Pengalaman Diusir dari Pesawat


Sebenarnya sudah beberapa waktu saya ingin bercerita tentang kejadian paling memalukan dalam sejarah per-traveling-an kami ini, tapi mungkin alam bawah sadar menghalanginya jadi lupa-lupa terus. Ya, kami diusir dari pesawat!

Menuju Terminal 3 di Changi
Menuju Terminal 3 di Changi

Alkisah, setelah Oliq terkena diare dan mondok semalam di rumah sakit dua bulan lalu, kami memutuskan untuk berakhir pekan ke Singapura sebagai bagian dari pemulihan fisik dan psikis anak kami yang lucu itu. Berangkatlah kami menggunakan pesawat Garuda, Oliq masih agak rewel karena belum pulih benar.

Setelah dua hari keliling-keliling Singapura, naik Singapore Flyer, naik ke Marina Bay Sands, nongkrong di Gardens by the Bay, jjs di Chinatown, dan sebagainya, tibalah saat untuk pulang.

Sehari sebelumnya saya sudah tanya sama Puput, pesawat pulang jam berapa. Dia jawab, mantap, tagas, “Jam sepuluh.”

Keesokan harinya kami berangkat pukul 8 pagi, kan di Singapura ga ada macet gitu. Kebetulan nginepnya di daerah Outram, jadi tinggal jalan ke stasiun naik MRT dan pindah di Stasiun Tanah Merah. Sampai Changi tepat  jam 9, langsung buru-buru check –in.

Agak kesusu gitu kami naik monorel ke gate-nya. Di gerbang gate (opo meneh iki bahasane) dicek dulu boarding pass masing-masing karena yang boleh menunggu di dalam gate hanya yang pesawatnya sudah mendekati boarding. Kami dipersilakan masuk.

Baru duduk sebentar sudah ada panggilan masuk ke pesawat. Okelah kami masuk, saya sambil nggendong Oliq, Puput ngurusi strollernya. Duduk manis di kursi 8A dan 8B. Para penumpang lain masuk dan menempati tempat duduk masing-masing. Oliq tepe-tepe dengan mbak-mbak di kursi 7B.

Tiba-tiba seorang bapak petugas tergopoh-gopoh masuk dan bertanya pada Puput, “Bapak pesawat jam berapa?” Puput dengan yakin menjawab, “Sekarang.” “Lihat boarding pass Bapak,” kata petugas itu lagi. Puput menunjukkan boarding pass kami dan ternyata waktu boarding adalah pukul 11.35. Si petugas menyuruh kami cepat-cepat keluar dari pesawat. Kami terpaksa membawa ransel-ransel, mencangking Oliq, melawan arus penumpang yang masuk.

Puput masih ngeyel, merogoh saku untuk mengecek waktu penerbangan di tiket asli. Ternyata memang pesawat pukul 11.55, bukan 10.00. Wis jan nggonduk puoool. Mbak-mbak pramugari sampai berseru-seru, “Ada apa, Pak. Ada apa, Bu?” Sudah kadung nggonduk kami ga jawab. Mungkin dikira kami bawa bom atau apa gitu.

Menyambar stroller yang tergeletak di garbarata, kami kembali menuju ke ruang tunggu. Puput mutung berat, katanya seharusnya petugas kan memeriksa boarding pass kami. Dua kali kok bisa lolos pemeriksaan, disuruh masuk begitu saja. Si bapak petugas mengakui stafnya memang lalai. Digiringnya kami keluar dari ruang tunggu gate. Da*n!

Oliq yang terpaksa nunggu
Oliq yang terpaksa nunggu

Simboklah yang akhirnya mutung berat, merasa sama sekali tidak pernah melihat tiket dan boarding pass. Bersumpah lain kali tidak akan mempercayakan begitu saja pada suami. Apalagi suami yang sangat cucup seperti Puput, yang — misalnya — sudah pakai helm, masker, celana pendek dan sepatu kets untuk berangkat ke kantor tapi sepeda malah tidak dibawa.

Kemudian Simbok mengembat chicken curry semangkok besar.

Simbok, Papa Krewel, dan Oliq diusir dari pesawat Garuda di Changi. Merasa seperti baru pertama kali naik pesawat!

Advertisements

15 thoughts on “Pengalaman Diusir dari Pesawat”

  1. ahahahahaha…. it’s your best story. Nek kowe bisa akses kamera di kantorku yg ada ribuan ini (*lebay) pasti bisa liat aq lagi ngakak. sumpah! huahahaha… sejak pacaran pun aq sdh tau ga akan seratus persen percaya pada bapak2 itu utk urusan kaya gini 😀 btw, aq feeling guilty neh, msh utang rendang… opo sisan buat bekal puasa piye? hihihihi… kiss buat oliq

    Like

    1. Huahahahha best story muncul besok… Nek bojoku parah banget pokoke.Iya rendang boleh pas puasa, lumayan buat sahur

      Like

  2. Hahahaha Selalu nunggu cerita perjalanan si mbak dan keluarga. Moga ini jadi pelajaran yak mbak buatku dan buat orang-orang yang pasti banyak juga nih yang kejadian kek gini….

    Slam hangat selalu mbak. muaaahhhh :*
    Zia

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s