Traveling dengan Anak-Anak Part 18: Jadi Kutu Loncat Pantai-Pantai di Bali


Bali adalah salah satu destinasi favorite saya. Walau sudah puluhan kali berlibur ke Bali, tetapi rasanya setiap kali kesana saya selalu menemukan hal baru yang membuat saya selalu ingin kembali. Sebelum hamil anak kedua, Fiamma, setidaknya sekali setahun saya ke Bali sejak selesai kuliah, pulang dan tinggal kembali di Indonesia.

Bali, tujuan wisata favorit (hampir) semua orang!
Bali, tujuan wisata favorit (hampir) semua orang!

Liburan tahun ini, untuk pertama kalinya saya ke Bali lagi setelah absen 2 tahun terakhir, dan terasa lebih spesial karena inilah pertama kalinya anak-anak saya, Raissa (3.5 tahun) dan Fiamma (1.5 tahun) ke Pulau Dewata. Seharusnya liburan ini adalah liburan keluarga kecil saya dan Kris. Tetapi pada saat-saat terakhir, Kris batal berangkat karena pekerjaan kantor yang tidak bisa ditinggal. Sempat terpikir untuk membatalkan saja liburan karena agak gentar membayangkan pergi bertiga saja dengan dua balita, tetapi bayangan akan menghanguskan 4 tiket pesawat lebih menakutkan buat saya. Jadilah saya meyakinkan diri untuk pergi liburan bertiga saja. Liburan “girls only” dengan banyak hal pertama kali terjadi.

Saya mengambil penerbangan terakhir ke Bali yang berangkat hampir jam 9 malam dari Soekarno-Hatta. Jadwal penerbangan yang tepat menurut saya karena selain cukup waktu untuk mengejar pesawat setelah jam kerja kantor, selama penerbangan anak-anak tertidur lelap sesaat sebelum pesawat lepas landas. Untungnya saya sudah berulang kali berbicara ke Raissa meminta pengertiannya kalau saat tiba di Bali nanti dia harus bangun dan berjalan sendiri selama proses pengambilan bagasi di bandara sampai tiba hotel. Saya sampaikan padanya bahwa saya tidak mungkin bisa menggendong dia karena Fiamma pasti tidur dan harus mengurus koper dan tas bawaan kami.

Perjalanan berjalan mulus dan ketika mendarat di Bali mendekati tengah malam, Raissa tidak rewel ketika dibangunkan dan walaupun mengantuk mampu terjaga dan baru tidur kembali sesudah sampai di kamar hotel. Sedangkan Fiamma tetap tidur dalam gendongannya yang sudah saya pakai sejak masih di dalam pesawat dan baru bangun keesokan harinya di hotel.

Kami menginap di daerah Seminyak yang jauh dari hingar bingar namun lokasinya strategis karena mudah mencari taxi dan dekat dengan tempat makan, termasuk restoran cepat saji yang buka 24 jam. Walau tidak bisa jalan ke pantai, tetapi jasa gratis mengantarkan tamu ke pantai Kuta dan Double6 tiga kali sehari tersedia di penginapan kami. Saya merekomendasikan penginapan di sekitar Jl. Nakula ini.

Kutu Loncat Pantai

Sebagai warga Jakarta, pilihan rekreasi dengan kegiatan luar ruangan tidak banyak. Karenanya saat merancang agenda selama di Bali, aktivitas di alam terbuka terutama di pantai adalah tujuan utamanya. Memang Bali terkenal dengan pantainya yang indah bukan?

Perahu-perahu di Pantai Pandawa
Perahu-perahu di Pantai Pandawa

Sebelum berangkat pun saya sempat ngobrol dengan teman yang baru kembali dari liburan keluarga di Bali. Kebetulan teman ini juga mempunyai dua anak seusia Raissa dan Fiamma. Si teman ini mengatakan dari pengalaman liburannya, anak-anak balitanya lebih menikmati berenang di kolam renang hotel dan bermain pasir dan ombak di pantai daripada ketika mengunjungi tempat wisata berbayar untuk melihat hewan atau melihat tarian tradisional Bali yang dandanan penarinya menakuti anak-anaknya. Mungkin anak-anak usia 7 tahun keatas akan lebih menikmati kunjungan ke tempat-tempat wisata berbayar dimana mereka bisa melihat kehidupan berbagai binatang bahkan naik gajah.

