India

India sudah menjadi target destinasi wisata saya dan Puput, suami saya, sejak lama. Akhirnya ketika ada promo tiket pesawat murah, saya tanpa ragu langsung membeli tiket pulang pergi Jakarta – New Delhi dengan transit di Kuala Lumpur. Tiket tersebut untuk keberangkatan sekitar 7 bulan setelah pembelian.

Tidak disangka, saya kemudian hamil. Menurut hitungan, kehamilan saya akan mencapai 5 bulan saat pergi ke India. Beberapa teman menyarankan untuk membatalkan kepergian kami karena India bukan negara yang terkenal akan higienitasnya. Tetapi sejak awal kehamilan saya memang sangat mudah, tanpa mual dan muntah, bahkan tidak ada bedanya dengan saat tidak hamil, sehingga kami memutuskan untuk tetap pergi.

Persiapannya cukup lancar, hanya butuh waktu dua hari kerja untuk mendapatkan visa turis India. Kami pun berangkat. Bulan Januari adalah puncak musim dingin dan ketika tiba di Delhi, suhu di sana di bawah 5 derajat Celcius. Untung juga, pikir saya, sudah pakai kerudung jadi lumayan hangat walau masih tetap ditambah dengan kupluk dan syal.

Tujuan wisata pertama adalah Taj Mahal di Agra. Kami menggunakan kereta api yang seharusnya hanya butuh waktu dua jam untuk tiba di Agra. Perjalanan molor menjadi 7 jam akibat cuaca buruk. Taj Mahal memang luar biasa indah dan megah.

Di sisinya terdapat Masjid Taj Mahal yang dibangun dari batu paras merah. Sayangnya, ketika shalat Ashar di sini,hanya ada Imam masjid dengan makmum saya dan suami. Padahal, saya yakin, sangat banyak pengunjung, petugas jaga, dan masyarakat setempat yang beragama Islam. Adzan pun dikumandangkan dengan lantang.

Imam masjid sangat ramah dengan Bahasa Inggris yang lancar, menanyakan asal muasal kami. Beliau bahkan mempersiapkan air wudhu untuk saya dalam sebuah kendi. Masya Allah, bagaimana Islam sangat menghormati perempuan.  Saat shalat Maghrib pun makmumnya hanya saya, suami, dan seorang pengunjung yang ternyata juga berasal dari Indonesia. Sungguh sia-sia sebuah masjid yang begitu indah dan megah tetapi tanpa jamaah.

Menggunakan kerudung bukanlah hal yang aneh di India. Namun, saya rasakan banyak orang yang menatap kami dengan seksama. Mungkin bukan masalah kerudungnya, melainkan karena wajah kami terlihat asing. Bahkan di Jama’ Masjid pun banyak orang mengamati kami, banyak juga yang meminta uang dengan alasan “sama-sama Muslim”.

Ketika berkunjung ke Qutb Minar, reruntuhan masjid tertua di India dan menara masjid tertinggi di dunia setelah Masjid Nabawi, kami tidak menemukan masjid untuk shalat (padahal sebenarnya ada di bagian depan). Akhirnya kami memutuskan untuk shalat di taman, di atas rumput. Sebenarnya kami sudah biasa melakukannya di negara-negara lain, namun baru kali ini bagaikan selebriti. Kami sedang shalat malah dipotret oleh banyak pengunjung. Ya sudahlah, yang penting kami tidak meninggalkan shalat lima waktu.

Liburan Keluarga Pertama ke Australia

Perjalanan ke Australia merupakan liburan luar negeri bagi bayi kami, Oliq. Saat itu ia berusia enam bulan. Proses melamar visa Australia cukup mudah, apalagi saya pernah memiliki visa pelajar sebelumnya.

Liburan kali ini pun kami menggunakan maskapai berbiaya murah dengan transit di Kuala Lumpur. Tampaknya bayi kami yang sudah terbiasa jalan-jalan sejak dalam perut cukup menikmatinya. Menggunakan kerudung di Australia juga bukan hal yang sangat aneh. Banyak penduduk Australia merupakan imigran, selain itu jumlah mahasiswa Indonesia, Malaysia yang menggunakan hijab pun sangat banyak.

