Culinary review : Mangut Lele Mbah Marto Nggeneng


Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, memang menyimpan banyak pesona wisata kuliner yang layak dijelajahi. Salah satu yang paling unik dan nyentrik adalah Mangut Lele Mbah Marto Nggeneng. Tentu Anda penasaran, apa sih yang berbeda di warung yang satu ini? Selain letaknya yang bener-bener nylesep alias tersembunyi, pengunjung langsung dipersilahkan menuju pawon alias dapur untuk mengambil makanannya. Semua menu disajikan prasmanan di atas bale-bale bambu khas pawon ndeso. Masakannya pun diolah diatas tungku batu berbahan bakar kayu, dengan cara tradisional. Asyiknya lagi, pengunjung bebas mengambil porsi nasi yang diinginkan, sangat cocok bagi Anda yang gemar makan porsi kuli.

Pawon Mangut Lele Mbah Marto Nggeneng, benar-benar khas dapur ndeso yang klasik
Pawon Mangut Lele Mbah Marto Nggeneng, benar-benar khas dapur ndeso yang klasik

Sebelum Anda bisa menikmati kelezatan unik Mangut Lele Mbah Marto Nggeneng, Anda mesti berjuang menemukan lokasinya yang tersembunyi, tanpa satu pun papan petunjuk. Warung ini tepatnya terletak di Dusun Nengahan, Ngiring-Ngiring, Panggungharjo, Sewon, Bantul. Dari pusat kota Jogja, silahkan menyusuri Jalan Parangtritis, atau lebih sering disebut Jalan Paris, ke selatan. Kalau Anda dari arah Solo atau Klaten, lebih gampang menyusuri Ringroad hingga bertemu perempatan Ringroad – Jalan Parangtritis. Perempatan ini terletak di Jalan Paris km 5. Dari arah Solo, Anda tinggal belok kiri dan memasuki Jalan Parangtritis. Setelah kira-kira 1,5 km, Anda akan menemukan Institut Seni Indonesia alias ISI di kanan jalan. Setelah ketemu ISI, kurangi kecepatan hingga bertemu Kantor Pos Sewon Bantul di kiri jalan. Hati-hati, kantor pos ini cukup kecil sehingga sering kelewatan. Kantor pos ini kira-kira cuma 100 m dari pintu gerbang ISI. Jadi kalau lebih dari 100 m Anda belum menemukan kantor pos ini, artinya Anda sudah kelewatan. Persis di seberang kantor pos, ada jalan kecil beraspal, tapi cukup untuk masuk mobil. Masuki jalan ini, kira-kira setelah 50 m ada pertigaan dengan petunjuk Masjid Baitussalam ke arah kiri. Masjid ini terlihat jelas dari pertigaan, persis di depan kuburan. Masuki jalan ke arah masjid ini. Kalau Anda melihat banyak mobil parkir, apalagi plat bukan AB, kemungkinan besar mereka adalah pengunjung warung Mbah Marto. Kalau tidak, dari masjid Anda bisa lurus atau belok kiri. Kalau lurus, Anda tinggal mengikuti jalan hingga berbelok ke kiri, ikuti saja sampai di sebelah kiri Anda akan menemukan warung kecil dengan spanduk Mangut Lele. Ini adalah warung milik anaknya Mbah Marto. Anda bisa parkir di sekitar warung ini. Kalau Anda belok kiri dari arah masjid, ikuti saja sampai ketemu pertigaan pertama, lalu belok kanan. Biasanya, sudah banyak mobil-mobil parkir sekitar jalan ini. Kalau masih ragu, tanya saja dengan bapak-bapak tukang parkir, beliau dengan senang hati mencarikan parkir dan mengantar Anda langsung ke warung Mbah Marto. Dari warung milik anak Mbah Marto, Anda masih harus jalan kaki 20 m, lalu belok kanan hingga menemukan rumah biasa, namun dengan meja dan lincak, kursi panjang dari bambu, yang terdapat di dalam maupun depan rumah. Ya, inilah warung Mangut Lele Mbah Marto yang legendaris. Anda akan takjub karena tak ada satu pun papan nama atau petunjuk lokasi warung makan ini. Penampakan luarnya pun jauh dari kesan warung makan.

Penampakan luar warung Mangut Lele Mbah Marto Nggeneng, tak jauh beda dari rumah kebanyakan dengan lincak alias kursi bambu yang khas
Penampakan luar warung Mangut Lele Mbah Marto Nggeneng, tak jauh beda dari rumah kebanyakan dengan lincak alias kursi bambu yang khas

Begitu sampai di warung, Anda akan dipersilahkan menuju pawon alias dapur. Penampakan dapur benar-benar masih tradisional,  lengkap dengan tungku batu berbahan bakar kayu. Masakan disajikan secara prasmanan di dalam wadah besar yang diletakkan di atas bale-bale bambu. Bau sangit alias asap dapur menyeruak dari tungku batu, namun tidak sampai membuat sesak napas. Biasanya, tetap ada simbah-simbah yang sibuk memasak atau sekedar menyiapkan bumbu-bumbu meskipun banyak pengunjung sibuk memilih makanan. Pengunjung bisa memilih mangut lele, pepes ayam, maupun gudeg tahu tempe telor dan krecek. Disini pengunjung dipersilahkan mengambil sendiri makanannya, termasuk nasi yang bisa diambil sesukanya. Pelayan hanya ada satu yang bertugas mengantar pesanan minuman dan membereskan piring-piring bekas pengunjung, termasuk mencucinya. Ya, terlihat sangat simpel namun unik.

