Travel Light or Not? Berkemas a la Backpackologist


Saya baru saja berkemas untuk liburan akhir pekan panjang esok dan kepikiran untuk nulis tentang masalah packing ini. Sebenarnya saya dan Lala (guest blogger untuk seri Traveling dengan Anak-Anak) pernah menulis kiat-kiat Berkemas Ringkas Walau Bawa Balita. Kali ini, saya hanya menuliskan pengalaman saya packing secara umum saja.

Oliq the backpacker

Standar kami dulu sebelum punya Oliq adalah satu ransel di punggung Puput, satu ransel di punggung saya (berlaku juga waktu hamil 5 bulan saat ke India), tas kamera ransel di dada Puput, dan tas kamera cangklong di bahu saya. Kami memang bisa dikatakan penganut light travelling. Ranselnya juga ga gede-gede amat, maksimal yang 40 liter, itu sudah cukup untuk backpacking keliling Malaysia 2 minggu. Penampilan Puput persis kaya kura-kura yang lagi hamil besar!

Nah sejak ada Oliq, agak lebih beradab lah bawaannya. Lha gimana bisa cuma nggendong ransel kalau harus bawa popok sekali pakai sebungkus, belum lagi waktu Oliq masih sok-sokan MPASI rumahan (sekarang sih apa2 langsung diemplok). Terus ada juga stroller dsb. Pokoke mustahil kalau ga bawa koper. Tapi masih terhitung light traveler juga soalnya pas umroh saja kami hanya bawa 1 koper besar untuk bertiga (kompor listrik dan panci sudah termasuk, pampers seminggu juga udah masuk).

Lalu apa saja yang perlu diperhatikan dengan dalam urusan packing mempacking ini?

1. Lama liburan. Semakin lama semakin banyak bawaannya, sampai titik tertentu. Maksudnya? Bawaan kami untuk liburan 2 minggu akan sama banyaknya dengan liburan 3 minggu. Kan ga mungkin bawa baju untuk 3 minggu, pasti kudu nyuci juga akhirnya.

2. Destinasi dan iklim/cuaca. Ke Eropa pas musim dingin bawaannya pasti membludak karena harus bawa winter coat dan tetek bengeknya yang sangat memakan tempat. Kalau kami ke Jogja, misalnya, nyaris ga bawa apa-apa, karena biasanya ada baju-baju Oliq ditinggal di rumah mbah-mbahnya. Tapi biasanya balik ke Jakarta bawa satu koper besar yang isinya hasil bumi semacam: tempe mendoan, lanting, krupuk-krupukan, bacem-baceman, sayuran dll. Liburan ke pantai bukan berarti bawaan jadi sedikit. Ya kalau bawanya hanya celana-celana pendek dan kaos mbethong sih bener, tapi hitung juga baju renang, kacamata renang, fin dan perkakas snorkeling, peralatan bikin istana pasir. Apalagi kalau punya bojo kaya Puput, bisa jadi satu koper besar sendiri khusus buat peralatan diving.

3. Transportasi. Kalau naik maskapai murah yang bagasi bayar, mendadak enggan bawa koper. Kalaupun terpaksa, dipepetkan jadi 1 koper saja kurang dari 15kg. Kalau naik maskapai yang bagasinya ga mbayar ya lebih santai. Saya biasanya malah menggila kalau kami mau road trip naik mobil. Berhubung mobil juga cuma diisi kami bertiga, bagasi luas, bawa bajunya suka sembarangan saja. Lebih juga ga rugi, ga berat lagi. Belum lagi berbagai cecemilan buat Pak Sopir yang harus sering-sering disuapin karena memang ngantukan. Bawa mainan Oliq pun jadi lebih gampang, dia ga lagi disuruh milih 2 pesawat mana yang harus dibawa, bisa bawa 5 sekaligus (dari sekitar 25 pesawat Oliq).

Raw food and bebumbon (spices)
Raw food and bebumbon (spices)

4. Liburan atau dinas. Kami sekeluarga pernah 2x ke Eropa, yang pertama karena memang pergi liburan jadi barang bawaan dipaksakan hanya satu koper. Kenapa? Karena kalau liburan bayar sendiri artinya ke mana-mana naik transportasi umum. Repot banget kalau bawaan banyak, plus bayi, plus stroller. Nah pas ke Norwegia, kami bawa 2 koper, selain karena di sana hampir 3 minggu, bahan makanan/masakan yang dibawa lebih banyak (di negara paling makmur sedunia ini semuanya muahallll, susah lagi cari yang Asia-Asia gitu, terong aja saklenjer 20rb). Selain itu, ini liburan nebeng business tripnya Puput, jadi transportasi dari bandara ke hotel/apartemen bisa naik taksi. Coba kalau bayar sendiri itu taksi 15km aja kena sekitar Rp 1 juta.

5. Kondisi di tempat tujuan. Misalnya di akomodasi di tempat tujuan tersedia mesin cuci, enak sekali ga perlu bawa baju banyak-banyak. Kalau di kota tempat tujuan ga banyak pilihan resto/warung/grocery store yang jual makanan sesuai lidah kita, alhasil kudu bawa indomie, abon, sarden dll. Untuk daerah seperti ini saya biasanya bawa rice cooker kecil plus beras.

Sekian dulu curhat saya masalah packing, saya akan nerusin packing untuk liburan tiga malam di Ujung Genteng Sukabumi. Cerita tentang pantai-pantai indah ini akan menyusul!

Advertisements

One thought on “Travel Light or Not? Berkemas a la Backpackologist”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s