Terios 7 Wonders : Live A Board, Hotel Terapung di Atas Laut


Setelah melalui perjalanan melelahkan selama 4 jam di kapal feri dari Pelabuhan Sape seusai mengeksplorasi susu kuda liar di Bima, kami tiba di Labuhan Bajo pada pukul 11.00 malam. Meski mata terasa sangat berat, Sahabat Petualang harus terjaga dan bersiap-siap berpindah ke hotel untuk keesokan harinya berpindah lagi ke kapal.

Kapal phinisi Plataran Komodo yang menjadi rumah Sahabat Petualang selama 3 hari 2 malam
Kapal phinisi Plataran Komodo yang menjadi rumah Sahabat Petualang selama 3 hari 2 malam

Buat saya pribadi, inilah saat yang ditunggu-tunggu. Tahun 2009, tepat saat pemilu – saya gak golput lho, saya cuma nyoblos di bawah air tapi lupa ngumpulin kertas coblosannya hehehe – saya berkunjung ke Labuan Bajo dan sangat terpesona dengan pelabuhannya yang cantik bertaburkan perahu-perahu phinisi. Namun apa daya, sebagai backpacker kere tentu harga sewa yang jutaan per harinya jauh di atas kemampuan saya. Akhirnya saya pergi ke Pulau Komodo dengan kapal penumpang yang rutin digunakan penduduk Kampung Komodo, tentu sambil menatap perahu phinisi sambil berharap suatu saat saya ada di sana. Pucuk dicinta ulam tiba, tulisan saya tentang perjalanan murah meriah ke Kampung Komodo mengantar saya memenangkan trip bertajuk “Terios 7 Wonders Hidden Paradise” bersama 6 blogger lain. Terima kasih Daihatsu!!

Kapal phinisi lain yang berlabuh di Labuan Bajo
Kapal phinisi lain yang berlabuh di Labuan Bajo

Kini, empat tahun sudah berlalu dari kunjungan pertama saya. Tanggal 12 Oktober 2013, kami bersiap-siap check out dari hotel dan menuju Pelabuhan Labuhan Bajo. Sebelumnya, tim Ekspedisi Terios 7 Wonders bergabung dengan rombongan Astra Daihatsu Motor Jakarta dan jurnalis otomotif. Ibu Amelia Tjandra dan Pak Rio Sanggau ikut bergabung bersama kami. Ternyata, ada 2 perahu yang digunakan dalam pelayaran menuju Pulau Komodo, yaitu Blue Dragon dan Plataran Komodo. Saya beserta 4 blogger batangan alias laki-laki tergabung di Plataran Komodo bersama 2 jurnalis, Dadan dan Agam, serta Pak Rio dari Daihatsu. Total ada 8 lelaki yang berbagi perahu, sementara sisanya ada di Blue Dragon termasuk Uci dan Mumun.

Blue Dragon, kapal phinisi lain yang membawa rombongan Sahabat Petualang yang lain
Blue Dragon, kapal phinisi lain yang membawa rombongan Sahabat Petualang yang lain

Begitu sampai dermaga, kami langsung disambut awak kapal yang sudah siap mengantar kami menuju perahu. Rupanya kami harus naik sampan kecil bermesin motor tempel untuk menuju perahu phinisi. Di sinilah kami akan menginap selama 3 hari 2 malam alias Live A Board (tinggal di perahu). Seperti apa sih perahu yang menjadi rumah kami, baca terus tulisan ini ya…

Dibuat di Sulawesi Selatan yang memang termahsyur sebagai tempat asal perahu phinisi, Plataran Komodo memiliki 2 tiang dan 7 layar seperti halnya perahu phinisi lain. Ini melambangkan 2 kalimat syahadat dan 7 ayat dalam Surah Al Fatihah. Sebenarnya perahu ini sanggup berlayar dalam arti sesungguhnya – bergerak menggunakan layar, bukan mesin – namun saya belum pernah menemukan perahu phinsi di sekeliling Labuan Bajo yang benar-benar berlayar. Hampir semua bergerak dengan tenaga mesin diesel dengan layar tergulung. Plataran Komodo bertenaga mesin diesel truk Fuso sebesar 160 pk. Perahu phinisi lain pun umumnya menggunakan jenis mesin yang sama, hanya beda kapasitas tergantung besarnya kapal.

Tampak Mas Dadan (ini jurnalis ya, bukan pemain band hehehe) duduk di dek santai di atas kamar tidur
Tampak Mas Dadan (ini jurnalis ya, bukan pemain band hehehe) duduk di dek santai di atas kamar tidur

Plataran Komodo memiliki satu ruangan kamar yang berisi 6 ranjang, dari 6 ranjang tersebut ada 2 ranjang yang cukup lebar dan bisa menampung 2 orang. Jadi total ada 8 orang yang bisa ditampung. Letak kamarnya ada di dek bawah di bagian depan perahu, sedikit di atas ruang mesin. Nah, rupanya di sini masalah terbesar. Suara mesin terdengar cukup bising dari kamar. Ditambah lagi, rupanya asap solar mesin juga masuk ke dalam kamar, jadilah kamar ini serasa smoke chamber ketika perahu sedang berjalan. Saya jadi membayangkan kapal selam Jerman “U boat” yang legendaris yang mana bau solar dan batere sudah menjadi santapan sehari-hari kru kapal yang bertugas. Berhubung tak tahan bau solar, akhirnya malam hari saya dan Wira memutuskan untuk tidur di dek atas kamar, tentu tetap memakai selimut dari kapal. Sukses besar, saya tidur dengan pulas diterpa angin laut malam dan baru bangun menjelang subuh.