Berbekal tips dari teman tersebut, saya mantap mengisi agenda liburan dengan beach hopping, keliling mengunjungi berbagai pantai. Pantai pertama yang kami datangi adalah pantai terkenal yang dekat dengan penginapan kami, tentunya pantai Kuta. Menurut saya, semua turis yang ke Bali harus menyempatkan diri untuk mampir ke Kuta. Daerah Kuta yang membuat Bali dikenal sedunia dengan ombaknya yang cocok untuk belajar selancar, deretan warung dan tempat dugem yang memberikan gaya hidup berlibur khas dan unik. Gaya hidup ini yang sering melontarkan ungkapan ”Ini Bali, bedaaa” untuk menjustifikasi dalam mengambil tindakan di luar kebiasaan atau bahkan keberanian.

Namun, saya pernah ke Bali saat pantai Kuta dalam kondisi penuh sampah. Tentunya saya tidak mau anak-anak bermain dilingkungan yang tercemar, sehingga saya menyiapkan rencana cadangan bila Kuta terlalu kotor untuk tempat bermain anak-anak, saya akan pindah ke pantai sebelahnya yaitu Double6 atau juga dikenal dengan Blue Ocean, yang hampir pasti selalu jauh lebih bersih daripada Kuta. Untunglah, saat kesana pantai Kuta bersih. Tidak ada tumpukan sampah di pantai maupun di sepanjang jalan-jalannya. Raissa dan Fiamma langsung lari berhamburan bermain ombak.

Raissan dan Fiamma, si anak-anak pantai
Raissan dan Fiamma, si anak-anak pantai

Di sepanjang Kuta, selain pedagang makanan minuman, banyak penjaja jasa untuk pijat, kepang rambut, sampai sekolah belajar berselancar (surfing). Ombak di pantai Kuta memang cocok untuk belajar selancar dan peselancar pemula.Raissa sangat tertarik melihat jejeran papan selancar dan bolak balik menanyakan kegunaannya. Anak saya yang satu ini memang senang mencoba belajar hal baru, apalagi kalau hal tersebut berkaitan dengan air. Saya jadi tertarik mencari info mengenai surf camp untuk anak-anak, dan ternyata memang usianya masih terlalu muda. Anak-anak baru bisa belajar berselancar mulai usia 4 tahun, namun asuransi hanya akan men-cover anak-anak yang belajar berselancar di usia 6 tahun keatas.

Di hari kedua, saya berniat membawa mereka ke pantai di daerah Jimbaran, Uluwatu.

Sebelumnya saya sudah pernah ke Pantai Karma Kandara dan Dreamland yang sudah terkenal sebagai pantai pasir putih yang bersih hingga menyilaukan mata. Namun, kali ini saya ingin tempat yang lebih sepi lagi. Dari hasil membaca disana-sini, saya tertarik untuk menyambangi Pantai Bingin.

Bermain pasir dan ombak di Pantai Bingin
Bermain pasir dan ombak di Pantai Bingin

Saya mengetahui tentang Pantai Bingin dari suatu artikel yang mengatakan ini adalah pantai tersembunyi bagaikan surga bagi para perselancar. Karena setiap pagi kami selalu memulai hari dengan berenang di kolam renang hotel, hari itu masih dilanjutkan dengan mampir ke department store untuk membeli cetakan pasir dan alat-alat lain seperti ember, sekop dan penggaruk untuk membangun istana pasir; dan ke Sangeh untuk bercengkrama dengan monyet, sehingga perjalanan ke Pantai Bingin baru dimulai sore hari.

Disinilah banyak kesalahan yang saya buat. Perjalanan ke Pantai Bingin sebenarnya dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1.5 jam saja, tapi saya sempat tersasar saat mencari lokasinya. Ketika jam hampir menunjukan pukul 5 sore kami baru mendekati pantai Padang-Padang yang dipenuhi oleh pengunjung yang ingin melihat matahari terbenam. Saya sempat terpikir untuk berhenti dan bermain disini saja, namun ketika menanyakan berapa jauh lagi perjalanan ke Pantai Bingin, tukang parkir mengatakan tidak jauh hanya 5-10 menit lagi saja. Saya pun tergoda dan melanjutkan perjalanan.

Setelah kesasar ke Pura Uluwatu dan Pantai Sulubhan, akhirnya kami sampai di tempat parkir mobil Pantai Bingin lewat jam 5 sore. Saya bertanya ke penduduk lokal arah jalan ke pantai, sambil menunjukan arah semua bertanya balik kenapa kami datang begitu sore. Apakah akan menginap? Mengetahui kami tidak berniat bermalam disitu, mereka menyarankan agar berpikir ulang untuk turun ke pantai. Mereka menggambarkan medan perjalanan ke pantai yang curam dan gelap saat malam tiba. Saya pun sempat terpikir untuk balik badan tetapi Raissa sudah penasaran ingin bermain di pantai lagi dan membangun istana pasir dengan mainan barunya.

