Pindahan, Traveling Jangka Panjang?


Hampir mewek saya kalau melihat keadaan rumah kontrakan saat ini. Kardus-kardus besar bertebaran di mana-mana, sementara banyak barang lainnya yang masih berserak tak tentu arah. Lebih banyak lagi barang yang seharusnya bisa dibuang tapi tidak diperbolehkan oleh Puput  — The Master Hoarder, Si Tukang Nyusuh.

Ya, kami mau pindahan (lagi).

Pindahan kondisinya kaya gini nih
Pindahan kondisinya kaya gini nih

Ini adalah pindahan terbesar bagi saya. The Big Move. Agak mellow juga sih meninggalkan Jakarta, yang sudah ditinggali sejak jadi perawan tong-tong, jadi istri orang, hingga jadi ibunda nan solehah. Tapi…tapi…apa daya, demi kehidupan yang lebih baik.

Saya ibaratkan pindahan itu traveling jangka panjang. Sama kan harus pindah tempat bobo? Sama juga harus packing. Sama juga harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru.

Coba saya runut sebentar pengalaman pindahan saya. Wah seperti membuka diary lama.

Pindahan pertama itu usai lulus kuliah untuk bekerja di Jakarta tahun 2003. Diantar oleh semobil keluarga dan teman. Pakai acara tangis-tangisan. Bawaannya hanya sekoper baju.

Pindahan ke dua dari Jogja ke Melbourne tahun 2005. Saya cuma diantar orangtua dan adik di ujung gang, naik ke travel yang mengantarkan ke Jakarta. Di Jakarta hanya diantarkan seorang teman, Dharu, ke bandara. Nah, emang dasarnya light traveler, berangkat ke Australia untuk sekolah 1,5 tahun pun hanya bawa 1 koper ukuran standar. Ketika banyak yang ribut karena overweight, saya lenggang kangkung hanya dengan koper yang beratnya 17 kg (dari jatah 30kg) – itu sudah termasuk rice cooker dan wajan lho ya!

Kira-kira 18 bulan kemudian, pindahan lagi dong dari Melbourne ke Jogja. Yang lain sudah heboh packing sejak lama dan mengirim berdus-dus barang ke Tanah Air, saya cuma kirim 3 dus kecil. Sampai petugas pengambil barangnya bingung. Barang selama di sana ditaruh ke mana? TV yang saya beli di garage sale seharga 10 AUD (Rp 70 ribu saat itu) saya tinggal ke housemate yang orang Cina. Kasur dan quilt saya berikan pada teman orang Indonesia yang orangtuanya akan datang untuk mendampinginya melahirkan. Peralatan masak saya bagi-bagikan. Baju hanya saya bawa sekadarnya, lainnya langsung masuk ke boks donasi-nya Salvation Army yang banyak tersedia di depan supermarket besar di Melbourne. Hasilnya, pulang dengan 1 koper saja.

Tiga bulan kemudian, saya pindahan ke Aceh untuk bergabung dengan salah satu lembaga asing dalam proses rekonstruksi pasca tsunami. Saya ingat bawa dua koper – ini rekor! Bayangannya di Aceh saat itu masih susah cari barang. Bener banget, untung bawa bebajuan secukupnya, walaupun fasilitas rumah yang disediakan sudah lengkap.

Pindahan berikutnya adalah hampir dua taun kemudian, ke Jogja hanya transit, karena sebenarnya pindah ke Jakarta. Barang-barang banyak diberikan ke ex-cleaner, termasuk sepeda. Dari Aceh hanya bawa dua koper itu saja, ringaaaan banget karena dua minggu sebelumnya kerampokan kamera, laptop, 2 handphone, dan kacamata. Ringan, tapi kemudian berat di dompet.

Tahun 2008 mulai kerja di Jakarta. Saya kok lupa ya waktu itu kopernya gimana. Yang saya ingat adalah saya tiba di Jakarta langsung dari Ho Chi Minh City setelah traveling Vietnam-Kamboja. Tapi hampir pasti bawaannya sedikit sih. Jakarta gitu lho, semuanya ada!

