Traveling dengan Anak Picky Eater


Punya anak yang sulit makan sampai pada taraf selalu pengen nangis – atau malah sudah menangis – tiap acara makan? Yuk, tos dulu sama saya!

A happy happy lalala family (Sydney 2012)
A happy happy lalala family (Sydney 2012)

Versi anak sulit makan ini berbeda-beda. Ada anak yang menutup mulutnya sehingga sulit sekali menyuapkan makanan. Ada yang sudah berhasil masuk mulut kemudian dilepeh. Ada juga anak yang makannya diemut sampai yang menyuapi stres menunggu, bisa sampai satu jam pun belum selesai. Balita yang lebih besar mungkin problemnya adalah hanya mau makanan yang itu-itu saja – yang sebagian besar kurang sehat seperti makanan olahan dan cepat saji. Tenang, Anda punya banyak teman kok!

Dalam kehidupan Oliq yang 2,5 tahun ini, hampir semua sudah saya alami – kecuali diemut. Oliq mengalami sulit makan bahkan sejak awal MPASI, padahal katanya kalau anak ASI eksklusif transisinya lebih mudah. Buat kami tidak sama sekali. Jangankan baby-led-weaning (BLW), wong disuapin dengan segala cara aja susah. Anak saya memang seperti tidak tertarik dengan makanan.

Kalau ada yang bilang, “Aaah itu bundanya aja kurang kreatif, harusnya menunya variasi, sajiannya yang bagus!” oooh bakal saya tantang berantem beneran! Semua cara sudah dicoba, saya ulangi lagi, SEMUA. Ternyata permasalahan Oliq adalah alergi makanan tertentu. Setelah dipantang beberapa jenis makanan (yang semakin lama pantangannya semakin sedikit), anaknya sudah lumayan mau makan walau saya tetap harus telaten menyuapinya. Acara makan berkisar antara 20 hingga 60 menit dan hampir selalu habis.

Makanya jangan terlalu stres kalau anak Anda tidak seperti anak-anak lain, mungkin sistem pencernaannya memang berbeda. Ini self-reminder juga sih bagi saya yang masih sering menganggap acara makan anak seperti warzone. Seperti medan perang. Kadang menang, kadang kalah. Lebih sering babak belur hihihi.

Oh, kok jadi curcol.

Simbok lagi opo sih?
Simbok lagi opo sih?

Saya bukan pakar parenting, dan saya juga jauh sekali dari kategori ibu yang baik nan lembut dan penyabar.

Beberapa hari yang lalu seorang ibu berkata dia akan mulai mengajak anaknya jalan-jalan jauh kalau sudah agak besar, ketika kebiasaan picky eatingnya sudah berkurang. Saya jadi menengok ke belakang. Kasus picky eating Oliq saya yakin termasuk yang cukup parah karena dimulai sejak awal MPASI dan hampir selalu konstan. Bukan hanya sekali-sekali tidak mau makan seperti anak lainnya (yang kemungkinan besar karena bosan, tumbuh gigi, atau sariawan). For me, everyday is a battle.

Tapi lha kok ya dalam keadaan demikian, kami termasuk keluarga nekat jalan-jalan terus. Apa tidak susah? Apa nggak repot? Apa anaknya nggak sakit?

Sejak umur 3 bulan Oliq sudah biasa diajak jalan, perjalanan darat dengan mobil maupun dengan pesawat Jakarta-Jogja cukup sering. Perjalanan jauh pertamanya adalah ke Australia, pada usia 6 bulan, beberapa hari sejak dia mulai MPASI. Waktu itu, makan belum terlalu susah karena baru satu kali sehari, berupa buah pisang atau bubur beras merah. ASI masih lancar dan belum diberi tambahan susu lainnya.

Untuk berlibur di Indonesia, tidak terlalu susah sebenarnya. Misalnya ketika kami ke Bogor, Bandung, Balikpapan, Manado, dan kota-kota lain. Di hotel hampir selalu disediakan bubur. Kalau tidak tinggal di hotel, penjual bubur pun banyak kok di luar.

Usia 1 tahun, andalan saya ketika traveling adalah membawa abon sapi (bisa diganti abon ayam, abon lele untuk variasi). Nasi bisa dicari di mana saja. Halangannya saat umur sekian adalah kadang nasi dimasak terlalu keras, kurang pulen untuk Oliq. Ya sudah, kembali ke bubur kalau ada.