Kami pun melanjutkan petualangan menuruni tebing curam Pantai Bingin. Setelah jalan setapak dari bata yang cukup mulus selama 10 menit, jalur turun digantikan dengan tangga dari bebatuan. Barulah saya memahami mengapa penduduk yang kami temui menyarankan untuk berpikir ulang mengunjugi pantai. Tangga bebatuan yang membuka jalan ke pantai terbentang panjang dan zig zag ke kanan ke kiri. Tidak ada pegangan dipinggiran sepanjang tangga. Saat malam hari tidak pencahayaan lampu yang tersedia, sehingga pengunjung yang menginap disana selalu membekali diri dengan senter. Pantai Bingin benar-benar pantai yang tersembunyi dengan medan yang sulit hanya cocok untuk pecinta pantai dan pencari ombak sejati yang niat bersusah payah berada jauh dari keramaian.

Kami berhasil mencapai pantai sebelum matahari benar-benar terbenam. Begitu berada di pasir, Raissa langsung sibuk mengeruk pasir, mengisi ember untuk membangun istana. Sayang kami tidak bisa berlama-lama disana. Baru setengah jam disana, matahari pun tenggalam dan daerah sekitar berangsur gelap. Kami bergegas kembali ke arah tangga untuk naik kembali ke tempat parkir. Sambil menggendong Fiamma, saya terengah-engah mendaki tebing yang curam. Untung Raissa mau jalan sendiri dan tidak sekali pun minta digendong. Bahkan dia melarang saya berhenti untuk beristirahat karena dia lebih takut dengan keadaan yang gelap daripada merasakan capeknya naik ratusan tangga.

Untung kami bertemu dengan seseorang yang membawa senter dan mendampingi kami sambil memberikan penerangan di setapak yang kami lalui. Bli Nyoman bahkan mengambil alih menggendong Fiamma setelah beberapa saat dan membimbing saya menyetir kembali sampai Seminyak.

Hari berikutnya adalah hari terakhir kami menjadi kutu loncat pantai. Pantai yang kami kunjungi masih di daerah Uluwatu, tepatnya di desa Kutuh. Sebelum resmi dinamai Pantai Pandawa oleh pemerintah daerah setempat pada Desember 2012, pantai ini disebut Secret Beach atau Pantai Rahasia. Pantai dulunya sebuah desa nelayan yang penduduknya juga bertani rumput laut, sekarang menjadi salah satu primadona baru di Bali.

Untuk mencapai ke Pantai Pandawa sebenarnya tidak susah. Jaraknya pun relatif dekat dari Kuta. Hanya 30 menit naik mobil. Bila mengandalkan GPS dari handphone, Pantai Pandawa maupun Desa Kutuh tidak dikenali. Baru ketika saya memasukan lokasi tujuan Bali Cliff, GPS mampu memunculkan petunjuk jalannya. Dari Jalan Bali Cliff tinggal mengikuti papan petunjuk yang mengarahkan sampai Pantai Pandawa.

Pantai Pandawa, primadona baru di Bali
Pantai Pandawa, primadona baru di Bali

Pantai ini menjadi pantai terindah dalam liburan kami kali ini. Pantainya benar-benar indah. Ombak nya pun pecah dekat ke bibir pantai. Yang paling menyenangkan adalah pengunjungnya masih sedikit. Setelah membayar sewa IDR 50.000, kami mendapat 2 kursi pantai dibawah payung. Kami baru benar-benar puas bermain ombak dan pasir disini. Selain berenang di laut, pengunjung juga bisa melakukan parasailing.

Setelah hampir 3 jam, baru kami meninggalkan pantai dengan setengah hati untuk mencari makan siang. Saya sengaja mencari makan siang di Denpasar karena rata-rata makanan yang dijual di jejeran warung di pinggir pantai hanya menawarkan mie instan. Sedangkan walau tidak terlalu tegas dengan urusan makanan saat berlibur, tetapi restoran bertebaran di Bali. Saya pun memilih pergi ke restoran yang menghidangkan makanan baik dan sehat untuk anak-anak karena setelah makan siang kami akan pindah menginap di pedesaan, dikelilingi sawah.

Rasanya tiga hari bermain di pantai di Bali masih kurang. Masih banyak sekali pantai yang belum didatangi. Saya berniat akan mengunjunginya satu per satu dengan kedua anak pantai saya.

