Semalam (Saja) di Pelabuhan Ratu


Apa sih yang terlintas di benakmu ketika mendengar tentang Pelabuhan Ratu? Mungkin pantai? Nyi Roro Kidul? Atau malah Mak Erot? Saya sih langsung terbayang film-film Suzana. Dan minggu lalu terpaksa kami menginap di Pelabuhan Ratu. One night. Nggak lagi deh.

Pantai Karang Pamulang
Pantai Karang Pamulang

Ceritanya kami sedang dalam perjalanan dari Lembang ke Sawarna, via Cianjur, masuk ke Kab Sukabumi, melalui Pelabuhan Ratu. Hujan deras sore itu hampir-hampir sepanjang Sukabumi. Oliq sebenarnya tidak rewel karena tidur nyenyak terus di mobil. Tapi setelah nyanyi Pok Ame-Ame sampai seratus kali, anaknya mulai bete juga. “Aik mau puyang…aik mau puyang!” Demikian juga dengan simbok dan bapaknya.

Ketika sudah tidak mungkin untuk mencapai Sawarna sebelum Maghrib, akhirnya kami memutuskan untuk menginap di Pelabuhan Ratu. Di tengah hujan deras kami lirik kanan kini cari penginapan. Penginapan pertama namanya Pondok Dewata atau semacamnya, tampak luar seram. Tapi apa ada penginapan nggak seram di Pelabuhan Ratu? Kalau istilah Puput semuanya “hotel Dono”, alias hotel-hotel cocok jadi setting film-film masa silam Dono-Kasino-Indro. Andai saja hujan tidak sedemikian derasnya, mungkin kami akan ke Karang Aji Beach Villa di Cimaja.

Ada penginapan di sebelah kanan, entah apa namanya, kami masih ragu-ragu. Akhirnya Puput membelok ke kiri, ke sebuah penginapan dengan embel-embel “Seaside Resort”. Namanya Bunga Ayu. Saya sih sudah menduga, ini pasti penginapan masa lampau.

Ya sudahlah, namanya sudah capek, akhirnya kami check in di Bunga Ayu ini. Kamarnya memang menghadap ke pantai dengan view pelabuhan dan kapal-kapal nelayan. Tapi ya itu tadi, hotel Dono. Lampau, silam, prasejarah.

Waktu digendong ke sini, Oliq nangis, “Aik mau kuar, aik ke cana-cana!” Artiya Oliq mau keluar, mau ke sana – sambil menunjuk arah luar. “Ni hotey jaman duyu banget!” Terbiasa melihat gambar pesawat, Oliq sudah bisa membedakan kuno dan modern, misalnya A380 akan dia bilang “wawa jaman cekanang (pesawat jaman sekarang)” dan DC-9 sebagai “wawa jaman duyu (pesawat jaman dulu)”. Dan akan dia tambahi “banget”, misalnya untuk pesawat-pesawat perang jaman Perang Dunia.

Awalnya Oliq sama sekali tidak mau masuk kamar. Maunya di teras. Tapi karena sudah capek, akhirnya mau juga dia main-main di kasur. Ternyata bonus penginapan ini berada di kamar yaitu: nyamuk dua juta ekor!

Laaaah, Oliq itu di mana-mana selalu jadi santapan nyamuk. Pernah semalam di Garut, ada 60 bentol di badannya – 20 di antaranya di muka. Saya langsung panik. “Ayo dimandiin sekarang terus diblonyoh Autan!” Saya dan Puput berjibaku memandikan anak yang meronta-ronta karena walau di pantai ternyata airnya dingin seperti di pegunungan. Ada sih keran air panas tapi saat itu tidak menyala. Anaknya jerit-jerit, saya cuma bisa bilang, “Di hotel jaman dulu banget nggak ada air panasnya, Aik!”

Sukses memandikan, langsung si anak dipakaiin piyama, dan diolesi Autan di seluruh tubuhnya, termasuk muka. Anaknya sudah agak adem ayem ketika AC sudah dinyalakan dan TV pun menyala. Mungkin jadi agak tidak seram. Untungnya, walaupun masa silam, kusam, dan kotor, kamar tidak berbau pengap.

