Traveling dengan Anak-Anak Part 16: Keselamatan Balita dalam Pesawat


Ya benar, ini artikel dibuat sebagai respon atas musibah yang menimpa Lion Air di Bali. Sebagai seorang ibu, miris hati saya mendengar bahwa dalam pesawat naas tersebut ada 5 orang anak dan 1 bayi. Semua orangtua pasti sadar bahwa keselamatan anak adalah hal yang paling utama, tapi apa kita sudah melalukan yang terbaik untuknya?

Oliq di Air France A380 Singapura-Paris
Oliq di Air France A380 Singapura-Paris

Sudah umum bila anak berusia di bawah 2 tahun tidak mendapatkan kursi sendiri, dan duduk di pangkuan orangtuanya. Sebenarnya menurut NTSB (KNKT-nya Amerika) serta banyak agensi independen lainnya, cara tersebut kurang aman. FAA juga setuju bahwa yang paling aman adalah bayi diletakkan di dalam carseat. Namun demikian FAA menolak usulan bahwa anak di bawah 2 tahun harus mendapatkan kursi sendiri (dengan baby seat), alasannya para orangtua pasti keberatan untuk membayar satu kursi ekstra untuk bayi mereka.

Pada akhirnya bayi berada di pangkuan salah satu orangtua, dengan menggunakan infant seatbelt yang disambung ke sabuk pengaman ayah/ibunya. Menyangkut hal ini, kami punya beragam pengalaman. Kebetulan Oliq sudah pernah terbang dengan 9 maskapai yang berbeda, pengalamannya berbeda pula.

Secara umum, pramugari/pramugara akan memberikan sabuk pengaman bayi dan jaket pelampung bayi dan memberi tahu cara pemakaiannya. Namun sesuai pengalaman kami, ada pula yang tidak. Saya kurang ingat waktu ke mana, tapi saya cukup yakin dengan Airasia (AA Malaysia – bukan Indonesia, sepertinya waktu kami ke Australia), kami hanya diberi pelampung bayi tanpa sabuk. Pramugarinya bilang, nanti digendong saja ya. Oliq waktu itu masih 6 bulan dan (bahkan hingga sekarang) selendang jarik luwuk selalu eksis ke manapun kami pergi. Dan gobloknya kami bilang oke aja.

Ada beberapa pengalaman demikian juga dengan maskapai dalam negeri, tapi saya tidak ingat tepatnya. Salah satu yang saya ingat adalah terbang dengan Lion Air dari Manado ke Jakarta (Oliq 8 bulan), tidak diberi sabuk pengaman hingga terbang, dan akhirnya kami minta. Entah bagaimana regulasi yang sebenarnya.

Kami pun – mohon jangan ditiru – dulu juga suka bandel. Ketika Oliq tidur nyenyak, jadi enggan memasang sabuk pengaman karena resikonya dia bangun. Tapi sejak usia 1 tahun, saya biasakan dia selalu memakai sabuk pengaman. Kalau dia mau nenen, langsung dipasang dulu sabuknya, jadi kalau pas tidur sudah terpasang dengan aman.

Anaknya sendiri juga sudah sadar, kalau dia lihat bapak simboknya pakai sabuk. Dia akan bilang, “Papa?” “Iya Papa pakai sabuk.” “Mama?” “Mama juga pakai sabuk.” “Bapak?” sambil nunjuk penumpang sebelah. “Bapak juga pakai sabuk.” Dia adem ayem dipakain sabuk.

Tentang sabuk-menyabuk ini justru yang paling bagus yang kami alami adalah dengan Tiger Airways, penerbangan Melbourne ke Sydney. Mbak pramugarinya yang masih keturunan Pasifik (tinggi besar, manis sekali), jongkok dan bertanya apa kami tahu cara penggunaan sabuk pengaman bayi. Kami bilang, tahu. Tapi dia tetap dengan ramahnya bilang akan menjelaskan sekali lagi bagaimana penggunaannya, sambil langsung memakaikan ke Oliq.

Travelling in style: Business Class! KLM 777-300 Amsterdam-Abu Dhabi
Travelling in style: Business Class! KLM 777-300 Amsterdam-Abu Dhabi

Nah, perangkat keselamatan yang lain adalah pelampung bayi untuk pendaratan darurat di air.

