Pelesir di Bawah Sayap RI-001


Berapa banyak yang tahu bahwa pesawat ke dua Republik ini adalah pemberian dari rakyat Aceh? Berapa yang tahu di mana pesawat itu berada? Jangan-jangan kita yang sudah terkepung modernisasi, terbodohkan oleh janji-janji politis para calon legislatif, terbelenggu hedonisme ala sinetron, jadi lupa dengan sejarah.

Mari kita ingat sedikit.

RI-001 Seulawah
RI-001 Seulawah

Pesawat pertama RI bernomor sayap RI-002, disewa pemerintah dari seorang veteran penerbang Amerika Serikat bernama Bob Freeberg. Pesawat Douglas C-47 Skytrain tersebut, dengan alasan test flight, diterbangkan oleh Freeberg dari Pangkalan Udara Clark di Filipina menuju ke Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta pada tahun 1947.  Kru Freeberg tersesat dan malah melenceng ke Tasikmalaya. Karena bensin menipis, akhirnya pesawat didaratkan di pasir pantai di Cikalong. Di kemudian hari, mereka menggunakan anyaman bambu sebagai landasannya. Pesawat pertama ini diberi nomor RI-002 karena nomor RI-001 memang dicadangkan untuk pesawat yang rencananya akan dibeli sebagai pesawat kepresidenan RI. Sayang, umur pesawat RI-002 singkat karena pada tahun 1948 hancur menabrak tebing di Sumatera Barat dan Freeberg yang menjadi pilotnya meninggal dunia.

Kok saya malah jadi mengharu biru menulisnya. Indonesia memang kaya dengan sejarah.

seulawah depan

Nah, pesawat RI yang ke dua adalah hasil patungan rakyat Aceh. Pesawat Dakota DC-3 ini yang kemudian menjadi pesawat kepresidenan RI dengan nomor sayap RI-001, yang diberi nama Seulawah. Pesawat ini sangat berjasa dalam awal kehidupan Republik ini. Pesawat ini pula yang menjadi cikal bakal lahirnya penerbangan niaga pertama Indonesia, Indonesian Airways – yang kelak akan menjadi Garuda Indonesia.

Tahukah kalian bahwa pesawat RI-001 yang sangat berjasa ini masih berdiri kokoh. Dapat disentuh, dipegang dengan bebas (asal jangan dirusak ya!!!)? Dapat dikagumi semua orang? Tapi saya tidak yakin orang-orang yang asyik berfoto-foto dengan pesawat ini tahu sejarahnya.

Pesawat RI-001 disimpan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), di Anjungan Aceh. Pesawat tua tersebut masih terlihat gagah dan menjadi fitur yang sangat menonjol.

Beberapa pekan yang lalu kami (setelah 3 tahun tertunda-tunda) akhirnya pergi ke TMII. “Akhirnya sudah sah Oliq jadi warga Jakarta,” kata Puput. Jawab saya, “Belum. Soalnya belum pernah ke Monas!”

Niat awal adalah naik balon udara yang katanya bisa mengangkut sampai 30 orang itu. Membayar Rp 9 ribu per orang dan 10 ribu untuk mobil, kami pun masuk ke areal TMII. Banyak orang. Dengan tiket masuk yang begitu murah, TMII memang pantas jadi tempat favorit wisata massal. Hiburan rakyat segala kalangan.

Ternyata balon udaranya sudah rusak, tidak beroperasi lagi. “Yaaaah, terpaksa deh kita harus ke Bagan atau Capaddocia!” saya kecewa berat.

Akhirnya kami pun naik kereta gantung yang lintasannya lumayan panjang untuk tiket Rp 30 ribu per kepala. Dari atas terlihat anjungan-anjungan, ramai pengunjung. Lalu terlihatlah pesawat bersejarah tersebut dari atas kereta gantung. Sontak Oliq berseru, “Aik mau ke wawa Gayuda jaman duyu banget!”

"Ni wawa Gayuda jaman duyu banget!"
“Ni wawa Gayuda jaman duyu banget!”

Turun dari kereta gantung kami langsung menuju ke Anjungan Aceh. Oliq – a frequent flyer, a die-cast plane collector, a plane engineer wanna-be – langsung lari ke arah pesawat. Kami pun kagum karena penampilannya memang masih gagah walaupun usianya sudah sangat tua. Batang-batang besi penyangga roda pesawat sudah disemen dengan landasan. Roda depan masih dapat berputar, demikian juga dengan baling-baling di bagian depannya.

Lama kami menghabiskan waktu di bawah pesawat. Melihat setiap detail kecilnya, mengagumi berbagai peristiwa yang pernah ia lakoni. Memotret dari segala sudut. Oliq lari ke sana kemari. Bagian favoritnya adalah roda belakang, dan sayap ekor yang dapat ia jangkau.

Orang datang dan pergi. Kami tetap tinggal. Oliq menangis bila diajak pergi. Akhirnya, bahkan ketika hujan turun dengan deras, kami tetap berada di bawah pesawat. Berlindung di balik kegagahan sayapnya.

“Piknik di wawa jaman duyu banget!” ucap Oliq ketika kami menikmati makan siang di bawah sayap ketika hujan tak kunjung reda. Nyanyian Aceh menjadi pengiring karena kebetulan sedang ada acara seni di anjungan.

Piknik di bawah wawa Seulawah
Piknik di bawah wawa Seulawah

Wahai, pesawat RI-001, tetaplah gagah. Walau negeri ini terus didera masalah, kau adalah saksi bahwa kami bisa tabah dan berubah.

 

Advertisements

11 thoughts on “Pelesir di Bawah Sayap RI-001”

      1. Cieeh, Mi, aku the master of mantenan kecil2an. mending duitnya buat hanimun huhuhuuu. Insya Allah ya, tanggal berapa ya? aku baru balik dari sini tgl 27…dan mau mampir semarang. nek ga bisa, takdoain aja ben rukun2 langgeng dan banyak jalan2

        Like

    1. sayangnya gak bisa dinaikin, paling cuma liat2 di bawah pesawatnya… kalo anak saya sih udah seneng bgt bisa main di bawahnya heheh 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s