Berpuasa di Negeri Orang: Marhaban ya Ramadhan


Sebenarnya kalau ditilik-tilik, saya hanya pernah mengalami puasa di luar negeri dua kali: di Australia dan Vietnam. Pengalamannya tentu saja berbeda, yang satu karena saya memang tinggal di sana, yang satu lagi iseng-iseng goblok liburan pas bulan puasa.

Puasa di Australia pas tahun 2005, wah udah lama banget ya. Saya kok kurang ingat itu musim apa, tapi seingat saya nggak terlalu berat juga (berarti bukan musim panas). Kebetulan saya tinggal dengan dua orang mahasiswa bukan dari Indonesia, dan saya sudah weling sama mereka kalau Ramadan sudah dekat. Artinya, mohon maklum kalau jam 4 pagi ada suara-suara dari dapur. Mereka sudah paham dan menghormati ibadah saya. Saya juga nggak njuk keterluan pagi-pagi buta goreng ikan asin sambal ekstra pedas!

Kebetulan komunitas Indonesia di sekitar Kampus Monash Clayton cukup kuat, terutama mahasiswa PhD-nya yang sudah berkeluarga, jadi lumayan banyak undangan buka bersama (sluruuup ngirit!). Tetapi seringkali saya harus kerja jadi terpaksa berbuka di tempat kerja.

Family of Lim's Nyonya Hut back then
Family of Lim’s Nyonya Hut back then

Saya bekerja sebagai pelayan di restoran Malaysia-Cina Lim’s Nyonya Hut sekitar 20 menit dari flat tempat tinggal saya. Tiap hari harus naik bus dari halte kampus. Tergantung dapat shift lunch, atau shift dinner. Setiap selesai kerja, selalu dapat jatah makanan, boleh mil

ih. Om Beng Lai Lim yang sebenarnya asli dari Medan dan menikah dengan Aunty yang asli Penang sudah tahu selalu membuatkan masakan yang HALAL. Saya satu-satunya pekerja mereka yang muslim.

Nah kalau dapat shift lunch, pulang sekitar jam 2-an sambil bawa rantangan buat buka, lumayan banget. Tinggal panasin saja. Menu favorit saya nasi lemak with beef rendang, rendangnya empuuuuuuk beda dengan banyak rendang di warung Padang di sini. Tapi sapi Australia memang lebih empuk sih.

Pas shift dinner, mulai kerja jam 15.30, biasanya dimulai dengan makan sore bareng. Nah kalau pas saya yang kerja pun mereka siapin makanannya yang halal juga. Kalau pas puasa, mereka makan sore, saya petikin daun mint deh! Kendalanya pas buka. Waktu buka biasanya tamu-tamu sudah banyak (untuk sekitar 40 kursi – hanya ada 1 pelayan lho, kecuali pas weekend). Kalau pas sepi Aunty biasanya siapin saya nasi sama lauk , jadi saya bisa makan. Nah kalau pas rame (dan hampir selalu ramai), saya biasanya membatalkan puasa dengan minum air keran saja. Baru setelah shift selesai (jam 22.30) saya dirantangin makanan untuk dibawa pulang. Naik bus jam 23.17 sampai rumah sekitar tengah malam, baru saya buka dengan makanan beneran. Favorit saya Penang Assam Laksa, dipanaskan lagi pakai microwave, ditambah irisan cabe rawit. Udah ga perlu sahur lagi!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Saya dan kampus bertahun-tahun silam

Kalau dipikir-pikir sekarang kok kuat juga ya baru makan pas tengah malam. Padahal kerja jadi pelayan di sana berat banget. Mulai dari nyiapin meja, nganter makanan, bersihin meja, nyiapin berbagai macam sambal, nyiapin minuman, sampai pulang harus ngangkatin kursi-kursi besi ke atas meja, nyapu dan ngepel. Kalau pas tamunya nonstop, pulang lutut udah gemetar tuh. Alhamdulillah kalau sudah niat memang tidak terasa berat.

Kalau pas ga kerja sih siangnya liyer-liyer di John Medley Library, bobokan karpet pake bantal-bantal besar sambil baca novel.

Nah Idul Fitrinya sangat berkesan, karena shalat Id di taman kampus bersamaan dengan kawan-kawan muslim dari negara lain. Setelah itu ada pot luck, yaitu kami membawa makanan apa saja yang dibuat sendiri dan diletakkan di meja-meja yang sudah disiapkan. Habis shalat, bisa makan apa saja yang tersedia, mulai dari wajik hingga samosa hingga makanan yang saya tidak tahu namanya, dan setelah dimakan pun tetap tidak tahu terbuat dari apa.

Tahun 2008, ketika kerja di Aceh, saya dan Mbak Yudit, memutuskan untuk mau lebaranan di Vietnam. Tiket AirAsia dibooking. Kebetulan waktu itu saya mau pindah kerja di Jakarta, jadi ketemuan sama Mbak Yudit di LCCT. Waktu penerbangan dari KL ke Ho Chi Minh City kami berbuka di pesawat.

Waktu di Vietnam kami ikut tur ke Delta Mekong. Tur ini termasuk jamuan minum teh dan makan siang gratis. Ladalah, saya dan Mbak Yudit harus menjelaskan pada pemandu kami bahwa kami nggak bisa ikutan makan/minum. Ya dia akhirnya ngerti walau agak lama. Maklum, muslim di Vietnam sangat sedikit. Sahur kami biasanya roti yang dibeli di minimarket 24 jam.

Sehari sebelum Idul Fitri, kami survei masjid dulu. Untuk tidak terlalu jauh, di Dong Du, kawasan Dhong Khoi. Esoknya kami ke sana pagi-pagi, masjid masih sepi. Makin lama makin ramai, jamaahnya dari berbagai bangsa. Setelah shalat Id selesai, khotbah dalam bahasa Vietnam, jadi kamu Cuma melongo. Ada petugas masjid yang memberikan gelang dari bunga melati pada masing-masing jamaah. Mungkin tradisinya demikian.

Setelah shalat Id di Masjid Dong Du, Saigon
Setelah shalat Id di Masjid Dong Du, Saigon

Dari bagian belakan shaf perempuan suara sangat berisik dan dalam Bahasa Indonesia!!! Malu juga kan WNI berisik kaya gitu pas Khotbah, mending juga melongo!

Selesai shalat kami jalan-jalan keliling Ho Chi Minh City, dan esoknya terbang ke Phnom Penh di Kamboja.

Marhaban ya Ramadhan semoga The Backpackologists diberi kesempatan untuk merayakan ramadhan di negeri orang lagi! Amin.

Advertisements

5 thoughts on “Berpuasa di Negeri Orang: Marhaban ya Ramadhan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s