Terios 7 Wonders : Belajar dari Kearifan Suku Sasak di Desa Sade Rambitan


Setelah menyelesaikan penjelajahan di Taman Nasional Baluran, tujuan berikutnya adalah Desa Sade Rambitan di Lombok. Setelah melintasi Selat Bali, bermalam di Denpasar, dan menyeberangi Selat Lombok, tiba saatnya untuk memulai petualangan baru di Desa Sade Rambitan. Berbeda dengan destinasi sebelumnya, kali ini Sahabat Petualang akan diajak mengenali kehidupan tradisional Suku Sasak yang tetap terjaga di tengah gempuran modernisasi.

Tim Terios 7 Wonders siap menjelajahi Desa Sade Rambitan, kampung Suku Sasak
Tim Terios 7 Wonders siap menjelajahi Desa Sade Rambitan, kampung Suku Sasak

Desa Sade Rambitan sebenarnya mudah dijangkau. Terletak di Kabupaten Lombok Tengah, desa ini terletak persis di samping jalan raya Praya-Kuta, hanya berjarak 30 km dari Mataram. Dari Bandara Internasional Lombok, desa ini bisa ditempuh cukup dalam 20 menit dengan kendaraan bermotor.

Begitu tim Ekspedisi Terios 7 Wonders tiba di lokasi, kami langsung disambut kesenian Gendang Beleq yang sangat dinamis. Tabuhan gendang yang bertalu-talu sangat menyemarakkan suasana.

Gendang Beleq menyambut Sahabat Petualang di pintu gerbang Sade Rambitan
Gendang Beleq menyambut Sahabat Petualang di pintu gerbang Sade Rambitan
Tak ketinggalan gong pun turut menyemarakkan suasana penyambutan
Tak ketinggalan gong pun turut menyemarakkan suasana penyambutan di Desa Sade Rambitan

Tak cukup sampai di situ, kami kembali disuguhi tarian yang sangat populer yaitu tari Paresehan. Sebenarnya ini bukan tarian, tapi lebih mirip pertarungan antara 2 lelaki menggunakan tongkat rotan sebagai senjata penyerangan dan perisai dari kulit sapi sebagai senjata pertahanan. Para petarung yang masih muda didampingi sesepuh yang bertindak seperti pelatih. Pertarungan berlangsung seru, tak henti-hentinya suara gebukan rotan di kulit sapi membahana di atmosfer Desa Sade Rambitan. Akhirnya pertarungan baru berhenti setelah seseorang berhasil memukul lawannya tanpa bisa ditangkis.

Pelatih memulai pertarungan Paresehan sebagai pemanasan
Pelatih memulai pertarungan dalam tradisi Paresehan sebagai pemanasan
Petarung Paresehan sesungguhnya siap mempertontonkan kemahirannya
Petarung Paresehan sesungguhnya siap mempertontonkan kemahirannya

Suasana menjadi semakin riuh ketika Sahabat Petualang diajak untuk ikut bertarung ala tradisi Paresehan. Kali ini sang driver Iman dan seorang awak media Wahyu tertarik menjajal tantangan ini. Sorak sorai tim Ekspedisi Terios 7 Wonders langsung memanaskan suasana. Mereka bertarung cukup seru walaupun tak berlangsung lama karena dikhawatirkan ada yang terluka. Akhirnya pertarungan dihentikan dan kami kembali tenang menunggu suguhan berikutnya.

Petarung Paresehan gadungan, mau tempur malah cengar cengir...
Petarung Paresehan gadungan, mau tempur malah cengar cengir…

Tak puas sampai di situ, selanjutnya Sahabat Petualang disuguhi tarian seperti tari Bali, namun dibawakan oleh seorang anak lelaki. Gerakannya sangat dinamis dengan dandanan yang aktraktif. Meskipun masih kecil, raut wajahnya terlihat sangat menjiwai peran dalam tarian tersebut.

Sahabat Petualang sibuk mengabadikan aksi dinamis anak kecil Suku Sasak
Sahabat Petualang sibuk mengabadikan aksi dinamis anak kecil Suku Sasak

Akhirnya acara kesenian ditutup dengan Tari Amek Tempengus. Tarian ini juga hanya dibawakan oleh satu orang dewasa. Yang lucu adalah dia bisa memonyongkan bibir sehingga mirip mulut tapir. Apalagi wajahnya dibalur cat warna-warni sehingga kesan monyong semakin kuat. Penonton yang didominasi tim Terios 7 Wonders tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk berburu momen unik dan menarik. Gerakan tariannya juga sangat hidup, sesekali lucu, sangat menghibur penonton.

