Siapa Bilang Ibu Rumah Tangga Nggak Bisa Jalan-Jalan?


Ketika saya memutuskan untuk berhenti bekerja saat hampir melahirkan, banyak orang mempertanyakan, banyak pula yang tampak melecehkan. “Eman-eman udah sekolah tinggi-tinggi cuma ngurus anak di rumah?”, “Gelar Master dari Australia itu buat apa?”, “Nanti kamu tertindas sama suamimu!”

Gendongan di Pantai Manggar
Happier family

Bekerja di beberapa organisasi internasional sebelumnya, saya memang punya kesempatan untuk pergi ke beberapa kota di Indonesia, dari Aceh dan Nias hingga ke Papua. Sempat juga beberapa kali ke luar negeri. Memang, profesi saya saat itu lumayan mendukung hobi jalan-jalan.

Tetapi, ketika sudah memiliki anak, semuanya kalah. Namanya juga menjadi orangtua, harus ada yang dikorbankan. Apalah gunanya karir yang cemerlang kalau tidak bahagia. Riskan juga untuk meninggalkan bayi dengan babysitter di Jakarta, kota di mana saya dan suami tinggal sendiri. Jauh dari saudara, orangtua, dan mertua. Menitipkan anak kepada orangtua di kota lain sama sekali bukan pilihan!

Kalau nganggur bagaimana nasib hobi jalan-jalan? Sudah tidak ada business trip lagi, tidak ada lagi gaji sendiri untuk berburu tiket promo. Apa-apa mesti minta suami dulu.

Ternyata sejak punya anak justru perjalanan-perjalanan kami semakin menggila. Semua tempat terasa baru. Saya tidak lagi bilang, “Pengen ke sana ah, aku belum pernah” melainkan “Ayo ke sana, Oliq belum pernah.” Suami, yang juga travel addict parah – saya menyebutnya Si Bokong Gatel – sangat mendukung.

Alhasil, dari tabungan kami sendiri, keluarga kecil ini berangkat ke Australia ketika Oliq berusia 6 bulan.

Ternyata menjadi ibu rumah tangga artinya juga lebih mudah bagi kami untuk mengatur liburan. Kini tidak lagi harus mencocokkan cuti dua orang karyawan, yang seringkali masa sibuknya berbeda. Kalau yang satu bisa cuti, yang satu lagi pas mau ada event besar. Kalau yang satunya boleh cuti, yang lainnya harus jaga kandang di kantor karena bos sudah minta cuti duluan. Repot kan?

Selama suami saya bisa cuti, saya ikut saja. Toh bos kecil saya tidak bakal komplain asal dia diajak.

Menjadi ibu rumah tangga juga berarti saya lebih leluasa “nebeng” business trip suami. Kebetulan dia bekerja di perusahaan yang sering mengirim karyawannya ke luar kota maupun ke luar negeri, untuk rapat maupun pelatihan.

Jadi, ketika suami ada rencana dinas luar, saya yang sibuk atur itinerary. Seperti misalnya ketika ia harus rapat di Balikpapan, saya dan Oliq jalan-jalan naik angkot ke Pasar Kebun Sayur. Ketika ia tugas di Batam, saya dan Oliq jalan-jalan ke Pulau Galang dengan mobil dan sopir sewaan.

Ketika suami harus bertugas ke Norwegia selama 3 minggu, saya dan Oliq duduk tenang di apartemen sewaan. Setelah saya selesai memasak, kami berdua akan jalan-jalan keliling kota, memberi makan bebek di danau yang masih separuh beku, melihat kapal-kapal besar di pelabuhan, mencari-cari mi instan asal Indonesia di toko-toko Asia, atau sekadar menikmati butiran salju yang menerpa.

Menjadi ibu rumah tangga jauh dari “terhina” apalagi “tertindas”. Tentu saja pilihan tersebut harus didukung oleh kedua pihak yang juga saling menghargai.

Ketika saya duduk di rumah, mengasuh anak, memasak, sambil menanti suami pulang, saya masih tetap dapat berselancar di dunia maya, memutakhirkan blog perjalanan yang kami kelola bersama, menulis cerita perjalanan untuk majalah dan situs media online, serta tentu saja berburu tiket promo untuk perjalanan kami berikutnya.

Sama juga ketika saya bertindak sebagai istri solehah mendampingi suami bertugas, saya masih bisa menyalurkan hobi jalan-jalan yang akan menjadi bahan tulisan berikutnya.

Menjadi ibu rumah tangga bagaikan blessing in disguise: semakin melancarkan hobi traveling kami berdua. Urusan biaya dari mana, wallahu a’lam, ada niat pasti ada jalan.

Justru sejak saya menjadi full time mom, frekuensi jalan-jalan makin banyak. Oliq yang baru berusia 2 tahun sudah pergi ke 8 negara. Tawaran menulis untuk majalan maupun buku semakin banyak, sampai harus menolak. Namun yang paling penting, keluarga kecil kami semakin harmonis dan bahagia. Hanya bisa bilang, Alhamdulillah Ya Allah.

Tulisan saya untuk ulangtahun pernikahan kami yang ke-3 bisa dibaca di sini. Rentetan perjalanan kami tahun 2012 dapat juga dibaca di sini.

Tulisan ini disertakan untuk GA-nya Emak Muna Sungkar: Blessing in Disguise

GA birthday

Advertisements

25 thoughts on “Siapa Bilang Ibu Rumah Tangga Nggak Bisa Jalan-Jalan?”

  1. menginspirasi banget mba 😀
    jadi membesarkan hati untuk berani mengambil jalan jadi penjaga rumah, meninggalkan dunia kerja lapangan yang bisa membawaku jalan2…
    Semoga memang kalo dah jodohnya jalan2 gak bakal ilang walo udah jadi penjaga rumah ya 🙂

    Like

    1. Makasih mbak Mindy. Selama kita ikhlas, go with the flow, sekaligus berusaha make the best of it, pasti jadinya happy

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s