Candi Sojiwan, Sebuah Candi Unik yang Tersembunyi


Mungkin tak banyak yang pernah mendengar nama Candi Sojiwan, apalagi kalau ditanya letaknya di mana. Ya, Candi Sojiwan memang tak sepopuler Candi Prambanan, apalagi Candi Borobudur. Sebenarnya candi ini letaknya tak jauh dari Candi Prambanan, kalau jalan kaki mungkin hanya sekitar setengah jam, namun memang candi ini baru selesai dipugar pada tahun 2011, masih sangat baru dibanding candi-candi lainnya. Yang paling menarik adalah bentuk candi ini mirip Candi Prambanan, tinggi dengan bentukan seperti piramid diatasnya, namun bagian atasnya berupa stupa-stupa mirip yang ada di Candi Borobudur. Bisa dibilang candi ini seperti “perkawinan” antara Candi Prambanan dan Candi Borobudur.

Candi Sojiwan yang unik dan cantik
Candi Sojiwan yang unik dan cantik

Untuk mencapai candi ini sebenarnya cukup mudah, hanya saja lokasinya yang tersembunyi di balik perkampungan menjadikan candi ini tidak terlihat dari jalan raya. Dari arah Solo, persis sebelum batas propinsi DIY – Jawa Tengah yang terletak di depan Candi Prambanan, Anda bisa belok kiri. Jalannya beraspal dan sempit, namun masih cukup untuk mobil. Anda tinggal lurus terus hingga melewati rel kereta api, kemudian masih lurus terus (jangan belok kiri menyusuri rel kereta) hingga bertemu pertigaan berjalan aspal, lalu belok kiri. Anda akan menyusuri persawahan di sebelah kanan jalan dan perkampungan di kiri jalan. Kira-kira setelah 200 m akan terlihat bangunan Candi Sojiwan di kanan jalan.

Dari arah Jogja, lebih mudah jika Anda melewati Pasar Prambanan. Setelah bertemu pertigaan besar dengan lampu merah di depan Candi Prambanan, Anda tinggal belok kanan dan melewati Pasar Prambanan. Setelah lewat pasar, Anda akan melintasi rel kereta api, kemudian lurus terus hingga menemukan toko keramik besar di kiri jalan. Persis setelah toko keramik, Anda belok kiri memasuki jalan yang agak kecil namun tetap beraspal dan cukup untuk mobil. Anda tinggal lurus terus hingga mentok di pertigaan. Setelah mentok, Anda tinggal belok kiri. Di pertigaan ini ada petunjuk belok kanan kalau hendak ke Sumberwatu. Ingat, jangan belok kanan, tapi belok kiri. Anda tinggal lurus terus hingga menemukan pertigaan jalan aspal. Setelah bertemu pertigaan, Anda tinggal belok kanan dan menyusuri jalan ini hingga bertemu kompleks Candi Sojiwan di kanan jalan.

Candi Sojiwan terletak di Kabupaten Klaten, namun berbatasan dengan Kabupaten Sleman
Candi Sojiwan terletak di Kabupaten Klaten, namun berbatasan dengan Kabupaten Sleman

Candi ini terletak dalam kompleks yang cukup luas dengan taman yang asri dan terpelihara rapi. Ternyata memang kompleks ini baru diresmikan setelah dipugar ulang pada bulan Desember 2011 oleh Mendikbud Mohammad Nuh. Awalnya candi ini hanya berupa bangunan setengah jadi  yang terlihat seperti tumpukan batu saja. Mulai tahun 1996, candi ini direkonstruksi, namun malah runtuh gara-gara gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta dan sekitaranya pada bulan Mei 2006. Setelah gempa, candi ini dibongkar ulang untuk kembali direkonstruksi hingga berbentuk seperti sekarang. Kompleks candi ini terletak di Desa Kebondalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah. Untuk memasuki candi ini, Anda cukup mengisi buku tamu dan membayar seikhlasnya. Saran saya, bayarlah paling tidak 5000 per orang seperti tarif masuk candi-candi lainnya.