Selama hampir dua minggu di Melbourne dan Sydney, tidak ada insiden buruk. Ketika di bus, trem, atau kereta api, orang-orang berlomba-lomba memberikan tempat duduk karena kami membawa bayi. Tidak ada prasangka buruk melihat saya yang berkerudung atau suami saya yang berjenggot. Seorang bapak tunawisma bahkan mempersilakan saya duduk di kursi halte trem yang tadinya ia duduki.

Tidak ada juga tatapan aneh ketika kami shalat di taman di Sydney Botanical Gardens, apalagi  ada yang memotret. Shalat di dalam kendaraan umum pun biasa kami lakukan, tapi biasanya orang hanya melihat sekilas dan tampak memaklumi.

Mencari makanan halal di Australia susah-susah gampang. Apabila hanya mengandalkan restoran berlabel halal, bisa jebol kantong kami. Ketika di Melbourne, karena menumpang di apartemen teman, sangat mudah untuk memasak sendiri. Saat tinggal di hotel di Sydney, perkara makan jadi lebih sulit. Kami bertahan dua hari hanya dengan roti tawar, pisang, dan susu. Akhirnya membeli ayam panggang di sebuah restoran waralaba berlabel halal yang harganya masih cukup masuk akal. Bila kepepet kami terpaksa membeli makanan cepat saji berbahan ayam atau sapi dengan mengucap basmallah sambil memotongnya.

Disambut Keramahan Orang Jepang

Ketika hendak berangkat ke Jepang, saya sempat sedikit khawatir. Sepengetahuan saya Jepang termasuk salah satu negara yang jarang sekali bersentuhan dengan Islam. Selain itu, tampaknya kok orang Jepang itu dingin.

Kenyataannya jauh berbeda dengan persepsi awal saya. Tiba di Bandara Haneda Tokyo, kami ketinggalan bus hotel, padahal waktu sudah lewat tengah malam. Seorang supir bus lain, dengan Bahasa Inggris terbata-bata ditambah bahasa isyarat, menunjukkan pada kami di mana harus menunggu bus hotel kami dan memberitahu jam berikutnya bus akan datang. Sungguh berterimakasih kami pada bapak tersebut, karena bila tertinggal bus terakhir kami terpaksa naik taksi yang sangat mahal.

Karena menyewa apartemen, urusan makanan halal tidak menjadi masalah. Saya tinggal membeli bahan mentah dari supermarket terdekat dan mengolahnya di apartemen. Ketika berjalan-jalan kami pun membawa bekal. Ternyata cara ini selain menjamin kehalalan juga jauh lebih murah daripada membeli makanan jadi. Tokyo terbilang sebagai kota termahal di dunia.

Salah satu pengalaman berkesan di Jepang adalah ketika kami terpaksa shalat di parkiran. Ketika , waktu sudah berada di Kyoto dan melakukan tur ke kuil-kuil waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore padahal kami belum shalat Dhuhur. Kiyomizu-dera adalah sebuah kuil cantik yang sangat ramai. Sulit untuk menemukan tempat sepi. Akhirnya kami memutuskan untuk shalat di pinggir sebuah tempat parkir. Kami menggunakan selendang batik yang biasa digunakan untuk menggendong anak sebagai sajadah. Jangan jadikan ketiadaan masjid menjadi alasan untuk meninggalkan shalat.

Ketika berada di Kuil Kinkakuji, Kyoto, penjaga loket tiket langsung menyapa, “From Indonesia? Apa kabar?” Mungkin dia mengenali gaya berkerudung saya yang mirip dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Jepang. Sejauh ini, saya merasa orang-orang Jepang adalah yang paling ramah, mereka tidak peduli apakah penampilan kami berbeda dengan mereka.

Petualangan Musim Dingin di Eropa

Perjalanan ke Perancis, Belanda – dan kemudian Norwegia pada bulan berikutnya – pada musim dingin cukup merepotkan karena harus membawa baju musim dingin yang sangat tebal. Saya terus terang tidak menggunakan kerudung saat berada di Eropa, karena sudah menggunakan topi wool, syal yang menutupi leher dan tengkuk, baju pun bisa hingga empat lapis. Tangan selalu tertutup sarung tangan tebal dan kaki pun tidak pernah telanjang.

