Bertemu Monalisa di Louvre


Siapa sih yang tidak kenal Monalisa. Mbak yang satu ini bisa dikatakan sebagai lukisan paling terkenal dalam sejarah kemanusiaan. Makanya dulu saya pernah menamai kucing kampung buduk saya Monalisa. Nah, akhirnya dua hari yang lalu saya bertemu dengan Monalisa yang sebenarnya – lukisan karya Leonardo da Vinci yang dipamerkan di Musee du Louvre, Paris.

Arc de Triomphe du Carousel, gerbang memasuki Louvre
Arc de Triomphe du Carousel, gerbang memasuki Louvre

Saya, Puput, dan Oliq memang sengaja memilih hari Minggu untuk berkunjung ke Louvre ini. Sebagai traveler kere, kami sangat menjunjung tinggi prinsip-prinsip berhemat. Nah, setiap Minggu memang Louvre digratiskan bagi pengunjung.

Awalnya keder juga liat antrian di luar piramida kaca, tapi kok geraknya cepet banget. Akhirnya kami ikut antri. Eh hanya beberapa jenak ada dua petugas mendatangi kami dan mengatakan kami bisa masuk lewat jalur prioritas. Mungkin karena kami manis-manis ya…. Nggak dink, karena kami bawa Oliq jadi boleh masuk tanpa antri.

Di Louvre ini tujuan utama ya jelas ketemu sama Mbak Monalisa, atau dalam bahasa Perancis dikenal dengan nama La Joconde. Namun jangan salah, koleksi lukisan di sini luar biasa banyak. Ukurannya pun tidak tanggung-tanggung. Kalau orang Jawa bilang sak hohah.

???????????????????????????????

Sehubungan dengan lift yang penuh terus, kami nekat naik tangga. Alhasil, tangan saya pegel gendong Oliq dan Papa Krewel juga pegel nggotong stroller.

Akhirnya kami sampai juga di ruangan di mana si pemilik senyum misterius berada. Berbeda dengan lukisan lain, lukisan Monalisa ini diberi kaca, di depannya terdapat pembatas sehingga pengunjung tidak dapat mendekat. Selain itu, ada beberapa petugas yang juga menjaganya.

Puput dan Jeng Monalisa
Puput dan Jeng Monalisa

Setelah melihat sejenak, saya memutuskan untuk membawa Oliq ke bangku di pinggir. Pengunjung berdesak-desakan di depan lukisan Monalisa, jadi saya memilih untuk mengalah. Sementara Papa Krewel sibuk foto-foto di sini, saya kudu ngejar-ngejar Oliq yang lari-lari, main embek-embekan dan bahkan boboan di lantai Museum Louvre ini. Bocah ndeso tenan, digowo nang Perancis malah ngglesor nang njobin.

Setelah puas di Louvre kami keluar. Memang tidak lama berada di museum ini karena sudah sore dan kami juga capek karena sejak pagi keluar dari apartemen dan sempat berjalan menyusuri Champs Elysees hingga ke Louvre. Di luar suhu mendekati nol derajat.

Simbok dan si Boliq di depan piramida Louvre
Simbok dan si Boliq di depan piramida Louvre

Di kompleks Louvre ini banyak pedagang cenderamata, hampir semuanya berasal dari negara-negara Afrika. Salah satunya mendekat untuk menawarkan dagangannya, “Murah, murah, lima Euro saja!” Nah lo, langsung ketauan kami dari Indonesia. Dan lagi, dia bisa bahasa Indonesia berarti memang banyak wisatawan dari negara kita yang hobi belanja. Ini Paris lho ya, bukan Makkah, Madinah, atau KL! Masih setia dengan prinsip irit (karena emang ga punya duit), kami menolak. So, jangan berharap oleh-oleh ya!!!

Advertisements

3 thoughts on “Bertemu Monalisa di Louvre”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s