Terios 7 Wonders : Menjenguk Komodo di Rumahnya


Pesona Komodo sebagai hewan purba telah diakui dunia dengan terpilihnya Taman Nasional Komodo sebagai The New 7 Wonders. Terinspirasi oleh raihan Pulau Komodo, Daihatsu mengangkat tema 7 Wonders Hidden Paradise sebagai tajuk Ekspedisi Terios tahun ini. Dan, akhirnya kami, para blogger, berada di Pulau Komodo untuk menyaksikan pesona hewan purba yang masih bertahan hingga kini.

Seekor komodo melata dengan santainya, sementara turis-turis sibuk membidik dan Ki Joko Blogger sibuk mewawancara sang ranger
Seekor komodo melata dengan santainya, sementara turis-turis sibuk membidik dan Ki Joko Blogger sibuk mewawancara sang ranger

Namun jangan salah, Komodo tidak hanya terdapat di Pulau Komodo, namun juga di Pulau Rinca. Pulau ini lebih kecil dan konon komodo liar lebih mudah ditemukan. Tak heran, akhirnya kami dibawa ke pulau ini, bukan Pulau Komodo.

Kapten perahu phinisi Plataran Komodo segera mengarahkan tunggangannya ke Loh Buaya, dermaga sekaligus pintu masuk menuju Pulau Rinca. Disana kami langsung disambut jagawana alias ranger.

Gerbang Loh Liang di Pulau Rinca
Gerbang Loh Liang di Pulau Rinca

“Selamat datang di Pulau Rinca,” sambut Beny dengan ramah, ranger yang bertugas sore itu. Seperti biasa, ranger ini bersenjata tongkat bercabang dua.

“ Ini sebenarnya hanya untuk memudahkan menekan leher Komodo,” terang beliau saat saya ajukan pertanyaan yang mungkin sudah ratusan kali ditanyakan ke beliau.

Bang Beny sang ranger bersama Bang Patrice dive guide, diapit dua blogger yang tak kalah eksotis
Bang Beny sang ranger bersama Bang Patrice dive guide, diapit dua blogger yang tak kalah eksotis

Kami langsung dibawa menuju pos penjagaan dan tentunya menyelesaikan semua administrasi. Terlihat jelas bahwa sangat sedikit wisatawan domestik yang berkunjung. Mungkin kami satu-satunya rombongan turis domestik yang cukup banyak. Saya masih melihat dua orang turis lokal, namun lainnya adalah rombongan bule-bule. Melihat harga yang harus dibayar untuk sampai pulau ini, rasanya wajar kalau sebagian besar warga Indonesia mungkin tidak sanggup untuk pergi ke sini.

Kantor pengelola Taman Nasional Komodo di Pulau Rinca
Kantor pengelola Taman Nasional Komodo di Pulau Rinca

Ada tiga pilihan jalur di Pulau Rinca, namun tidak ada jaminan bahwa Komodo liar akan terlihat di jalur manapun. Memilih jalur terpendek adalah pilihan paling bijak, apalagi kami tidak punya banyak waktu.

Suguhan utama di pulau ini sebenarnya adalah Komodo-komodo malas yang berdiam di bawah dapur para ranger. Ya, terdengar konyol, namun inilah tempat di mana Komodo dipastikan akan ada. Sore itu kami melihat setidaknya ada 4 komodo, salah satunya telah menjadi penghuni abadi karena cacat gara-gara kalah berkelahi dengan komodo lain. Seperti biasa, semua turis segera mengeluarkan senjatanya untuk menangkap buruan yang pasrah ini.

Komodo-komodo yang menjadi penghuni tetap bawah dapur ranger
Komodo-komodo yang menjadi penghuni tetap bawah dapur ranger

“Awas, jangan terlalu dekat,” berulang kali ranger kami memperingatkan orang-orang yang nekat mendekat untuk memotret Komodo. Meski terlihat jinak, Komodo tetaplah Komodo, hewan purba yang ganas dengan gigitan yang sangat mematikan.

Butuh kesabaran ekstra untuk menangkap momen Komodo mangap seperti ini
Butuh kesabaran ekstra untuk menangkap momen Komodo mangap seperti ini

Puas berfoto disini, kami diajak mendaki bukit yang gersang dengan pemandangan yang sangat menakjubkan. Loh Buaya terlihat jelas diapit deretan bukit berwarna kecoklatan. Pastinya kami tak melewatkan kesempatan emas ini.