Pindahan berikutnya adalah beberapa hari sebelum nikah. Nah ceritanya kan saya kos di kebun Kacang, Puput di Karet. Kami akhirnya nemu apartemen kecil di Karet, dekat dengan kos Puput. Ini bisa dibilang pindahan paling epik deh. Waktu itu belum ada mobil jadi barang-barang dipindahin dari kos saya pakai taksi saja. Biasalah. Rak-rak, kulkas, dan banyak barang saya hibahkan sama Pak Omo, si penjaga kos.

Kos Puput sebenarnya dekat, hanya sekitar 100 meter. Tapi kan repot juga kalau harus mindahin satu-satu jalan kaki atau naik motor karena ada TV 32’, rak-rak, dan perkakas naik gunung Puput. Mau sewa mobil pun nanggung banget. Akhirnya Puput nyewa gerobak dari salah satu warung di situ untuk mindahin barang.

Ya bener gerobak.

"Minyaaak...minyaaaak!"
“Minyaaak…minyaaaak!”

Trip pertama kami dicegat satpam, dikirain mau ngapain bawa-bawa gerobak masuk kompleks apartemen. Ya sudah, dijelaskan kami sedang pindahan ke unit sekian sekian. Pada trip ke dua, Pak Satpam sudah menyambut hangat, “Silakan, kendaraannya diparkir di sini saja,” ujarnya sambil nyengir. Jadilah kami tontonan di wilayah itu karena bolak balik dorong gerobak.

Hampir setahun kemudian, dengan kondisi hamil 6 bulan, pindahan lagi kami ke apartemen yang sekarang di Rasuna. Tidak terlalu heboh sih, hanya saja bolak-balik Puput protes karena panci-panci saya sudah beranak pinak.

Ketika pindah ke apartemen sekarang kami masih berdua saja, barangnya juga – walau sudah beranak pinak – tapi nggak heboh-heboh amat. Setelah 3 tahun tinggal di sini, ditambah si Oliq, ga hanya beranak pinak, tapi barang udah bercucu cicit. Nggak cuma peralatan rumah tangga, tapi juga barang-barang Oliq seperti: pesawat 50 biji, mobil-mobilan, bola, lego, balok-balok dan sebagainya. Belum lagi satu koper besar diving gear Puput yang belum ada 3 tahun lalu. Lalu ada 6 buah kamera. Iya, e-n-a-m!

Ambil sisi baiknya, secapek apapun, pindahan hanyalah sebuah perjalanan jiwa dan raga. Traveling dalam jangka waktu yang lebih lama dengan alur yang lebih lambat. Sama seperti sebuah perjalanan, pindah ke tempat baru berarti juga menambah pengalaman baru. How lucky those who move often. Enjoy.

Tunggu kelanjutan ceritanya di rumah kami yang baru ya….

Advertisements

19 thoughts on “Pindahan, Traveling Jangka Panjang?”

  1. Wuuiihhh!!! Cm 17 kilo sudah ples wajan dan ricecooker?
    Jd keinget pas pindah, cabut dari kos2an buat pulang ke kampung halaman.
    Malam terakhir di kamar, kondisi kamar sudah kosong (tinggal 1 tas buat dibawa besoknya), merenung lamaaaa banget. Trus jadi melow sendiri mengingat kenangan2 selama di kamar itu #MelankolisAbis

    Like

  2. Hohoho..seru, mbak. Sama, saya juga berasal dari keluarga nomaden. Jadi sedikit banyak bisa merasakan sensasinya pindahan kaya apa 😀

    Btw, mbak. Kenapa tema blog nya di ganti? Saya kok merasa lebih nyaman template yang sebelumnya ya., hihihi. Karena tulisannya lebih besar dan space hurufnya pas 🙂 Kalau sekarang, postingannya terlihat ‘ngrumpel’ , hehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s