Bali sangat cocok untuk wisata keluarga bersama anak-anak
Bali sangat cocok untuk wisata keluarga bersama anak-anak

Rekomendasi dan tips berlibur di Bali:

1. Penginapan sangat banyak sehingga harganya pun bersaing. Jangan terpaku dengan hotel berbintang karena penginapan tanpa bintang pun sangat nyaman. Dengan harga kisaran IDR 300.000 sudah bisa menginap di kamar modern yang bersih dilengkapi AC, air panas, toilettries, kulkas kecil, termasuk sarapan dan terdapat fasilitas kolam renang. Banyak juga penginapan dibawah harga tersebut dengan kamar yang lebih sederhana namun tetap nyaman.

2. Bila berpergian dengan anak, menyewa mobil patut dipertimbangkan. Tarif menyewa mobil kecil city car tanpa supir adalah IDR 150.000/24 jam. Jauh lebih hemat dibandingkan mengandalkan taxi untuk pergi ke berbagai tempat wisata.

3. Bali memiliki banyak pantai yang indah. Selain daerah Selatan pulau, beberapa pantai terindah di Bali berada di sepanjang pesisir Timur sampai Timur Laut. Jangan ragu untuk berpetualang ke pantai selain Kuta, Seminyak, Sanur, Nusa Dua dan Uluwatu.

4. Bawa atau beli cetakan pasir plastik. Membangun istana pasir sangat menyenangkan, tidak saja untuk anak kecil tapi juga orang dewasa.

5. Jangan lupa membawa lotion pelindung sinar matahari, kacamata hitam, dan topi. Bila tidak mau repot, semua barang tersebut dapat dibeli di Bali. Bahkan untuk kacamata hitam dan topi, banyak pilihan yang tersedia dengan harga sangat murah. Dengan modal IDR 25,000 saya membeli 2 kacamata cengdem untuk anak-anak.

6. Saat berpetualang ke tempat yang belum familiar, bekali diri dengan senter dan handphone dalam keadaan batre penuh.

Cerita ini ditulis oleh Lala Amiroeddin, penulis tamu untuk seri traveling dengan anak-anak. Petualangan Lala dengan keluarganya dapat dibaca di Skippin Troupe

Advertisements

18 thoughts on “Traveling dengan Anak-Anak Part 18: Jadi Kutu Loncat Pantai-Pantai di Bali”

    1. Waduh Mas Humam, sebelumnya mohon maaf saya telat sekali membalasnya. Saya 4 bulan terakhir ini sempat menghilang dari dunia maya. Semoga info yg saya berikan masih bermanfaat.

      Hotel tempat kami menginap namanya Arana Suite. Mungkin untuk info yg lebih lengkap bisa mampir ke skippintroupe.com.

      Untuk sewa mobil, saya ada 2 rekomendasi. Yg saya sewa saat liburan kali ini dgn Dede no telp: 081558879157. Yg satu lagi Nyoman yg membantu saya di Bingin Beach, no hp nya: 081337497736.

      Like

  1. Makasih Mba Rita. Raissa baru saja ultah yg ke-4 September kemarin. Untung kedua anakku cukup mudah diajak berpetualang mungkin krn sudah terbiasa diseret kesana kemari dari kecil.

    Untuk sewa mobil, saya ada 2 rekomendasi. Yang saya sewa saat liburan ini pemilik mobil namanya dede, no telp: 081558879157. Yg satu lagi Nyoman yg membantu saya di Bingin Beach. No hp.nya: 081337497736. Saya belum pernah menyewa dari dia tapi sgt terkesan dengan keramahannya yg semoga menjadi pertanda baik.

    Selamat berlibur ke Bali. Salam pantai dari Raissa yg sampai sekarang masih suka nanya kapan dia pergi ke Bali lagi 😀

    Like

    1. Waahh selamat ultah utk Raissa… sehat-sehat sayang supaya bisa petualang terus sama bunda…

      Makasih infonya Mba, InsyaAllah Januari nanti keluarga kecil kami mau berlibur ke Bali

      Semoga Papanya anak2 tidak mendadak berhalangan, karena bisa2 kejadian juga seperti cerita mba lala ini kalo sampai kejadian. Aku sama spt mba lala punya 2 putri jaraknya dekat, yg besar 4,5th yg kecil 3th… hihihi

      Like

  2. Tulisannya bagus dan informatif.
    Kalau untuk makanan, ada tips gak buat cari yang halal?
    Maklum belum pernah wisata ke Bali, pingin kesana bareng istri dan 2 jagoan kecil saya 🙂
    Terima kasih

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s