Candi Sojiwan adalah monumen dari jaman Dinasti Mataram Kuno abad VIII – X yang dibangun oleh Raja Balitung sebagai bentuk penghormatan untuk neneknya Nini Haji Rakryan Sanjiwana yang beragama Budha. Relief di kaki Candi Sojiwan memuat ajaran moral agama Budha dalam bentuk cerita binatang atau fabel. Di antara relief ini ada relief yang menggambarkan seekor kera yang menyiasati buaya sehingga bisa menyeberang sungai, mungkin mirip dengan cerita kancil yang kita kenal. Ada juga relief yang menggambarkan perlombaan antara garuda dan kura-kura.

Candi Perwara Stupa dan tumpukan batu-batu yang belum bisa direkonstruksi di kompleks Candi Sojiwan
Candi Perwara Stupa dan tumpukan batu-batu yang belum bisa direkonstruksi di kompleks Candi Sojiwan

Di sebelah bangunan utama Candi Sojiwan terdapat dua deret struktur Candi Perwara Stupa. Salah satu candi ini telah direkonstruksi dengan bentuk stupa yang lebih langsing dibanding stupa Candi Borobudur. Selain itu, stupa ini berbentuk padat, tidak berisi patung Budha seperti stupa Candi Borobudur. Ada pula struktur parit keliling di sekitar Candi Sojiwan. Pengunjung juga bisa menyaksikan tumpukan batu-batu purbakala yang belum bisa direkonstruksi.

Candi Sojiwan dan Stupa di dekatnya
Candi Sojiwan dan Stupa di dekatnya

Seperti dijelaskan di awal, Candi Sojiwan sendiri berbentuk unik dengan perpaduan bangunan Candi Prambanan dengan puncak Stupa Candi Borobudur. Candi ini cukup besar bila dibanding candi-candi lain di sekitar Candi Prambanan. Di depan candi ini terdapat bangunan seperti gapura yang umum terdapat di candi-candi lain. Di dalam candi ini hanya ada satu ruangan kosong, mungkin dulunya hanya digunakan untuk sembahyang dan menaruh sesaji. Kalau diperhatikan dengan seksama, banyak batu-batu candi yang masih baru menandakan banyak bagian candi yang merupakan hasil rekonstruksi. Namun hal ini justru mempercantik bangunan candi, tentu dengan tetap memperhatikan bentuk aslinya karena rekonstruksi ini tentunya hasil studi para ahli di bidang arkeologi.

Taman yang indah dan asri di kompleks Candi Sojiwan
Taman yang indah dan asri di kompleks Candi Sojiwan

Menurut saya, kompleks candi ini cukup cantik karena tamannya rapi dan bersih, melengkapi bangunan candi yang unik. Selain itu, candi ini sendiri diapit sawah-sawah sehingga menambah keasrian lingkungan sekitarnya. Cocok sebagai obyek fotografi maupun lokasi foto prewedding dan foto model. Apalagi candi ini masih relatif sepi sehingga Anda tidak banyak terganggu pengunjung lain. Jadi, jangan lupa sempatkan mengagumi candi unik ini jika berkunjung ke Yogyakarta.

Advertisements

5 thoughts on “Candi Sojiwan, Sebuah Candi Unik yang Tersembunyi”

  1. Dear mas puputaryanto: saya sebenarnya yang pertama kali tahu tahun 1996 saat acndi itu masih setengah tersembni didalam kuburnya…saat itu saja saya sudah melihatnya indah seperti yang mas paparkan di atas dan hasil foto mas pupuit sungguh menggambarkan keindahan candi perkawinan budaya Hindu dan Buddha. Kalau jaman nenek moyang kita saja sudah ada bentuk toleransi beragama mengapa saat ini malah ada pertentangan antar agama ya? Terima kasih posting tentang candi Sojiwan ini, saya sangat menikmatinya. Salam, Mb Nia

    Like

    1. Makasih mbak Nia atas komentarnya… wah, hebat juga sudah tahu candi ini sejak 1996, padahal pasti infonya sangat-sangat terbatas jaman itu… saya saja baru tahu belakangan ini, padahal saya lahir dan besar di Jogja. Moga2 candi ini bisa menginspirasi toleransi beragama di Indonesia yaa…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s