Yang berikutnya adalah masker oksigen. Tidak semua kursi memiliki masker oksigen untuk anak. Kami pernah disuruh bertukar tempat duduk dengan penumpang lain karena katanya di kursi yang kami duduki tidak ada masker oksigen untuk anak. Alangkah baiknya bila hal seperti ini dipahami oleh petugas darat. Bila ada keadaan darurat, orangtua harus memakai masker dulu, baru membantu anaknya.

Faktor keselamatan lainnya adalah anak-anak, bayi, tidak diperkenankan duduk di dekat pintu darurat. Dulu Adam Air bahkan tidak memperbolehkan perempuan duduk di dekat pintu darurat. Kalau ini namanya diskriminasi. Adik saya pernah duduk di dekat pintu darurat, ada seorang penumpang bule protes ke mbak pramugari. Pramugarinya tanya ke Delin, “Umurnya berapa, Mbak?” “Dua puluh,” yang ditanya njawab sambil merengut.

Yang ini saya kurang tahu peraturan pastinya, tapi dalam satu deret tidak boleh ada dua bayi atau lebih. Pernah saya disuruh pindah karena sudah ada bayi lain tepat di sebelah. Tapi sepertinya kalau satu deret dipisahkan oleh lorong boleh. Jadi misalnya di kursi 11 A,B, C tidak boleh ada 2 bayi. Tapi kalau 1 bayi di 11 A, dan 1 bayi di 11F, boleh saja. Mohon dilengkapi atau dibenarkan bila saya salah.

Selain keamanan, kenyamanan bayi juga utama. Penerbangan yang paling baik yang kami alami adalah Air France dari Singapura ke Paris. Kebetulan pesawatnya menggunakan A380, jadi kursinya lebih besar dan nyaman (jauuuuuuh dibandingkan Boeing 777 atau 747). Bayi-bayi diletakkan di kursi depan, satu deret (dipisahkan 2 lorong) ada 3 bayi dan 1 anak. Posisinya sangat tepat untuk memasang bassinet, sayang Oliq udah kepanjangan. Untungnya sebelah kami kosong jadi kursinya bisa diakuisisi.

Orangtua bisa meminta kursi di bagian depan di tempat-tempat yang mudah dipasang bassinet. Banyak juga yang meminta kursi depan karena bila ada turbulensi, guncangannya lebih kecil. Saya sendiri sih, kalau terbang dengan AirAsia jarak jauh selalu pick a seat paling belakang karena ada space untuk gendong atau bawa jalan-jalan anak, selain dekat kamar kecil.

Pengalaman terbang dengan Garuda bawa bayi, selalu tempat duduk diblok di bagian aisle (lorong). Saya kurang tahu apa memang demikian peraturannya, walau saya selalu minta tukar di bagian jendela. Pernah sekali duduk di kursi tengah di Valuair dan Oliq sibuk melongok ke jendela sambil teriak, “Wawaa, wawaa!” Kan jadi simboknya yang ga enak ati sama penumpang sebelah.

Untuk masalah mengganti popok, tidak semua kamar mandi pesawat menyediakan baby changing – biasanya hanya pesawat besar dengan penerbangan panjang.

Untuk sementara demikian dulu, nanti kalau ingat lagi akan saya tambah. Lebih dan kurangnya saya mohon maaf *Simbok Galau undur diri mau malem Mingguan sama Papa Krewel

Advertisements

5 thoughts on “Traveling dengan Anak-Anak Part 16: Keselamatan Balita dalam Pesawat”

  1. Alhamdulillah pengalamanku baik banget. Setiap naik pesawat pasti dikasih sabuk dan pelampungnya.
    Thanks info nya, baru tau ternyata ada maskapai yang beda standar keselamatannya.
    Safety first, anywhere anytime.

    Like

    1. Aku juga ga tau gimana aturan pastinya. kaya misalnya sandaran tangan, kalo anaknya tidur pas mau landing lebih sering “diperbolehkan” sama pramugarinya

      Like

  2. Terima kasih infonya.
    Bentar lagi mau ajak si kecil yang baru 5 bulan untuk pergi ke osaka buat jalan2… Infonya membantu banget.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s