Menjadi Blogger Perjalanan


Sejak kemunculan tren jurnalisme warga (citizen journalism) dibarengi dengan makin canggihnya teknologi, blog menjadi sebuah kebutuhan khusus bagi masyarakat untuk menuangkan aspirasi, berbagi pengalaman maupun informasi, maupun sekedar wadah curhat.

Seiring dengan itu, budaya jalan-jalan (traveling) juga semakin marak di kalangan rakyat Indonesia. Hal ini ditunjang dengan beberapa faktor, antara lain makin banyaknya penerbangan berbiaya murah yang sangat terjangkau. Oleh karena itu – meminjam istilah salah satu maskapai penerbangan – semua orang bisa terbang. Bahkan, akhir-akhir ini traveling seperti sudah menjadi bagian dari gaya hidup.

Traveling menjadi gaya hidup
Traveling menjadi gaya hidup

Saya sendiri belum lama menjadi blogger. Walaupun bertahun-tahun berkecimpung di dunia tulis menulis – maupun dunia lain yang posisinya berkaitan dengan tulis menulis – bisa dikatakan saya baru aktif ngeblog pada bulan April tahun lalu. Jadi belum genap setahun Backpackology ini menjadi satu titik dalam khazanah dunia per-blog-an Indonesia.

Lalu mengapa memilih membuat blog perjalanan? Tentu karena saya suka jalan-jalan. Dalam perjalanannya, kontributor blog bertambah dengan orang-orang yang secara personal dekat dengan saya. Kami semua memiliki hobi yang sama: traveling dan menulis.

Siapa saja bisa menjadi blogger perjalanan (travel blogger)

Semua orang boleh menulis, dan boleh menuliskan apa saja. Itulah prinsip citizen journalism (tolong koreksi atau tambahi bila Anda memiliki pengetahuan yang lebih banyak tentang isu ini).

Beberapa hari yang lalu seorang pembaca menanyakan kepada kami melalui Backpackology, apakah seseorang harus sudah berkunjung ke suatu tempat untuk menuliskan tentang tempat tersebut. Jawabannya tentu saja tidak. Namun ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan.

Mencomot sebagian atau bahkan menyalin keseluruhan isi blog adalah hal yang umum terjadi. Menurut saya, praktek seperti ini harus mempertimbangkan beberapa hal, yaitu harus menuliskan sumber serta penulisnya, disertai dengan tautan kepada tulisan asli. Dengan demikian, penulis tidak akan merasa dirugikan karena ia juga (kemungkinan) akan kebagian traffic dari blog-blog yang men-share tulisannya. Fasilitas re-blog seharusnya menjadi instrumen utama bagi para blogger yang memang melakukan praktek seperti ini.

DSC07296

Saya sering merasa gerah karena membaca banyak blog perjalanan yang, selain tulisannya hanya mengambil dari postingan lain ataupun dari sumber berita mainstream, sewenang-wenang mengambil foto tanpa mencantumkan hak cipta dan sumber. Tulisan-tulisan tersebut seakan-akan sangat menarik karena mencakup lokasi-lokasi di seluruh dunia dengan foto-foto indah bagai lukisan. Sayangnya, semua yang indah dan menarik tersebut telah melanggar hak cipta. Dan tulisan-tulisan dengan pelanggaran hak cipta semacam ini, sayangnya, juga sering tampil dalam bagian khusus blog yang difasilitasi oleh media mainstream (yang notabene reporter serta redakturnya memahami peraturan mengenai hak cipta ini).

Beberapa hari yang lalu, salah seorang pembaca blog mengatakan bahwa ia melihat foto saya digunakan oleh sebuah acara dengan isu menyusui di Metro TV. Foto tersebut memang saya yang sedang menyusui Oliq, diambil oleh suami saya, dengan latar belakang Sydney Opera House dan Harbour Bridge. Saya, tentu saja tidak bisa membuktikannya karena tidak menonton acara tersebut dan tidak melihat dengan mata kepala sendiri.  Andai saja ada itikad baik untuk sekadar meminta izin, toh tidak akan saya tolak. Malah mungkin saya tawarkan foto-foto menyusui yang lain, misalnya dengan latar belakang Menara Eiffel atau Ka’bah.

Foto yang katanya "dipinjam" itu
Foto yang katanya “dipinjam” itu

Ketika saya mengatakan bahwa seorang blogger dapat saja menulis tentang sebuah tempat tanpa harus mengunjunginya, akan muncul pertanyaan lain. Lalu isinya apa? Informasi tentang tempat tersebut. Lalu apa bedanya dengan informasi di koran? Keunggulannya apa? Ujung-ujungnya akan ada komentar: kalau cuma gitu Wikipedia lebih lengkap.

