Nggak Bisa Ngomong “Lo” dan “Gue”


Suatu hari di dekat bus loop Monash University di Clayton, Australia, seseorang yang saya kira berasal dari Beijing atau Hongkong dan sekitarnya berseru pada seorang kawannya yang sudah menjauh, “Ojo lali mbek sing mau yo. Aku gak duwe liyane!”

“Oh, arek Suroboyo!” pikir saya.

Ketika itu saya masih tinggal dengan sebuah keluarga yang asalnya dari Yogyakarta. Mbak Atun, sang istri, adalah dosen UIN Kalijaga yang sedang menyelesaikan PhD-nya. Suaminya pun asli Bantul. Hebatnya, walaupun sudah bertahun-tahun hidup di Australia – dan sebelumnya mereka tinggal di Kanada untuk S2 – keluarga ini sangat Jawa. Bahasa yang digunakan sehari-hari di rumah adalah Bahasa Jawa walaupun anak mereka keponthal-ponthal untuk mengikuti. Kaset yang diputar di mobil pun gendhing-gendhing Jawa yang sering saya dengar di acara pernikahan di desa-desa.

Sebenarnya apa sih arti bahasa bagi kita?

Sering dengar anak-anak kecil udah pinter cas cis cus Bahasa Inggris? Babysitternya pun bicara bahasa Inggris pada mereka. Saya ingat beberapa hari yang lalu ketika beli gorengan, ada sepasang suami istri. Sang istri bicara dengan suaminya tentang tempe-tempe yang masih ada di wajan, “Masih digoreng. We need to wait!” Suaminya ini lalu berkata pada si pedagang gorengan,”Mas, telone telu!” Kontras ya.

Tapi saya di sini tidak untuk menghakimi. Wong saya kadang-kadang juga suka keminggris, kok!

Ada satu adegan lucu lagi ketika bawa Oliq ke taman. Ada seorang bunda gaul menanyakan sesuatu sama Oliq – saya lupa persisnya. Anaknya jawabnya lempeng aja, “Nggih!”

Jujur saja, kami pun tidak konsisten dengan masalah bahasa ini. Saya dan Puput merasa sangat penting untuk mengajarkan Bahasa Jawa kepada Oliq, tapi pada kenyataannya kami berbicara dalam Bahasa Indonesia satu sama lain (dengan berbagai istilah Jawa yang sangat kental) – kadang grammarnya Indonesia, kata-katanya Jawa atau sebaliknya. Akibatnya bahasa Oliq pun campur baur.

Dulu di Australia, saya hampir selalu berbahasa Jawa karena sebagian besar Indonesian circle di sana pun orang Jawa atau mereka yang mengerti Bahasa Jawa. Sampai ada kawan yang nyeletuk, “Udah di luar negeri kok masih pakai Bahasa Jawa!” Lha piye, dab, pancen wong Jowo je!

Tinggal di Aceh, saya pun terkenal sangat Jawa. Bisa dimaklumi karena di kantor saya saat itu pun sangat banyak alumni UGM. Bahkan ada seorang bule Amerika yang juga fasih bahasa Jawa.

Sudah lama meninggalkan Jogja, pernah tinggal di luar negeri, agaknya untuk urusan bahasa, saya masih cukup statis. Saya memang terpengaruh untuk menggunakan istilah “galau” misalnya, namun sama sekali tidak pernah menggunakan kata “secara” secara tidak benar seperti yang pernah ngetren beberapa tahun lalu. Bahkan saya pernah menegur seorang kawan jurnalis yang mempergunakannya dengan tidak benar, sampai saat ini kawan tersebut tidak pernah menyapa saya lagi.

Untuk postingan blog juga, bisa dilihat, pasti akan saya sisipkan (sengaja maupun tidak sengaja) istilah-istilah dalam Bahasa Jawa. Ada yang bilang itu adalah salah satu selling-point dalam tulisan saya.

Tak bisa dipungkiri, lingkungan sangat mempengaruhi cara bicara kita. Saya agak kaget juga ketika bercakap-cakap dengan kawan lama, baik secara langsung maupun lewat jejaring sosial, mereka sangat fasih menggunakan kata “lo” dan “gue” – yang dulunya tidak sama sekali. Padahal berbicara dengan kawan yang sama-sama orang Jawa.