Di Paris, terutama di sekitar Basilika Sacre Coeur di Montmartre, ternyata justru banyak penduduk beragama Islam. Para perempuannya pun menggunakan kerudung. Kebanyakan penjual di sekitar gereja tersebut pun merupakan keturunan Timur Tengah. Di Paris ini saya banyak melihat anak-anak sekolah berkerudung dan bergaul dengan kawan-kawan lain dengan biasa, tidak tampak ada batasan. Di Amsterdam pun demikian, perempuan berkerudung sangat umum terlihat di jalanan. Walaupun tertutup auratnya, busana yang mereka kenakan sangat trendi, umumnya memakai sepatu boot selutut.

Pengalaman di Stavanger, Norwegia, cukup unik. Turun di bandara, kami langsung mencari taksi. Ternyata petugas taksinya keturunan Timur Tengah. Ia langsung menggendong anak saya, Oliq, menempatkannya di kursi bayi di dalam mobil. Tiba-tiba saja ia mendoakan Oliq dalam bahasa Arab dan mencium kedua pipi anak saya. Yang dicium tenang-tenang saja duduk di tengah terpaan angin dingin.

Makanan tidak terlalu menjadi masalah di Eropa karena sebagian besar kami tinggal di apartemen sehingga dapat memasak sendiri. Sementara ketika menginap di hotel di Norwegia, mereka selalu menyediakan ikan salmon. Alhamdulillah, tidak ada kesulitan sama sekali ketika berada di Eropa.

Jalan-jalan boleh, asal kewajiban tidak boleh ditinggalkan.

Kiat singkat hijab backpacking:

1. Be yourself, terdengar klise tapi apa kita harus mengganti apa yang kita yakini bila kita pergi ke suatu tempat?

2. Jangan menghakimi terlebih dahulu hanya karena apa yang dipublikasikan oleh media tentang “potret Islam di mata internasional”. Apa yang terjadi pada Shah Rukh Khan di Amerika Serikat tidaklah selalu terjadi pada kaum Muslim lain.

3. Santai saja. Anda kan wisatawan, berlakulah seperti wisatawan yang lain. Melihat-lihat, memotret, foto-foto dengan pose aneh. Apa sajalah yang biasa Anda lakukan.

4. Tetap melakukan apa yang menjadi kewajiban anda. Jangan malu. Orang yang memiliki toleransi pasti paham kok. Bila ada yang tidak,shame on them!

5. Jangan tinggalkan kesan buruk, misalnya membuang sampah sembarangan, menyerobot antrian dll. Yang membuat agama memiliki citra buruk bukannya gaya berpakaian, melainkan kelakuan negatif para pemeluknya.

6. Kalau memang ada yang menatap tajam Anda, lempar senyum saja. Pasti orang tersebut mati kutu kena lempar senyum manis Anda!

 

Advertisements

7 thoughts on “Jalan-jalan ke Luar Negeri Tanpa Meninggalkan Kewajiban”

  1. Hi mba..
    Saya sudah sering kali dapat referensi dari artikel yg mba tulis mengenai traveling dengan anak2 dll..
    Kali ini saya mau tanyakan mengenai wudhu disaat travelling ke negara bermusim dingin..
    Insya Allah akhir tahun ini kami akan berlibur ke negara musim dingin, suhunya mukin dibawah 5 derajat..saya sudah prepare dengan baju berlapis2..tp tiba2 saya bingung, bagaimana dengan wudhunya? Sulit rasanya saya hrs membuka satu per satu baju yg saya kenakan, apalagi di tempat umum dan terbuka..saya tipikal yg tidak kuat drngan dingin..
    Mungkin mba ada pengalaman berwudhu saat jalan2 musim dingin.. 😀

    Like

    1. Ada aturannya kok mbak kalau lagi safar. Bahkan ga perlu buka sepatu juga. Suamiku yg notabene alim banget pun kaya gitu. Klo pas di hotel ga masalah. Klo pas di luaran kami sering tayamum juga. Jangan dipersulit mbak :).

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s