Traveling dengan Anak-Anak Part 14: Taman Safari Cisarua


Saya jujur saja seringkali galau menentukan tempat liburan. Secara umum, saya membagi jenis liburan menjadi 3, yaitu dekat (yang ga pake terbang), menengah (luar kota  jauh dan luar negeri yang dekat), dan jauh (yang tiket pesawatnya bikin sesak napas). Nah, kegalauan biasanya paling sering menghampiri di kala menentukan destinasi jarak dekat.

(Maaf ya sodara-sodara, berhubung ini hari Palentin bahasa saya agak melankolis karena kebanyakan keselek cokelat)

Kuda nil yang semangat 45 mangap
Kuda nil yang semangat 45 mangap

Akhirnya beberapa waktu yang lalu kami memutuskan untuk wisata ke Taman Safari. Pertimbangan pro-nya ada beberapa, yaitu: Oliq belum pernah diajak ke sana, daerahnya sejuk, Taman Safarinya juga bagus. Kontranya cuma satu: macet. Dengan alasan tersebut Puput memutuskan untuk cuti hari Senin, dengan asumsi pulangnya nggak macet.

Kami berangkat Sabtu pagi dan ternyata kondisi jalan lumayan lah. Ramai lancar. Tiba di Taman Safari pukul 11.00. Tiket masuk 140 ribu per orang plus mobil 15 ribu. Di bawah 5 tahun bayar 130 ribu, tapi ga jelas batas bawahnya berapa (Oliq ga bayar sih). Lumayan mahal untuk standar kebun binatang di Indonesia. Tapi kami paham, Taman Safari kan beda. Dan ini adalah tiket termahal kebun binatang yang pernah kami kunjungi setelah Melbourne Zoo (A$ 22).

Tentu saja yang pertama kali kami kunjungi adalah toilet. Ya iyalah, wong habis perjalanan beberapa jam. Baru setelah lega, kami ke menu utamanya. Safari dengan mobil. Yang pertama kami lihat adalah rerusaan – maksudnya berbagai jenis rusa. Ada juga kekeboan – sapi, kerbau, banteng. Pokoknya seneeeeeng banget.

Zebra yang lagi lunguk-lunguk di jendela mobil depan
Zebra yang lagi lunguk-lunguk di jendela mobil depan

Oliq yang sebelumnya belum begitu excited lihat binatang aja seneng. Apalagi waktu ada llama lunguk-lunguk di jendela mobil. Diileri pun Oliq nggak takut.  While Oliq enjoyed his first very close encounter with wildlife, Papa Puput bak fotografer NatGeo wild dengan SLRnya. Semuanya dipotret, mulai pawang gajah sampai kuda nil mangap. Simbok, tentu sibuk komentar sambil ngemil.

Menurut saya sih tiket yang dibayar sepadan dengan dengan hasilnya. Binatangnya banyak, beragam, bervariasi. Banyak di antara binatang itu yang belum pernah kami lihat sebelumnya – dan yang pasti tidak ada di kebun binatang lain di Indonesia. Kondisi binatangnya pun sehat, jadi menyenangkan melihatnya. Beda jauh dengan kondisi binatang di KB Ragunan.

Senang juga melihat hewan-hewan berkeliaran dengan bebas. Tiap kali ada mobil, langsung mereka datang menghampiri meminta makan. Para pengunjung memberi makanan berupa kangkung dan wortel yang dibeli pada pedagang yang berjajar di jalan sebelum gerbang masuk Taman Safari. Binatang-binatang itu juga tidak segan-segan masuk ke jendela yang terbuka. Puput sampai heboh waktu ada hewan yang memasukkan kepalanya ke jendela sambil mangap, kaya mau nyaplok Oliq.

Ada bagian hewan buas dengan peringatan agar semua jendela mobil tertutup rapat. Di sini ada singa dan macan. Tapi bukanlah suami saya bila ia patuh pada aturan. Sesekali dibuka untuk ambil foto.

Harimau bertampang garang
Harimau bertampang garang

Ternyata memutari bagian safari dengan mobil sambil potrat-potret sana sini menghabiskan waktu kurang lebih dua jam. Kami tiba di bagian wahana. Di sini anti klimaksnya. Restoran-restorannya mahal dan ga enak. Saran saya, bawa bekal sendiri dan piknik di sini.

Di bagian non-safari ini juga ada beberapa gajah yang dipamerkan, bisa ditunggangi juga tapi mahal. Ada juga mini zoo dengan koleksi harimau putih dalam kandang bergaya Taj Mahal, simpanse gondrong mirip Papa Krewel, dan burung-burungan.

Simpanse gondrong kembaran Papa Krewel
Simpanse gondrong kembaran Papa Krewel

Wahananya antara lain kereta mini (gratis dengan menunjukkan tiket). Ada juga kereta gantung, tapi karena tiketnya 50 ribu satu orang untuk jarak yang sakuprit, kami ga jadi naik. Ada juga beberapa bagian lain yaitu reptil, ikan yang belum sempat kami jamah karena sudah terlalu capek.

Oliq, Papa, dan Ajjjaaah
Oliq, Papa, dan Ajjjaaah

Untuk akomodasi Taman Safari menyediakan in-house accommodation berupa karavan, hotel, dan sebagainya. Namun karena reviewnya yang kurang meyakinkan, kami memilih untuk menginap di Novus Resort di Cianjur, beberapa kilometer dari Taman Safari. Review Novus ada di sini.

Cerita dan tips traveling dengan anak dari part 1-13 semuanya ada di blog ini.

Advertisements

2 thoughts on “Traveling dengan Anak-Anak Part 14: Taman Safari Cisarua”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s