Accommodation Review: Centhini Resort and Restaurant (Salak Endah Bogor)


Kami menemukan hotel ini secara kebetulan. Setelah sebelumnya gagal menelpon The Michael Resort dan Pondok Rasamala, akhirnya saya, Puput, dan Oliq go show saja. Bahkan sebelum sibuk menelpon dari mobil, dalam perjalanan kami masih galau hendak ke mana. Bagi Puput sih jelas tujuannya, pokoknya jalan-jalan. Sementara pagi-pagi Oliq sudah bilang, “Mangkats! Tindak-tindak!” Simbok hanya mengakomodasi keinginan kedua bokong gatel ini.

Akhirnya diputuskan untuk menuju ke Salak Endah. Sedikit tersendat di Jl Raya Dramaga, akhirnya kami membelok ke kiri menuju ke Kec Pamijahan. Di jalan sambil melihat-lihat kalau ada penginapan yang agak lumayan. Ternyata tidak ada. Kami sih berpikir, apes-apesnya nginap di Bogor, paling Amaris atau salah satu Hotel Pangrango pasti ada kamar. Seapes-apesnya ya balik ke Jakarta nginep di Hotel Kontrakan Rasuna.

Tiba-tiba terlihat papan nama Green View Resort di kiri jalan. Mobil dimundurkan untuk melihat nomor telpon dengan jelas, ditelpon tidak nyambung. Ternyata resortnya baru mulai dibangun! Ya sudah, kami lanjutkan perjalanan. Ternyata di ujung jalan tepat sebelum pintu gerbang Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) ada sebuah papan nama “Centhini”. Kami langsung membelok. Ternyata resor ini pun belum jadi, masih banyak tukang-tukang sedang sibuk mengerjakan lanskap resor. Tapi beberapa kamarnya dan sebuah restoran sudah jadi.

Pamandangan dari kamar
Pamandangan dari kamar

Karena Oliq masih tidur, Puput bernegosiasi dengan salah satu staf. Sebenarnya tarif per malam untuk kamar 2 orang adalah Rp 750 ribu. Jadilah Puput mengandalkan jiwa kerenya untuk menawar, karena uang kami juga tinggal 750ribu. Kalau harus bayar segitu, nggak makan dong! Akhirnya dapat Rp 650 ribu. Lumayanlah masih sisa 100 ribu buat makan dan tiket masuk TNGHS.

Kamarnya lumayan bagus, satu bed queen size, sebuah sofa panjang, dan bantal-bantal duduk. Tersedia ketel listrik, TV kabel, air panas (max 2 orang mandi berurutan), dan kopi-teh.

Kasur ada di balik separator
Kasur ada di balik separator

Highlight dari resor ini adalah kamar memiliki balkon tepat di atas kolam buatan berisi ikan mas. Oliq seneng banget buang-buang makanan untuk kasih makan ikannya. Ikannya pun sangat interaktif, begitu kami keluar ke balkon langsung mereka mengumpul. Bila diberi makan, hebohnya melebihi orang-orang antri BLSM. Oliq menyebut kamar kami sebagai “umah wak”.

ikan-ikan heboh
ikan-ikan heboh

Fasilitas lain adalah restoran yang cukup bagus. Beberapa saung sudah tersedia untuk makan sambil lesehan. Namun kata chef-nya, menu masih belum lengkap karena memang resor ini walau sudah beroperasi namun belum grand opening (rencana November). Aula sedang dibangun, playground berisi jungkat-jungkit (seesaw), ayunan, perosotan dan beberapa mainan lain tersedia bila membawa anak-anak. Kolam renang sudah dibangun namun belum diisi air.

Playground
Playground

Breakfastnya nasi goreng yang rasanya lumayan. Tidak sehambar nasi goreng beberapa hotel lain yang pernah kami inapi. Minumnya teh manis panas gelas besar.

Pemandangan dari resor ini adalah hutan-hutan pinus dan pegunungan di kejauhan. Udaranya tidak terlalu dingin lagi karena memang tidak tinggi.

Bangunan kamar sebagian besar berdinding gipsum, perabotannya pun dari bambu. Di balkon yang menghadap ke kolam pun ada kursi bambu (lincak). Perabotan dalam kamar kualitas murahan. Kasur bisa lebih bagus lagi, tapi standar perkasuran kami memang tinggi. Kopinya nescafe classic, tehnya tong tji melati.

Secara umum kami bilang harganya reasonable kalau 650 ribu, kalau 750 ribu overpriced (yang jelas lebih murah dari The Michael), mungkin saat dibuka secara resmi taman-tamannya sudah jauh lebih bagus.

Oh ya, di sekitar sini tidak ada sinyal (hanya Indosat), cocok untuk bulan madu.

The Backpackologists go to TNGHS (and were disappointed of poor management despite great waterfalls)
The Backpackologists go to TNGHS (and were disappointed of poor management despite great waterfalls)

Baru setelah masuk ke TNGHS kami heran ternyata The Michael, Pondok Rasamala, dan beberapa villa serta penginapan lain ada di kawasan Taman Nasional. Bahkan banyak pula rumah-rumah penduduk di sana. Bingung dengan peruntukkan taman nasional yang digunakan untuk komersial seperti ini. Lalu, fungsinya bagaimana?

Advertisements

9 thoughts on “Accommodation Review: Centhini Resort and Restaurant (Salak Endah Bogor)”

  1. Baca blog Ttg taman safari,seruu. Dan minggu dpn akan ksna.tp blm dpt ide nginap dimana krna akses ke kenderaan umum susah ya klo daerah puncak? Ada ide ga mba? Kami ga pny kenderaan pribadi,tp pengen bgt bs nginap di daerah puncak dgn budget bawah-menengah. Tq

    Like

  2. Nongkrong sore2 di hutan pinus nya nikmat banget sambil di temanin jagung bakar atau indomie rebus bercabe rawit hahaha. Beberapa minggu lalu baru balik dari sana juga, nginep di rasamala 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s