Traveling dengan Anak-Anak Part 15: Skippintroupe ke Ujung Genteng


Liburan murah meriah, pantai pasir putih, ada unsur edukasi untuk anak dan anak-anak penyu yang lucu dimana hayoo?

Aceh? Bali? Lombok? Benar semuaaaa. Tapi ada lagi yang tempatnya lebih dekat ke Jakarta lho.Yaitu di Ujung Genteng! Dan wiken 4 hari di bulan Oktober 2012 lalu, kami sekeluarga menghabiskannya disana.

Senja di Ujung Genteng
Senja di Ujung Genteng

Ujung Genteng adalah kawasan ekowisata pantai di daerah Laut Selatan. Masuk dalam administrative kabupaten Sukabumi, Ujung Genteng “bersebelahan” dengan Pelabuhan Ratu. Kalau berangkat dari Jakarta, kita akan menuju arah Pelabuhan Ratu namun berbelok kearah Timur dan kira-kira setelah menyetir 2.5 jam kemudian sampai di Ujung Genteng. Total perjalanan darat dari Jakarta – Ujung Genteng adalah 10 jam. Sudah termasuk waktu untuk makan siang (yang lama karena harus nyuapin 2 anak kecil) sholat, dan berhenti berkali-kali untuk bergantian duduk dibelakang setir.

Jam 8 malam, akhirnya sampai juga kami sampai di penginapan yang sudah saya pesan jauh-jauh hari. Dan saya menyesal. Penginapannya sangat terpencil dan untuk fasilitas dan rupanya kemahalan. Padahal ke Ujung Genteng ini karena ingin liburan yang murah meriah. Ketika makan malam, penjaga penginapan menanyakan apakah kami tertarik untuk melihat penyu bertelur malam ini. Mata yang tadi sudah terasa sepet mendadak terang lagi, dan tentu saja kami jawab iya.

Tempat penyu bertelur
Telur- elur penyu diperam di konservasi

Pantai Ujung Genteng merupakan tempat alami pilihan para penyu untuk bertelur. Seperti hal nya manusia yang banyak pertimbangan ketika ingin membeli rumah, penyu pun begitu. Mereka ternyata punya selera dan kriteria sendiri ketika memilih tempat untuk bertelur. Tidak asal nemplok di pantai mana saja asalkan berpasir putih, dipagari pohon kelapa dan dekat dengan beberapa fasilitas hidup seperti supermarket kecil dan pom bensin. Kalau itu sih kriteria selera rumah pantai ideal saya. Sedangkan penyu betina lebih menyukai pantai yang terpencil dan sepi sunyi dari suara dan cahaya. Lebih gelap lebih baik sepertinya motto yang dianut penyu betina.

Sekitar jam 10 malam kami pun berangkat ke tempat konservasi penyu yang dikelola oleh Dinas Kelautan setempat. Sesampainya, kami diberitahu oleh petugas kalau sedang ada satu penyu yang sudah naik ke pantai namun masih berjalan-jalan mencari tempat yang sesuai seleranya untuk bertelur. Pengunjung diperbolehkan masuk hanya bila penyu sudah bertelur. Selama menunggu Raissa (3thn 2bln) tetap fully charged mengajak saya untuk jalan mengelilingi daerah konservasi sambil sesekali bertanya kapan bisa lihat turtle. Sedangakan Fiamma, setengah jam setelah sampai, sukses tidur digendongan. Setelah menunggu hampir 1 jam di pelataran konservasi, petugas pun mengundang kami masuk ke area pantai setelah membayar tiket masuk yang harganya kalau tidak salah Rp. 20,000/orang. Menuju ke pantai, kami melalui jalan setapak yang awalnya di kanan dan kiri nya ada undakan-undakan kecil yang dipagari kawat. Seperti kuburan mini. Ternyata itu adalah tempat telur-telur penyu diperem. Diatas tiap undakan ada tanggal telur penyu itu ditelurkan.

Sesampainya di pantai, banyak sekali pengunjung yang sudah mengerubungi penyu yang baru saja bertelur. Kami agak kewalahan untuk merangsek maju untuk melihat penyu itu, apalagi dengan membawa dua anak. Untung suami saya sabar, setelah beberapa saat petugas menyatakan waktu melihat-lihat kloter pertama ini usai dan pengunjung diminta untuk kembali ke pelataran konservasi. Di saat ini lah suami menggendong Raissa maju dan mereka berhasil melihat penyu bertelur dari jarak yang cukup dekat. Saya sendiri karena berbadan lebih mungil berhasil menyusup lebih duluan ditengah keramaian.