Memang seharusnya keunggulan dari blog ini adalah personalisasi. Saya masih sering dikritik oleh editor di sebuah kantor berita yang mengatakan bahwa tulisan saya untuk media tersebut kurang personal. Bisa jadi ini karena latar belakang saya sebagai penulis non-blog. Singkat kata, blog adalah arena yang sempurna untuk berbagi pengalaman, kiat, dan tentu saja opini. Kembali kepada topik besar tulisan ini, jadi keunggulan sebuah blog perjalanan adalah apabila penulisnya mampu berbagi pengalaman, kiat, dan opininya tentang hal-hal yang berhubungan dengan traveling.

Isi sebuah blog perjalanan

Isi blog perjalanan bermacam-macam, tetapi menurut saya yang paling utama adalah kisah perjalanan sang blogger ke suatu tempat. Apakah tempat itu indah, buruk, banyak copet, mahal, dan sebagainya. Tentu ada informasi tambahan tentang lokasi tersebut, tidak semata “curhatan” saja. Satu hal yang harus ditekankan, tujuan wisata tidak harus di luar negeri, kok!

Selain itu ada juga pengalaman berwisata yang khusus. Backpackology sering kali mendapat traffic dari mesin pencari dengan kata-kata seperti “membawa bayi xx bulan terbang” atau “kamera saku murah bagus” dan lain sebagainya.

Sebuah blog perjalanan juga dapat berbagi mengenai pengalaman wisata kuliner. Pilihan akomodasi di sebuah lokasi juga menjadi informasi  yang sering dicari oleh masyarakat. Ulasan tentang transportasi pun seringkali menjadi informasi favorit para calon pelancong.

Ulasan tentang kuliner bisa menjadi bagian dari blog perjalanan
Ulasan tentang kuliner bisa menjadi bagian dari blog perjalanan

Kiat-kiat atau tips juga sangat membantu. Anda pasti sering mendapat blog atau artikel yang dimulai dengan angka, misalnya: “6 jurus wisata hemat” atau “9 trik mendapat tiket murah”.

Satu hal yang harus diingat adalah blog harus unik, menyajikan sesuatu yang berbeda daripada yang dapat diperoleh di media lain, baik dalam hal isi, penulisan, maupun gaya bahasa.

Tentang Backpackology

Blog ini sebenarnya diciptakan sudah agak lama, namun baru aktif sejak April 2012. Isinya sangat beragam, mulai dari destinasi wisata, review kuliner, review akomodasi, dan kiat-kiat. Salah satu yang menjadi andalan blog ini adalah konsep “family backpacking”. Saya dan suami berusaha untuk menerjang pola pikir bahwa backpacker biasanya single. Membawa bayi ke luar negeri pun bukan sesuatu yang mustahil.

Selain itu, ada juga berbagai kiat-kiat unik untuk tetap hemat saat berwisata, mengatur dana liburan, rekomendasi tentang berbagai kamera untuk jalan-jalan, dan hal lain yang kadang dianggap remeh namun justru sangat penting.

Salah satu prinsip kami adalah memuat tulisan yang orisinil, demikian juga dengan foto-fotonya, kecuali untuk foto kamera-kamera (yang memang bendanya saja tidak kami miliki) selalu dicantumkan sumbernya.

Tulisan ini dibuat sebagai tanda senang kami telah mendapatkan hits 200.000, sebuah pencapaian yang terhitung lumayan mengingat usia blog yang belum genap satu tahun.

Advertisements

27 thoughts on “Menjadi Blogger Perjalanan”

  1. saya berpikir kesuksesan utama blog travel ialah dengan mengunjungi langsung dengan begitu lebih mudah menulisnya, kalo cuma sekedar copas (meskipun) mencantumkan nama sumber agaknya kurang menarik ya? hmm I think so…
    benarkah begitu ya mbak?

    Lalu untuk pemula seperti saya ini (yang baru saja merintis blog perjalanan) bagaimana solusi terbaiknya ya mbak?

    Like

    1. memang sah saja mengkopi dgn mencantumkan sumber. tapi mjd tidak ada keunikannya. pembaca akan langsung menuju ke sumber dan tidak akan kembali ke blog yg hanya copy paste. saran saya kalau mau punya travel blog mulailah berwisata. tidak perlu yg muluk2. kunjungi dari yg plg dekat dan mudah. misalnya museum A, atau pantai B, atau bikin review kuliner khas kota anda. saya misalnya, sudah menulis ttg perancis, australia, jepang dll, tapi tetap yg plg banyak saya tulid adalah tentang jogja, kota asal saya.

