Semarak Lomba Blog, Siapa yang Untung?


Jika kita cermati beberapa tahun belakangan ini lomba blog semakin hari makin banyak. Dalam satu bulan ada beberapa lomba yang digelar dengan hadiah yang beraneka rupa, mulai dari hanya voucher taman bermain hingga liburan keluar negeri.

Jurnalisme warga memang kian semarak, ditandai dengan adanya rubrik ini di dalam media-media mainstream. Agaknya, jurnalisme warga kini menjadi salah satu sumber utama informasi bagi pembaca selain media konvensional.

Salah satu lomba blog yang diadakan
Salah satu lomba blog yang diadakan

Yang tidak lepas dari maraknya jurnalisme warga adalah perkembangan jejaring sosial. Hanya dengan satu tulisan/foto/video yang kontroversial, akan langsung tersebar di mana-mana. Bahkan dari sini pun media cetak dan elektronik pun ikut memberitakannya.

Tak pelak lagi, media blog menjadi semacam media baru yang sangat potensial untuk menyebarkan isu tertentu, maupun untuk melakukan promosi. Karena itu, tidak salah bila banyak sekali diadakan lomba blog dengan peserta yang banyak pula, walaupun seringkali hadiahnya tidak terlalu besar.

Lalu siapa yang untung?

Keuntungan Bagi Para “Banci Kontes”

Bukan bermaksud buruk terhadap kaum transeksual, namun belakangan ini muncul istilah “banci kontes”. Istilah baru ini dimaksudkan pada mereka yang sering mengikuti lomba-lomba. Para blogger memang menjadi satu pihak yang sangat diuntungkan oleh semaraknya lomba blog.

Bagaimana tidak? Bila biasanya hanya menulis hanya karena ingin curhat, sharing, dan “sudah senang bila ada yang membaca” kini ada tambahan bonus hadiah. Iming-iming hadiah smartphone, tiket pesawat gratis, dan lain sebagainya menjadi pemicu mereka untuk menulis. Selain itu tak segan-segan para blogger juga menyebarkan melalui akun-akun jejaring sosial mereka karena kadang salah satu kriteria penjurian adalah frekuensi tulisan tersebut dibaca dan disebar melalui jejaring sosial.

Ada beragam “banci kontes” ini, ada yang memang konsisten hanya menulis dan mengikuti lomba tentang bidang yang ia geluti, misalnya khusus cerita perjalanan ataupun foto perjalanan atau khusus review tentang produk teknologi. Namun banyak pula yang kemudian rela banting setir dari satu tema ke tema yang lain, sesuai dengan tema blog apa yang sedang dilombakan.

Semuanya halal! Kalau memang bisa menulis berbagai tema kenapa tidak dimanfaatkan?

Selain hadiah, ada beberapa keuntungan lain bagi mereka yang rajin mengikuti – dan menang – kontes blog. Pertama, untuk blogger yang mengunggah tulisan di blog pribadi pasti akan mengalami peningkatan traffic. Tidak hanya juri yang membaca tulisan tersebut, mungkin juga para peserta lain yang sekadar ingin mengintip saingan mereka.

Kentungan lainnya adalah semakin sering mengikuti lomba-lomba semacam ini, nama Anda akan semakin dikenal. Apalagi kalau menang, wah dijamin popularitas Anda di dunia jurnalisme warga makin berkibar.

Untuk yang belum menang pun ada keuntungannya, yaitu ketrampilan menulis yang semakin terasah. Bukan hanya itu, peserta lomba biasanya juga makin mengerti kriteria apa saja yang membuat sebuah tulisan menang. Jadi, ada semacam lessons learned untuk lomba-lomba berikutnya. Apalagi kalau sudah pernah menang, makin tahu komponen apa saja yang membuat tulisan bisa jadi juara.

Branding Murah Meriah

Bagi brand atau merk, maraknya jurnalisme warga dan media sosial pun mereka manfaatkan untuk kampanye, branding, promosi di luar marketing konvensional mereka dengan memasang iklan. Salah satunya adalah menggelar lomba blog.

Apanya yang murah? Coba bayangkan, dengan menggelar lomba blog mereka akan mendapatkan promosi gratisan oleh tulisan-tulisan para pesertanya yang ditampilkan di blog dan disebarkan melalui jejaring sosial. Modalnya hanya hadiah untuk pemenang. Memang ada lomba yang hadiahnya besar seperti paket wisata ke luar negeri, namun kebanyakan hadiah tidaklah terlalu besar. Bisa dibilang banyak perusahaan menggelar lomba blog hanya dengan modal 10 juta rupiah ( 5 juta untuk juara 1, 3 juta juara 2, 2 juta juara 3), plus merchandise kecil-kecilan yang juga dimanfaatkan untuk branding.

