Culinary Review : Kari Kambing Aceh, Banda Aceh


Setelah dua setengah jam lebih duduk dalam pesawat yang membawa saya dari Jakarta menuju Banda Aceh, perut saya mulai terasa keroncongan. Begitu kaki menginjak bumi Serambi Mekkah, saya langsung menuju rumah makan yang menyajikan masakan khas Aceh. Meskipun masakan khas Aceh banyak terdapat di ibukota, merasakan langsung di tempat asalnya tentu lebih afdol. Kali ini saya ingin mencicipi masakan dari kambing yang tersohor, yaitu Kari Kambing Aceh.

Kari kambingAceh  Ridha Ilahi di Simpang Surabaya Banda Aceh
Kari kambing Aceh Ridha Ilahi di Simpang Surabaya Banda Aceh

Dari Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda menuju Banda Aceh, kami melewati perempatan yang disebut Simpang Surabaya. Entah kenapa dinamakan demikian, sopir yang mengantar kami yang memang asli Aceh pun tak tahu sejarahnya. Tak apalah, itu tak penting, yang penting di dekat Simpang Surabaya ada sederetan warung makan yang menyajikan Kari Kambing khas Aceh. Warung-warung ini penampilannya sama, sederhana seperti warung makan kebanyakan. Yang membedakan adalah adanya wajan besar diatas tong besi, mirip dengan tong yang biasa dipakai sebagai wadah oli atau minyak. Rupanya ini hanyalah potongan seng yang melengkung untuk menutupi kompor yang terus memanaskan kari kambing di wajan raksasa. Sang koki terus mengaduk kari kambing yang dipanaskan sambil sesekali menuangkan kuahnya ke dalam mangkok pesanan pembeli.

Kari Kambing Aceh tampak mengepul di atas wajan raksasa
Kari Kambing Aceh tampak mengepul di atas wajan raksasa

Begitu tiba, kami langsung memesan kari kambing dan es timun. Tak perlu lama menunggu, meskipun sedang jam makan siang, kari kambing beserta nasi segera datang. Penampakan kari ini tak jauh beda dari gulai kambing pada umumnya. Kuahnya berwarna kuning agak keruh, dengan potongan daging kambing beserta tulang tenggelam di dalamnya. Baunya sangat segar, aroma bumbu rempah-rempah sangat terasa, tanpa sedikitpun bau prengus khas kambing. Kuah yang keruh menandakan banyaknya bumbu-bumbu terlarut di dalamnya, lengkap dengan sumsum yang berasal dari tulang. Selain kari kambing dan nasinya, disajikan pula potongan daging kambing bakar dan potongan lombok rawit hijau.

Kari kambing Aceh yang sangat gurih dan menggugah selera
Kari kambing Aceh yang sangat gurih dan menggugah selera

Saatnya mencicipi! Sesendok kari kambing saya masukkan dalam mulut. Whuaah, terasa sangat gurih dengan bumbu rempah yang sangat mencolok… Uniknya, tak terasa sedikitpun rasa manis seperti pada gulai atau tongseng di Jawa. Rasa karinya sangat kuat dan lezat, mirip dengan kari arab atau india.  Tak heran, sejarah panjang Aceh yang dikenal sebagai serambi Mekkah juga berpengaruh pada kulinernya yang mendapat banyak pengaruh dari Timur Tengah. Saya sendiri sangat terkesan dengan rasa kari yang lebih terkesan original, karena selama ini saya lebih sering makan tongseng atau gulai, sementara baru kali ini merasakan kari kambing Aceh yang original. Setelah mencicipi kuah, giliran potongan dagingnya saya cicipi. Tak mengejutkan, rasa kari yang kuat dan lezat juga meresap ke dalam dagingnya. Potongan daging kambingnya empuk namun masih terasa berserat, tidak prengus, dan rasa karinya begitu menyerap. Setelah mencicipi daging di kuah kari, giliran potongan daging bakar yang saya cicipi. Daging bakar ini rasanya lebih kering namun sangat gurih. Dicampur dengan kuah kari dan potongan cabe rawit, paduannya menciptakan harmoni rasa yang sulit untuk ditolak. Tak terasa, meskipun nasi putih yang dihidangkan sangat banyak, setidaknya untuk porsi saya, akhirnya nasi beserta karinya benar-benar tandas. Oya, Anda sebaiknya menghabiskan kari kambing selagi panas, karena jika dingin bumbunya akan mengendap dan minyaknya akan menggumpal sehingga mengurangi kelezatan rasa karinya. Ini juga yang menyebabkan penjual kari selalu memanaskan dan mengaduk karinya di tungku raksasa.

Potongan daging kambing bakar sebagai pelengkap kari kambing Aceh yang nikmat
Potongan daging kambing bakar sebagai pelengkap kari kambing Aceh yang nikmat

Puas makan nasi kari kambing, kini giliran es timun yang jadi sasaran. Es timun ini sebenarnya sederhana saja, hanya berupa serutan timun yang diberi air, es, dan gula. Namun ini tidak mengurangi kelezatan dan kesegarannya. Es dan timun yang bersifat dingin sangat cocok untuk meredakan rasa pedas dan panas dari kari kambing. Tak heran es timun menjadi favorit minuman pendamping kari kambing.

Anda pasti penasaran, berapa harga yang harus dibayar untuk menikmati kelezatan ini. Tiga porsi nasi kari kambing, lengkap dengan potongan daging bakar, beserta tiga es timun hanya menghabiskan bekal kami sebanyak 100 ribu rupiah. Saya tak bertanya detil berapa rupiah per porsinya, tapi ini jelas lebih murah daripada standar Jakarta. Untuk seporsi sop kambing di restoran ternama saja bisa menghabiskan 50 ribu atau lebih. Tak heran, warung ini menjadi favorit berbagai kalangan, termasuk kalangan pejabat yang juga turut makan siang disana beserta ajudan-ajudannya. Jadi jika Anda hendak bepergian ke Aceh, jangan lupa menikmati kari kambing di seputaran Simpang Surabaya.

Advertisements

7 thoughts on “Culinary Review : Kari Kambing Aceh, Banda Aceh”

  1. Bicara tentang kari kambing memang berbagai tempat tersembunyi banyak sekali, soal rasa pun dari sekian banyak daerah di Aceh kab/kota juga berbeda. Jadi pasti tidak kewalahan untuk menikmati kari 😀

    Like

      1. sip mas, ntar kalau ada waktu saya share lagi ya. Dulu sempat saya tulis tentang kari kambing cuma berbalut kari bebek ‘kuntilanak’ di blog 😀

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.