Terios 7 Wonders : Sensansi Mereguk Susu Kuda Liar Sumbawa Langsung di Sumbernya


Setelah melewati perjalanan panjang namun menyegarkan mata, Sahabat Petualang dijadwalkan menjelajahi pesona Dompu di Sumbawa setelah puas mengeksplorasi Desa Sade Rambitan, Pink Beach, dan Pantai Selong Belanak. Banyak pesona wisata di kabupaten ini, namun kali ini tim Terios 7 Wonders akan mengunjungi desa dengan tradisi memerah susu kuda liar dan proses pengambilan madu Sumbawa. Namun, perjalanan memang tidak selamanya mulus. Info jadwal kapal yang akan membawa kami ke Labuan Bajo selalu berubah-ubah, dari awalnya pukul 21.00, tidak ada kapal hari itu, hingga akhirnya dipastikan kapal berangkat pukul 16.00. Waktu yang sangat terbatas akhirnya memaksa kami hanya mengunjungi desa pemerah susu kuda liar.

Kuda "liar" yang sebenarnya kuda peliharaan warga, kali ini ditambat di halaman rumah demi Sahabat Petualang yang mau datang
Kuda “liar” yang sebenarnya kuda peliharaan warga, kali ini ditambat di halaman rumah demi Sahabat Petualang yang mau datang

Atas petunjuk dari Pak Sahruddin, sopir mobil Terios 3 yang juga putra asli Bima, kami bergerak menuju suatu desa di Kabupaten Bima. Rupanya, desa ini ternyata bukan di Kabupaten Dompu seperti rencana awal, tapi tentu tidak ada masalah sama sekali. Dari jalan raya Lintas Sumbawa, kami berbelok ke kiri dan melewati jalan tanah yang menanjak dan berliku. Setelah berkali-kali membuktikan ketangguhan Terios di berbagai medan, tentu jalan tanah seperti ini tak lagi menjadi kekhawatiran bagi tim Terios 7 Wonders. Terlihat bukit-bukit yang kering, namun sebenarnya sangat fotogenik untuk menjadi latar belakang foto Daihatsu Terios kami. Pak Endi dan Enuh langsung beraksi merekam momen-momen ini.

Jalan rusak dan menanjak seperti ini tentu bukan masalah berarti bagi Terios kami, apalagi setelah melewati berbagai medan yang jauh lebih menantang
Jalan rusak dan menanjak seperti ini tentu bukan masalah berarti bagi Terios kami, apalagi setelah melewati berbagai medan yang jauh lebih menantang

Setelah setengah jam melalui jalan tanah, akhirnya kami tiba di Desa Palama, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima. Sahabat Petualang langsung disambut anak-anak yang terlihat sangat antusias menyambut kami. Apalagi 7 Terios yang terlihat sangat gagah menjadi mainan baru bagi mereka. Wajah anak-anak yang sangat ceria tentu tak luput dari bidikan kami.

Anak-anak desa sangat antusias menyambut tim Terios 7 Wonders yang berkunjung
Anak-anak Desa Palama sangat antusias menyambut tim Terios 7 Wonders yang berkunjung

Puas berfoto dengan anak-anak, saatnya kami berkunjung ke rumah warga. Rasa penasaran pertama adalah seperti apa sebenarnya kuda “liar” Sumbawa. Bayangan awal kuda liar adalah kuda-kuda yang benar-benar liar seperti jaman koboi di Amerika. Kebayang kan, nangkapnya aja susah, apalagi merah susunya.

Ternyata begitu kami datang ke sana, kuda-kuda ini sudah tenang berada di halaman rumah warga. Rupanya yang dimaksud kuda liar adalah kuda peliharaan yang dilepas bebas di padang rumput atau bukit-bukit. Kuda ini bisa mengenali majikannya, jadi kalau bukan majikannya mendekat dia akan lari menjauh. Berhubung tim Terios 7 Wonders mau datang, kuda-kuda ini sengaja dibawa pulang ke rumah warga agar lebih mudah difoto saat diperah susunya.

Seorang ibu memerah susu dari kuda "liar" miliknya... terlihat jelas kaki kuda yang sangat berotot
Seorang ibu memerah susu dari kuda “liar” miliknya… terlihat jelas kaki kuda yang sangat berotot

Walaupun ini bukan liar, tetap saja kuda ini dilepas bebas di halaman rumah tanpa dikandangi seperti umumnya kuda atau sapi peliharaan. Jadi, tetap butuh kemampuan dan konsentrasi tinggi saat memerah susu, karena jelas kuda punya kaki yang sangat kuat. Salah-salah, justru si pemerah akan ditendang kuda yang marah. Kalau sudah begini, nyawa bisa jadi taruhannya.

Anak kuda sumbawa yang terlihat lucu dan sehat
Anak kuda sumbawa yang terlihat lucu dan sehat

Kuda yang akan diperah biasanya hanya ditambat dengan tali yang kendor, jadi kuda masih bisa bergerak bebas. Si pemerah harus pintar-pintar mencari posisi yang pas untuk memerah susu.