Si mas karyawan hotel datang membawa Baygon semprot. Kami keluar dan Puput menyemprot seluruh kamar. Di kamar kiri kanan kami ada bapak-bapak biker yang ramai. Ada event motocross di Pantai Muara Sawarna.

Cuma agak deg-degan ketika Puput keluar beli air mineral sementara saya dan Oliq di kamar bersama dengan mayat-mayat nyamuk yang bertebaran di seluruh penjuru. Untung, malam berlalu singkat dan tidak ada yang aneh-aneh. Dan luar biasanya, tidak ada gigitan nyamuk sama sekali di Oliq – dengan jumlah yang dua juta itu!

 

Pantai Karang Pamulang nan penuh warung dan sampah
Pantai Karang Pamulang nan penuh warung dan sampah
Ombak di sini cocok untuk surfing
Ombak di sini cocok untuk surfing

 

Kami bangun sebelum matahari terbit dan setelah shalat Subuh jalan-jalan ke Pantai. Pantainya kotor dan berpasir gelap. Isenglah kami foto-foto sementara Oliq mainan tripod. “Ni kaya manana bandaya,” katanya. Maksudnya “Ini kaya menara bandara”.

"Jadi manana!"
“Jadi manana!”

Sarapan berupa nasi goreng dan/atau roti tawar panggang, lumayan lah ada rasanya. Saya buru-buru pengen langsung ke Sawarna aja. Acara mandi kembali jadi prahara. Oliq mandi jerit-jerit karena airnya dingin. Selesai dia mandi, Puput mandi dan airnya jadi hangat – cenderung panas malah. Saya mandi dengan air panas juga. Waktu Puput sikat gigi, air wastafel tiba-tiba berubah jadi coklat kelam. Iiihhhh berasa masuk ke film Suzana beneran nggak sih? Lebay ya, itu kan paling karena pipanya aja yang kotor.

Tapi tetap aja kami buru-buru packing dan check out, untuk menuju ke Sawarna yang lebih “muda” dan menjanjikan. Apa sih kaya slogan kampanye aja.

Dan baru saat mau berangkat itu saya melihat ada tulisan di atas pintu kamar, “1981” tahun pembangunan hotel. Yeeeee, seumur dong sama saya dan Puput!!!

A kiss from Nyi Blorong - hayahh!
A kiss from Nyi Blorong – hayahh!
Narsis sejenak
Narsis sejenak

 

Saat menuju ke Sawarna ini kami melewati Hotel Inna Samudra yang legendaris dengan kamar Nyi Roro Kidul.

Beberapa hari di Sawarna Oliq masih bolak-balik bilang, “Aik enggak mau puyang ke hotey jaman duyu banget. Aik tatuk.”

Simboknya deg-degan, “Takut apa di hotel jaman dulu banget?”

“Aik tatuk cama AC – ada boyongan.” Maksudnya Aik takut sama AC ada bolongan – entah maksudnya apa. “Di hotey jaman cekanang Aik enggak tatuk.” Gitulah, Oliq menyebut pondokan kami di Sawarna hotel jaman sekarang dan dia tidak takut!

Sudah ah, semalam saja di Pelabuhan Ratu!

Advertisements

12 thoughts on “Semalam (Saja) di Pelabuhan Ratu”

  1. Wah kampung halaman bapakku ini, dulu tiap Lebaran pasti mudik ke sini 🙂 Btw jadi ngakak baca istilah ‘hotel Dono’, memang sih banyak hotel retro gitu. Musti coba nginep di Inna Samudera mbak, perabotannya serba antik, dan nuansa Nyi Roro Kidul-nya juga kerasa banget, hehe

    Like

    1. Iya kak, kayanya ga ada pilihan yg oke di situ. Vintage semua. Kalau Karang Aji di Cimaja pernah liat kak? Eh jangan2 kak Badai masih sodaraan sama mak erot deh

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s