Psikotraveling Part 1: Mengapa Pasangan Harus Traveling Bersama?


“Travels brings power and love back into life.” – Rumi

Setiap traveler tentu memiliki preferensi sendiri tentang dengan siapa mereka bepergian. Banyak yang lebih suka solo traveling, karena lebih mudah dan tidak repot. Ada juga yang suka bepergian ramai-ramai dengan teman. Ada kelompok lain yang memilih traveling dengan pasangan. Kali ini kami akan membahas kelompok yang terakhir – walaupun traveling dengan pasangan tidak harus berdua saja, melainkan bisa juga pergi secara berkelompok.

Hanya ilustrasi!!!
Hanya ilustrasi semata!!!

1. Pasangan akan menjadi lebih intim. Banyak orang mungkin merasa khawatir kebersamaan selama 24 jam penuh akan menciptakan drama, namun menurut pengalaman kami justru sebaliknya. Memang sih tetap ada percikan-percikan, misalnya “Kamu sih bawa barangnya kebanyakan!” atau “Makanya kalo nyimpen kamera ati-ati.” Tapi itu tidak sebanding dengan keintiman yang didapatkan oleh pasangan. Di tempat yang baru, dengan pemandangan indah, lepas dari rutinitas sehari-hari yang menjemukan, membuat pasangan jadi lebih romantis!

2. Anda akan melihat pasangan “telanjang”. Artinya, bila biasanya hanya bertemu ketika kencan (bagi yang belum menikah), kini Anda akan lebih mengenal dia lebih dekat. Bagaimana Mr X atau Miss Y menyelesaikan masalah, mengatur keuangan, manajemen waktu. Atau bahkan yang jauh lebih sepele, bagaimana wajahnya saat bangun tidur. Kalau Anda merasa dia tetap cantik/cakep saat kucel-kucelnya, berarti memang cinta beneran. Bagi yang sudah menikah, traveling bersama pasangan membuat Anda mengerti dia dengan lebih dalam. Hal-hal yang biasanya terlewatkan karena kesibukan menjadi terbuka lebar.

3. Menjadi semakin mengenal diri sendiri. Artinya, kita jadi semakin memahami posisi kita dalam berpasangan. Apa reaksi dan tindakan kita terhadap sebuah situasi tertentu. Traveling dengan pasangan juga membuat kita sadar apa kelebihan dan kekurangan kita.

4. Belajar menjadi sebuah tim. Pasangan akan belajar bekerja sama terutama biladihadapkan pada situasi yang tidak menyenangkan – walaupun tidak dinginkan pasti sebuah rumah tangga akan banyak dihadapkan pada situasi-situasi seperti ini di masa depan. Tentu hal seperti ini akan berguna terutama kelak ketika sudah memiliki anak.

5. Menjalin komunikasi. Di rumah, Anda sudah lelah dengan urusan pekerjaan. Bagi ibu rumah tangga seperti kami, rutinitas mengurus anak, mau masak apa hari ini, udah bayar listrik atau belum, juga menyita pikiran lho! Ketika malam bertemu suamu/istri, sudah capek, males ngomong maunya tidur. Nah, saat traveling kesempatan berkomunikasi menjadi terbuka lebar. Misalnya saat berada di atas Menara Eiffel si suami bilang, “Ma, ayo kita mulai program bikin anak.” Lebih romantis kan daripada diucapkan di dapur, apalagi di halte bus.

6. Merekam jejak kebersamaan. Bila setiap hari hanya bekerja, apa yang menjadi bukti kebersamaan Anda? Yah, mungkin rumah di beberapa kota, mobil Alphard, dan belasan kilo emas di bank. Tapi apa yang menjadi kenangan manis bagi Anda berdua? Lain bila sering bepergian bersama, selain ada banyak memori juga banyak memori card kamera yang hasilnya dapat dipajang di seantero rumah. Bila sedang marahan, mungkin foto-foto itu bisa sedikit meredakan jengkel di hati.

7. Investasi masa tua. Mumpung masih muda, tenaga juga masih kuat, kenapa ga jalan-jalan? Bisa jadi cerita untuk anak cucu kelak, menjadi motivasi mereka untuk menjelajah dunia dan memiliki pikiran yang terbuka.

Ada lagi yang mau ditambahkan?

Testimoni Sekar

Saya dan suami memiliki kecintaan yang sama akan kegiatan jalan-jalan atau traveling. Meski kami tidak bisa berpergian sesering mungkin tetapi kami berusaha meluangkan waktu berpergian setiap beberapabulan.

Pada awal hubungan, secara sadar saya ingin melakukan berbagai perjalanan bersamanya karena saya ingin tahu seberapa cocok watak dan kebiasaan kami dan seberapa paham saya akan diri saya sendiri.