Perusahaan produsen teknologi pasti akan menyediakan hadiah berupa produk buatan mereka sendiri. Misalnya: Juara 1 ponsel seri tercanggih, juara 2 ponsel seri biasa, dan juara 3 ponsel murah produksi mereka sendiri. Bisa jadi akan ada tiga “juara harapan” dengan hadiah lebih kecil lagi ataupun hanya merchandise.

Sungguh sistem promosi yang sangat menguntungkan brand, bukan? Saya bukan pakar marketing, tapi saya kira bila hal-hal seperti ini mereka manfaatkan secara maksimal, perusahaan dapat memotong anggaran iklan konvensional.

Banyak pula perusahaan yang mau mengeluarkan anggaran lebih untuk mengadakan lomba blog dengan cara menggandeng rubrik-rubrik jurnalisme warga di media mainstream, misalnya Kompasiana di Kompas, Detik Blog di Detik.com, ataupun Viva Log di VivaNews. Tentu biaya yang dikeluarkan untuk mengadakan lomba seperti ini lebih banyak, namun juga lebih optimal sebagai instrumen promosi selain menjaring lebih banyak peserta. Lebih banyak peserta artinya lebih banyak tulisan sebagai media promosi gratisan.

Kenyataannya, banyak juga perusahaan besar yang tidak perlu membayar lebih. Mereka memanfaatkan sistem “gethok tular” atau “dari mulut ke mulut” untuk menyebarkan informasi tentang adanya sebuah lomba. Mereka hanya akan memajang pengumuman tentang lomba di website resmi perusahaan dan Halaman Facebook, serta menyebarkannya dengan media Twitter yang terbukti sangat ampuh.

Oleh karena itu, hampir semua lomba blog mengharuskan peserta menyebarkan karyanya lewat Twitter sehingga para followers peserta tersebut pun mengetahui adanya lomba dan mungkin tertarik untuk mengikutinya.

Demikian luar biasanya jejaring sosial bagi perusahaan.

Jeli Memanfaatkan Peluang

Saya baru ngeblog sejak dua tahun yang lalu di http://backpackology.me, sebuah blog perjalanan yang diampu bersama suami. Bodohnya, kami baru mulai memahami banyak keuntungan yang dapat dipetik dengan mengikuti lomba blog dua tiga bulan belakangan ini.

Bareng mbak Marischka Prudence, mantan news anchor MetroTV yang kini menjadi travel blogger
Bareng mbak Marischka Prudence, mantan news anchor MetroTV yang kini menjadi travel blogger

Puput, suami saya, menjadi lima besar (dari 500an peserta) lomba blog Terios 7 Wonders yang diadakan oleh Daihatsu. Hadiahnya adalah diajak ikut serta berkeliling ke 7 lokasi menakjubkan di Indonesia, dari Pantai Sawarna di Banten hingga Pulau Komodo. Semuanya gratis, bahkan diberi uang saku. Dari lomba yang sama itu pula mendapatkan sebuah ponsel samsung Galaxy S4. Bayangkan saja bagaimana senangnya seseorang yang hobi jalan-jalan mendapatkan hadiah seperti itu.

Saya menulis kisah kami dan anak berjudul Jadilah Pemimpin, Petualang Kecilku dan menjadi salah satu artikel favorit lomba blog yang diadakan oleh Nutrisi Untuk Bangsa (Sari Husada). Hadiahnya tidak besar, tapi sangat berarti bila dibandingkan dengan kenyataan bahwa saya mengetik tulisan tersebut tidak lebih dari satu jam.

Ayah saya, seorang mantan wartawan dan penulis, berkata bahwa maraknya jurnalisme warga menggerus kesempatan para penulis untuk mendapatkan uang dari media cetak. Banyak media cetak yang kemudian memang mengurangi “jatah” penulis seperti ini dan memilih mengambil tulisan dari warga yang gratis (ada juga yang dibayar walau lebih sedikit daripada artikel yang dimuat tanpa embel-embel “citizen journalism”).

