Belitung Revisited: Pulau, Kopi, dan Sepi


Pantai dengan pasir halus, air biru jernih, ditambah keunikan berupa batu-batu raksasa menjadikan Belitung sebagai salah satu primadona dari Sumatera. Namanya terangkat begitu tinggi lewat novel karya Andrea Hirata. Tak dapat disangkal memang, kecantikannya tak lekang oleh zaman.

Pertama kali berkunjung ke Belitung sekitar tahun 2009, jauh sebelum menikah. Saya ingat itu adalah liburan tersantai. Hanya berbekal satu ransel dan beberapa novel pembunuhan, berangkat seorang diri. Ketika itu menginap di Kelayang Cottages, hanya Rp 150 ribu semalam. Pantai hanya dengan jarak beberapa langkah dari pintu pondok.

Tapi, ternyata banyak sisi lain dari Belitung yang masih saya lewatkan.

Setelah beberapa kali tertunda (banyak di antaranya karena alasan aneh Puput semacam….emmm…nggak jadi ah), akhirnya kejadian juga berangjat ke Belitung akhir pekan lalu. Tiket pesawat dibooking beberapa hari sebelumnya supaya tidak batal lagi.

Sabtu Subuh kami pun berangkat ke bandara, pesawat berangkat tepat pukul 05.55. Mendarat di Tanjung Pandan satu jam kemudian. Langit mendung agak mengecilkan hati kami yang sudah memesan mobil dan perahu untuk pergi ke Pulau Lengkuas dan pulau-pulau lain.

Warung Kopi Kong Djie, Tanjung Pandan
Warung Kopi Kong Djie, Tanjung Pandan

Kami pun sarapan di sebuah kedai kopi di Tanjung Pandan, tampaknya salah satu tempat hangout favorit bapak-bapak di sini karena sangat ramai. Beberapa bapak duduk menyesap kopi, mengepulkan asap rokoknya ke udara, kaki dengan santai diangkat di atas kursi. Semuanya berbaur seru membicarakan topik-topik politik yang sedang hangat. Ada pak ustad dengan dahi membekas gelap, ada juga Koko tua bercelana pendek. Campur baur. Harmonis.  (Tulisan panjang tentang warung kopi akan saya tulis terpisah)

Puput sibuk ambil foto sana sin, sampai ketika akan pulang seorang bapak berujar,”Sudah selesai dokumentasinya, Pak?” Hahaha. Sabar, Pak, nanti fotonya dimuat di Backpackology J.

Agak ragu kami beranjak menuju ke Tanjung Kelayang tempat di mana perahu akan bergerak menuju pulau. Tanjung Kelayang yang sekarang berbeda jauh dengan beberapa tahun yang lalu. Kini sudah ada sebuah bangunan besar dengan tulisan Welcome to Belitong, walau belum beroperasi. Mobil-mobil pun jauh lebih banyak daripada dulu.

Ayo ke Lengkuas!
Ayo ke Lengkuas!

Walau gerimis, kami akhirnya tetap naik ke perahu berbekal jaket pelampung. Satu perahu untuk kami saja, Rp 400.000. Di tengah laut ombak makin besar dan hujan angin makin deras. Saya sudah deg-degan saja, berusaha melindungi Oliq dari cipratan ombak. Saya dan Puput basah kuyup. Sementara tiap kali perahu terhantam gelombang besar dan air menciprat masuk, Oliq malah nyengir lebar sambil bilang, “Haaaa!”

Ketika mercusuar Pulau Lengkuas mulai tampak hujan makin deras anginpun makin megombang-ambingkan kami. Akhirnya bapak perahu membelokkan perahu menuju ke Pulau Kepayang, untuk menunggu hujan agak mereda.

Kepayang ini memiliki sebuah Dive Center dan pusat pemijahan penyu laut. Lucu-lucu deh penyunya.

Setelah sekitar 40 menit, perahu-perahu berani berangkat ke Pulau Lengkuas. Walaupun masih gerimis, angin sudah tidak terlalu kencang. Di Pulau Lengkuas, langsung deh naik ke mercusuar. Alas kaki harus dilepas dan pengunjung naik ke puncak dengan kaki telanjang.

Oliq hanya mau jalan kaki satu tingkat sudah kecapekan. Terpaksa deh digendong. Sampai atas dia senang sekali. “Aik naik manana tinggi tinggi, ada wawu!”

