Dari Kebun Tebu ke Eropa


Usai shalat Subuh di Masjid Muhajirin, selalu saja terdengar nyaring suara petasan di segala penjuru. Tak jarang saya terlonjak kaget bila petasan yang dibunyikan hanya satu dua meter jaraknya. Kami – termasuk Puput dan saya – anak-anak perumahan biasanya lalu melanjutkan pagi bulan puasa kami dengan berjalan menyusur kebun tebu, sawah, dan ladang ilalang ke Kali Mancasan. Itu sekitar seperempat abad yang silam.

Bukti otentik saya pernah lebih tinggi (1993)
Bukti otentik saya pernah lebih tinggi (1993)

Kini, tidak ada lagi ceritanya tentang kebun tebu yang sangat lebat dan luas. Tidak ada lagi cerita tentang anak-anak seperti kami yang mencuri tebu hingga dikejar-kejar mandor.

Dulu, sepulang dari bermain di Kali Mancasan – mencari cethul, perosotan di tanggul hingga celana berlubang – kami akan pulang bersama-sama. Kadang ada rombongan pekerja bersepeda yang rela diboncengi anak-anak perempuan. Sekarang, mana ada pekerja yang bersepeda kalau motor matic saja bisa dibawa pulang hanya dengan 500 ribu?

Dulu kali Mancasan asri, sepi, airnya jernih. Kini, kantor pajak berdiri megah di seberang. Di sebelahnya terdapat sebuah tempat spa besar. Di sisi baratnya terdapat perumahan mewah, mungkin dengan embel-embel river view untuk meningkatkan daya jualnya.

Betapa cepat duapuluh lima tahun berlalu.

Kali Mancasan dulu jadi tempat main favorit saya dan Puput, beserta banyak teman sebaya kami seperti Iyok, Fendit, Encis, dan Donal. Encis sekarang bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi di Makassar. Kakaknya, Fendit, entah berada di mana. Donal pun tidak terdengar kabarnya setelah keluarganya pindah rumah. Iyok sudah beranak dua, kami masih sering bertemu karena orangtua bertetangga. Saya dan Puput malah menikah – lebih dari dua dekade kemudian. Siapa yang menyangka? Kami pun tidak.

Saya tidak punya masa kecil yang sangat istimewa dengan berlibur ke mana-mana bersama orangtua. Paling sering ke Cirebon tempat Mama berasal, atau ke Jombang – kampung Papa. Biasanya hanya naik kereta ekonomi, pernah juga naik motor. Liburan paling sering saat kecil ya cuma ke Kebun Binatang Gembiraloka. Itu sudah yang paling top di Jogja kala itu. Masih untung sering diadakan jalan-jalan RT ke Kyai Langgeng, Kopeng, Pantai Ayah, Gua Jatijajar, atau ke candi-candi kecil sekitar Prambanan.

Saya tidak ingat apakah Puput pernah ikut piknik RT, kalau ditanya saya tidak yakin orangnya ingat. Yang jelas, wisata pertama kami bersama adalah ke Tawangmangu saat perpisahan SD.

Masa kecil itu bukan hanya kenangan. Masa kecillah yang menjadikan kita seperti sekarang. Petualangan kecil menembus kebun tebu, menyusuri Kali Mancasan hingga ke Tambakboyo, ataupun bermain-main di Kali Leles hingga menjelang Maghrib berperan dalam membentuk jiwa pejalan saat ini. Membentuk orang-orang yang punya “bokong gatel” bila terlalu lama di rumah.

Di Ho Chi Minh City, Vietnam
Di Ho Chi Minh City, Vietnam

Bahkan sebelum “reconnect” kami berdua sudah sering jalan-jalan sendiri. Ketika akhirnya menikah, cincin kawin lupa dibeli pun tak masalah, selama tiket bulan madu sudah di tangan. Upacara pernikahan berlangsung sederhana karena kami enggan dengan tetek bengek mengurus pernikahan. Baju pengantin pun beli jadi. Bahkan siang lepas akad dan resepsi kecil-kecilan ketika tamu masih ada kami terpaksa pamit untuk mengejar pesawat.

Masa kecil pun terulang kembali di sini. Petualangan bersama dimulai lagi. Mengejar mimpi.

Dari Condongcatur ke Paris
Dari Condongcatur ke Paris

Dari kebun tebu ke Eropa. Dari Mancasan ke Jepang. Dari Masjid Muhajirin ke Baitullah.

Tulisan singkat ini dibuat sebagai syukuran facelift (walau belum 100%) Backpackology, sebagai anak ke dua kami. Semoga ke depannya makin banyak cerita yang bisa dibagi dengan kawan-kawan pejalan semua.

Advertisements

16 thoughts on “Dari Kebun Tebu ke Eropa”

  1. Waaaahhhhh ternyata mbak Olen dan mas suwamik itu teman masa kecil ya 😀

    Eh iya, jamanku kecil duu juga sering piknik se-RT, biasanya ke obyek2 wisata yg deket sama desa kami sih

    Like

    1. Yahhh gitulah jauh2 melanglang buana entuke konco SD. Hooh sekarang udah ga guyub lagi jarang piknik2an. di rumah ortuku yg masih rajin piknik grup ibu2 pengajian

      Like

  2. kok tahun 1993…..juragan e tukang gawe dolanan…games basic matematika….. mbok dhe ki lungguh e kelas 6 berarti (1993) jejer karo bram widoro aji’ (wangek) soal e mburi ne aku….dan kui lungguh e mepet ngidul…cedak jendelo….no 4 seko ngarep….mergo aku mburi dewe karo abud…. dan koe luwih duwur juga seko aku mbok dhe….

    hehehehe…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s