Kamar tidur Plataran Komodo, sayangnya asap bocor masuk ke dalamnya...
Kamar tidur Plataran Komodo, sayangnya asap bocor masuk ke dalamnya…

Persis di atas kamar tidur adalah dek untuk bersantai. Dek ini bisa juga untuk tiduran atau sekedar duduk-duduk menikmati hembusan angin laut. Di belakang dek ini adalah ruang kemudi sekaligus tempat tidur awak kapal. Meskipun sangat kecil, tampaknya kru kapal sudah terlatih tidur dengan kaki ditekuk.

Kapten di ruang kemudi sekaligus kamar tidur awak kapal Plataran Komodo
Kapten di ruang kemudi sekaligus kamar tidur awak kapal Plataran Komodo

Di belakang ruang kemudi adalah dapur sekaligus ruang makan. Meskipun kecil dan dengan peralatan sederhana, koki kapal ini sangat lihai menciptakan masakan enak lho… Salut dengan kemahiran chef perahu yang sanggup mengolah makanan dalam dapur sempit walau kapal sering diterjang ombak. Setelah dapur, ruangan berikutnya adalah kamar mandi. Ada 2 kamar mandi, ukurannya kira-kira 1 x 1,5 m. Cukup kecil memang, tapi dilengkapi toilet duduk dan shower air hangat, dan yang terpenting adalah bersih.

Ini dek serbaguna, bisa untuk bersantai, menaruh barang, juga untuk tidur malam
Ini dek serbaguna, bisa untuk bersantai, menaruh barang, juga untuk tidur malam

Bagian paling asyik sebenarnya ada di bagian atap ruang kemudi hingga toilet. Tempat ini digunakan sebagai sun deck alias dek berjemur. Kalau sebagai orang Indonesia Anda masih merasa kurang hitam, seperti Wira dan Harris, bolehlah seharian berjemur di sini. Paling asyik di sini menjelang sunset, pemandangan matahari terbenam di sekeliling pulau benar-benar menakjubkan. Apalagi ditemani segelas kopi Flores dan secomot pisang goreng, beuhhh…. “Berasa jadi orang kaya,” kata Mas Bems “Ki Joko Blogger.”

Sundeck Plataran Komodo, tempat favorit bule-bule
Sundeck Plataran Komodo, tempat favorit bule-bule
Dua bule gosong menikmati sinar matahari di sundeck Plataran Komodo
Dua bule gosong menikmati sinar matahari di sundeck Plataran Komodo

Oya, di bagian paling depan adalah tempat menyimpan peralatan selam. Di sisi samping ada deretan rak penyimpanan tabung udara untuk diving. Di paling depan adalah gulungan rantai jangkar kapal. Sebenarnya ada motor listrik yang seharusnya berfungsi menggulung rantai secara otomatis tapi tampaknya sudah rusak. Jadilah jangkar harus dilepas dan ditarik secara manual.

Peralatan diving disimpan di bagian depan kapal
Peralatan diving disimpan di bagian depan kapal

Secara keseluruhan, saya perkirakan panjang kapal ini 15 m dengan lebar 3 m, termasuk kecil untuk ukuran perahu phinisi yang digunakan dalam pelayaran ke Pulau Komodo dan sekitarnya. Kapal phinisi selalu menarik sampan kecil yang dipakai untuk mengantar tamu atau barang karena seringkali kapal ini tidak bisa berlabuh terlalu dekat ke daratan.

Sunset dari sundeck Plataran Komodo, luar biasa...
Sunset dari sundeck Plataran Komodo, luar biasa…

Nah, Anda pasti penasaran berapa harga sewa kapal ini? Di brosur resmi Plataran, kapal ini dihargai US$ 240 per orang untuk 12 jam trip Labuan Bajo-Pink Beach-Pulau Rinca-Pulau Kenawa-Labuan Bajo. Harga termasuk antar jemput ke hotel di Labuan Bajo, makan siang dan malam, coffee break, snack, peralatan snorkeling, dan guide. Tapi harga tidak termasuk tiket masuk Pulau Rinca dan semua biaya di Taman Nasional (kamera, ranger, makanan, dll), peralatan diving kalau ingin menyelam, dan juga tips. Ada juga paket US$ 175 per orang untuk 8 jam dengan itinerary mirip di atas, namun tidak termasuk Pink Beach. Oya, minimal ada 2 orang yang bergabung dalam trip ini. Kalau Anda seorang solo backpacker, tinggal cari teman di sekitar Labuan Bajo, biasanya banyak pula turis-turis yang mencari teman untuk berbagi biaya kapal.

Nah kalau mau menyewa perahu ini, harganya adalah US$ 1200 per malam, tapi di luar biaya diving dan sewa peralatannya. Kalau Anda berkelompok 8-10 orang, harga ini jelas lebih murah dari biaya perorangan. Oya, biasanya harga ini masih bisa ditawar, terutama saat low season.

Nah, kebayang kan gimana perahu phinisi untuk live a board? Ikuti terus petualangan saya bersama kawan-kawan saat diving, sampai di Pulau Komodo, dan berkunjung ke Pulau Rinca.

Advertisements

14 thoughts on “Terios 7 Wonders : Live A Board, Hotel Terapung di Atas Laut”

      1. iya betul.
        Trims infonya mas. Berguna banget. Pingin menjajal ah tahun depan, rame2 bareng temen backpacker hehe

        Btw, tulisannya saya jadiin bahan buat lomba lho 😀 Bakal banyak yang saya kutip nih. Ntar kalo baca tulisan saya, jangan kaget ya isinya banyak ngambil dari tulisan mas Puput.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s