Menyerukan Perbaikan Sistem Taksi Bandara Adisutjipto


Alkisah, saya dan Oliq kemarin harus terbang ke Jogja tanpa disertai oleh Papa Krewel. Biasanya kami dijemput oleh mbahnya Oliq, jadi tidak perlu naik taksi dari bandara. Kali ini Ati dan Atung sedang berhanimun entah ke berapa ribu kalinya ke Morotai, jadilah kami terpaksa mencari taksi. Keadaan seperti ini pun biasa, mengambil taksi bandara (yang warna hijau dikelola AU) Rp 40 ribu ke Condong Catur – tidak pernah ada masalah sebelumnya walau pernah nggerundel karena merasa harga tersebut terlalu mahal, juga karena monopoli satu perusahaan taksi. Monopoli itu ndak bagus!

bandara Adisutjipto
bandara Adisutjipto

Jadilah malam tersebut, setelah Lion Air delayed 1 jam, kami tiba di Jogja. Hujan cukup deras. Jebulnya tidak ada armada sama sekali taksi bandara. Tukang-tukang taksi yang biasanya menawarkan dengan antusias pun tidak sebanyak biasanya. Bapak-bapak yang pakai seragam batik, bapak-bapak yang pakai baju hitam ala TransTV dengan tulisan Angkasa Pura di dada.
Lha kok, pas saya tanya harganya, mereka menawarkan kisaran Rp 80-100 ribu. Itu dari bandara sampai Condong Catur lho ya! Yang cuma sakplinthengan.Yang kalau naik mobil sendiri dan naik motor cuma 10 menit. Yang mik sak uthul-uthul cedhaknya.

Alasannya, macet. Saya tahu macet kalau musim liburan kaya gini, wong saya ya baru Senin sebelumnya dari Jogja. Tapi saya juga tahu macetnya cuma antara gerbang bandara Jl Solo sampai pertigaan ring road. Selepas itu lancar, paling sedikit tersendat di putaran jalan dan di lampu merah UPN-UII yang mau masuk ke Concat.
Sebagai warga gelap Jakarta (KTP Jogja tinggal di Jakarta nggak kerja – selain juga kulit gelap-gelap sawo matang), yang sebeginu itu nggak ada apa-apanya daripada di Jakarta. Bukannya saya memaklumkan ini, Pemerintah Provinsi DIY harus mencari cara bagaimana mengatasi kemacetan yang selalui menghantui Jogja saat akhir pekan dan liburan mulai sekarang. Kalau nggak, Jogja bisa jadi kata Bandung, macet total, semrawut dipenuhi mobil-mobil asing, jalan bolong.
Oke kembali ke masalahnya. Itu macete ga sepiro’o. Kalau saya minta ke Malioboro, atau Urip Sumoharjo, atau Demangan, nah itu bisa dibilang macet sepanjang jalan.
Harga diri saya bisa jatuh ke lubang buaya kalau mau naik taksi 80 ribu dari bandara ke Concat.
Akhirnya dengan menggeret koper besar (tapi ringan karena isinya kebanyakan pesawat-pesawat Oliq) menuntun Oliq, saya mencari peruntungan ke arah parkiran. Biasanya di situ ada taksi juga. Eh lha kok, nawaninya itu podo wae. Satu mas taksi sok cool bilang, saya sekalian mau pulang, makanya saya mau 75 ribu aja. Cuih. Ndulmu mas!
Nggak terima, saya nembus hujan nggendong Oliq dengan ransel berisi laptop dan iPad di punggung, plus nggeret koper. Menuju ke arah Jl Solo. Untung Oliq nggak rewel, kadang-kadang saya suruh jalan sendiri lha berat je. Sekarang kan ga pernah bawa gendongan lagi.
Di dekat Jl Solo akhirnya nemu taksi gelap Avanza. Bapaknya minta 60 ribu, saya tawar 50 ribu. Masih agak wajar lah, sedikit lebih mahal, tapi ga nuthuk nggilani.
Curhatan saya ini mungkin cuma sekelumit keluhan terhadap pertaksian di Indonesia. Pengalaman buruk dengan taksi ini sebenarnya tidak seberapa dibandingkan dengan ketika saya dan Puput di Hanoi, benar-benar hampir berkelahi fisik dengan sopir taksi.

loket taksi di bandara Adisutjipto
loket taksi di bandara Adisutjipto

Namun, Jogja sebagai destinasi pariwisata harus segera memperbaiki permasalah ini, selain juga permasalahan-permasalahan lain yang akan kami jlentrehkan dalam tulisan-tulisan lain. Tulisan ini justru menggambarkan betapa saya cinta Jogja. Lihat saja, blog ini saja isinya promosi Joja terus.
Ini poin-poin serius dalam permasalahan taksi di Jogja.
1. Alangkah lebih baiknya jika tidak ada monopoli taksi. Kalau pas taksi bandara-nya nggak ada kan jadi nggak karuan kaya gini. Kalau taksi bandara mampu menjamin ketersediaan armada, monggo saja.
2. Regulasi taksi-taksi yang mengangkut penumpang dari bandara. Sebaiknya semuanya diharuskan menggunakan argometer. Bila merasa argo saja tidak adil bagi pihak taksi, tentukan surcharge. Asal tarif jelas, calon penumpang tidak keberatan kok.
3. Adisutjipto itu gerbang wisatawan asing dan domestik lho ya. Kalau kesan pertama datang ke Jogja aja nggak enak, kan nanti liburannya juga jadi nggak enak. Apa pengelola bandara nggak malu sama bandara-bandara lain yang mampu menerapkan regulasi yang lebih jelas? Sultan, plis dong dibantu! KRMT Roy Suryo, baliho njenengan kan banyak banget di Jogja, mbok ya o ikut memperbaiki tanah kelahiran.
4. Kalau wisatawan njuk kapok gimana? Lha kalo saya mau nggak mau tetep pulang Jogja. Kan malu kalau Jogja dijelek-jelekkan di berbagai forum, misalnya di TripAdvisor atau di Thorn Tree-nya Lonely Planet.
5. Idealnya sih seperti Singapura, taksi berbagai perusahaan antri, jadi penumpang sakdapatnya. Tarifnya semua sama, dan semuanya reliable. Kalau misalnya menerapkan sistem seperti di Soekarno-Hatta, yang payu cuma taksi-taksi nggenah seperti Blue Bird, Express, Taxiku, paling pol Gamya.

Advertisements

5 thoughts on “Menyerukan Perbaikan Sistem Taksi Bandara Adisutjipto”

  1. memang parah taksi di jogya bu… sultan yogya sebagai gubernur sekarang hanya sebatas simbol saja… tidak bisa melakukan perbaikan perbaikan… jadi ya diterima saja dulu sampe ada gubernur seperti Ahok di yogya yg punya keberanian utk melakukan perbaikan

    Like

  2. Di bandara Soekarno Hatta juga hanya taxi tertentu. Tapi memang saya rasa lebih baik. Harganya juga gak nyekek leher.

    Bicara transportasi di Indonesia memang agak menyedihkan. Monopoli di mana-mana tapi kualitas gak ada perbaikan. Giliran ada yang menawarkan solusi malah didemo

    Like

    1. Tapi kan di soetta taksinya macem2. Mau yg premium ada, mau yg standar ada. Aku suka males antre bluebird biasa naik ekspress atau taxiku. Dan masih pakai argo walau bayar surcharge. Kalau jogja ini hadhooooo. Misal pakai argo plg cuma 25rb. Kalau taksi bandara bisa 80

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.