“Monggo Pinarak” di De Wallen


“Cup, masak aku disuruh pinarak sama yang cantik,” Puput terbirit-birit menghampiri saya sambil mendorong stroller Oliq. Hidungnya kembang-kempis bangga.

Sekilas pengalaman kami datang ke Red Lights District di Amsterdam, Belanda. Kawasan prostitusi ini dikenal dengan nama demikian karena secara harfiah daerah ini memang penuh lampu merah. Gang-gang menggurita mengikuti kontur kanal yang memang menjadi ciri khas ibukota Belanda.

Kanal di De Wallen yang romantis
Kanal di De Wallen yang romantis

Karena rasa penasaran, baru pertama kali ke Amsterdam, De Wallen otomatis masuk ke agenda. Sore itu, sebelum matahari tenggelam, kami memutuskan untuk berjalan dari apartemen di Prinshenrikkade ke Red-Lights District.

“Emangnya jam segini udah pada dasar?” Puput bertanya.

“Padakke di Sarkem aja, ndadak dasaran! Siang juga katanya ada,” saya menimpali.

Jadilah kami berjalan menembus angin musim dingin. Sebenarnya sangat mudah jalan kaki di Amsterdam karena cukup stroller-friendly, dan jaraknya ke mana-mana dekat. Cuma gang-gang dan kanal-kanalnya agak membingungkan karena terlihat sama.

Kami sih waton jalan saja nanti juga ketemu. Dan benar saja, tidak lama kemudian kami melihat bangunan dengan jendela-jendela yang dihiasi lampu merah di atasnya. Sebagian masih tertutup tirai. Sebagian lainnya sudah terbuka, perempuan berbaju minim terlihat jelas dari luar.

Salah satu sex club
Salah satu sex club

Di gang-gang kecil ini kebanyakan para perempuan itu tidak muda lagi, jelas lebih tua dari saya. Bahkan mungkin sudah ada yang memasuki setengah baya. Semuanya berdandan menor. Semuanya mengenakan pakaian yang seksi, yang kadang bikin saya sendiri malu melihatnya. Ada yang berkulit putih, keturunan Afrika, dan Asia. Sebagian memamerkan “aset”-nya, menari sambil bergoyang erotis.

Kasihan mereka sebenarnya, pikir saya. Kebanyakan terlihat bosan, banyak yang sedang sibuk menelpon. Di sebuah rumah bordil, seorang pria sedang bertransaksi dengan salah seorang perempuan. Kawannya mengajak pergi sambil malu-malu. Entah akhirnya bisa deal harga atau tidak.

Di jalan yang lebih besar, di dekat kanal, lebih banyak perempuan yang masih muda dan lebih “seksi” (muda, ramping, dandanan tidak semenor yang tua, kostum lebih skimpy – kadang cuma tali-tali thok ). Mereka ini yang aktif mengetuk-ngetuk kaca jendela mengundang para potential customer. Di sinilah Puput disuruh pinarak.

Miris melihatnya, karena banyak juga yang usianya mungkin masih belasan tahun. Entah berapa yang mereka dapatkan sehari.

Jangan berpikir bahwa Pemerintah Belanda membebaskan prostitusi begitu saja. De Wallen dipelihara untuk mencegah penyebaran prostitusi ilegal. Di sini, paling tidak mereka aman, mendapat perawatan/pencegahan penyakit seksual, dan tidak boleh “berjualan” di jalanan, melainkan harus di dalam rumah bordil. Promosinya ya pakai etalase itu.

Di sini juga ada berbagai klub malam erotis, yang saya tidak tahu bagaimana isinya wong cuma lihat dari depan. Tepat di tengah kawasan ada salah satu gereja tertua di Amsterdam, yaitu Oudekerk.

Yang ethok-ethok malu disuruh pinarak
Yang ethok-ethok malu disuruh pinarak

De Wallen selalu menjadi must-see spot bagi para turis, yang datang hanya karena penasaran. Persis seperti kami. Wisatawan lebih baik datang berombongan walaupun sebenarnya daerah ini cukup aman. Kejahatan yang paling sering terjadi adalah tindak pencopetan. Korbannya adalah para turis yang cekikak-cekikik lihatin mbak-mbak De Wallen.

Pada malam hari, De Wallen sangat cantik dengan kanal dan lampu-lampu merah temaram. Kami sampai kembali lagi pada malam berikutnya untuk memotret lebih banyak. Puput yang ngajak, kayanya dia masih pengen diajak pinarak lagi sama mbak-mbak De Wallen. Tuh kan terus kualat, dan terjebak hujan salju di sini!

Gerobike = gerobak + bicycle :D
Gerobike = gerobak + bicycle 😀
Advertisements

12 thoughts on ““Monggo Pinarak” di De Wallen”

  1. Wah, jd dpt wawasan baru nih ttg negeri Belanda. Kasian jg mbak2 yg udh ‘berusia’ itu ya, Mbak?Masih hrs jualan dan bersaing dg yg muda2, cantik dan energik. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s