Accommodation & Destination Review : Jambe Kembar, Belik, Pemalang


Perjalanan panjang dari Jakata menuju Dieng akhirnya membawa saya terdampar di daerah Belik, kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Di kawasan ini secara tidak sengaja kami menemukan tujuan wisata pegunungan Jambe Kembar yang terintegrasi dengan hotel dan restoran. Jambe Kembar terletak persis di sebelah jalan raya yang menghubungkan Slawi dengan Purbalingga.

Pemandangan di seberang Jambe Kembar Purbalingga
Pemandangan di seberang Jambe Kembar, Belik, Pemalang

Dari Jakarta saya melewati jalur pantura hingga masuk ke pintu tol Palimanan yang berlanjut hingga Kanci. Dari Kanci tol masih berlanjut hingga ke Pejagan. Dari pintu tol Pejagan kami menuju arah Purwokerto sebelum berbelok ke arah jalan alternatif menuju Slawi. Jalan ini cukup kecil meskipun bisa dilewati mobil dan kondisinya cukup jelek, bergelombangan dan berlubang. Setelah melewati Slawi, jalan mulai menanjak dan berliku melewati hutan di kaki gunung Slamet. Jalan ini juga rusak dan becek setelah hujan sehingga awalnya saya ragu melewatinya, namun untungnya jalan yang rusak hanya pendek. Setelah melewati hutan dan pegunungan dengan pemandangan yang menawan, akhirnya kami mendekati kota Purbalingga. Namun tiba-tiba kami melihat hotel dan restoran yang cukup mencolok persis di pinggir jalan raya, dan karena waktu menjelang senja, kami putuskan untuk mampir dan melihat kondisi hotel tersebut.

Pintu gerbang kawasan wisata alam Jambe Kembar Purbalingga
Pintu gerbang kawasan wisata alam Jambe Kembar, Belik, Pemalang

Setelah berhenti dan masuk kawasan hotel, baru kami sadari kalau hotel ini menjadi satu dengan restoran dan tempat wisata pegunungan. Karena terletak di kaki Gunung Slamet, kontur tanahnya miring sehingga terlihat unik. Hotelnya sendiri bukan hotel berbintang, namun cukup bersih dan terawat. Kamar hotel ada yang terletak di bawah, sepertinya ini bangunan awal hotel, dan ada yang terletak di atas dengan pemandangan puncak Gunung Slamet. Kamar yang di atas adalah bangunan baru dan beberapa kamar masih dalam tahap penyelesaian akhir. Ada tiga macam kamar, yaitu kamar dengan air panas (water heater) dan TV seharga Rp 200.000 per malam, kamar dengan TV saja seharga Rp 150.000, dan kamar dengan air panas saja seharga Rp 150.000. Kamar dengan air panas-TV dan TV saja terletak di bagian bawah (bangunan lama), sementara kamar dengan air panas saja terletak di bagian atas (bangunan baru).

Deretan kamar baru di penginapan Jambe Kembar Purbalingga
Deretan kamar baru di penginapan Jambe Kembar, Belik, Pemalang

Kondisi kamar dengan air panas-TV cukup luas, mungkin sekitar 4×5 m2 dengan 1 kasur spring bed dengan ranjang dan 1 kasur spring bed di lantai. Lemari dan furnitur terlihat sudah berumur, namun masih terawat baik. TV sudah berupa TV LCD 32”. Kamar mandinya sendiri cukup bersih, dengan keran shower yang dilengkapi pemanas air gas. Di sebelah kamar ini, tampak deretan kamar dengan TV saja. Sekilas, deretan kamar ini mirip kamar kos-kosan.  Secara umum, kamar ini mirip dengan kamar berfasilitas air panas-TV, namun ukurannya lebih kecil.

Pemandangan dalam kamar baru Jambe Kembar Purbalingga
Pemandangan dalam kamar baru Jambe Kembar, Belik, Pemalang

Beralih ke bangunan baru yang terletak di bagian atas, sekilas bangunan ini juga tampak sederhana dan masih butuh polesan lebih lanjut. Bangunan ini terdiri dari beberapa kamar yang menghadap jalan raya dan beberapa kamar yang menghadap Gunung Slamet. Kamar yang menghadap Gunung Slamet belum selesai waktu saya menginap disini. Kamar disini berukuran kira-kira 4×4 m2 dengan 1 kasur spring bed dengan ranjang dan 1 kasur spring bed di lantai. Tampaknya banyak pengunjung yang membawa satu keluarga sehingga umumnya mereka butuh 2 kasur. Furnitur juga bergaya klasik, dengan kursi gaya Jawa yang umum ditemui di rumah Joglo. Kasur dan furnitur masih tampak baru, kualitasnyapun cukup memadai walaupun tidak sebagus di hotel berbintang. Kamar mandi juga menggunakan keran shower dengan penghangat air berbahan bakar gas. Penghangat ini bekerja baik menghangatkan air yang sangat dingin menjadi hangat dan nyaman digunakan untuk mandi. Masalah utama adalah banyaknya nyamuk karena di sekeliling hotel ini masih berupa kebun dan hutan, sementara obat nyamuk tidak tersedia di hotel. Tampaknya pengelola perlu menyediakan obat nyamuk demi kenyamanan tamu. Namun selain masalah itu, secara keseluruhan kondisi kamar lumayan bersih dan baik, layak untuk harga yang ditawarkan.