Di perjalanan kembali ke penginapan Raissa banyak bercerita tentang penyu. Katanya penyunya besar banget. Dan dia heran kenapa penyu bertelur malam-malam. Kok telur nya banyak banget? Dia juga sempat bertanya dimana anak-anak penyunya karena sebelum berangkat kami sempat menjanjikan kalau kami pergi untuk melihat anak penyu. Begitu sampai di penginapan yang memang dekat dari area konservasi, kami the skippintroupe passed out.

Keesokan harinya kami check-out karena ingin menginap di daerah yang lebih ramai dan dekat dengan restoran. Sambil boyongan pindahan, kami memilih rute menyusuri pantai yang bersih dan menyempatkan berhenti untuk bermain di air. Pantainya sangat landai dan dasar laut yang dekat dengan pantai adalah karang-karang tumpul yang cukup nyaman untuk jalan bahkan untuk duduk diatasnya karena ditumbuhi ganggang. Di beberapa tempat terdapat lubang karang yang cukup besar untuk berendam. Benar-benar menyenangkan berendam dan bermain air disana.

Setelah sarapan bubur ayam di pinggir pantai, kami check-in di penginapan baru. Sepanjang siang kami isi dengan mencari rumah kerang yang cantik-cantik sambil duduk malas-malasan di pinggir pantai. Saat terik kami bersantai di penginapan kami yang sederhana tapi bersih dengan tarif Rp. 250.000/malam. Kami menunggu waktunya pelepasan anak penyu.

Tukik-tukik imut nan lucu berjalan menuju ke laut
Tukik-tukik imut nan lucu berjalan menuju ke laut

Pelepasan tukik, sebutan untuk anak penyu, selalu di sore hari menjelang matahari tenggelam. Alasannya karena tukik akan jalan menuju titik cahaya yang paling terang. Matahari sore yang terbenam di laut membimbing tukik-tukik lucu ke laut dan memulai perjuangan mereka untuk bertahan hidup. Menurut informasi dari petugas disana, dari ratusan yang dilepas, tukik yang menjadi penyu dewasa akan kurang dari 10. Hidup memang berat, Jenderal. Untuk kita manusia, jugua untuk penyu.

Maka jam 4 sore pun kami sudah kembali ke pantai konservasi yang sama. Pantai di sisi konservasi ini benar-benar indah. Lebih indah daripada yang pantai yang dijejeri penginapan. Bagus banget memang selera penyu-penyu itu dalam memilih rumah pantai. Tidak lama kami menunggu, beberapa petugas mendekat bibir pantai membawa ember yang berisi puluhan tukik. Kami diminta untuk berdiri berjejer, dan mereka mendatangi pengunjung menunjukan tukik-tukik yang sedang berebut berusaha mendaki dinding licin ember. Awwwwhh, sungguh menggemaskan. Raissa dan Fiamma tidak berhenti cekikikan melihat tukik-tukik itu mendaki dan tergelincir berulang kali. Akhirnya waktu pelepasan dimulai setelah petugas mengingatkan pengunjung untuk tidak menyentuh tukik apalagi mengangkatnya dari pasir.

Liburan keluarga di Ujung Genteng = menyenangkan!
Liburan keluarga di Ujung Genteng = menyenangkan!

Begitu pinggiran ember menyentuh pasir, tukik-tukik imut bergegas keluar ke arah cahaya matahari. Dengan cara jalan yang lucu, mereka menuju pantai. Selamat berjuang, bayi-bayi penyu. Semoga bisa kembali ke kampung halaman 30 puluh tahun lagi.

Cerita dan foto adalah milik Lala Amiroeddin, penulis tamu khusus seri Traveling dengan Anak-Anak. Baca juga kisah perjalanan wisata Lala, Kris, Raissa, dan Fiamma di Skippin Troupe.

Advertisements

One thought on “Traveling dengan Anak-Anak Part 15: Skippintroupe ke Ujung Genteng”

  1. Kelihatannya menyenangkan sekali perjalannnya, boleh tau nama tempat penginapan yang pertama (terpencil dan kemahalan) serta yang 250 ribu itu 😉 saya dan anak2 mau coba kesana, trimakasih infonya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s