Jalan-jalan Nebeng Perjalanan Dinas Harus Beretika!


Coba siapa di sini yang suka “nebeng” perjalanan dinas alias business trip untuk jalan-jalan pribadi? Kayanya hampir semuanya sudah pernah. Yang perlu diingat, junjung etika karena tujuan utama adalah untuk menunaikan pekerjaan. Jangan semata-mata karena fasilitas kantor, kemudian digunakan seenaknya.

Nebeng biztrip Papa di Batam. Oliq nebenger deh!
Nebeng biztrip Papa di Batam. Oliq nebenger deh!

Ketika saya masih bekerja dan melakukan perjalanan dinas di dalam maupun luar negeri, saya memang sering memanfaatkan waktu untuk keperluan pribadi. Syarat utamanya, pekerjaan harus rampung dulu, baru jalan-jalan. Bisa jadi jalan-jalan pribadi dilakukan setelah jam kantor, atau bahkan extend hari. Kebetulan kantor-kantor saya dulu memang fleksibel jadi tiket pesawat pulang bisa digeser, tidak harus pulang tepat setelah dinas selesai.

Ketika berniat untuk jalan-jalan setelah dinas, saya selalu izin dengan supervisor dulu sekaligus minta cuti. Jujur-jujur aja sih. Misalnya, “Mas, habis workshop di Bangkok aku mau cuti 3 hari ya, mau sekalian ke Laos.” Selalu tidak pernah jadi masalah, sih.

Bahkan ketika kerja di Aceh dan ditugaskan ke Medan, bos saya – bule Inggris – malah menyarankan untuk ambil cuti sekalian. “Nggak lah, Bang. Bosen kalo Medan sih!”. Habis itu dia bilang,”Ah kamu pasti mau simpan cuti buat besok kamu pacaran sama laki kau yang gondrong itu, kan!” Dasar bos sok tau. Kok tau aja sih.

Kebetulan saya tidak pernah kerja di institusi yang sangat ketat, yang harus izin belibet untuk cuti atau jalan-jalan ke luar negeri. Bos-bosnya pun santai – orang mereka juga senang nebeng biztrip buat liburan kok!

Keuntungan dari jalan-jalan jenis ini adalah: tiket pesawat ditanggung kantor, hotel pun bintang 4 (atau akomodasi terbaik bila tidak ada yang sekelas itu), makan ditanggung atau dikasih uang saku. Kalau jalan-jalan sendiri kan pasti carinya budget hotel.

Tiga tahun yang lalu saya memasuki fase yang lain: nebeng perjalanan dinas suami. Setelah total menganggur, fasilitas nebeng ini tetap datang dari suami. Kebetulan di kantornya yang dulu keluar kota dan keluar negeri lumayan sering.

Setelah ada Oliq, acara nebeng perjalanan dinas ini malah makin heboh. Puput juga hampir selalu mengajak saya, walau saya kadang-kadang enggan.  Kalau cuma Batam, Balikpapan, dan Singapura cuma 2-3 hari saya biasanya menolak.

Ada beberapa hal yang saya lakukan kalau nebeng perjalanan dinas Puput. Pertama, saya nggak boleh ganggu pekerjaannya. Artinya, dia harus kerja biasa. Saya jalan-jalan sendiri. Misalnya ketika di Batam, saya menyewa mobil dan sopir untuk mengantar saya dan Oliq ke Rempang dan Galang. Atau ketika di Balikpapan, saya dan Oliq jalan-jalan sendiri naik angkot ke pantai. Kami sudah menikmati fasilitas kantornya berupa hotel yang bagus (dan breakfast), ya sudah itu saja.

Ke dua, saya nggak harus satu pesawat/satu kelas dalam pesawat yang sama dengan Puput. Misalnya ketika ke Kuala Lumpur, tiket Puput adalah Malaysia Airlines – yang muahalnya ga sesuai kantong kami. Akhirnya saya nyusul pakai AirAsia. Pulangnya Puput masih dengan MH, saya naik KLM yang harganya bahkan lebih murah dari AA.

Ke tiga, saya akan menolak bila diajak acara yang bareng dengan teman-temannya walaupun itu hanya jalan-jalan informal atau makan malam bersama. Saya lebih memilih beli makan di emperan dan makan di kamar hotel. Bagi saya, kalau saya ikut, perhatian Puput pasti terpecah dan saya juga nggak nyaman. Teman-temannya mungkin juga jadi agak segan mau bercanda.

Kadang saya dan Oliq pun disuruh ikut waktu Puput team-building, pernah ke Anyer, Lembang, dan Jogja (Kantornya hobi banget team building deh). Waktu acara saya akan jalan-jalan sendiri. Dan saat makan siang pun saya beli sendiri dan bayar sendiri, padahal mereka punya makanan prasmanan yang melimpah ruah.

Kadang ada yang kecolongan juga pakai fasilitas kantor, misalnya Puput dijemput di bandara pakai mobil kantor, mosok saya naik taksi sendiri, wong mobilnya juga kosong. Terus terang sebenarnya saya kurang nyaman sih.

Bagi saya, yang namanya nebeng perjalanan dinas itu wajar. Bila perlu, tambah hari, dan turun derajat dari hotel bintang 4 ke hotel bintang jatuh seperti waktu kami ke Singapura. Dari Fullerton pindah ke Little India.

Asal wajar tidak berlebih dan tidak merugikan siapapun, terutama kantor dan pekerjaan.

Kok saya jadi kangen kerja dan dapat tugas luar lagi ya. *cari Kompas Sabtu ah*

 

Advertisements

5 thoughts on “Jalan-jalan Nebeng Perjalanan Dinas Harus Beretika!”

  1. Jalan-jalan nebeng kantor bakal sah2 saja, kalau kerjaan utama udah kelar. Kalau bisa misal kerjaan 3 hari dikebut dua hari, yang sehari buat jalan2…asik benerr tuh mbak *pengalaman pribadi 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s