Bandara Soekarno-Hatta, Karpetisasi, dan Bocor


Pada masanya, Bandara Internasional Soekarno-Hatta (dulu Cengkareng) mungkin merupakan bandara termegah di wilayah Asia Tenggara. Sekarang, ketika kota-kota besar lainnya sudah melakukan renovasi besar-besaran – atau bahkan membuat bandara baru yang sangat canggih – Soekarno-Hatta tampaknya belum banyak berbenah.

Salah satu maskapai asing di Bandara Soekarno-Hatta
Salah satu maskapai asing di Bandara Soekarno-Hatta

Mungkin agak tidak adil untuk membandingkannya dengan Bandara Changi di negara super-kaya Singapura, atau negara tetangga dekat Malaysia dengan KLIA-nya (jangan dibandingkan dengan LCCT ya). Namun, bahkan dengan Thanh Son Nhat di Ho Chi Minh City atau Suvarnabhumi di Bangkok, bandara kebanggaan kita ini kalah jauh.

Ketika pulang dari luar negeri, saya dan Puput seringkali “nggrememeng” masalah bandara ini. Persoalan pertama bagi kami adalah kondisinya yang kelihatan suram. Bangunan boleh kuno, tapi tentu saja pihak pengelola bisa membuatnya kelihatan bersih dan terang. Lantai yang berwarna cokelat tua, ditambah langit berwarna gelap (ada yang hijau tua dan merah bata) ditambah dengan ukiran yang juga berwarna cokelat mengesankan kuno, kotor, tidak terawat. Padahal, bandara adalah pintu gerbang wisatawan asing masuk ke Indonesia.

Sebagai contoh, Bandara Internasional Indira Gandhi di New Delhi. Tampaknya pemerintah India benar-benar menerapkan prinsip “kesan pertama begitu menggoda”. Bandara baru ini besar, bersih, canggih, kinclong, dengan banyak gerai-gerai duty free. Begitu keluar dari bandara, kenyataannya jauh berbeda. Nah kalau India saja bisa membuat bandara yang begitu bagus, berbeda dengan kotanya sendiri, Indonesia seharusnya bisa lebih baik karena menurut saya Jakarta masih jauh lebih bagus daripada Delhi.

Di bidang ini menurut saya sekarang sudah ada perbaikan. Program karpetisasi bandara (untungnya dengan karpet bercorak abu-abu muda) membuat bandara terlihat lebih terang. Tentu saja ini pilihan terbaik dan termurah bila dibandingkan dengan mengganti seluruh keramik bandara. Saya kurang tahu kapan mulainya, tetapi saya ingat ketika pulang dari Jepang akhir tahun lalu sudah ada sedikit karpet di bagian imigrasi. Dan ketika pulang dari Eropa awal tahun ini, bagian yang dilapisi karpet sudah semakin banyak. Dua minggu lalu waktu pulang dari Singapura, bagian setelah garbarata juga sudah ada karpetnya. Sudah jauh lebih bagus, apalagi langit-langit juga sudah dicat dengan warna yang lebih terang. Apresiasi yang tinggi bagi usaha Angkasa Pura untuk perbaikan-perbaikan ini, walau dilakukan sedikit demi sedikit, dan masih perlu perbaikan di banyak sektor.

Sebutir pengguna bandara
Sebutir pengguna bandara

Masalah ke dua bagi saya dan Puput adalah antrian di imigrasi. Dulu (satu dua tahun lalu dan lebih), antrian panjang, hanya dibedakan antara pemilik paspor Indonesia, asing, dan kru/diplomatik dll. Antrian bisa mengular sampai ke bagian ramp (bagian yang agak naik di sekitar travelator), apalagi kalau Anda berbarengan dengan pesawat lain yang mengangkut rombongan umroh.

Di banyak bandara negara lain saya sering melihat ada kamera berbentuk bulat di tiap-tiap meja petugas imigrasi. Seharusnyanya sih di Soetta juga ada, tapi saya tidak tahu di mana. Pengalaman dulu sekali – mungkin sekitar 4 tahun lalu – sempat ada petugas yang menggunakan kamera SLR memotret tiap-tiap lajur antrian tanpa henti. Itu maksudnya apa saya juga bingung, namun hanya satu kali itu saja.

Antrian di imigrasi masuk (entry) sudah agak membaik. Sepertinya petugas sudah ditambah. Para pemegang paspor Indonesia langsung disuruh jalan lewat travelator, sementara pemegang paspor asing melalui sebelah kiri. Di bagian kiri juga sudah ada beberapa gerai yang melayani Visa on Arrival (VOA).

Dulu penumpang biasa setelah melewati imigrasi akan diarahkan ke kiri untuk mencari bagasi di conveyor belt, sementara di bagian kanan untuk kedatangan TKI. Nah, nggerundel juga kan, apa bedanya TKI dengan penumpang biasa? Mereka juga sama kok sama yang wisata ke luar negeri, wong bayar tiketnya juga sama. Tapi sepertinya sekarang sudah tidak ada (tolong benarkan kalau saya salah). Bagian kanan dan kiri digunakan untuk pengambilan bagasi penumpang, ada papan petunjuk yang menyatakan nomor penerbangan sekian di conveyor belt no sekian. Sudah ada perbaikan juga dalam hal papan petunjuk di masing-masing conveyor belt.

Setelah cukup senang dengan adanya perbaikan Bandara Soetta ini, kemarin saya dan Puput dibuat mlongo. Ketika memasuki terminal F (Garuda domestik) kami mampir di gerai Krispy Kreme (FYI: menurut kami ini donat jauuuuuuh lebih enak daripada Dunkin’ Donuts apalagi Jco, entah kenapa kok kurang ngetrend di Indonesia). Di ujung bagian restoran (dekat Roti Boy) ada heboh-heboh. Ternyata bocor karena di luar memang hujan deras. Saya pikir tadinya bocor biasa, tapi ternyata sudah sangat parah, seperti grojogan sewu wakakak. Kalau istilah mama saya “grajagan”. Langsung Puput dengan sigap ambil kamera.

Kebocoran di terminal F
Kebocoran di terminal F

Ternyata yang bocor tidak hanya di satu tempat. Pinggir-pinggir dekat kaca banyak ember, atau tempat sampah yang dimanfaatkan sebagai ember, atau bahkan hanya lap pel yang diletakkan untuk menyerap air dari bocoran kecil. Bocor parah yang sempat kami lihat adalah di connecting corridor antara gate F7 dengan F6. Nah, itu baru yang kami lihat langsung saja, belum yang lain-lain.

Langsung saya berpikir, wah untung belum dikarpetin. Memalukan sih bandara kok bocor di mana-mana. Yang seperti ini harus diatasi dulu sebelum program karpetisasi keseluruhan.

Dibandingkan dengan banyak bandara di negara lain, Soetta memang masih kalah. Tetapi tetap harus diapresiasi perbaikan yang sudah dilakukan. Saya yakin, pemerintah pasti akan terus melakukan perbaikan sesuai dengan gambar dan maket bandara baru yang sudah dipasang di mana-mana. Apalagi kalau nanti sudah ada kereta bandara seperti di Singapura, Malaysia. Apalagi kalau sudah bisa check in otomatis semua sekaligus cek paspor seperti di Schiphol. Apalagi kalau ada stroller pinjeman seperti di Abu Dhabi. Apalagi kalau toiletnya banyak bersih dan kereeeeen seperti di Tokyo. Insya Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s