Aneka menu Mangut Lele Mbah Marto Nggeneng, mulai dari lele, gudeg, krecek, hingga pecel ayam
Aneka menu Mangut Lele Mbah Marto Nggeneng, mulai dari lele, gudeg, krecek, hingga pecel ayam

Saya tentu mencomot seekor mangut lele di sini. Yang unik, lelenya cukup besar dan ditusuk dengan sebilah bambu. Tidak seperti umumnya mangut yang berwarna kuning, Mangut Lele Mbah Marto lebih didominasi warna merah cabe. Bau asap langsung tercium dari lele yang saya ambil. Ternyata memang lele ini diolah dengan cara diasap lebih dahulu, bukan digoreng.

Mangut Lele Mbah Marto Nggeneng yang legendaris, dengan lele besar dan bumbu cabe yang menggoda
Mangut Lele Mbah Marto Nggeneng yang legendaris, dengan lele besar dan bumbu cabe yang menggoda

“Wah, unik juga” pikir saya. Makin penasaran, saya coba membelah daging lelenya. Ternyata, teksturnya cukup ulet, beda dengan kebanyakan mangut lele. Inilah kelebihannya lele yang diasap, bukan digoreng. Akhirnya, saya coba mencicip daging dan kuah mangut lele ini. “Hmm, benar-benar gurih dan lezat,” kata saya. Bumbu-bumbunya benar-benar meresap ke daging lele yang lembut namun ulet. Bau khas asap dari kayu bakar juga menambah kenikmatan tersendiri. Meskipun penampakannya penuh cabe merah, tapi rasanya tidak terlalu pedas. Dipadukan dengan gudeg tahu dan tempe sangat pas. Di sini gudeg tahu dan tempe rasanya tidak manis, namun cenderung gurih dan ringan. Sepertinya hal ini sudah diperhitungkan agar rasa gudegnya bisa pas menemani rasa mangut lelenya.

Nasi-lele-gudeg tahu, perpaduan makanan ndeso yang mak nyosss....
Nasi-lele-gudeg tahu, perpaduan makanan ndeso yang mak nyosss….

Setelah puas melahap seekor lele dengan gudeg tahu, tiba saatnya membayar. Pengunjung dipersilahkan membayar langsung di dapur. Nasi Mangut Lele dan Nasi Garang Asem dihargai 25 ribu saja, artinya satu porsi Nasi Mangut Lele hanya Rp 13.000 saja dan Nasi Garang Asem hanya Rp 12.000. Kejutannya adalah gudeg tahu tempe telor gratis-tis. Kata Mbah Marto, gudegnya dianggap sayur, jadi masuk dalam paket harga Nasi Mangut Lele. Wah, ternyata harganya masih ndeso juga, benar-benar menarik. Minuman teh hangat atau jeruk hangat hanya 2000 rupiah. Saya juga pesan garang asem ati ampela untuk dibawa pulang, cukup dengan 6000 rupiah per bungkus. Krupuk dihargai 1000 rupiah per buah. Jadi, siang itu kami yang memesan 1 Nasi Mangut Lele lengkap dengan gudeg tahu, 1 Nasi Garang Asem lengkap dengan gudeg tahu, 1 teh anget, 1 jeruk anget, 2 krupuk, 2 garang asem, cukup menebus senilai 43 ribu rupiah. Benar-benar puas, suasana unik, rasa menggigit, harga paling asik. Tak heran, warung ndeso nylesep ini selalu menjadi tujuan wisata banyak orang, termasuk saya. Jadi, kalau Anda memang mencari sesuatu yang unik dari Jogja, jangan lupa berkunjung ke Mangut Lele Mbah Marto Nggeneng.

Advertisements

10 thoughts on “Culinary review : Mangut Lele Mbah Marto Nggeneng”

    1. Gak usah kuatir, udah jelas kok petunjuk di blog ini, kalau msh bingung pas sampai masjid baitusalam tanya orang aja, pasti langsung tahu… mbah marto udah biasa liat kuli2 dan anak kuliahan yg makannya segunung 😛

      Like

  1. Sori Oom, mantaf inpormasinya…menarik untuk dikunjungi… tapi soal harga ini bukan harga ndeso Oom… misalnya… teh hangat cuma 2000… di langganan saya di kota Jogja cuma 1500…… Krupuk 1000…. di langganan saya cuma 500…. Jadi menurut saya harganya ndak termasuk murah… menurut saya sudah harga kota besar walaupun tempatnya di desa… nuwun mas… nyuwun ngapunten…..

    Like

    1. Makasih komennya mas… memang harga relatif sih, kalo dibanding warung-warung ngetop di Jogja masih termasuk murah, tapi kalo dibanding warung-warung ndeso biasa ya jelas lebih mahal… oya, omong2 dimana langganan sampeyan ya? kayaknya menarik dikunjungi juga 🙂

      Like

  2. warung andalan suami ku ……. kapanpun pengin, langsung meluncur ….kemarin juga habis beli mangut disini ….habisnya uenaaaaaaaaaaakkkkk bgt

    Like

    1. Kalau pas hari H lebarannya ga tau ya mas, mungkin setelah itu buka. Pasti rame banget pengunjung luar kota.

      Like

  3. Hai,
    Terima kasih banyak atas blog post ini. Tadi saya barusan ke warung ini buat makan lele, dan satu-satunya petunjuk adalah dari blog post ini. The clear direction is very helpful. Thanks sekali lagi.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s