Pengelola juga memiliki restoran tersendiri yang cukup besar. Menu yang ditawarkan berkisar ikan air tawar seperti gurame dan nila, kemudian ayam, nasi goreng, dan mie. Ikan maupun ayam bisa dibakar atau digoreng. Malam harinya kami makan di restoran ini dan ternyata rasanya lumayan enak walaupun tidak terlalu istimewa. Harganya pun masih wajar, tergolong murah jika dibandingkan standar jakarta. Pagi harinya kami juga mendapatkan sarapan pagi berupa nasi goreng, rasanya pun cukup enak, tidak asal-asalan seperti di kebanyakan hotel kelas melati. Secara umum, kualitas makanan di restoran ini cukup bagus, hanya saja perlu variasi menu yang lebih banyak.

Selain hotel dan restoran, Jambe Kembar juga menawarkan wisata pegunungan berupa water boom, jogging track, dan jalan setapak menaiki bukit. Kolam renang ini dilengkapi dua tempat meluncur yang meliuk-liuk dan beberapa permainan air yang umum terdapat di water boom. Meskipun tidak bisa dibandingkan dengan water boom yang ada di kota besar, wahana ini cukup menarik dan tampaknya sangat digemari warga sekitar. Tiket masuknya pun cukup murah, hanya Rp 8500 saja. Mungkin harga ini pun sudah dirasa mahal bagi warga sekitar. Namun saya tidak sempat mencobanya karena wahana ini belum buka pada saat itu, sekitar jam 7 pagi.

Hiu raksasa di pintu masuk water boom Jambe Kembar Purbalingga
Hiu raksasa di pintu masuk water boom Jambe Kembar, Belik, Pemalang

Ada juga jogging track di sebelah water boom, namun tidak terlalu besar. Saya juga melihat jalan setapak menaiki bukit di sebelah jogging track, serta pondokan-pondokan kecil di sebelah jalur tersebut. Sayangnya, pondokan tersebut tampaknya kurang terawat.

Jogging track di Jambe Kembar Purbalingga
Jogging track di Jambe Kembar Purbalingga

Secara keseluruhan, Jambe Kembar yang terdiri dari hotel, restoran, water boom, dan agrowisata memiliki potensi besar sebagai tujuan wisata yang menarik di kabupaten Purbalingga dan sekitarnya. Apabila atraksi wisata dikembangkan lagi dan didukung promosi yang gencar, Jambe Kembar bisa menjadi tujuan wisata utama di daerah kabupatan Pemalang dan wilayah sekelilingnya seperti Banyumas, Purbalingga, Purwokerto, dan Wonosobo.

Advertisements

12 thoughts on “Accommodation & Destination Review : Jambe Kembar, Belik, Pemalang”

    1. iya benar…penulisnya, suami saya, udah saya protes kemarin. Dia lupa, soalnya waktu itu kami dari slawi menuju purbalingga ketemu belik. ini segera diganti mas

      Like

    2. Makasih atas koreksinya mas, sudah saya ganti.. takjub juga ada pembaca yang mengenali tempat ini, kalau ada info-info tempat wisata sekitar Purwokerto, Purbalingga, Pemalang, Wonosobo, dan sekitarnya, kabar-kabari saja, semoga kami bisa ke sana dan menulis untuk blog ini…

      Like

  1. Mbak rencanya sy mau ke dieng dg rute bogor – guci – baturaden – purwonegoro – banjarnegara – wonosobo. Nah tp tertarik jg utk ke jambe kembar stlh dari baturaden, baru ke dieng. Kl lihat peta kyknya mutar lg ya atau bisa? Worth it gk ya, apa sebaiknya dr baturaden lsg ke dieng saja.

    Dari dieng mau ke gn kidul jg. Apa sebaiknya plgnya saja ke baturaden? Jd brgkt via guci – jambe kembar – wonosobo.

    Kl pulangnya ambil arah kebumen-goa jatijajar, bs lewat baturaden jg? Mksh

    Like

    1. Wah muter jauh kalo dari baturaden ke jambe kembar terus ke dieng..gak worth it sih, gak ada yg spesial di jambe kembar, cuma ada water boom yg mungkin gak menarik kalo buat orang jakarta dan sekitarnya..
      Kalau dari guci ke jambe kembar trus wonosobo lebih masuk akal, lanjut ke dieng trus gunung kidul baru pulangnya ke baturaden juga bisa, gak perlu muter. Lewat kebumen trus goa jatijajar baru batu raden jg bisa, gak muter juga.
      Moga-moga perjalanannya menyenangkan….selamat berlibur….

      Like

      1. Makasih ya mas masukannya. Akhirnya diputuskan gk lewat belik. Memang benar kl waterboom di jakarta jg ada…kec kl airnya dr sumber air panas ya 🙂

        Ohya kl berkenan nanya lg…setelah dr gn kidul kembali ke bogor berarti lewat kebumen-gandong ya spy bs lihat goa. Lalu stlh itu sebaiknya ambil jalan mana yg plg cepat sampai ke bogor (sukur2 ada obyeknya jg skalian lwt). Selama tdk mutar, kasian yg nyetir hehe ntar gempor ud nyetir lbh dr seminggu….gk bisa gantian soalnya

        Makasih ya

        Like

      2. Kalo mau paling cepet dan bisa liat goa, mending lewat jalur selatan aja…jadi dari kebumen lanjut tasikmalaya trus garut trus bandung…palingan mampir garut, banyak obyek wisata menarik seperti kawah sikidang, candi yang di tengah danau, dll… kalau lewat baturaden brati habis kebumen harus ke arah purwokerto, agak jauh kalo lewat jalur tengah… semoga membantu….

        Like

      3. Sipp memang pas lihat peta, rutenya dari gombong-wangon-tasik. Lg mikir jalur ini cepet gk ya…jgn2 mutar2 dan jauh.
        Kl garut anak-anak ud pernah kesana jd diskip aja…:)
        Thanks mas masukannya…very helpfull

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s