Sekar dan suami di Arke Stadium, Belanda
Sekar dan suami di Arke Stadium, Belanda

Melakukan perjalananbersama, berdua, memungkinkan saya melihat sisi asli pasangan sayakarena saat bersama saya bisa melihat reaksi, pilihan tindakan, komentar serta pilihan aktifitasnya saat luang. Saya pun… ternyata… semakin mengenal diri saya sendiri. Saya jadi tersadar akan reaksi-reaksi yang saya ambil bila berada padakejadian yang tidaksayainginkan.

Kami pun jadi semakin senang berpergian bersama dan inginnya sih bersama terus kalau berpergian karena kami merasa jadi seperti sebuah tim. Sudah tahu karakter masing-masing dan kami pun selalu berusaha memahami karakter kami sendiri. Setiap berpergian, kami mendapat pencerahan baru mengenai bagaimana membuat hubungan kami menjadi semakin erat karena setiap perjalanan memberikan pengalaman yang berbeda.

Dalam setiap perjalanan, ada banyak hal untuk digali, pada diri pasangan kita dan pada diri kita.

Perjalanan serius yang pertama adalah saat berpergiaan ke Yogyakarta untuk melihat festival seni. Saat itu, tidak ada yang namanya situasi menyebalkan. Kami berdua masih malu-malu dan terkesan ingin terlihat baik di mata satu dengan yang lain. Namun, satu hal yang terekam dalam benak saya adalah saya merasa nyaman dengannya. Saya tidak perlu harus pura-pura merasa terkesan dengan salah satu lukisan atau merasa memahami sebuah karya seni. Komentar yang dia lontarkan juga terkesan nyaman dengan komentar yang saya lontarkan.

Meski masih malu-malu dan ingin terlihat baik, kami merasakan bahwa kami tidak pura-pura.

Perjalanan serius ke dua adalah naik Gunung Merbabu. Pertama kalinya saya naik gunung dan naik gunungada di daftar “hal yang saya lakukan sebelum sayatua”. Saya naik gunung bersama suami saya dan teman-temannya. Apakah saya menyukai kegiatan naik gunung? Ternyatatidak. Apakah suami saya tahu? Ia sangat tahu. Apakah saya merasa nyaman bersamanya? Iya.

Ternyata melakukan bersama pasangan kegiatan yang kurang kita sukai dapat menjadikan penanda apakah sebuah hubungan akan semakin erat atau tidak. Jika seseorang berada pada situasi yang tidak menyenangkan, maka ia akan menampilkan reaksi yang sesungguhnya. Lalu apakah kita juga merasa nyaman dengan diri kita saat menghadapi situasi yang menyebalkan.

Hal inilah yang bisa menjadi acuan kita, seberapa cocokkah kita dengannya. Seberapa cocokkah diri kita dengan diri kita sendiri. Kalau pura-pura baik, pura-pura nyaman, ya berarti kita tidak cocok dengan diri kita sendiri.

Sesudah ke dua perjalanan serius tersebut, saya semakin mantap bersama suami saya. Saya tidak saja mengenal dirinya, tetapi saya jadi semakin mengenal diri saya sendiri. Oh, ternyata saya ini mengesalkan sekali kalau berhadapan dengan orang yang nyerobot antrian. Reaksi saya kalau terburu-buru adalah panik, kalau panik jadi sangat menyebalkan bagi suami saya. Saya jadi belajar bagaimana menyikapi situasi yang menyebalkan. Sekarang setidaknya saya tahu diri kalau menyebalkan.

There is more to explore in your lover and in yourself…

Artikel ini ditulis berkolaborasi dengan Sekar Nareswari, seorang ibu, psikolog, yang juga menggemari traveling. Baca juga blog pribadi Sekar di sini.

Advertisements

15 thoughts on “Psikotraveling Part 1: Mengapa Pasangan Harus Traveling Bersama?”

  1. Tambahan: bisa jadi berbagi hobby. Semalem suami nyeletuk di dapur….ayo kita mengunjungi stadiun Manchester United (maaf buat penulis-tidak bermaksud membuat jengkel), padahal dia ngga hobby bola. Sayapun enjoy menemani dia ngukur pasar di setiap kota yang kami kunjungi 🙂

    Like

    1. ya benar. seperti aku rela menemani suamiku ke menara2 dan bangunan2 yg tiketnya mahal, dia harus ikhlas menemaniku jalan2 di pecinan dan pepasaran lainnya

      Like

  2. Baguuus. Bikin makin sreg untuk jalan bareng pasangan berdua karena selama ini pasti rame2. Anyway button like dan tweet sebelah kiri bikin ngalangin pandangan ya mbak. Gak bisa diclose ya? sekedar share aja.. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s