Kali ini seorang bapak yang memerah susu kuda, dengan sarung dan kopiah penampilannya sangat santai dan terlihat begitu akrab dengan kudanya
Kali ini seorang bapak yang memerah susu kuda, dengan sarung dan kopiah penampilannya sangat santai dan terlihat begitu akrab dengan kudanya

Susu kuda bisa diperah kira-kira sebulan setelah kuda melahirkan. Tentu saja susu ini harus dibagi antara anak kuda dengan perahan untuk manusia, jadi pemerah harus memperhitungkan kebutuhan susu untuk anak kuda yang baru lahir.

“Susu ini bisa tahan 6 bulan tanpa disimpan di lemari es, asal disimpan dalam botol yang bersih dan sesekali dikocok agar kandungan susunya tidak mengendap,” demikian kata Pak Hasan, penduduk lokal yang memandu perjalanan kami.

“Sesekali tutup botolnya juga harus dibuka untuk melepaskan kandungan gas yang timbul dari susu, agar susu tidak terfermentasi,” tambahnya lagi.

Warga desa menunjukkan hasil susu kuda yang baru saja diperah, siap untuk disaring dan diminum langsung
Warga desa menunjukkan hasil susu kuda yang baru saja diperah, siap untuk disaring dan diminum langsung

Pastinya, Sahabat Petualang tak melewatkan kesempatan untuk minum susu kuda yang baru saja diperas. Susu hasil perahan yang ditampung dalam ember disaring dahulu sebelum dituang dalam gelas. Setelah itu susu langsung bisa diminum, tanpa dimasak atau dicampur apa-apa. Saya tak ketinggalan mencicipi susu kuda liar ini. “Hmm, rasanya ringan seperti santan, tidak berbau amis seperti susu sapi”, kata saya kepada kawan-kawan yang lain. Rasanya sebenarnya mirip dengan susu unta yang pernah saya rasakan.

Salah seorang driver Terios 7 Wonders tak ketinggalan mencicipi lezatnya susu kuda liar Sumbawa
Salah seorang driver Terios 7 Wonders tak ketinggalan mencicipi lezatnya susu kuda liar Sumbawa

Susu kuda ini pastinya mengandung protein tinggi dan sangat bergizi, namun kalau bisa mengobati berbagai penyakit tentu sulit dipertanggungjawabkan. Tapi memang banyak cerita yang penyakitnya bisa sembuh setelah rutin minum susu kuda liar ini, tapi sekali lagi bukti ilmiah untuk hal ini belum ada hingga kini.

Di sini, harga susu kuda liar adalah Rp 20.000 per botol 600 ml. Sementara, harga kuda Sumbawa sendiri berkisar 3-4 juta. Kalau untuk kuda pacu, tentu saja harganya beda, tergantung kemampuan dan prestasinya.

“Penduduk di desa ini rata-rata bekerja sebagai petani palawija dan peternak. Hewan yang dipelihara selain kuda adalah kambing dan sapi,” kali ini Pak Sahruddin, sopir mobil Terios 3 yang saya tunggangi memberi penjelasan tambahan.

“Semua hewan peliharaan dilepas bebas di bukit-bukit,” imbuh Pak Sahruddin lagi. Ternyata memang demikian adanya, ketika kami sudah beranjak dari desa, kami menemukan banyak sapi dan kambing yang dilepas begitu saja di ladang.

Ada juga pemandanga menarik di salah satu rumah penduduk. Ada makanan seperti kerupuk mentah sedang dijemur, tapi kami semua belum pernah melihat sebelumnya.

“Ini namanya Lekde, bahannya dari ketela racun yang diolah terlebih dahulu untuk menghilangkan racunnya,” ujar Pak Hasan lagi. Menarik juga kalau kami bisa mencicipi, sayangnya makanan tersebut harus benar-benar dijemur sampai kering kemudian disangrai baru bisa dimakan.

Lekde, makanan khas Bima yang berasal dari ketela, sedang dijemur sebelum disangrai
Lekde, makanan khas Bima yang berasal dari ketela, sedang dijemur sebelum disangrai

Setelah puas berfoto-foto dan mengorek berbagai informasi, saatnya kami segera pamit. Diiringi salam hangat dari penduduk Desa Palama, kami segera bergegas menuju Pelabuhan Sape, tempat finish terakhir 6 Daihatsu Terios sebelum akhirnya kami semua menyeberang dengan kapal ferri menuju Labuan Bajo bersama 1 Terios bernomer T2. Di sana, kami akan melanjutkan petualangan menuju Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan tentunya menyelam dan tinggal di kapal (live a board). Di Pelabuhan Sape inilah kami harus berpisah dengan para sopir yang sudah menjadi satu keluarga selama 12 hari ini. Seorang blogger wanita berinisial UC tampak sedih karena berpisah dengan pujaan hatinya, Bang Iman. Sementara, blogger lain berinisial WN yang menaruh hati pada UC seperti tak kuat menyaksikan kebersamaan UC dan Bang Iman.

Blogger berinisial UC dengan seorang driver berfoto bersama sebelum berpisah sore itu
Blogger berinisial UC dengan seorang driver berfoto bersama sebelum berpisah sore itu

Dedikasi para driver telah mengantarkan Sahabat Petualangan dengan selamat hingga 6 dari 7 destinasi Terios 7 Wonders. Sekali lagi, terima kasih dan semoga kita bisa bertemu lagi di Jakarta.

Advertisements

24 thoughts on “Terios 7 Wonders : Sensansi Mereguk Susu Kuda Liar Sumbawa Langsung di Sumbernya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s