Hijab Backpacking Part II: Japan


Menyambung tulisan saya beberapa bulan yang lalu (hijab backpacking ke India, Australia, Malaysia, Thailand), ini bagian ke duanya. Sedikit mengulang, ini hanyalah pengalaman saya melakukan backpacking di beberapa daerah dan negara, dan bagaimana persepsi orang-orang melihat saya yang berkerudung (maaf, saya tidak pernah menggunakan kata jilbab). Namun tidak hanya itu, cerita ini juga berisi tentang pengalaman tetap menjalankan rukun Islam di negara lain. Kali ini adalah tentang kunjungan kami ke Jepang bulan Oktober lalu.

welcome

Yang pertama muncul dalam benak saya adalah kurangnya exposure orang Jepang dengan Islam. Kira-kira mereka akan melihat kami seperti apa ya? Apalagi Puput berjenggot (yang tetep ngeyel jenggoten padahal istrinya risih karena jadi selalu ingat Syekh Puji – hih jijay!).

Ada beberapa hal yang saya jadikan catatan untuk wisata kali ini:

1. Orang Jepang sopannya luar biasa. Sama sekali tidak ada pandangan sinis terhadap penampilan kami. Kecuali tatapan seorang nenek tua di Kyoto pada Puput – tapi itu sih lebih karena stroller Oliq ngalangin kakinya.

2. Orang Jepang juga sangat helpful, walau kadang mereka nggak bisa bahasa Inggris. Mulai dari petugas informasi di Haneda, pak polisi yang ga bisa bahasa Inggris tapi tetep berusaha membantu, sopir bus hotel Toyoko Inn yang bantu kami nemuin bus hotel kami, ada juga mas-mas dengan alis aneh di stasiun kereta. Sama sekali tidak ada pandangan aneh sama kami. Ketika saya harus turun tangga sambil nyusuin Oliq dengan posisi digendong sekaligus nggotong stroller gara-gara kesasar di Stasiun Kanda, ada bapak-bapak yang langsung membantu menggotongkan stroller.

3. Ketika masuk ke dalam kereta, walau dalam keadaan penuh sesak, pasti langsung ada yang menyediakan tempat duduk karena saya bawa anak kecil. Di busway, mana ada gitu. Kebanyakan malah pura-pura tidur. Saya pernah hamil 6 bulan tetep berdiri dengan manis karena para mbak-mbak berkerudung dan mbak-mbak berspan pendek tampaknya terlalu lemah untuk berdiri barang 10-15 menit.

4. Orang Jepang langsung tahu bahwa kami dari Indonesia. Contohnya adalah bapak penjaga loket di Kuil Kinkakuji langsung bilang, “From Indonesia? Apa kabar?”. Mungkin gaya kerudung saya Indonesia buanget yah…Mungkin juga karena banyak mahasiswa Indonesia di Jepang, lebih banyak dari orang Malaysia yang memilih ke Australia, AS, atau Eropa.

Bersama rombongan kawaii
Bersama rombongan kawaii

5. Dikejar-kejar pelajar. Nah karena saya berkerudung, jelaslah bahwa saya bukan orang Jepang. Di kuil-kuil banyak pelajar yang study tour (kata Puput bahasa kerennya “karyawisata”). Nah, para pelajar yang kayanya anak-anak SMP ini punya tugas mewawancarai sngkat turis asing. Jadilah saya dikejar ke mana-mana. Sambil terbata-bata mereka menanyakan nama, asal, dalam Bahasa Inggris, sambil sibuk bilang “kawaii, kawaii” ke Oliq. Bolak-balik saya dikejar kelompok pelajar ini, gapapalah ingat dulu pernah gitu juga di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Nah, selama saya sibuk diwawancarai, dan Oliq di kawaii-i, apa yang Papa Krewel lakukan? Dia melakukan studi sendiri, katanya, “Kalo SMP seragamnya cenderung sopan-sopan roknya di bawah lutut, kalo SMA udah kaya Miyabi semua.”

Hasil studi banding Puput
Hasil studi banding Puput

6. Pengalaman shalat kami di Jepang berkisar di transportasi umum, misalnya di shinkansen, di kereta biasa, di bus, tentunya juga di pesawat. Sempat juga sekali shalat di pojokan tempat parkir di Kuil Kiyomizu-dera di Kyoto. Alasnya tentu selendang gendong Oliq. Untungnya Jepang ini sangat bersih, jadi memudahkan kami memilih tempat shalat.