Untungnya setelah umur 1 tahun ini Oliq doyan sayur sop, soto, rawon yang sangat mudah dicari di Indonesia. Dia juga suka nasi uduk karena gurih. Bila nasinya keras saya sering pencet-pencet lebih dulu sebelum disuapkan.

Permasalahannya timbul ketika ke luar negeri. Kebetulan Oliq ini kurang suka roti dan pasta. Staple foodnya tetap nasi. Pokoke wong Jowo banget. Kentang goreng dia doyan juga, tapi entah kenapa justru simboknya yang kadang tidak puas.

Ketika ke luar negeri, kami terpaksa melupakan sejenak prinsip backpacking – kembali ke kopering. Bagaimana bisa bawa ransel doang, kalau harus bawa rice cooker dan kompor listrik. Nggak apa-apalah yang penting traveling jalan terus.

Saat umur Oliq 11 bulan, kami menjalankan ibadah umrah. Walaupun saya tahu di sana akan ada makanan Indonesia, saya tetap bawa rice cooker untuk membuat bubur. Andalan lain adalah kaldu bubuk sebagai teman bubur tersebut.

Ketika pergi ke Singapura dan Malaysia bawaan tidak serepot itu karena di sana juga banyak ditemukan bubur dan nasi.

Umur 15 bulan kami membawa Oliq menikmati tiket promo ke Tokyo dan Kyoto di Jepang. Melihat perjalanan yang silam, kami sadar bahwa lebih nyaman untuk menginap di apartemen daripada di hotel. Tarif semalamnya sama, kok. Asal jangan dibandingkan dengan tarif hostel maupun hotel kapsul ya! Keuntungan tinggal di apartemen adalah bisa masak sendiri. Selain menghemat biaya makan, menu makanan juga dapat disesuaikan dengan selera si anak picky eater. Sebelum berangkat saya menghubungi manager dan bertanya peralatan masak apa saja yang tersedia, ternyata ada rice cooker. Aman deh tidak perlu membawa!

Di sana, kami sempat beli ikan yang diobral. Untuk sayur juga pilih yang paling murah, biasanya wortel, kol, brokoli. Standar saja, sayur yang cocok untuk anak-anak.

The penniless travellers
The penniless travellers

Perjalanan nan repot berikutnya adalah ke Paris dan Amsterdam selama 8 hari. Hebatnya (ih muji diri sendiri) kami hanya bawa satu koper, itu sudah termasuk rice cooker, padahal saat itu musim dingin. Kebayang dong  bawaan wintercoat dan tetek bengeknya. Walau menyewa apartemen juga, kami bawa rice cooker karena di Eropa tidak mungkin mereka menyediakannya. Saya bawa bumbu-bumbu instan seperti rawon, soto, sop daging, opor, dan sebagainya. Biasanya saya juga bawa sedikit beras. Sayuran dan daging tinggal beli di supermarket di sana. Abon, mie instan, dan bawang goreng tidak ketinggalan. Saya juga bawa beberapa liter susu UHT.

Tidak terbayang sebelumnya kami bisa makan bekal nasi, telur dadar, dan cah brokoli di sebuah bangku di Champs Elysees dengan pemandangan Arc de Triomphe. Oliq disuapin sambil lari tersandung-sandung baju rangkap tiganya.

Mungkin sop sederhana ini jadi sop terlezat yang kami nikmati. Setelah berhujan-hujan salju, pulang ke apartemen dan makan sop hangat nasi pulen. Lauknya bakso goreng halal yang kebetulan nemu di Albert Heijn di Amsterdam. Oliq pun tampaknya sangat menikmati sop yang sayurnya saya potong kecil-kecil ini. Ketika hendak pulang pun kami bawa bekal nasi dan udang goreng tepung untuk makan di Bandara Schiphol.

Perjalanan ribet berikutnya sebulan kemudian ke Stavanger di Norwegia selama hampir 3 minggu untuk mendampingi perjalanan dinas Puput. Istri solehah memang seyogyanya mendampingi suami bertugas J.

Ribetnya, sebelum berangkat, Puput ada acara di Bali. Karena ini nebeng business trip (taksi ditanggung dong ya), dan juga lama, kami bawa dua koper. Karena beberapa hari pertama tinggal di hotel, dibawa dong perkakas memasaknya seperti rice cooker, kompor listrik, panci, irus (eh apa sih Bahasa Indonesianya?), pisau, piring, mangkok, dan juga bahan-bahan mentah serta bumbu-bumbu. Kalau di Perancis dan Belanda masih bisa nemu makanan Indonesia, ini di Norwegia?