Pemandangan Loh Liang yang mempesona dari atas bukit
Pemandangan Loh Buaya yang mempesona dari atas bukit
Sahabat Petualang yang bermalam di Plataran Komodo
Sahabat Petualang yang bermalam di Plataran Komodo

Jalan setapak yang kami lalui akhirnya menurun lagi dan kami kembali memasuki hutan. Tak lama kemudian, ranger menunjukkan lubang-lubang yang menjadi sarang komodo.

“Coba lihat disana, ada komodo tak jauh dari lubang,” kata ranger kami.

Setelah celingak celinguk mencari keberadaannya, kami segera berebut posisi terbaik untuk membidiknya. Seperti biasa, komodo ini agak malas, tak banyak bergerak sehingga posenya kurang menantang. Ya sudahlah, paling tidak kami dapat foto komodo liar, bukan hanya di bawah dapur.

Komodo liar tak jauh dari sarangnya
Komodo liar tak jauh dari sarangnya

Selain komodo, kami juga melihat burung maleo yang rupanya menjadi santapan komodo. Burung ini cukup lucu namun tak bisa terbang. Tak heran, komodo bisa dengan mudah menangkapnya.

Burung maleo asyik berkeliaran sendirian
Burung maleo asyik berkeliaran sendirian

Menjelang sampai di pos awal, kami menemukan seekor komodo lagi yang bersantai di bawah pohon. Lumayanlah, bertambah lagi koleksi bidikan komodo liar kami. Kali ini kami juga bisa berfoto dengan latar komodo tersebut.

Komodo leyeh-leyeh di atas daun-daun yang berguguran
Komodo leyeh-leyeh di atas daun-daun yang berguguran

Total perjalanan trek pendek ini sebenarnya bisa ditempuh dalam waktu setengah jam saja, namun kalau ditambah waktu berfoto-foto, bisa satu jam lebih. Menurut saya, ini sudah cukup kalau Anda hanya ingin berfoto-foto dengan komodo sembari melihat alam Pulau Rinca yang sangat indah ini.

Rasanya berat meninggalkan hidden paradise di Pulau Rinca ini, namunkami harus segera kembali ke perahu sebelum gelap. Rupanya masih ada surga tersembunyi lain yang ada di Pulau Kalong, tak jauh dari Pulau Rinca. Menjelang sunset, perahu-perahu sudah bersiap di sekitar pulau ini. Awalnya tak ada yang istimewa dengan pulau ini. Namun, begitu matahari tenggelam di balik pulau, tiba-tiba ribuan kelelawar atau kalong keluar secara bersamaan dari pulau itu. Langit terasa sesak oleh kehadiran kalong-kalong yang terbang mencari mangsa. Hebatnya, tak ada satu pun kalong yang bertabrakan, bukti nyata kebesaran Tuhan Yang Maha Sempurna.

Ribuang kalong keluar dari Pulau Kalong, pemandangan unik di kala senja
Ribuang kalong keluar dari Pulau Kalong, pemandangan unik di kala senja

Alhamdulillah, selesai sudah penjelajahan kami hari itu. Ada rasa haru saat semua hidden paradise di Ekspedisi Terios 7 Wonders ini selesai dijelajahi. Kami sudah menjadi satu keluarga besar setelah 13 hari bersama melewati jalan yang panjang dan melelahkan. Tak terasa esoknya kami harus kembali ke Jakarta dan bertemu lagi dengan rutinitas ibukota. Namun, akhir satu perjalanan berarti awal perjalanan lain. Dan semoga masih banyak perjalan lain yang bisa dijalani, Amien.

Advertisements

12 thoughts on “Terios 7 Wonders : Menjenguk Komodo di Rumahnya”

  1. Saya sampe terharu usai baca tulisan ini. Sebuah petualangan yang luar biasa sekali. Selamat ya mas sudah menjadi bagian dari perjalanan keren ini. Saya, walau hanya sampai jadi 25 nominasi saja, sudah cukup senang, bahkan lewat ajang itu, bisa mengenal seorang mas Puput yang tulisannya bikin saya seolah selalu ikut berada di tempat yang diceritakan.
    Saya ngefans sama blognya nih. Akan saya jadikan referensi buat teman2 saya yang hobby jalan. Ijin share semua tulisannya di FB saya ya.

    Wisata Indonesia luar biasa. Saya bangga jadi bagian dari negeri ini.

    Like

    1. wah makasih buat apresiasinya… silahkan kalo mau dishare di sosmed… iya emang sesuai ama tagline wonderful Indonesia, yg penting kita ikut menjaganya juga 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s