Semalam di Simpang Lima Semarang


“Belum ke Semarang kalau belum foto di Simpang Lima,” kata Puput akhir bulan lalu. Saat itu kami sedang melakukan road trip boyongan dari Jakarta ke Jogja. Perjalanan yang biasanya kami lakukan melalui jalur selatan Pulau Jawa, kini bela-belain beradu dengan truk-truk di Pantura demi mengunjungi Semarang.

Pose dulu di Simpang Lima
Pose dulu di Simpang Lima

Tiba di Semarang sekitar pukul 7 malam, kami langsung mencari hotel di seputaran Simpang Lima (nggak tahu juga daerah Semarang yang lain). Kami melewati bundaran Simpang Lima yang ruwet, semrawut, macet, namun juga sangat menarik perhatian.

“Wah kita besok malam kudu ke sana, jadi nginep di sini dua malam!” Puput bilang semangat. Rencana awal sebenarnya hanya semalam saja di sini.

“Yo wis rapopo!”

Ibarat Jogja, Simpang Lima ini Malioboro-nya Semarang, seperti Bundaran HI milik Jakarta cuma jauh lebih merakyat. Seperti Hoan Kiem Lake punya Hanoi, di sana tumplek blek semua kalangan. Kalau di Melbourne seperti Federation Square. Hanya saja Simpang Lima ini lebih menarik, lebih heboh, lebih happening pokoknya!

Berada di tengah kota, bundaran Simpang Lima adalah sebuah lapangan besar yang menjadi persimpangan lima jalan utama di kota Semarang. Bundaran ini dijadikan tempat rakyat mencari hiburan, juga tempat rakyat mencari sesuap nasi. Simbiosis mutualisme masyarakat segala kalangan di tengah hutan urban Semarang.

Anak-anak senang main mobil-mobilan
Anak-anak senang main mobil-mobilan

Salah satu yang paling mencolok mata di bundaran ini adalah sepeda tandem berlampu. Di sini pengunjung bisa menyewa sepeda tandem (2-4 orang) yang sudah dilengkapi lampu warna warni. Pesepeda bisa memutari bundaran ini. Uang sewanya Rp 25 ribu sepuas hati. Sak kemenge. Nganti dengkule prothol nggih monggo.

Di tengah lapangan ada berbagai macam hiburan anak, seperti mobil-mobilan, kereta-keretaan, scooter, dsb yang juga disewakan. Ada juga penyewaan sepatu roda dan roller blade. Suasananya sangat hidup dengan anak-anak dan remaja lalu lalang menggunakan roller blade dan mobil-mobilan mereka.

Lalu di lapangan rumput ada juga motor trail kecil, ATV yang juga dapat disewa. Entah berapa tarif sewanya.

Penjual mainan buatan tangan seperti ini kreatif!
Penjual mainan buatan tangan seperti ini kreatif!

Kami pilih sepeda tandem, dong. Awalnya Oliq enggan, “Nggak mau. Aik nggak mau naik cepeda!” Maklum saja, “nggak mau” sedang jadi kata-kata favoritnya belakangan ini. Setelah mau dibujuk, dan dinaikkan ke kursi bayi sepeda, malah kesenangan anaknya. “Aik duduk di depan, Papa duduk di bakang Aik, Mama duduk di bakang Papa,” katanya. Anaknya senang, Simbok Bapaknya yang pahanya pegel setelah dua putaran.

Bagi yang senang jajan, di tengah bundaran ini ada penjual sate, pecel, dan makanan ringan. Beberapa kerajinan lucu-lucu juga dijual di sini, misalnya pesawat terbang dari gabus yang kalau diterbangnya memang bisa meliuk-liuk seperti pesawat tempur. Ada juga burung-burungan yang benar-benar bisa mengepak-ngepakkan sayap bila diterbangkan. Unik, lucu, kreatif.

 

Yang mau jajan besar untuk makan malam, bisa ngiras di seberang. Di trotoar seberang luar bundaran Simpang Lima. Di sana berjejer warung yang hanya buka pada malam hari. Salah satu yang paling favorit tampaknya adalah Pecel Mbok Sador. Ada juga penjual Tahu Gimbal, makanan khas Semarang. Banyak warung menjual berbagai jenis penyetan, seafood, bakso, dan dan beranekaragam jajan lainnya.

Cuma satu malam saja sih mampir ke Simpang Lima. Tapi lain kali mau lagi!

Salam Simpang Lima!
Salam Simpang Lima!
Advertisements

8 thoughts on “Semalam di Simpang Lima Semarang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s