Akhirnya kami harus terbang Denpasar – Jakarta – Abu Dhabi – Amsterdam – Stavanger. Tiba di Stavanger kami masih pakai baju tipis dan sandal gunung. Di bandara, kami bongkar-bongkar koper untuk cari wintercoat sambil diperhatikan para petugas sambil nyengir.

Kamar-kamar hotel di Norwegia kecil-kecil sekali, padahal itu sudah hotel paling top. Ibu petualang harus memanfaatkan alat seadanya. Misalnya menggunakan meja kaca untuk talenan, plastik sebagai pengganti busa untuk mencuci piring.

Bahagia sekali setelah akhirnya kami pindahan ke apartemen – yang juga lebih dekat ke kota. Andalan saya untuk makanan Oliq di sana jelas ikan salmon. Selain murah, gampang juga ngolahnya. Ketika persediaan sudah menipis akhirnya kami menemukan semacam daerah Asia bernama Pedersgata. Di jalan ini ada sekitar selusin toko Asia. Akhirnya bisa beli cabe (yang gendut-gendut, kesan pertamanya “ah nggak pedes ini”, ternyata puedessss tenan), terong (sekitar Rp 20 ribu satu), rebung kalengan. Senang banget ketika nemu Indomi*berbagai rasa, dan sambal AB*. Hari itu saya masak sayur lodeh!

Nah, tidak mustahil kan jalan-jalan dengan anak picky eater?

Tips:

  1. Bawa peralatan memasak bila perlu
  2. Bawa bahan mentah dan lauk favorit (abon, rendang tidak pedas, bawang goreng, tuna kaleng dsb)
  3. Bawa mie instan sebagai selingan. Saya biasa memasak dengan bumbu sendiri, dicampur kaldu dan sayuran. Tapi kalau dalam perjalanan ya dimasak gitu aja ß bad mom jangan ditiru!
  4. Kalau sedang dalam perjalanan, biasa saya belikan kentang goreng atau biskuit. Jadi kalau makan besar agak sulit, perut masih terisi cukup. Susu bisa diperbanyak.
  5. Kalau di restoran bisa pilih menu yang sesuai. Saya sering pesan, misalnya mie atau capcay, minta dimasak agak lebih lama jadi sayurannya lebih empuk.
Advertisements

12 thoughts on “Traveling dengan Anak Picky Eater”

  1. Hallo mba,

    Hebat banget ya, sumpah Hebat banget. Standing ovation virtually dari aku. Aku pengen kenalan sama mba dan minta tips lbh detil rasanya hehehe. Anak ku susah makan tp lbh krn aku ga sabar. Awalnya alergi susu sapi lalu ketemu dokter y saklek suruh berenti asi dan ksh susu khusus. Stress lah aku maksa2 anak minum susu y ga enak bgt itu. Sampe anak saya rada trauma sama sendok+dot. Skrg pelan2 dah mau tp tetep susah smpe mau nangis dan bahkan frustasi bgt..

    Aku dan suami sama2 traveler, tp semenjak anak ku ketahuan alergi+susah naik berat badan nya, blasssss jrg bgt. Paling2 ke hotel2 sekitar jabodetabek. Cemen abis kan. Pdhal dulu smpe ke Jordan Syria backpack huhuhu..

    Coba dong mba buat lagi artikel ini versi detil nya. Tentang gimana akhirnya Oliq mulai mau makan 20 menit kelar, dan nyesuain jam makan gmn? Trus kalo di mobil/pesawat dia susah disuapin kita pasrah aja ya ksh snack+nenen selama jalan2? Huhuhu so many questions in my head.. I am totally emak emak lebay who needs help 😀

    Thanx and salam kenal, saya Mumu 🙂

    Like

    1. halo mbak…tos dulu sesama emak anak susah makan. kalo mau tanya banyak bisa di twitter @backpackologyID atau kalo mau ngobrol via WA di: +60172292047. ditunggu yaa

      Like

  2. Mba olen seru banget sih dampingin suami sampe ke Norwegia.Sy masih di Kelana Jaya aja hahhhaa.
    Mba, kalo bw cooler bag isi ASI&MPASI beku k kabin pesawat boleh ga sih?
    🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s