Andai saja saya mau (dan saya akan melakukannya lain kali saya pulang kampung), saya akan menjelaskan kepada ayah saya bahwa sebenarnya peluang penulis konvensional pun tetap ada melalui media blog. Selain tetap menulis artikel/cerpen untuk media cetak konvensional, penulis dapat memanfaatkan ajang lomba-lomba blog ini. Toh untuk para penulis yang sudah sering dimuat di media, kualitas tulisan mereka pasti mumpuni. Menulis untuk blog ataupun kompetisi blog tidak akan sulit dengan ketrampilan mereka yang lebih terasah daripada para blogger baru.

Bagi saya, yang paling penting adalah memanfaatkan peluang yang ada. Jangan ragu atau sungkan untuk mengirimkan karya, walaupun mungkin tidak pernah menang. Saya pun masih baru di dunia ini, belum seperti beberapa kawan yang sudah menjadikan lomba blog sebagai profesi sampingan yang menghasilkan. Yang penting terus bersemangat menghasilkan karya.

Indonesia, ayo menulis!

Disclaimer: Tulisan ini sudah dipublish di Kompasiana terlebih dahulu.

 

Advertisements

27 thoughts on “Semarak Lomba Blog, Siapa yang Untung?”

  1. sudah lama ngeblog, dulu fokus di mata kuliah aja yang ditulis.
    akhir-akhir ini baru belajar jadi banci lomba. walaupun belum sempat menang yang berarti, setidaknya menang mengalahkan rasa minder dan malas dalam diri sendiri. hehehe

    Like

    1. Aku juga baru belakangan ini suka lirik2 kalo ada lomba, walau banyak juga yang ga jadi diikutin sih. terutama yg berbau teknologi. gaptek berat soalnya

      Like

  2. aku termasuk banci lomba ga ya? tahun kmrn mungkin krn lagi semangat banget bisa nulis (baru belajar) .. hampir tiap bulan dpt hadiah dari yg harga ratusan ribu sampai belasan juta. proses belajar jadi nikmat kalo ada apresiasi. tapi makin ke sini nikmatnya blogging itu ketika bisa bersosialisasi.. menyapa sesama blogger, kopdar, kumpul2 kalo pas lagi ga di hutan… skrg banci kopdar kali ya? 😀

    Like

    1. kak Danan mah BANCI semua kaliiiiiii. Banci foto, banci hutan, banci kopdar. apalagi habis dari hutan pasti lgsg pgn ketemu manusia ya

      Like

  3. Lomba blog itu memang simbiosis mutualisme. Host dan peserta sama2 beruntung. Host banyak dapat artikel di google+follower twitter/facebook. Peserta juga dapat banyak pengetahuan. Aku biasanya kalau ikutan lomba blog juga cari banyak referensi. Seringkali banyak istilah baru yang aku dapat.

    Btw, aku gak suka istilah banci kontes. Karena aku gak banci
    Salam kenal

    Like

    1. nah ini kelemahanku. Aku suka agak males cari referensi, berasa bikin skripsi gitu. Suamiku tuh yg rajin. Jadi kebanyakan tulisanku emang ringan dan pengalaman pribadi aja

      Like

  4. Iya betul. Buat saya (yang juga ikut2an lomba blog), lomba itu juga menjadi semacam ‘pengingat’ dari sesuatu memang udah ada pada diri (hanya saja baru muncul dalam bentuk tulisan setelah di-‘stimulus’ oleh lomba ^^’) :).

    Like

  5. Selamat ya Mbak atas kemenangan suaminya kemarin di Terios…aku ikutan tapi belum berhasil hehehehe…
    Kalo dipikir-pikir, memang semakin banyak lomba blog yang diadakan oleh perusahaan besar. Positifnya untuk para blogger ya semakin terasah kemampuan menulisnya 🙂
    Mari nulis!

    Like

  6. Saya juga banci kontes, Mba. Dimana ada peluang untuk ikut, saya pasti ikut. Terpenting sesuai dengan kemampuan. Kalau tidak sesuai, kadang bingung apa yang mau ditulis. 😀

    BTW, selamat untuk suaminya. Hebaat ihhh. Begitu pun dg sang isteri. :mrgreen:

    Like

    1. saya juga udah mulai nulis buat lomba eh sampe tengah ga pede. saya tinggalin. hahahaha kelemahan saya males banget cari referensi

      Like

  7. Yup, selalu ada pihak yang diuntungkan. Aku juga menikmati beberapa keuntungan karena ikut lomba. Tapi beberapa pertimbangan tetap aja ada, itung2an juga sih xixixi.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s