Mercusuar Pulau Lengkuas
Mercusuar Pulau Lengkuas

Dengan gagah saya menggendong turun Oliq sendirian tanpa gantian dengan Puput – yang berakibat kaki gemetaran ketika sampai di bawah.  Demi mengencangkan paha-paha yang mulai kendur.

Pantai di Pulau Lengkuas ini enak untuk bermain, di sebagian tempat pasirnya sangat lembut. Jelas fotogenik dengan batu-batu besar. Sementara saya dan Puput sibuk makan popmie, Oliq malah bermain-main dengan rombongan ibu-ibu pengajian gaul.

Dari Pulau Lengkuas kami menuju Pulau Burung dan Pulau Babi. Mungkin karena kecapekan bermain, Oliq pulas di sepanjang perjalanan pulang kembali ke Kelayang. Padahal, suara mesin perahu menderu-deru.

Bermain di Tanjung Kelayang
Bermain di Tanjung Kelayang

Seperti simboknya, pantai favorit Oliq di Belitung adalah Tanjung Kelayang. Saat itu memang sepi sekali. Pasirnya sangat halus, hampir seperti semen. Formasi batu-batunya sangat cantik. Perahu-perahu nelayan ditambatkan, bergoyang mengikuti irama ombak yang mengalun.

Papa Krewel berpose
Papa Krewel berpose

Tanjung Tinggi bisa dijadikan pilihan bagi yang suka bermain air.  Pantainya memang bagus karena dibatasi batu-batu besar di kanan kirinya, jadi seperti sebuah teluk. Bagi saya sih terlalu ramai karena di tepi pantai juga penuh dengan warung-warung makan.

Tanjung Tinggi
Tanjung Tinggi

Yang ingin menginap di daerah sini ada Lor In, tidak jauh dari Tanjung Tinggi. Di sekitar Tanjung Kelayang ada Kelayang Cottages yang sederhana dengan pondok kayu, dan mulai banyak rumah-rumah yang disewakan untuk wisatawan.

Hari berikutnya kami menembus Belitung menuju ke Manggar, ibukota Kab. Belitung Timur. Manggar ini dikenal sebagai Kota 1001 Warung Kopi, sekitar 90 km dari Tanjung Pandan. Pantainya tidak seunik pantai di bagian barat, tapi kami nggak mau melewatkan juga dong. Kami sempat ke Pantai Nyiur Melambai, Pantai Tambak, dan Pantai Burung Mandi.

Pantai Burung Mandi ini tampaknya lokasi favorit masyarakat Belitung Timur karena termasuk yang paling berkembang. Mungkin juga karena merupakan desa nelayan yang besar. Kami sempatkan juga mampir ke Vihara Dewi Kwan Im dan Vihara Sun Go Kong yang ada di sekitar sini. Waktu sedang menikmati warna merah menyala klentheng ini, ternyata ada tulisan, “KKN UGM 2013.”

“Yaaaaaah beruntung banget KKN di Belitung, saya dulu cuma di Wonogiri,” kata saya.

Pas mau pulang Puput bilang, ”Kita besok kalau pensiun tinggal di sini aja aku mau.”

Yang tidak boleh dilewatkan di Belitung:

  1. Naik mercusuar di Pulau Lengkuas.
  2. Beach-hopping karena pantai-pantainya bagus banget dan pasirnya putiiiiiiih buanget. Putihnya beda dengan pasir putih di Gunungkidul ya.
  3. Nongkrong di warung kopi, berbaur dengan masyarakat lokal. Yang paling terkenal Warkop Ake di Pasar Tanjung Pandan atau seperti kami cari saja warkop yang rame dan menawarkan nuansa lokal.
  4. Makan Mie Belitung dengan kuah udang dan Gangan Kepala Ketarap.  Olen nih pikirannya makan melulu
Three is better than alone
Three is better than alone

Belitung Revisited. Better than before.

Advertisements

11 thoughts on “Belitung Revisited: Pulau, Kopi, dan Sepi”

  1. waaaa aku baru ngeh kalo ini blognya putri mantu dr risanto. seneng baca blog ini mba, pengen ajak anak2ku jalan2 tapi papanya yg blm acc terus..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s