Sangu dari Indonesia
Sangu dari Indonesia

7. Makanan halal. Yang jelas jangan makan ramen karena biasanya mengandung minyak babi. Kami sih sebagai traveler kere memang sudah niat masak sendiri. Jadi tinggal beli beras atau nasi yang tinggal diangetin, sayur (biasanya wortel yang murah dan gampang diapa-apain), ikan salmoon muraaaaaaaaah banget. Daging mahal, sempet beli yang diskonan untuk masak rawon (mengucap bismllah dengan penuh semangat). Buat temen-temen yang merasa nggak bisa makan daging/ayam yang tidak disembelih secara Islami, pilihannya sayur, seafood, dan tahu.

8. Jajan halal. Selain masak sendiri, pasti tetep ada acara beli makanan jadi. Nah, andalan kami di Jepang adalah onigiri, karena Oliq doyan. Kebanyakan yang kami temui di convenience store isinya kalo ga tuna ya salmon. Asumsi kami pertama kali adalah kalo lambangnya warna pink berarti salmon wekekekek, ternyata bener lho. Selain itu coba juga sushi, banyak pilihan yang seafood. Sempat sangat menderita waktu di Gn Fuji, semuanya mahal, akhirnya kami cuma beli rice balls, yang ternyata cuma nasi dibulet-buletin dicampur kecap. Ga ada yang jual onigiri atau sushi. Pas udah turun sampai di stasiun Kawaguchi-ko langsung beli popmi-popmian yang vegetarian. Udah gitu makannya nongkrong di depan rumah orang. Sempet juga diketawain sama beberapa orang lewat. Sempet juga mungutin mi yang dijatuhin Oliq satu2, malu kan kalo nyampah. Beginilah nasib traveler kere sampe ga mampu makan di restoran. Ini emang kesalahan fatal padahal biasanya bawa bento, pas ini pada bangun kesiangan and buru-buru ngejar kereta soalnya Gunung Fuji tuh jauuuuuuh kudu ganti kereta 4 kali dan bus 1 kali.

Si Pria Nasi Kecap
Si Pria Nasi Kecap

Begitulah kisah kasih kami selama seminggu di Jepang. Uuummmm kayanya judulnya agak ga matching ya. Pokoknya, pada intinya, orang Jepang tuh orang-orang paling sopan menurut saya. Sama sekali ga ada diskriminasi atas penampilan kami yang jauh berbeda dari mereka. Bahkan seorang nenek tua di bus di Kyoto sepanjang perjalanan nggodain Oliq sampai Oliqnya ngakak-ngakak terus, padahal sama-sama nggak ngerti apa yang diomongin. Penumpang lain sampi cengar-cengir sendiri. Sekali lagi, saya mah ngertinya cuma “kawaii..kawaii”.

So, hijab backpackers, kalo pengen ke Jepang tampaknya bukan masalah, lho!

Advertisements

17 thoughts on “Hijab Backpacking Part II: Japan”

  1. Leng.. as always, menyenangkan baca tulisanmu, selalu menghibur 🙂 Apalagi pas kerjaan kantor lg nyebahi banget kaya gini, hehehe… Mas Nara kalo ditanya pengen jalan2 kemana ke luar negeri selalu jawabnya Jepang! dgn mantap. bukan karna dia tau banyak ttg Jepang, tp karna dia hobi bgt ntn film tema mobil/balapan. Yg dia tau mobil2 modif keren itu adanya di Jepang. Doakan kami bisa segera sampai kesana yaaaa ^_^
    Sumpah aq ngiri banget karo oliq, lah cilik2 wis tau kliling dunia, aq wis tuwek ngene yo ngertine cuma m’sia karo spore wae, hahaha…

    Like

    1. lha tinggal buking tiket to wi, gampang. jepang enak kok buat anak-anak soalnya bersih n transportasi umumnya juga nyaman. tapi yah gitu deh…mahal… itu Ebi duitnya jangan ditumpuk doang entar jamuran

      Like

  2. suka banget ma bacaan yang satu ini lumayan banyak ngakaknya saia 😄
    semoga sukses terus yak backpacking nya
    alhamdulillah saia uda berencana juga backpacker ke jepang tahun ini pas Fall 😀

    Like

    1. makasih mas. masih banyak cerita lucu lainnya kok hehehehe *iklan* walau ga semuanya. tergantung mood dan purpose sih. ada beberapa artikel ttg jepang mislnya memahami transport di jepang yang mungkin bisa membantu. silakan dibaca ya

      Like

    1. lha pancen beneran e mbak sejauh ini orang2 jepang yg paling helpful n baik hati. wah saya cuma lewat nagoya pas mau ke kyoto. mau banget ke jepang lagi apalagi pas cherry blossom

      Like

  3. Wow, keren, bsa jalan2 bareng keluarga
    Salam kenal,
    Mbak k jpg saat autumn y mbak, saya rncana mo k jpg bln november,,bole minta sarannya ga mbak,,pakaian apa aj yg musti dibawa,,
    Trims,,

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s