      Like

  2. Hoo iya sebel banget kalo ngeliat foto2 kita dipake tanpa mencantumkan sumber. Ngenes rasanya. Pertamanya aku komenin, minta tolong diberi link sumber. Eehh setelah banyak kok ya bosen juga mesti satu-satu gitu. 😀

    Tulisannya bagus kok maak, aku suka bacanya. punyaku yang masih acak kabuulll 😀

    Like

    1. aku juga cuma bisa masang watermark dan resolusinya kecil. Kalo yang copas tetep pake nama tanpa link sih udah pasrah aja deh

      Like

      1. watermark juga total ngilangin pencolongan sih, tapi paling tidak kita nunut eksis (kalo ga dicrop)

        Like

  3. mak, itu kaos kaki anaknya warnanya beda…. hehe, fokusnya ilang.

    blg perjalanan itu membantu banget lho, apalagi kalau doyan jalan-jalan dan pengen datengin tempat seru selain yang umum di kunjungi orang. selamat mak, dah banyak hitsnya 🙂

    Like

    1. Itu kaos kakiku. kaos kakinya hilang. Tapi akhirnya kaos kakiku yg dia pake juga ilang sebelah yg warna kuning. Dan waktu itu anakku belum punya sepatu. akhirnya nyeker, padahal suhu sempat 17 derajat.

      Like

  4. aku suka ma blog2 prjalanan coz kalo qta mo prgi2 kn psti cari referensi,,transportasinya, biaya, apa aja yg menarik,,liat dr foto2nya,,malah kalo perlu info hotel disekitarnya yg harga2nya yg pas dikantong,,jd kita pergi udah ngantongin informasi,,selamat y mba uda 200rb hits,,wow,,”sesuatu”bgt

    Like

    1. Makasih mbak Tita, itu tulisannya udah beberapa waktu yang lalu kok. Sekarang malah udah nyaris 400 ribu hits. Ntar kalo udah 400 aku bikin tulisan lagi dong ya hehhe. makasih udah mampir, silakan kalo mau tanya apa aja. Kami udah berkomitmen setiap komen pasti dibales 😀

      Like

      1. he he he diatas langit selalu ada langit mbak, yang akan selalu saya ingat dari nasehat mbak diatas adalah personal, orisinal, informatif dan mencantumkan sumber bila mengambil foto milik orang lain. Terkadang saking kepengennya semua dapat postingan saya selalu jadi panjang 🙂

        Like

      2. Saya justru takjub sama postingan mbak Vicky yang selalu detail. Itu kelemahan saya. barusan bayar tiket masuk aja udah lupa berapa tadi bayarnya. Tapi ntinya sih menurut saya semua orang punya cara bertutur sendiri-sendiri, makanya blog-blog travel juga sangat beragam, ada yang detail dan informatif, ada yang cuma sekedar list, ada juga yang pendek dan menyoroti hal-hal remeh tapi menarik. Ada rencana mau travel ke mana? Nanti malam mandala tiger promo lho 😀

        Like

  5. suka deh sama tulisan ini, mbak. saya juga pengeeen nulis cerita travelling saya selama di jepang, tapi kendala di saya, saya ga tinggal di indonesia, jadi ga bisa berbagi tips kayak gimana berburu tiket murah, biaya yang diperlukan, dll, dll. jadinya cuma share pengalaman aja. huhuhu.

    Like

    1. Gapapa mbak, tulis aja wisata2 jepang. Sekarang makin banyak tuis kita ke sana. Tulis juga tips hemat misalnya, kan mahal banget tuh di jepang. Atau transportasinya. Misal harus beli tiket yg mana…

      Like

      1. nah itu dia, saya ini mobil traveler alias jalan2nya pake mobil. *gayaaaa* hihihi. jadi ga ngerti tiket kereta muraah. huhu. paling yg bisa saya ceritain informasi tentang lokasi wisatanya aja.

        Like

      2. Waaah kan jarang ya org jpg mobil2an. Usul aja, selain wisatanya, kuliner jepang banyak diminati lho. Atau kalau ada rekomendasi resto halal misalnya. Tempat2 belanja murah. Ih aku seneng deh sama jepang, orangnya baik2 banget. cuma mahalnya itu lho.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s