Wajah lucu penari selalu menarik menjadi obyek fotografi
Wajah lucu penari Amek Tempengus selalu menarik menjadi obyek fotografi
Setelah menjadi petarung gadungan, kini Bang Iman kembali menjadi penari gadungan
Setelah menjadi petarung gadungan, kini Bang Iman kembali menjadi penari gadungan

Puas menyaksikan kesenian khas Suku Sasak, barulah kami diajak keliling Desa Sade Rambitan. Desa seluas 5500 m2 ini terdiri dari 150 rumah yang menampung sekitar 700 orang. Karena lokasi yang sangat terbatas, bila ada keluarga baru maka dia harus keluar dari desa sehingga jumlah rumah di desa ini selalu tetap. Banyak budaya unik di desa ini, salah satunya masalah pernikahan. Pada umumnya, calon mempelai pria dan wanita masih bersaudara dan berasal dari desa ini juga alias satu suku. Sebenarnya tidak dilarang jika menikah dengan orang dari luar desa, namun maharnya lebih mahal, bisa sampai 2-3 ekor kerbau. Oya, tradisi paling unik adalah sang pria bisa menculik sang wanita untuk dinikahi alias kawin lari. Kalau sang pria sudah berhasil menculik sang wanita, pihak orang tua wanita harus mau menikahkan anak gadisnya dengan lelaki penculik.

Suasana Desa Sade Rambitan dengan bentuk dan susunan rumah yang khas dan terus bertahan di tengah perkembangan zaman
Suasana Desa Sade Rambitan dengan bentuk dan susunan rumah yang khas dan terus bertahan di tengah perkembangan zaman

Bentuk rumah, atau biasa disebut bale, di Desa Sade Rambitan sangat khas, yaitu beratapkan ijuk dengan bambu sebagai penyangga dinding dan atap, kemudian menggunakan anyaman bambu sebagai dinding, dan tanah yang dikeraskan sebagai lantainya. Tradisi paling unik dari Suku Sasak di Desa Sade Rambitan adalah mereka selalu mengepel lantai dengan kotoran kerbau. Hal ini selalu menjadi pertanyaan setiap pengunjung. Menurut mereka, hal ini bertujuan untuk menjaga lantai tetap hangat dan tidak lembab, menghilangkan debu, serta mengeraskan tanah seperti halnya semen. Ada juga kepercayaan magis agar rumah terbebas dari gangguan roh jahat. Meskipun sepintas terlihat menjijikkan bagi yang baru pertama tahu, ternyata tidak ada bau kotoran sama sekali di dalam rumah. Lantai tanahnya pun terlihat keras.

Seorang ibu melumuri lantai rumahnya dengan kotoran kerbau, tradisi unik Desa Sade Rambitan
Seorang ibu melumuri lantai rumahnya dengan kotoran kerbau, tradisi unik Desa Sade Rambitan

Kaum lelaki di Sade Rambitan bekerja sebagai petani dan kaum wanita bekerja menenun kain. Cara mereka menenun masih sangat tradisional dengan alat tenun dari kayu tanpa menggunakan mesin. Para perempuan, mulai dari yang muda hingga tua, semua sibuk menenun kain sembari sesekali menawarkan hasil tenunan kepada wisatawan yang berkunjung.

Seorang wanita Suku Sasak menenun secara tradisional dengan alat tenun yang sangat sederhana
Seorang wanita Suku Sasak menenun secara tradisional dengan alat tenun yang sangat sederhana

Banyak filosofi hidup yang bisa kita dapat di sini. Bentuk pintu rumah yang sangat rendah sehingga tamu harus menunduk untuk memasukinya menandakan sikap saling menghormati antara tamu dan tuan rumah. Adanya lumbung padi juga menandakan mereka biasa hidup berhemat, karena simpanan di dalamnya hanya bisa diambil pada saat-saat tertentu seperti ketika gagal panen atau ada kematian. Hanya wanita yang diperbolehkan naik ke lumbung padi, ini juga menandakan penghargaaan yang tinggi pada kaum wanita yang dipercaya bisa menjaga harta keluarga.

Meskipun sudah tua, nenek ini tetap semangat menjalani hari di Desa Sade Rambitan, semangat yang harus selalu kita tiru
Meskipun sudah tua, nenek ini tetap menjalani hari di Desa Sade Rambitan tanpa keluhan, semangat yang harus selalu kita tiru

Meskipun perjalanan mengeliling desa hanya berlangsung sebentar, sekitar satu jam dengan diselingi bincang-bincang dan foto-foto bersama warga desa, saya sangat terkesan dengan cara hidup mereka yang sangat bersahaja, damai, dan jauh dari keserakahan seperti manusia modern. Menurut saya, inilah hidden paradise yang membuat desa ini layak diangkat sebagai bagian dari Terios 7 Wonders. Dari desa ini, kami beranjak menuju Pondok Pesantren Almasyhudien Nahdlatulwathan untuk memberikan bantuan sebagai bagian dari program Corporate Social Responsibility Daihatsu Mataram.

Advertisements

18 thoughts on “Terios 7 Wonders : Belajar dari Kearifan Suku Sasak di Desa Sade Rambitan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s