8 Tahun Setelah Tsunami, Mengunjungi Aceh Baru


Hari ini tepat 8 tahun setelah tsunami Samudera Hindia melanda beberapa negara di dunia. Provinsi di ujung barat Indonesia, Aceh, adalah wilayah yang paling parah terkena dampak tsunami dengan lebih dari 170 ribu nyawa melayang. Kini, delapan tahun sudah. Aceh sudah seperti daerah yang baru.

Dari sisi wisata pun, provinsi ini kembali menawarkan banyak hal. Uniknya, sisa tsunami bahkan menjadi objek-objek wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi. Kami baru saja tiba dari Aceh semalam, ingin ikut sedikit berkisah.

Sekitar tahun 2006, Aceh masih seperti zona perang dengan mobil-mobil organisasi kemanusian berseliweran. Kini, jalan-jalan raya dipenuhi dengan kedai-kedai kopi modern ber-wifi.

Beberapa lokasi yang sempat kami kunjungi adalah:

Kapal Apung
Kapal Apung

PLTD Apung, yaitu kapal sangat besar yang dahulu ditambatkan di pelabuhan Ulee Lheue. Kapal ini dahulu menyuplai listrik untuk Banda Aceh. Ketika tsunami, kapal terhempas sekitar 3 km ke daratan, pada saat itu PLTD Apung I masih sempat menyuplai listrik untuk membantu program kemanusiaan pasca tsunami.

Museum Tsunami Aceh
Museum Tsunami Aceh

Museum Tsunami belum lama ini diresmikan. Museum ini memamerkan berbagai benda dan demonstrasi yang berkaitan dengan tsunami.

Kapal di atas atap rumah
Kapal di atas atap rumah

Kapal di Atas Atap. Memang saat ini penampakan kapal yang nangkring di atas atap sudah tidak sedramatis dulu, karena sudah diberi pilar-pilar pengaman serta akses masuk untuk pengunjung. Walau demikian masih layak untuk dikunjungi.

Pantai Lhok Nga
Pantai Lhok Nga

Pantai Lhok Nga adalah salah satu yang paling parah terkena tsunami. Tak jauh dari pantai terdapat PT Semen Andalas Indonesia yang dulu juga rusak parah, namun dalam beberapa tahun belakangan sudah beroperasi normal. Lhok Nga adalah pantai paling populer di Aceh.

Masjid Raya Aceh
Masjid Raya Aceh

Masjid Raya Baiturrahmah berada di pusat kota Aceh. Tentu kunjungan ke masjid ini tidak boleh dilewatkan. Di sebelahnya terdapat Pasar Aceh.

Bagian dalam Masjid Lampuuk
Bagian dalam Masjid Lampuuk

Masjid Lampuuk adalah satu-satunya bangunan di wilayah ini yang masih berdiri setelah diterpa tsunami. Masjid sudah direhabilitasi walau ada bekas-bekas dinding yang jebol karena gempa dan tsunami tetap dibiarkan.

Pemandangan Pulau Rubiah dari Pulau Weh
Pemandangan Pulau Rubiah dari Pulau Weh

Pulau Weh adalah pulau terbarat di Indonesia. Khusus untuk Pulau Weh dan Sabang, akan ada tulisan tersendiri.

Ini hanyalah tulisan singkat mengenai lokasi-lokasi yang wajib dikunjungi di Aceh dan kondisinya 8 tahun setelah tsunami. Tulisan yang lebih detail akan segera menyusul. Selain itu akan ada pula tulisan khusus tentang kuliner Aceh.

Delapan tahun sudah tsunami menerjang. Aceh telah kembali bangkit dan menjadi salah satu wilayah Indonesia dengan kekayaan potensi wisata yang luar biasa. Bila Anda belum pernah ke sana, mungkin ini saatnya.

Advertisements

9 thoughts on “8 Tahun Setelah Tsunami, Mengunjungi Aceh Baru”

      1. bagus itu mas (aku udah baca about me di blog mas jd ga keliru huhuuuui). Untuk Aceh saya baru buat 1 tulisan di yahoo, yg 2 lagi menyusul

        Like

      2. siap mba Olen, tulisannya bagus-bagus kok apalagi bisa masuk ke Yahoo tuh.

        Hehe untungnya “about me” saya tidak sempat terjebak ya, banyak memakan korban soalnya hehehe

        Like

  1. foto dan lokasi serta cerita membangkitkan kenangan saya di era 2006-2007 ketika ikut terlibat dalam rekonstruksi aceh, trima kasih, dan semoga aceh akan semakin maju seiring dengan latar budaya yang kuat dan didukung penerapan sariah.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s