Mungkin saya saja yang aneh, satu-satunya yang sudah bertahun-tahun tinggal di Jakarta namun masih tetap tidak bisa (atau mungkin tidak mau) menggunakan istilah “lo” dan “gue”. Saya tetap pakai “aku” dan “kamu”. Atau bahkan “kowe”, “awakmu” dsb.

Sekali lagi, saya tidak sedang menghakimi. Puput saja sering pakai istilah “lo” dan “gue” saat berbicara dengan teman-temannya. Mungkin karena kuliah di Bandung yang sangat dekat dengan Jakarta. Entahlah.

Fenomena “lo” “gue” mungkin juga sangat marak karena faktor televisi. Hampir semua tayangannya sangat Jakarta. Dulu sehabis melahirkan Oliq di Jogja, saya sangat suka nonton FTV dengan setting daerah –walaupun ceritanya sih begitu-begitu saja. Tapi bumbu kedaerahan ini sangat menyegarkan, sesuatu yang berbeda dari tayangan-tayangan Jakarta/mall/alay/anak-SMU-bawa-mobil/host-melambai sentris.

Ketika sudah hampir meninggalkan Jakarta pun saya masih tidak pernah memakai kata “lo” dan “gue”. Harus bangga atau malu?

Guweh kudu piye, cyint?

Advertisements

9 thoughts on “Nggak Bisa Ngomong “Lo” dan “Gue””

  1. Elo gak kudu piye piye cyint hahahaha… kalo gue sih tergantung siapa lawannya,,, kalau dia mulai elo gue ya saya ikutan juga hahaha… kalo aku tahu dia orang jawa ya jowo aeeee talah… tapi aku seneng mlajari boso-boso sing onok nang dunyo iki… aku pengen dadi polyglot hahaha. loh boso gue kok belibet ngene sih ahaha

    Like

  2. Setahu saya, sedari kecil tinggal di lingkungan betawi, gue dan lo itu mengambil dari bahasa kasar dari suku betawi, lu dan gua. Gue dan lo mengalami sedikit penyimpangan yang akhirnya menjadi bahasa gaul. Saya lahir dari suku jawa, ibu dan bapak saya juga masih mempergunakan bahasa jawa di rumah. Tetapi untuk berinteraksi dengan penduduk sekitar, mau gak mau kita jadi ngikutin, yang akhirnya jadi campur aduk. Tak apa, kita negeri yang majemuk. Cmiiw!

    Like

  3. aku dulu kuliah di luar negeri juga punya beberapa teman dekat yang bicara pakai ‘lo gue’. Tapi aku tetep ga bisa ikutin. Kayak ga nyaman aja nyebut ‘lo gue’. Dimana2 kalo ketemu sama orang Jawa seneng banget, langsung keluar medoknya, hihihi 😀

    Like

  4. Kalau saya, karena trauma, ketika pertama kali mengucap gue? bukan karena sengaja. Bu Lek memaki saya, masih kecil aja bahasanya loe dan gue. Padahal dirinya dan anak-anak pakai bicara loe and gue.. traumatik deh jadinya.

    Like

  5. gue mah ga ada ya galau soal bahasa.. secara ya cyiiin, gw lahir besar di jekardah ajah giitu 😀
    akikah baru rempong kalau baca tulisan alay, bikin rontok otak.

    ciyusannya ya.. sebelum ada jeung “cincah lorah” di keluarga gue, kita udah duluan pake bahasa campur-campur cuman minus ekssen becyek becyek aja. menurut gw sih pakai bahasa campur-campur untuk percakapan informal ga masalah. dengan semakin banyak bahasa yang kita kuasai pasti rasa bahasa kita lebih kaya.. adalah perasaan yang kok kayanya lebih pas digambarkan menggunakan bahasa asing, ada yang lebih pas menggunakan bahasa indonesia baku, ada juga yang lebih “mak nyus” pake bahasa gaul. Melihat orang Malaysia aja yang biasa berbicara campur bahasa melayu dan inggris, toh tidak membuat nasionalisme atau mereka berkurang. Cuma ya itu, jangan ngomong bahasa indonesia dengan ekssen keminggris.

    okeh cyiiin?

    Like

  6. Ahhhh aku maluuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu, aku pake bahasa loe gw sehari2 nya xixixiix. Saat memutuskan pindah ke jakarta selepas SMU, lingkungan gw dah jarang yg ngobrol pake bahasa jawa
    Otomatis jadi jarang ngobrol bahasa jawa dan mulai termakan bahasa loe gw 🙂 dan itu gw pake sampai sekarang.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s